Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Kebahagiaan Bersama


__ADS_3

Bola-bola kehidupan pecah. Satu persatu jiwa makhluk siluman yang telah ditawan penyihir itu berebut turun. Bahkan sebagian besar bergerak menuju ke arah luar mencari tubuh mereka sekiranya masih ada.


Hades menanti di bawah, turunnya jiwa Miriam. Raja datang bersama penyihir duyung menemani Hades. "Biar ayah yang akan mengantar jiwa Miriam ke tempatnya."


"Tidak Ayah. Kau tidak tahu tempat tubuh Miriam berada. Biar aku yang akan mengantarkannya."


"Tapi tubuhmu ...."


Jiwa Miriam datang menghampiri Hades. Putra duyung itu mencoba menyentuhnya tapi tak bisa karena ia hanya berupa bayangan yang tidak bisa disentuh. "Miriam, aku akan mengantarmu."


Jiwa Miriam tersenyum kepadanya. Ia kemudian keluar diiringi Hades. Raja memerintahkan salah satu tentaranya mengikuti Hades.


Jiwa Miriam berenang perlahan karena melihat putra duyung itu yang berenang pelan. Beruntung, tentara duyung yang diperintahkan Raja cukup cerdik dengan menarik Hades ke atas. Ia bergerak cepat sehingga jiwa Miriam bisa segera sampai ke permukaan laut dengan Hades sebagai penunjuk jalan. Mereka sampai ke tempat Max berada.


"Hades! Miriam!" Max melihat keduanya, demikian juga Anna. Pria itu prihatin melihat luka-luka dan bekas melepuh di beberapa titik tubuh putra duyung itu yang tengah dipegangi oleh putra duyung lainnya yang membawa tombak.


"Miriam, kau sudah bisa masuk ke tubuhmu," sahut Hades pada jiwa putri duyung itu.


Miriam sesaat menatap Max sebelum akhirnya segera masuk ke dalam tubuhnya. Mata putri duyung itu terbuka ketika tubuh dan jiwanya menyatu. Ia kemudian turun dari perahu karet.


Semua terlihat bahagia, hanya Miriam yang terlihat sedih. Ia tahu kini, cinta sejati itu butuh pengorbanan agar orang yang dicintainya bahagia. Itulah arti cinta sesungguhnya.


Miriam mendekat dan menggandeng kedua tangan Max. "Kak Max, semoga bahagia ya? Kak Anna juga," ucapnya dengan jiwa yang besar.


"Terima kasih, Lita. Eh, Miriam."


Semua tertawa mendengar kata-kata Max. Anna terlihat menahan tawa, dengan wajah malu-malunya.


"Ini bukan perpisahan, tapi bertemunya sebuah keluarga. Sering-seringlah datang ke darat menjengukku. Aku akan senang," sahut Max dengan bahagia.


"Tentu," ucap Hades.


Max dan Anna melepas Hades dan Miriam yang kemudian masuk ke dalam air. Miriam masih kembali keluar dengan melambaikan tangan pada Max dan Anna lalu kembali masuk. Setelah keduanya tak lagi keluar, Max dan Anna saling berpandangan.


"Eh, tadi kamu ke sini naik apa?" tanya Max.


"Taksi, Kak."


"Oh, kalau begitu kita bisa ke rumahmu naik mobilku, ayo!" Mereka bergegas ke mobil.


"Mudah-mudahan tamu belum bubar."


"Mudah-mudahan orang tuaku belum pulang." Max segera membuka pintu mobil dan masuk. "Coba kau telepon orang tuamu."


"Eh, iya, benar." Anna mengeluarkan HP-nya yang ia taruh di dalam tas yang ia letakkan di pasir tadi.


Max mengeluarkan HP-nya yang berada di dalam saku celana yang membuat keduanya tertawa. HP itu sudah basah karena terendam lama dalam air. "Lain kali aku akan beli HP yang anti air karena adikku seorang putri duyung." Keduanya kembali tertawa.

__ADS_1


------------+++----------


Hades tengah diberi obat tubuhnya oleh seorang tabib di dalam kamar di istana tapi ia tak membiarkan Miriam pergi. Gadis itu harus menemaninya di dalam kamar.


"Hades, kamu manja sekali," ledek Miriam.


"Terserah apa katamu, tapi aku tidak mau lengah. Karena, setiap aku lengah, kau pasti diam-diam ke darat lagi."


Miriam tersenyum tersipu-sipu. "Iya, maaf."


Tabib itu pun selesai mengobati putra duyung itu dan kemudian pamit.


"Kamu tahu, kenapa aku berusaha menolongmu?" tanya Hades yang berusaha duduk di atas tempat tidurnya yang terbuat dari cangkang kerang besar.


"Karena kamu mencintaiku," jawab Miriam malu-malu.


"Salah!"


Miriam terkejut dan menoleh. "Mmh?"


Putra duyung itu bergerak mendekat. "Karena aku ingin melamarmu." Ia menyentuh rambut putri duyung itu yang panjang terurai. Rambut merah yang hanya satu-satunya ada di Kerajaan itu.


Miriam tersenyum malu-malu. "Tapi Hades." Ia menunduk. "Aku minta kau jangan buru-buru."


"Kenapa? Bukankah kau sebenarnya mencintaiku juga?"


Miriam menunduk. "Aku janji Hades aku ...." Ia menitikkan air mata. Kembali mutiara-mutiara itu berjatuhan.


Miriam menggeleng.


"Ka-kalau kau tak mencintaiku, aku juga tak memaksa." Hades melepas tangan putri duyung itu.


Namun tiba-tiba Miriam meraih tangan putra duyung itu. "Apa kamu bisa menunggu sampai kamu jadi satu-satunya yang ada di hatiku?"


Hades terkejut mendengar penuturan Miriam. Ia mengangguk bahagia. Miriam pun mulai bisa tersenyum.


-----------+++------------


6 tahun kemudian di Kerajaan duyung, raja begitu kesal karena pewaris kerajaan lagi-lagi menghilang dari Kerajaan. Seorang penasehat Kerajaan duyung datang menghadap Raja dengan laporannya. "Maaf, Yang Mulia. Anak anda, Pangeran Hades, kembali ikut istrinya ke darat membawa cucu Kerajaan serta."


"Aku tahu itu. Setiap mereka menghilang, mereka pasti ke sana. Anakku Pangeran Hades memang tergila-gila pada istrinya itu. Apapun yang istrinya minta pasti dikabulkan. Aku benci kalau istrinya itu bicara, Hades seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Ikut saja apa yang diperintahnya dan lebih parah lagi, cucuku juga ikut-ikutan suka jalan-jalan di darat persis ibunya, membuat aku kakeknya seperti makhluk lemah."


Penasehat Kerajaan yang sedang bersimpuh di depan raja dengan menunduk, hanya bisa menahan tawa.


"Kau jangan mentertawakanku ya, sembarangan!" bentak Raja.


"Tidak Yang Mulia."

__ADS_1


------------+++----------


Hades tengah duduk di pinggir sebuah taman dengan kaki manusianya. Ia duduk dengan seorang bocah laki-laki berambut kecoklatan seperti Hades. "Papa, Mama lama ya?"


Hades menggaruk-garuk kepalanya bersamaan dengan bocah itu yang juga menggaruk-garuk kepala dengan memandang ke arah yang sama. "Mama memang lama, tapi biarkan saja. Kita tunggu di sini sambil melihat wanita cantik lewat."


Bocah itu menoleh. "Papa, nanti aku laporin Mama, lho!" Ia melipat tangan di dada.


Hades tertawa. "Hanya bercanda kok. Mana ada Papa lirik wanita lain, orang Mama yang paling cantik kok!"


Bocah itu memperhatikan wajah ayahnya.


"Ini anak kecil, gak percaya kata ayahnya ya," gumam pria itu kesal.


Miriam akhirnya datang dengan sepatu hak tinggi dan gaun yang indah. "Ayo, kadonya sudah dibeli. Ayo kita pergi."


Mereka kemudian naik taksi ke rumah Max. Di rumah itu banyak tamu undangan datang. Miriam bersalaman dengan tamu undangan lainnya. Demikian pula dengan Hades dan anaknya Hugo.


Mereka sebenarnya datang terlambat, karena pengajian dan acara potong rambut telah usai tapi Max tetap senang Miriam dan Hades datang.


"Akhirnya setelah di tunggu lama," sahut Hades.


Max mengangguk.


Anna kemudian muncul membawa bayinya. "Ah, Miriam!" Ia berteriak melihat Miriam datang.


"Bagaimana Kak Anna bayinya?" tanya wanita muda itu.


"Alhamdulillah, perempuan. Aku beri nama Jelita seperti namamu dulu. Jelita Archer." Anna memperlihatkan bayi dalam gendongannya.


"Ya ampun, cantik sekali," sahut Miriam.


"Iya, cantik," sela Hugo.


"Kau mau adik seperti itu. Ayah akan buatkan," ucap Hades.


Yang lainnya tertawa kecuali Hugo.


"Tidak, aku tidak mau." Bocah itu melipat tangannya di dada.


"Lho, kenapa?" tanya Anna dengan lembut.


"Aku ingin menikah dengannya."


------- T A M A T -------


___________________________________________

__ADS_1


Terima kasih, reader semua yang telah membaca novel ini sampai selesai. Jangan lupa kirim, like, komen, vote, atau hadiah ke novel ini. Sampai jumpa lagi dengan novel author yang lainnya. Ini visual Hades dan Hugo yang sedang menanti Miriam. Salam, ingflora💋



__ADS_2