Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Tugas


__ADS_3

Pria itu dengan cekatan mengeluarkan daging dari lemari es dan mencucinya. Ia kemudian memasukkan dalam microwave untuk menghilangkan dinginnya. Setelah itu ia memberi bumbu, daging setengah matang itu dan kembali memasukkannya ke dalam microwave.


Miriam mencoba salah satu bumbu, yaitu garam dan ia keasinan. "Wah, apa ini?" Gadis itu mengeluarkan lidahnya.


"Eh, Lita. Kamu mencobanya terlalu banyak!" Max melihat Miriam terlanjur memasukkan garam hampir setengah sendok kecil ke dalam mulutnya.


Gadis itu mencuci mulutnya di keran sedang Max menahan tawa.


Max menuangkan ke gelas, air mineral yang menjadi tujuannya datang ke dapur. Ia meminumnya.


Setelah melewati pemanggangan yang bisa dilihat gadis itu lewat kaca microwave, makanan itu kemudian disajikan pada Lita di atas sebuah piring.


"Masih panas ya, tunggu saja."


Gadis itu masih terheran-heran dengan proses masak yang ia lihat sangat rumit. Apalagi melihat pada kaca microwave bagaimana daging itu diletakkan pada sebuah piring yang kemudian berputar-putar di dalamnya. Kini piring itu tersaji di hadapannya.


Max mengusap lembut kepala gadis itu. Ia merasa Miriam seperti adik sendiri yang ia tidak pernah punyai. Ia yang terlahir sebagai anak tunggal, tentu saja tidak pernah merasakan rasanya punya adik atau kakak dalam hidupnya. Keberadaan Miriam, mengisi kekosongan itu. "Sudah, aku tidur ya? Ingat, jangan makan jika masih panas," ujar Max mengingatkan.


"Makasih, Kak." Miriam sangat senang pria itu memasakkan makan malam dan mengusap kepalanya dengan lembut. Apa kau mulai menyukaiku? Gadis itu tersenyum simpul.


Lita yang menunggu makanannya dingin di sebuah kursi, akhirnya bisa mencobanya. Ia menyukai daging panggang itu. Mmh, rasanya enak dan saat makan hangat-hangat seperti ini, perut pun terasa hangat dan nyaman. Kelihatanya aku mulai mirip manusia ya? Gadis itu tersenyum senang. Ia menghabiskan hidangan itu hingga tak tersisa.


----------+++----------


"Lita, hari ini aku harus ke luar kota, aku lupa memberitahumu. Sekretarisku bahkan baru mengingatkannya padaku tadi."


"Keluar kota? Maksudmu, keluar dari kota ini?" Miriam memperjelas.


"Iya, benar. Bahkan kita harus menginap untuk beberapa hari."


"Menginap?" Miriam yang tengah makan sosis dengan garpu, tertegun.


"Iya, tidak masalah 'kan? Kamu tinggal ikut saja denganku. Kita akan tinggal di hotel."


"Hotel?" Miriam masih terheran-heran. "Apa itu?"


"Eh ...." Kembali Max dibuat bingung oleh pertanyaan Miriam. "Sebuah gedung yang menawarkan jasa untuk menginap berserta fasilitasnya."

__ADS_1


"Oh ...." Miriam mencoba mencerna. "Maksudnya seperti rumah ini?"


"Ya, betul. Bedanya, ini rumah milikku, sedang di hotel kita sewa dan hanya kamar."


"Seperti penginapan ya?"


"Oh, kau tahu penginapan? Betul seperti penginapan, bedanya gedungnya lebih besar." Pria itu menyuap rotinya. "Kau persiapkan pakaianmu di koper. Nanti kita tinggal berangkat."


"Aku tak punya koper."


"Nanti aku beri."


Keduanya menyelesaikan sarapannya, setelah itu bersiap-siap berangkat.


-------------+++-----------


Hades sedang duduk di tempat biasanya Miriam duduk. Sebuah batu besar pipih yang menghadap ke tengah gua. Ia biasa duduk di situ bila sedang rindu Miriam.


Tiba-tiba sekumpulan awan berwarna abu-abu datang ke tempat itu. Hades hanya memperhatikannya dari jauh hingga awan itu mendekatinya. Ia terkejut dan berdiri. Apa aku harus bertugas? Mungkin ini kesempatanku untuk bisa mencari Miriam.


Putra duyung itu kemudian masuk ke dalam awan pekat itu. Awan itu kemudian bergerak keluar gua hingga ke daratan. Benda itu bergerak menuju ke sebuah rumah sederhana di pinggir komplek perumahan.


Seorang wanita cantik berusia matang sekitar 30 tahun tengah menunggu kedatangan awan itu bersama sang dukun dan ia melihat dukun itu menyambut awan abu-abu itu dengan membawakan sehelai kain dan berdiri menghadapnya.


Tubuh Hades berubah dengan memiliki kaki dan keluar dari awan itu. Dukun itu menutupi sebagian tubuh Hades yang tanpa sehelai pakaian pun dengan kain miliknya. Mereka kemudian sama-sama duduk di lantai bersila seperti juga wanita itu yang duduk di lantai dengan tubuh miring.


Wanita itu terpesona dengan tubuh Hades yang memperlihatkan otot kekarnya.


"Eh, ini putra duyung yang akan membantu bisnismu agar cepat kaya. Kau bisa membawanya pulang dan memujanya. Beri ia pakaian dan makanan yang ia inginkan. Hanya ada satu syaratnya, kau tak boleh tidur dengannya, atau kau akan mati."


"Benarkah? Ah, sayang sekali." Wanita itu mempermainkan kalung di lehernya dengan kerlingan manja pada Hades.


Haduhh, wanita macam ini. Mmh, kalau ia gampang tergoda, berarti umurnya pun takkan lama. Hades melirik wanita itu dengan mata elangnya.


Wanita itu membawa Hades pulang setelah sang dukun memberi Hades pakaian. Di perjalanan, wanita itu terlihat senang. Sesekali ia melirik Hades yang duduk di samping dirinya yang sedang menyetir.


"Aku tidak tahu ada siluman setampan dirimu. Apa kau tidak ingin hidup sebagai manusia?"

__ADS_1


Hades mengangkat alisnya. Kalau saja ia tidak jatuh cinta pada Miriam, mungkin ia akan tergoda pada gemerlap kehidupan manusia yang menghanyutkan. Ia bersyukur jatuh cinta pada pada orang yang tepat yang membuatnya lebih waras dalam bertindak.


"Kau sendiri bisa kaya raya dan terkenal. Apa kau tak ingin mencobanya?"


"Rasanya tidak."


Suara barito Hades benar-benar sangat menggoda wanita itu, tapi ia tak mampu berbuat apa-apa karena pria itu bergeming.


----------+++---------


Miriam mengikuti Max kembali turun ke lantai satu, kemudian mendatangi sebuah aula besar di mana sudah ditata meja-meja bulat yang disusun rapi hingga ke sudut. Meja itu juga dihias dengan bunga-bungaan dan dikelilingi kursi-kursi yang hias kain satin berwarna putih sama dengan warna taplak mejanya.


Di salah satu sudut ruangan ada tertata meja panjang beserta kursi-kursi, sepertinya untuk para panitia atau si pembicara duduk.


Max menemui sekretarisnya dan berbincang-bincang. "Bagaimana, sudah sejauh mana persiapannya?"


"Sudah hampir selesai, Pak. Ini, mau ditaruh di mana, Pak?"


Selagi mereka berbicara berdua, Miriam bergerak mengelilingi tempat itu.


Karena diberi bunga-bungaan, meja terlihat indahnya dan segar. Ruangan memang cukup luas karena bisa mengisi begitu banyak meja bulan dan besar.


Miriam memperhatikan pegawai hotel yang merapikan meja-meja di sana, memberi hiasan. Pegawainya laki-laki dan perempuan. Ternyata pelayanan itu ada yang laki-laki juga ya, pikir gadis itu.


"Lita." Ternyata Max sudah berdiri di belakangnya. "Ayo ikut aku."


Miriam kemudian mengikuti Max keluar ruangan.


"Nanti malam, mitra bisnisku akan datang. Apa kamu punya pakaian bagus untuk dikenakan?"


"'Kan Kak Anna sudah memilihkan banyak pakaian."


"Coba, biar aku lihat. Kalau tidak ada yang bagus untuk acara nanti malam, kita harus pergi berbelanja."


Max dan Miriam sampai ke kamar Miriam. Pria itu berjongkok memeriksa isi koper Miriam. "Maaf ya, aku periksa dulu. Mmh, pakaianmu kebanyakan berwarna hitam. Apa kamu suka warna hitam?"


"Warna itu menarik bagiku."

__ADS_1


Max menoleh dan menatap Miriam. "Warna hitam? Meskipun terlihat keren, tapi itu tak cocok denganmu. Pilihlah warna-warna lembut khas wanita seperti biru muda atau pink. Orange juga bagus."


__ADS_2