Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Menyerang


__ADS_3

"Aku tidak tahu seleramu. Andai saja kamu mau ikut denganku, kamu bisa beli bermacam-macam hiasan rambut yang cantik yang kamu suka. Apa saja, akan aku belikan."


Miriam hanya melirik pria itu sekilas. Aku tahu akal bulusmu, Artha ....


Tak mendapat respon, Artha kembali membicarakan tentang restoran itu agar ia bisa berada di situ lama. "Mmh, kenapa tidak dibuat tiga saja, agar ketiga restorannya bisa diamankan."


Miriam menoleh tajam. "Kesalahannya ada di mana? Kan kamu, yang hanya beli satu kerisnya?"


"Oh, iya ...." Artha menepuk dahinya. "Aku pikir kamu butuh satu, waktu kamu bilang butuh keris. Ya ampun ...." Ia menoleh pada gadis itu kembali. "Jadi bagaimana dengan sisanya?"


"Tinggal digilir saja. Biarkan keris itu menumpas pocong-pocong itu dulu di restoran itu, karena memang aku lihat orang itu hanya menempatkan benda itu di restoran yang aku tunjuk itu. Sisanya dia tempatkan pocong-pocong itu dengan cara dikirim."


"Dikirim?"


Miriam melihat kepolosan Artha. "Ini dunia kami, kamu tidak akan mengerti."


"Oh." Namun Artha masih di sana mengagumi wajah Miriam.


"Apa?" tanya Miriam cemberut.


"Oh, tidak. Kau makin hari makin cantik saja," puji pria itu tanpa pikir panjang.


Mmh, kau mulai lupa daratan. Sampai di mana kau akan bertahan, pikir Miriam dengan seringai liciknya.


"Sheila ... seandainya kau mau. Aku ingin bersamamu." Pria itu mulai terbuai kecantikan Miriam saat itu.


"Jangan ucapkan sesuatu yang akan kau sesali kemudian," ucap gadis itu tegas.


"Sheila ...." Artha segera meraih tangan gadis itu dan berlutut. "Aku berjanji akan membahagiakanmu. Kau takkan menyesal."


"Lalu janjimu pada pacarmu itu bagaimana? Itu saja tidak bisa kau pegang," ucap ketus gadis itu.

__ADS_1


Pria itu segera berdiri. "Bu-bukan aku tidak bisa memegang janji tapi dari awal saja rasanya aku tak berjodoh dengannya. Permintaan Orang tuanya saja sungguh tak masuk akal," kilahnya.


"Tapi kenapa saat kamu datang pada dukun itu kamu ingin mendapatkan kekayaan demi dia?Kenapa sekarang malah berubah?"


"I-itu karena ...."


"Karena melihat wanita lain kamu berubah?"


Artha menatap Miriam, dengan wajah penuh harap. "Karena bersamamu segalanya begitu mudah. Aku merasa kita ditakdirkan bersama." Ia ingin kembali meraih tangan Miriam tapi gadis itu menyoroti tangan itu tajam.


"Aku datang untuk menolongmu bukan untuk bersamamu," ucap Miriam dengan jelas.


"Sheila kumohon, mengertilah. Aku rela kau bawa aku ke tempat tinggalmu, ke manapun. Aku tak takut. Aku akan rela melewati seluruh rintangan hanya demi untuk bersamamu."


Mmh, tipe pria yang gampang menyerah dan punya seribu janji. Miriam mengangkat satu alisnya. Tipe yang selalu aku dapatkan untuk menjadi budakku. "Janji itu gampang tapi menepatinya itu susah. Coba kau buktikan dulu dengan mengurus restoranmu."


"Oh, tentu saja Sheila, tentu saja. Aku akan buktikan padamu aku akan mengurus restoranku dengan baik." Artha begitu bahagia. Ia kemudian segera pamit dengan membawa keris itu.


-------------+++----------


Ia mengumumkan pada para pekerja di salah satu restorannya bahwa ia akan menaruh keris di kantor dan dia berharap tidak ada yang menyentuhnya karena itu adalah benda keramat. Kemudian ia menaruh keris itu di laci meja kerjanya.


Lewat keris yang telah melewati ritual itu, Miriam bisa melihat restoran itu secara jelas seakan-akan dia berada di sana. Ia bisa melihat para pegawai yang bekerja dan Artha yang sedang mengawasi para pekerjanya di sana. Bahkan ia melihat dengan jelas di mana pocong-pocong itu berada dan bergerak ke mana saja.


Ada 5 pocong diletakkan di sana dan pocong itu sedang melakukan tugasnya. Ada yang bergelantungan di plafon menunggu tamu datang, ada yang di dapur, ada di tempat penyimpanan makanan, kamar mandi dan tempat sholat.


Yang berada di plafon memperhatikan makanan para tamu dan juga ikut memakannya. Bukan dihabiskan tapi untuk dimuntahkan kembali sehingga makanan menjadi tidak enak dan basi. Begitu pula yang berada di dapur. Mereka melahap makanan yang telah digoreng. Di tempat penyimpanan makanan, pocong itu tidur di atas bahan makanan sehingga banyak yang cepat rusak, sedang yang di kamar mandi dan tempat sholat mereka hanya mengintip.


Pertama-tama, Miriam mencari barang yang ditinggal saingan pria itu yang pastinya dia dapat dari seorang dukun untuk bisa melepas pocong-pocong itu. Akhirnya lewat indra penglihatan jarak jauhnya, ia melihat benda itu ada di dalam sebuah pajangan keramik yang terbuka atasnya.


Miriam segera duduk bersila di atas tempat tidur. Ia mengucapkan mantra-mantra sambil memutar tangannya di depan dada. Kemudian dia menangkup tangannya dan meniupkan ke kedua telapak tangannya itu napasnya yang telah membaca mantra.

__ADS_1


Keluar asap abu--abu yang berputar kemudian menguap perlahan ke atas dan keluar lewat jendela kamarnya. Asap itu terus saja berjalan hingga sampai ke restoran Artha yang tengah menyimpan keris yang telah diberi ritual oleh Miriam.


Sempat, pocong-pocong yang kasat mata itu terkejut akan kedatangan asap itu tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Asap itu langsung menuju pajangan tempat saingan Artha meletakkan benda keramat itu dan dalam hitungan detik benda itu meledak.


Tor!


Ledakan benda itu tidak sampai memecahkan pajangan sehingga banyak orang terutama tamu yang kaget dan mencari arah sumber suara termasuk para pegawai. Artha pun mendengarnya, tapi karena suaranya seperti balon yang meletus, tamu tidak begitu antusias untuk mencari tahu hanya mereka menduga ada balon milik anak kecil yang meletus.


Pegawai restoran segera mencari tahu asal ledakan tapi mereka tidak bisa menemukannya. Artha pun dibuat heran, tapi kemudian ia sadar, putri duyung sedang melakukan tugasnya.


Miriam menutup mata dan berkonsentrasi. Tiba-tiba ia muncul di hadapan para pocong-pocong itu. Mereka terkejut, apalagi ketika Miriam membuka matanya yang ternyata berubah menjadi hitam. Kulitnya menjadi pucat dan dari tengah matanya keluar cahaya berwarna merah.


Pocong-pocong itu ketakutan karena Miriam terlihat murka. "Hai pocong-pocong sialan! Inilah waktunya untuk kalian mati menjadi abu di tempat ini .... Heah!" Gadis itu menggerakkan tangannya ke arah pocong-pocong itu. Seberkas sinar berwarna abu-abu keluar dari telapak tangan gadis itu dan menyerang mereka.


"Woah!" teriak salah satu pocong yang terkena sinar tersebut.


Bles!


Pocong itu telah menjadi abu. Pocong yang lain ketakutan dan kocar-kacir berlarian di dalam restoran.


Perang kasat mata ini tidak ada satu pun yang melihatnya karena berada di alam lain. Miriam kembali mengejar pocong-pocong yang lain. Satu-satu ditumpasnya pocong-pocong itu hingga habis tak bersisa.


Kemudian ia beralih ke pajangan tempat benda keramat itu diletakkan. Ia mendekatinya. Dengan satu tangan ia menyentuh pajangan itu. Matanya terpejam. Ia menelusuri pembuat jimat itu. Ketika menemukannya, matanya terbuka.


Ia menemukan tempat dukun itu berada tapi ia melihat dukun itu memiliki tameng. Tameng itu langsung mengarahkan pada si pemilik jimat. Kembali ia memejamkan mata. Setelah mata batinnya kembali menelusuri tempat si pemilik jimat, akhirnya ia menemukannya. Lelaki itu tengah tidur dengan istrinya. Miriam kembali membuka mata.


Ia memutar kedua tangannya mengarah pada pajangan itu sambil mengucapkan mantra-mantra, setelah itu segera ia mendorongnya ke arah pajangan itu. Benda itu sedikit bergetar ketika asap abu-abu memasuki pajangan itu.


Di sana di tempat si pemilik jimat itu, pria itu merasakan tenggorokannya seperti tercekik. Ia terbangun dari tidurnya tiba-tiba. "Aagh ... aagh!" Seperti ada yang membelit lehernya sementara ia merasakan tubuhnya kepanasan dan keluar asap berwarna abu-abu.


Ia berusaha membangunkan istrinya dengan mengguncang-guncang tangannya. "Magh ... Magh ...!" Ia masih memegangi lehernya yang sulit bersuara karena tercekik.

__ADS_1


__ADS_2