Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Masih Tentangmu


__ADS_3

"Eh, maaf. Kami telat." Max mendatangi meja yang telah dihuni Pak Dudit dan anaknya.


"Ah, tidak juga. Kami sebenarnya yang datang terlampau cepat."


Dudit dan Max tertawa.


"Ayo, silahkan duduk Pak." Dudit mempersilahkan.


"Ya, terima kasih."


Max bersama Miriam menarik kursinya.


"Apa sudah dipesan?" tanya Max lagi.


"Aku menunggumu, Bapak."


"Ok." Max mengambil buku menu di hadapannya dan mulai memeriksa.


Doni menyodorkan buku menu pada Miriam. Sekilas Max, melihatnya. Apa Doni suka pada Lita? Kalau kedua-duanya saling suka, kenapa tidak, tapi aku belum menemui titik terang tentang Lita. Siapa dia, di mana ia tinggal dan siapa orang tuanya. Apa benar ia trauma dengan apa yang dilihatnya? Ia lihat apa sebenarnya hingga ia hilang ingatan seperti ini?


Berbagai pertanyaan berseliweran di kepala Max selagi ia melihat buku menu. Sesekali ia berdiskusi dengan Dudit mengenai makanan yang akan dipesan tapi sisanya, ia mengkhawatirkan Miriam.


Tak lama setelah dipesan, makanan pun datang. Mereka makan bersama.


"Lita, sayurnya di makan biar kamu tidak sembelit," ujar Max. Ia sudah berulang kali mengingatkan.


"Aku tidak suka sayur," gerutu Miriam. Rasanya ia jadi ayam bila mengingat harus makan sayur.


Max hanya tersenyum kecil mendengar penolakan Miriam.


"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu?" tanya Dudit. "Sudah sampai tahap seriuskah, mengingat Anda sudah cukup mapan untuk bisa berkeluarga. Tinggal pasangan yang melengkapi, dan Anda akan terlihat sempurna."


"Ya, aku sedang ke arah sana. Lagipula dalam agama Islam, diharuskan untuk disegerakan, bukan begitu, Pak Dudit?"


"Mmh, sudah mantap ya, dengan ... siapa itu namanya?"


"Anna."


"Ya, Anna."


Miriam cemberut mendengarnya, sedang Doni memperhatikan Lita yang tiba-tiba berhenti makan.


"Mau kupotongkan dagingnya?" Doni menawarkan diri.


Miriam masih cemberut.


Max melihat gadis itu yang tiba-tiba diam seketika. "Lita ... Doni tanya, dijawab dong," ucapnya lembut setengah berbisik.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Miriam mulai memotong dagingnya dengan masih cemberut.


"Maaf ya, ia kadang sering ngambek tanpa sebab," ujar Max minta dimaklumi.


"Oh, tidak apa-apa. Wanita. Aku juga sampai hari ini kadang tidak mengerti kalau istriku sedang ngambek," timpal Dudit.


"Benarkah? Wah, aku juga harus hati-hati kalau begitu. Terima kasih tipsnya, Pak."


Komentar Max membuat keduanya tertawa.


Doni masih memperhatikan Miriam. Melihat gadis itu mulai makan, ia kemudian meneruskan makannya.

__ADS_1


Acara makan siang pun berakhir. Max dan Miriam pamit.


-----------+++---------


Mereka kembali bertemu lagi di malam hari. Doni tak mampu berkedip melihat penampilan Miriam yang semakin cantik dengan gaun hitamnya karena malam itu gadis itu juga berdandan lebih dari biasanya.


Padahal sebenarnya, Miriam berdandan untuk Max. Ia ingin terlihat cantik di mata pria itu. Ia ingin menyaingi Anna, kekasih Max.


"Kau cantik ya, malam ini," ucap Doni tanpa sadar.


Miriam memandangnya heran. Aku berdandan buat Kak Max, bukan untukmu! Kenapa kamu melihatku seperti itu, batin Miriam.


"Kita keluar, yuk! Di luar cuaca cerah," ajak pemuda itu.


"Aku di sini saja," jawab gadis itu tanpa menoleh.


"Apa kamu betah di sini?"


Huh, benar juga. Pintar juga dia. Miriam menoleh pada pemuda itu. Mau tak mau ia bangkit dan mengikuti pemuda itu. Doni tersenyum senang.


Mereka berjalan di taman malam-malam.


"Apa yang mau dilihat?" tanya gadis itu sambil melihat-lihat.


Aduh, dia bukan tipe yang romantis ya? Huh, susah nih! Namun Doni mengepalkan tangan membulatkan tekadnya. "Eh, itu ada kursi taman. Kita duduk di kursi taman saja ya?" Ia mengajak Miriam ke kursi taman yang dilihatnya.


Miriam pun mengekor Doni dan duduk di kursi panjang itu. Ia bersandar dan melihat bintang di langit.


Sebuah pemandangan luar biasa untuk Miriam sebab ia sulit melihatnya karena terbiasa tinggal di dalam air terdalam.


"Indah bukan?"


"Lita." Pemuda itu melihat ke arah kedua bola mata gadis itu yang berwarna biru muda. Sangat indah. "Kau sangat cantik. Aku ...."


Miriam melihat pergerakan di belakang Doni, sepertinya .... "Eh, ada tikus." Ia menunjuk ke arah depan.


Doni seketika menaikkan kakinya. "Mana, mana?" Ia ketakutan hingga berpegang pada bahu Miriam. "Aku geli sama tikus, tolong!"


Miriam mengerut kening. Dia takut sama tikus? Aneh! "Kamu, takut tikus?"


"Tikus itu makhluk menjijikkan, Lita. Aku mana berani. Di rumah saja, kalau terlihat tikus, aku suruh pembantu mencari sampai dapat dan membunuhnya. Pantang bagiku bertemu lagi dengan tikus yang sama untuk kedua kalinya," ucap pemuda itu dengan mimik ketakutan.


"Padahal mereka sangat lezat," gumam Miriam.


"Apa?"


"Eh, tidak." Rupanya manusia takut tikus dan membencinya. Max tidak boleh tahu aku makan tikus.


Doni kesal. Padahal di saat itu ia ingin mencuri kecupan pada gadis itu tapi gagal gara-gara ada insiden tikus lewat itu. Mengingat itu, berdiri bulu tengkuknya karena geli. "Hih!"


"Kenapa?"


"Ah, tidak. Sebaiknya kita ke dalam saja. Di luar tidak aman."


Miriam kembali mengikuti Doni.


--------+++----------


Miriam menatap langit-langit kamarnya. Ia ingat percakapan dirinya dan Max saat kembali ke kamar hotel.

__ADS_1


Miriam dan Max keluar dari lift bersama dan melangkah menuju kamar mereka.


"Besok, agak siang kita pulang ya, tapi kamu berkemas saja dulu. Aku ingin beli oleh-oleh buat Anna."


"Apa ... kau akan menikah dengannya?" Gadis itu memberanikan diri bertanya.


Max tersenyum. "Kalau hubungan sudah dekat memang harus begitu, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."


"Tidak diinginkan seperti apa?"


"Seperti berhubungan badan," terang pria itu.


"Tapi kalau suka sama suka 'kan tidak apa-apa?"


Max kembali tersenyum simpul. "Tidak di agamaku."


Anna boleh saja mendapatkan tubuhnya, tapi hati Kak Max hanya untukku. Kak Max ... jangan menikah dengannya.


Sebutir air mata Miriam mengalir melewati sudut matanya, dan air mata itu menjadi mutiara yang berwarna putih.


Kak Max ... Kak Max ... dengarkanlah suara hatiku.


Kembali di kedua sudut matanya mengalir air mata yang kemudian menjadi mutiara.


---------+++---------


Di dalam mobil, Miriam banyak diam. Max melihatnya sebagai tanda gadis itu aman-aman saja, padahal ia tidak tahu bahwa gadis itu sedang memikirkan cara untuk memisahkan Max dengan Anna.


----------+++---------


Max menyambut kekasihnya Anna di sore hari ketika wanita itu datang ke rumah. Miriam mengintipnya dari balik pintu kamarnya ke lantai bawah.


"Halo, Anna. Bagaimana kesibukanmu?"


"Hari ini murid-murid sedikit nakal, tapi untung pengertian." Ya, Anna adalah seorang guru SD.


"Aku kangen padamu." Max mengajaknya duduk di kursi ruang tamu.


Dari kejauhan Miriam bisa melihat, wajah Max begitu senang saat bertemu wanita itu. Matanya bercahaya.


Kak Max ... melihatlah hanya kepadaku. Kepadaku.


___________________________________________


Sambil menunggu up novel author, coba intip novel yang satu ini.


Blurb


Musim paceklik sedang melanda negeri, rakyat sedang menderita akibat dari kekeringan sumber mata air mulai mengering, sedangkan hujan tak turun-turun, tiap malam Kaisar Chimera memandang langit berharap hujan deras mengguyur negerinya. Kesekian kali purnama ia juga memandang langit malam nampak rembulan bersinar terang,


“Huh,... Kau malah selalu tersenyum rembulan, kenapa kau tidak berubah menjadi awan hitam saja?” Gerutu Kaisar Chimera geram.


Tanpa Kaisar Chimera ketahui, rembulan yang ia pandangi setiap malam itu, juga sebenarnya seseorang wanita yang suka menatapnya dari kejauhan langit. Wanita itu adalah Dewi Rembulan, ia terpesona pada sosok seorang pemuda yang selalu memandang kearahnya.


“Siapakah pemuda itu? Dia sangat tampan dan berwibawa,” gumam Dewi Rembulan tersenyum.


Namun syarat Dewi jika ingin berubah jadi manusia agar bisa berjumpa dengan pemuda idamannya, haruslah menunggu selama 5000 tahun agar kesempurnaannya menjadi seorang manusia perempuan dapat terlaksana, sedangkan itu sosok Kaisar Chimera berenkarnasi dari generasi ke generasi.


Dapat kah Dewi Rembulan menemukan cinta sejatinya ? Mampukah ia memikat hati seorang Kaisar Chimera?

__ADS_1



__ADS_2