Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Terabaikan


__ADS_3

"Kak, hari ini kita ke mana?" Miriam meneguk jus jeruknya. Ia mulai banyak meniru Max saat makan, seperti pagi itu, Max makan roti dengan selai kacang dan minum jus jeruk.


"Mmh, kau di rumah saja ya? Aku ada urusan."


Miriam cemberut. Walaupun hari Minggu tapi ia ingin ikut dengan pria itu.


Pria itu bisa melihat kekesalan Miriam. "Belakangan ini kau selalu berada dalam bahaya, saat ikut denganku makanya aku ingin kau tinggal di rumah saja. Di rumah masih lebih aman dibanding bersamaku."


"Aku 'kan bisa jaga diri," ucap gadis yang masih merengut itu.


"Mmh. Lebih baik kau di rumah untuk sementara waktu. Mungkin saja dengan beristirahat di rumah ingatanmu bisa kembali."


Miriam masih merengut tapi tak bisa berbuat apa-apa.


----------+++----------


Pagi itu, Max kembali pergi ke pantai tempat Miriam ditemukan. Tanpa perlu mencari, ia bertemu dengan ibu nelayan yang menolong Miriam pertama kali. Ibu itu sedang membetulkan jala suaminya di pantai.


"Ibu masih ingat padaku?" tanya Max saat menghampiri ibu itu yang sedang duduk sendiri.


" Tentu saja. Jarang-jarang aku bisa bertemu bule di sini."


Max tertawa mendengar komentar wanita itu. "Ibu masih ingat 'kan waktu pertama kali bertemu Lita?"


"Lita? Oh, gadis yang kau bawa itu. Ada apa dengannya?"


"Oh, tidak ada. Hanya saja, dia belum ingat apapun dan sulit mencari keluarganya karena ia tak ada di daftar pencarian orang. Apa ibu bisa cerita sedikit tentang saat pertama kali ibu menemukannya?"


Ibu itu menghentikan kegiatannya sebentar dan mulai menerawang. "Rasanya tidak ada yang aneh dengannya kecuali dia hanya berpakaian di bagian atas saja. Untung bertemu dengan ibu, jadi ibu langsung pakaikan pakaian dengan benar dan membawanya ke klinik bersama suami. Takutnya 'kan dia korban perko*saan, tapi ternyata tidak. Duh ... ibu bersyukur sekali untuknya." Ibu itu mengelus dada.


"Apa ada sesuatu yang lain yang ditemukan bersama dengan Lita?"


"Mmh ...." Ibu itu melirik Max. Ia seperti ragu-ragu tapi kemudian akhirnya bicara. "Sebentar." Wanita paruh baya itu beranjak berdiri dan melangkah ke arah rumahnya. Tak lama, ia kembali. Ia menyodorkan sesuatu yang berada di telapak tangannya. "Ini, ibu ketemu mutiara kasar ini. Ukurannya cukup besar. Rencananya ... ibu mau jual kalau lagi butuh uang." Ibu itu menunduk malu karena perbuatannya.


Max mengambilnya. Dua buah mutiara berwarna putih yang bulatnya tidak sempurna, persis sama dengan yang dimilikinya. Baik bentuk maupun ukuran. Ia tercengang. "Apa ibu tanya pada Lita, apa ini miliknya?"


Dalam menunduk wanita itu menggeleng.


"Tidak?"


Wanita itu mengangkat kepalanya. "Aku belum sempat bertanya padanya, karena Bapak sudah membawanya."


"Oh."


Max yakin, mutiara itu milik gadis itu tapi kenapa gadis itu menyangkalnya? Ia tak habis pikir. Padahal, walaupun tidak sempurna, mutiara itu asli dan bisa dijual. Kenapa Lita malah menyangkal memilikinya? Memang, ada apa dengan mutiara-mutiara ini hingga gadis itu tidak ingin mengakuinya? Adakah mutiara ini berbahaya atau menyimpan sebuah misteri? "Bolehkah aku pinjam mutiara ini?"

__ADS_1


"Ambil saja," jawab wanita itu pasrah.


Max berpikir sejenak. Ia kemudian mengeluarkan dompetnya. "Mutiara ini aku ambil. Sebagai gantinya, ini buat Ibu." Ia menyerahkan 6 lembar uang kertas merah.


"Tidak usah, Pak," tolak Ibu itu.


"Tidak apa-apa. Ambil saja."


"Tapi mutiara itu bukan milik Ibu."


"Tidak apa-apa. Ini sebagai ganti telah menjaga Lita selama perawatan Ibu. Entah bagaimana jadinya kalau bukan Ibu yang menemukannya," ujar Max bijak.


"Apa dia baik-baik saja, Pak?" Ibu itu akhirnya menerima pemberian Max.


"Iya, dia baik-baik saja. Hanya, sayangnya ia belum bisa mengingat siapa dirinya."


"Jaga dia baik-baik ya, Pak?"


Max tersenyum. "Dia sudah kuanggap seperti adik sendiri."


Tiba-tiba terdengar bunyi telepon berdering. Itu suara HP Max. "Halo?"


"Pak, maaf. Nona Lita jatuh dari balkon kamarnya, Pak," ujar satpam dari ujung sana.


"Ada luka di dahinya tapi sudah dijahit. Sekretaris Bapak sedang mengurus."


"Ya Allah." Pria itu mengusap kepalanya. "Aku akan segera kembali." Ia segera menutup telepon dan pamit pada ibu nelayan itu. Ia bergegas ke mobil.


Sepanjang perjalanan, Max berusaha menyingkap misteri yang menyelubungi Miriam tapi tetap saja, walaupun potongan demi potongan teka-teki itu dihubungkan, ia tetap tak bisa menyimpulkan apapun, karena semua yang meliputi Miriam terlalu misterius baginya.


Ia mendapat telepon dari sekretarisnya bahwa Miriam telah dibawa pulang. Mobil pun meluncur menuju rumah.


"Lita!" Max langsung membuka kamar gadis itu tanpa mengetuknya, tapi kemudian ia sadar ia telah lancang. "Eh, maaf."


Miriam yang sedang terbaring di tempat tidur, membalikkan tubuhnya membelakangi Max.


"Lita." Max mendatangi tempat tidur itu dengan berjalan mengitarinya. Ia ingin melihat bekas luka di wajah gadis itu, tapi saat melihatnya ia merasa bersalah. Ada bekas luka panjang dari dekat mata bawah ke dahi yang menyisakan garis lurus dan bekas jahitan di dahi. "Lita ...," ucapnya dengan penuh penyesalan. "Kamu kenapa manjat lagi sih?" Pria itu menghela napas.


Gadis itu merengut kesal. Pada saat ia berada di balkon tadi, ia melihat tikus sedang berjalan di atas genteng. Instingnya sebagai siluman langsung tersulut hingga ia mencoba mendapatkan tikus itu dengan turun dari balkon dan berjalan di atas genting tapi sebelum itu tercapai ia sudah keburu terpeleset di atas genteng yang miring itu dan wajahnya tergores besi pembuangan air. "Ah!"


Darah cukup banyak mengalir tapi waktu itu tangannya yang sigap membuatnya bergelantungan di balkon.


Dua orang satpam yang bertugas di luar menyaksikannya. Salah satu dari mereka berlari hingga masuk ke dalam kamar gadis itu dan menyelamatkannya.


Sebenarnya Miriam bisa saja menggunakan ilmu sihirnya menggunakan awan abu-abu untuk menyelamatkan diri tapi karena dia mendengar salah satu satpam di bawah berteriak untuk menunggu, maka ia menunggu bantuan itu.

__ADS_1


Max mencoba menyentuh wajah gadis itu yang menunduk dalam diam. "Sakit?" ucapnya lembut.


Gadis itu tak menjawab.


Max mendesah, resah. Ia berusaha menasehati Miriam dengan suara pelan. "Kenapa sih kamu masih manjat balkon?"


Gadis itu tak bicara.


"Aku 'kan sudah bilang jangan manjat-manjat, kamu masih saja susah diberi tahu."


Miriam memainkan pinggiran selimutnya. Ia tak berani menatap Max.


"Lita."


Gadis itu masih sibuk memainkan pinggiran selimutnya.


Max menghela napas. "Kamu bosan ya di rumah?" Pria itu menyentuh lengan gadis itu. "Nanti ke Mall yuk?"


Gadis itu menatap wajah pria itu dengan gembira. "Iya, Kak?"


"Sama Anna."


Walaupun sedikit kecewa, ia senang. "Oh, ya."


____________________________________________


Halo reader. Masih semangat baca 'kan? Jangan lupa vitamin author, like, komen, vote atau hadiah. Ini visual Miriam setelah hampir jatuh dari balkon. Salam, ingflora 💋



Blurb


Rico Dominico, masuk ke ruang bawah tanah di rumah tua milik kakeknya. Dia melihat sebuah buku yang tersimpan secara terpisah. Begitu dibuka ada cahaya yang keluar dari buku itu dan menyeret dirinya ke dimensi dunia lain.


Kini Rico berada di dunia antah berantah, yang dimana para penghuninya memiliki kekuatan sihir dan bisa memanggil hewan suci sebagai pelindung mereka.


Rico mengucapkan sebuah mantra yang bisa memanggil Raja Naga yang legendaris. Hal ini membuktikan kalau dirinya punya kekuatan yang sangat besar. Akibatnya, dia diburu oleh banyak orang yang menginginkan kekuatan dirinya.


Rico dan teman-temannya melawan Raja Didio yang kejam dan sangat kuat untuk membebaskan negeri Eleanor.


Akankah Rico bisa selamat dari incaran mereka?


Apakah dia juga akan bisa kembali ke dunia aslinya?


__ADS_1


__ADS_2