
Dengan cepat pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya. "Sini, aku beri kamu tenaga baru." Pria itu mendekati Miriam dan duduk di tepian tempat tidur. Ia menyentuh dahi gadis itu dengan telapak tangannya.
Hades mengucapkan mantra-mantra dengan suara berbisik dan seketika sebuah energi hangat bergerak masuk dari tangan Hades ke kepala Miriam.
Gadis itu merasakan energi itu masuk dan bergerak menyebar ke seluruh tubuhnya. Tak lama tubuhnya merasa ringan dan matanya mulai mengantuk. Seperti ada angin lembut, yang berhembus kemudian dari tangan pria itu ke arah wajahnya. Tak butuh waktu lama, Hades menyelesaikan tranfer energinya.
Pria itu mengangkat tangannya dan menatap gadis di depannya. "Miriam."
Gadis itu telah menutup matanya dan tak bergerak saat dipanggil. Miriam telah tertidur.
Pria itu kemudian berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia mengecup kening gadis itu pelan. "Bertahanlah Miriam. Kalau kau tak kuat, aku akan menjemputmu," bisiknya. Ia tersenyum dan kemudian meninggalkan gadis itu sendirian di dalam kamar.
-----------+++----------
"Aku mau ikut ...," rengek Miriam.
"Kamu istirahat dulu saja di rumah ya? Besok baru ikut aku lagi," terang Max.
"Aku sudah tidak apa-apa, aku sudah sehat," rajuk Miriam.
"Lita, itu saran dokter lho, tidak boleh dibantah. Kamu tahu 'kan, dokternya sangat cerewet!" Max masih saja teringat dengan dokter itu karena satu-satunya dokter yang berani memarahi keluarga pasien karena peduli pada pasiennya.
"'Kan aku tidak dirawat. Dokternya juga tidak tahu kalau aku pergi," kilah gadis itu.
"Ini bukan masalah tahu atau tidak tahunya, Lita tapi kalau melanggar lalu ternyata terjadi apa-apa, bagaimana?"
"Ck, aku 'kan sudah sehat. Kak Max 'kan lihat sendiri aku tidak apa-apa." Gadis itu merengut.
"Itu masalahnya. Aku bukan dokter, jadi tidak bisa memberi saran kedokteran sama sekali karena tidak punya pengalaman."
Miriam menghentakkan kakinya di lantai. "Kak Max ...."
"No, no, no." Jari telunjuk Max bergerak-gerak.
Miriam ngambek sehingga ia menghentikan sarapannya sebagai bentuk protes dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia membanting pintu.
__ADS_1
Max mengusap wajahnya pelan. "Perempuan kalau sudah ngambek ... Keras kepala." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
---------------+++--------------
Miriam berjalan-jalan di taman sendirian. Tak sengaja ia melihat kodok hijau yang ukurannya cukup besar. Tentu saja jiwa silumannya tergoda. Ia langsung lapar melihat kodok hijau yang basah karena terguyur air hujan tadi pagi. Kelihatan menggiurkan.
Ia pun berjongkok dan melompat-lompat mengejar kodok itu. Tidak butuh waktu lama, ia berhasil menangkapnya.
------------+++-----------
Belitan lidah berbentuk pita tipis itu terlepas perlahan dari leher wanita itu lalu masuk ke dalam mulut Hades. Ya, pria itu baru saja membunuh wanita yang memujanya. Karena cemburu sang suami diduga selingkuh, ia ingin mencoba tidur dengan Hades dengan merayunya dan segera pria itu menghabisinya.
Hades termasuk tegas dalam bertindak hingga tak butuh waktu lama, ia sudah menghabisi wanita itu.
Ia bangkit dari tempat tidur dan merapikan pakaiannya. Heh, selesai juga tugasku. Sekarang aku ke mana ya? Ah, ke rumah Pak Max saja. Mungkin aku beruntung bisa bertemu Miriam.
Hades mendekati jendela dan keluar ke beranda. Ia kemudian turun lewat pagar beranda dan berpegangan pada tiang pagar itu hingga kaki menjuntai ke bawah. Jaraknya sekitar satu meter dan ia melompat turun.
Segera ia melewati taman belakang dan mengendap-endap ke pagar depan. Kebetulan pintu pagar terbuka karena ada pengiriman barang dengan motor datang.
Sesampainya di rumah Max, dengan mudahnya ia masuk karena Max telah memberinya izin masuk kapan saja.
Ia kemudian dikejutkan dengan pembantu rumah tangga yang berkerumun di ruang tengah, saat ia masuk ke dalam rumah itu. Rupanya mereka tengah mengerumuni Miriam. Gadis itu setengah tak sadarkan diri tergeletak di atas sofa.
"Ada apa ini?"
Para pembantu rumah tangga menoleh ke arah pria yang baru datang itu.
"Ada apa dengannya?"
"Ah, tadi kami menemukannya tergeletak di taman setengah tak sadarkan diri begini, Mas tapi aku sudah telepon Pak Max dan ia minta kami mengirimnya ke rumah sakit." ujar salah seorang pembantu yang mengelilingi gadis itu.
"Tunggu dulu biar aku periksa." Hades duduk di samping tubuh Miriam yang terlihat gelisah. Ia melihat mata yang sedikit membiru. "Lita, apa kau tadi makan sesuatu?"
"Mmh, a-aku ma-kan, mmh," gumam gadis itu meracau.
__ADS_1
Hades melihat kelopak mata Miriam kemerahan sebelah. Disentuhnya kelopak mata itu. "Sakit?"
"Mmh ...," desah gadis itu sambil menggeleng pelan.
Mmh, sepertinya dia keracunan. Dia makan binatang apa tadi? Hades segera menggendongnya. "Dia tak perlu ke rumah sakit. Aku bisa menyembuhkannya. Tolong buatkan segelas susu atau kopi pahit dan antarkan ke kamarnya," perintah pria itu.
Pria itu bergegas menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar gadis itu. Ia memaksakan gadis itu duduk di atas tempat tidur dengan di topang tangannya dari belakang. Ia menyalurkan tenaganya lewat kedua tangannya dengan terlebih dahulu mengucapkan mantra-mantra.
Gadis itu bisa merasakan tubuhnya sejuk dan kemudian menghangat. Kesadaran mulai pulih. Tiba-tiba kepalanya berkunang-kunang dan ia ingin muntah. "Hug ...."
Hades dengan cekatan kembali menggendong gadis itu ke kamar mandi. Ia mendudukkan gadis itu di samping toilet.
Seketika Miriam muntah di lubang toilet dan Hades mengurut punggungnya. Keluarlah potongan daging yang berwarna hijau dan coklat.
"Miri, kau makan kodok ya? Itu beracun Miri! Apa kau tidak tahu itu?" dengus pria itu kesal. Kepolosan Miriam akan dunia manusia membuat Hades sering khawatir, tapi gadis itu sangat keras kepala dan ingin mengenal dunia manusia lebih jauh lagi karena memujanya. "Sudah?"
Napas gadis itu tersengal-sengal dan pucat. Kelopak matanya yang merah kini berubah pink.
Setelah mencuci mulut gadis itu, Hades kembali menggendongnya dan membawa ke kamar tidur.
Gadis itu pasrah. Ia bersandar pada dada bidang pria itu karena tubuhnya lemah.
Hades membaringkannya di atas tempat tidur dan menutup tubuh gadis itu dengan selimut. Saat itu datang salah satu pembantu Max membawakan susu. Segera Hades meminumkannya pada Miriam.
Gadis itu kemudian menurut dan kembali berbaring dibantu Hades. Sepertinya Miriam sangat lemah karena ia baru saja pulih dari kelelahan menolong Max tapi sudah sakit lagi. Hades semakin khawatir karena belum pernah ia melihat Miriam semenurut ini. Ada apa gerangan dengannya? "Miriam kau tak apa-apa ... Miriam?"
Gadis itu hanya diam dengan pandangan kosong.
"Miriam?" Hades terlihat iba. Ia meraih tubuh gadis itu dan memeluknya. Miriam seperti tak menampiknya dan malah nyaman dalam pelukan Hades.
Saat itu, Max datang dan membuka pintu. Ia kaget melihat Hades dan Miriam saling berpelukan di atas tempat tidur.
____________________________________________
Halo reader. ini visual Miriam saat keracunan. Kelopak matanya kemerahan. Jangan lupa kirim penyemangat author, like, vote komen dan hadiah. Salam, ingflora 💋
__ADS_1