Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Suka


__ADS_3

"Eh, tidak apa-apa." Gadis itu baru akan memalingkan wajah ketika pria itu memegangi dagunya. "Eh, Hades!"


"Kau terluka? Kena apa ini?"


"Cuma tergores besi. Sudah sana, pulang!"


"Tapi ini ada jahitan. Apa darahmu keluar banyak?"


"Iya, duh ... cerewet sekali kamu itu ...." Miriam berusaha melepaskan pegangan Hades pada dagunya yang kemudian dilepas pria itu pelan.


"Makanya kamu pusing. Sini aku bantu tambah tenaga."


"Tidak usah, Hades." Miriam memalingkan wajahnya menjauh tapi pria itu kembali menarik wajah itu ke arahnya.


"Ayo, jangan menghindar."


Miriam merengut.


Hades menyatukan tangan dengan membentuk bola dengan jemarinya. Kemudian tercipta gumpalan asap berwarna biru keputihan yang berputar di dalam tangannya. Asap itu kemudian didekatkan di dahi Miriam dan tangan pria itu diletakkan di atas luka. Asap berputar-putar di sekitar dahi dan bawah mata gadis itu.


Miriam memejamkan mata dan merasakan energi yang masuk hingga meringankan kepala. Pelan-pelan hawa sejuk terasa di permukaan wajahnya yang membuat gadis itu mengantuk. Sesudah itu ia merasa seseorang tengah mengusap kepalanya dengan lembut.


"Kau tidur saja, aku akan keluar."


Baru saja Hades hendak keluar, pintu tiba-tiba terbuka. Max masuk bersama Anna dan terkejut melihat keberadaan Hades di dalam kamar itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Max yang melihat Miriam berbaring di atas tempat tidur.


Gadis itu melirik ke arah Max.


"Tidak ada. Aku hanya melakukan tugasku dengan baik dengan memeriksa rumah ini. Aku lihat dia hampir jatuh, jadi aku bawa dia ke tempat tidur," ucap Hades dengan santai.


"Jatuh bagaimana maksudmu? Jatuh dari balkon lagi?" tanya pria bule itu makin tercengang.


"Jatuh dari balkon? Apa luka di dahinya itu akibat jatuh dari balkon?"


"Jadi ... bukan?" tanya Max bingung.


"Oh, maksudku. Tadi aku sedang mengobrol dengannya tiba-tiba tubuhnya hendak jatuh dengan sendirinya jadi aku papah ke tempat tidur," terang Hades jujur.


"Pusing, maksudmu?"


"Eh, mungkin. Aku tidak tahu."


"Oh, alhamdulillah. Aku pikir dia memanjat balkon lagi," pria itu mengusap wajahnya.


"Oh, tidak, Pak."


"Tapi bagaimana kamu bisa ada di sini?"


"Oh, maaf." Hades tersenyum lebar. "Aku melihat dia masuk ke kamar dan aku mengejarnya. Hanya sekedar mengajaknya ngobrol."


Terus terang sekali pria ini. Pria yang jujur tapi .... "Kau tidak boleh masuk kamar wanita yang bukan mahram-nya."


Bukankah pria ini juga bukan mahram-nya, tapi kenapa seolah-olah orang lain salah dan dia benar? Apa dia juga menyukai Miriam? "Iya, Pak."

__ADS_1


"Eh, begini ... Ayo, ikut aku keluar." Max meraih bahu Hades. Ia menoleh pada Anna. "Anna, tolong ya?"


"Iya, Kak."


Hades melirik wanita itu yang membawa sebuah bungkusan dan sebuah boneka. Siapa wanita ini? Asistennyakah?


Keduanya melangkah keluar kamar. Diluar Max baru mulai bicara. "Kau suka pada Lita?"


Apa? Tidak salah ini? Dia bertanya? Hades menatapnya heran.


"Kalau kau mau mengobrol dengannya, aku izinkan, tapi jangan di kamar ya? Di tempat tertutup berduaan itu tidak baik."


"Eh, iya, Pak." Max benar-benar menganggapnya saudara ya, tapi bagaimana dengan Miriam? "Eh, wanita itu siapa, Pak?" Hades juga penasaran dengan wanita tadi.


"Oh, kalau itu jangan diganggu. Dia kekasihku."


Apa? Dia pacaran dengan wanita berjilbab? Apa Pak Max muslim? Miriam, aku rasa kau takkan bisa meraih hati pria ini karena dia sudah menyukai orang lain. Lagipula aku curiga, Penyihir Ular Laut benar-benar tulus membantu Miriam. Jangan-jangan, bisa atau tidak Miriam mendapatkan hati pria ini, jiwanya tetap diambil Penyihir ini. Oh, aku lupa. Aku belum bertemu ayah!


Hades pun berpamitan. Max yang melihat Anna menuruni tangga dengan tersenyum, bingung. "Ada apa, Sayang?"


"Lita tidak tahu harus melakukan apa dengan boneka teddy bear yang aku bawa."


"Oh." Max tertawa. "Bagaimana dengan makanannya?"


"Oh, aku akan mengambilkannya piring."


"Ok."


-------+++---------


Esoknya, Miriam bersemangat untuk ikut Max lagi. Walaupun bekas lukanya sudah merapat dan tak terlalu kelihatan, Max tak berani membawa gadis itu bersamanya karena menurut sekretarisnya, gadis itu harus beristirahat di rumah selama 3 hari.


"Lembur itu apa?"


"Lembur itu bekerja di luar jam kerja jadi Kakak akan pulang lebih malam. Apa kamu mau ditemani Anna? Dia bisa ke sini setelah jam kerja."


"Tidak usah." Miriam menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Atau ... Mas Hadi?" Max ingin tahu reaksi Miriam.


Gadis itu melirik, kesal. "Apalagi ...."


"Cobalah untuk mengenalnya. Pria itu terlihat baik dan jujur."


Miriam kembali menatap pria itu. Heran ... Aku menyukaimu, kenapa kamu tak kunjung mengerti? Ia mengerutkan dahi.


Max melihat reaksi Miriam yang seolah enggan. "Ya ... paling tidak berteman dengannya dulu. Kalau kemudian hanya bisa jadi teman, tidak apa-apa juga kok."


Sudah. Kami sudah berteman lama. Bahkan dari kecil lagi!


Namun pada akhirnya, Miriam tak bisa membantah. Pria itu berangkat kerja sendirian.


--------+++----------


"Maaf, Pak. Ada Pak Dudit di Line 1." Suara sekretaris Max di telepon kantor.

__ADS_1


Max segera mengangkatnya. "Halo."


"Ah, halo, Pak. Apa kabar?"


"Baik."


"Eh, begini. Boleh bicara melenceng sedikit."


"Eh, maksudnya?"


"Begini. Saya terus terang saja ya? Anak saya Doni tertarik dengan sepupu Bapak, Jelita. Apa kira-kira bisa diteruskan? Dia terlihat serius, eh, tapi sebaiknya saling mengenal dulu ya?"


Pembicaraan ini membuat Max kehilangan fokus pada berkas yang dipegangnya. Ia kemudian meletakkan kembali berkas itu di atas meja. "Jadi maksudmu bagaimana?"


"Apa kau mengizinkan?"


"Mmh, sepanjang Lita tidak masalah, kenapa tidak?"


Dudit bersorak dalam hati. "Eh, boleh Doni sekedar main ke rumah?"


"Oh, boleh-boleh saja. Nanti biar sekretarisku yang memberikan alamatnya pada Bapak."


"Oh, terima kasih, Pak terima kasih."


"Sama-sama."


-----------+++-----------


Miriam sedang berjalan di taman belakang ketika salah satu pembantu rumah itu memperhatikannya. Ia berjaga-jaga agar gadis itu tidak lagi melakukan hal-hal yang aneh.


Tiba-tiba gadis itu berjongkok. Ia menemukan cacing tanah yang gemuk. Matanya tak bisa lepas dari pemandangan itu. Ia tergiur untuk mencobanya.


Diangkatnya cacing tanah itu di atas wajah dan ia mengeluarkan lidahnya. Setelah cacing itu menyentuh lidah, segera ia menyeruput cacing itu hingga dalam hitungan detik, cacing itu menghilang masuk ke dalam mulutnya.


Mmh, enak!


Pembantu itu melongo melihat apa yang terjadi. Benarkah penglihatannya tadi bahwa gadis itu baru saja menelan seekor cacing? Ini mengerikan! "I-ida, Ida ...." Ia memanggil temannya. "Masa nona itu makan cacing!"


"Apa? Jangan mengada-ada deh!"


"Benar!"


___________________________________________


Yuk, yuk, yuk! Intip author yang satu ini.


Seorang putra baron yang dianggap sampah kini dikirim ke sebuah desa yang tengah dilanda oleh para bandit.


Pemuda ini terluka, ia menggertakkan giginya karena tujuan dirinya sama sekali belum tercapai, akan tetapi ia meninggal terlebih dahulu.


Kematian pemuda itu mendatangkan satu jiwa yang melayang. Jiwa itu ialah orang yang berasal dari bumi tahun 2983.


Dua jiwa bergabung menjadi satu, keinginan dan tekad saling terjalin.


Satu tujuan yang harus mereka capai, yaitu ialah...

__ADS_1


Menghancurkan Dunia



__ADS_2