
Segera pembantu itu pergi.
"Kenapa kau masih di sini?" Miriam mengerut kening. "Apa kau tak bosan seharian di sini?"
"Eh, aku 'kan menemani kamu. Kamu 'kan sedang sakit, mungkin bosan sendirian di rumah."
Sebenarnya aku bosan karena ada kamu. Aku jadi tak bisa ke mana-mana karena harus menemanimu. "Aku ingin istirahat tapi ada kamu yang harus ditemani."
"Apa kau lelah?" Pemuda itu mendekatkan wajahnya. "Bagaimana kalau aku menemanimu di kamar?" Ia tersenyum lebar.
Miriam langsung tahu apa maksudnya. Apa pria semuanya seperti ini? Selalu memikirkan bagaimana caranya bermesraan dengan seorang wanita berdua, tapi ... tidak dengan Max. Dia pria sopan, walaupun aku ingin dia sekali-sekali sedikit nakal. Miriam tersenyum simpul membuat Doni salah sangka.
"Oh, kau mau?" Pemuda itu tersenyum lebar seakan mendapat angin segar.
Mulut Miriam mengerucut seketika. "Kata siapa?" Serta merta ia berdiri.
Doni segera menarik lengan gadis itu. "Eh, aku cuma bercanda. Masa begitu saja dimasukkan ke dalam hati sih!"
Miriam menatapnya dingin.
"Eh, kita 'kan teman, masa begitu saja marah?" Doni, kau harus mendapatkan gadis manis ini, jangan sampai lepas. "Eh, bagaimana kalau kita keliling-keliling naik mobil. Kau 'kan tidak perlu turun. Cukup menikmatinya saja dari mobil. Bagaimana?"
Gigih sekali orang ini. "Aku tak berselera." Miriam segera meninggalkan pemuda itu.
"Eh, tunggu." Pemuda itu masih menahan genggaman tangannya sehingga langkah Miriam tertahan.
Miriam menoleh. "Apalagi?"
"Kau kelihatan tidak sakit. Malah terlihat sehat. Bagaimana kalau kita jalan-jalan di Mal."
"Aku sudah bilang aku tidak mau." Miriam menghempas tangannya tapi Doni masih menggenggamnya dengan erat.
"Kita bisa nonton."
"Kan sudah nonton TV?"
"Bukan itu." Pemuda itu setengah tertawa. "Nonton film."
"Apa bedanya?"
"Film 'kan hanya yang kita sukai saja, kita tonton."
"Tak ada bedanya. Bagiku sama saja. Aku tidak begitu suka menonton TV."
"Itu bukan TV tapi film. Eh tapi pakai layar lebar juga sih, tapi film."
"Ck, aku bingung. Aku mau istirahat di atas."
Namun Doni belum rela melepas gengaman tangannya. "Di Mal kan bisa mengerjakan macam-macam sambil melihat-lihat."
"Lihat apa?"
"Lihat apa saja." Kenapa sih Lita, seperti orang yang belum pernah ke sana saja.
"Bosan. Paling cuma ada baju-baju."
"Kau mau kubelikan baju? Ayo!"
"Malas ah, bajuku sudah banyak."
"Atau sepatu? Tas?"
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Ya biasalah, cewek."
"Cewek kenapa?"
"Ah, sudahlah. Ikut saja. Kau pasti takkan menyesal." Doni berdiri dan menarik Miriam.
Eh, eh, eh? Aku 'kan tidak bilang mau ikut."
Namun Doni telah menarik tangan gadis itu hingga pintu utama dan bertemu seseorang di sana, Hades.
"Eh, kau mau ke mana, Lita?" Pria itu melihat tangan pemuda itu menggandeng tangan Miriam. Ia mengerutkan dahi. Segera ia meraih tubuh gadis itu ke pelukan, hingga pemuda itu terheran-heran.
"Hei, dia itu ...."
"Pacarku," potong Hades.
Doni tercengang. "Bukankah dia ...." Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, gadis itu menyambut tangan pria itu.
"Aku kan tidak bilang apa-apa soal pacar," sanggah Miriam.
Doni merapatkan mulutnya, kesal.
"Oh, ya. Katanya kamu mau pergi denganku?" sambung Hades.
"Ke mana?" Miriam mengangkat kepalanya.
"Ke tepi pantai."
Miriam yakin, pasti Hades berusaha menyelamatkannya dari pemuda itu. "Oh iya."
Miriam mengikuti ke mana Hades membawanya.
Pria itu membawanya keluar. Seorang satpam baru saja sampai dengan mengendarai motor. Hades mendekatinya. "Boleh aku pinjam motormu?"
"Apa?" pria itu terlihat bingung.
"Aku disuruh Pak Max untuk membawa Lita ke pantai."
"Oh." Pria itu terpaksa memberikan motornya.
Hades menaiki motor diikuti Miriam.
"Apa kau bisa membawa motor?" tanya Miriam sangsi.
"Banyak hal yang belum kau tahu dariku." Hades menjalankan motornya melewati gerbang. "Pegangan yang benar di pinggangku, nanti kau jatuh."
Miriam menurut.
Hades tersenyum penuh kemenangan. Ia menjalankan motornya di jalan. Bagus juga kendaraan ini, bisa membuatnya dekat denganku.
Hades menjalankan motornya dengan tidak terburu-buru karena sedang menikmati pelukan gadis itu di pinggangnya. Ini sebuah penantian yang cukup lama. Dipeluk begitu saja, Hades begitu bahagia. Tidak bisakah ia juga mendapatkan hatinya? Namun kemudian ia menyadari hati Miriam tak bisa dipaksa. Ia akan pelan-pelan menuntun gadis itu menyadari bahwa ialah cinta sejatinya.
Miriam sepertinya menikmati perjalanan dengan motor bersama pria itu. Ia tak pernah menyangka Hades bisa mengendarai motor. Seandainya kendaraan ini ada di laut. Eh, mana mungkin ada motor di dalam laut, itu tidak mungkin. Motor 'kan tidak bisa berjalan di dalam air. Ah, ngaco! Bodohnya aku ....
Miriam semakin antusias hingga mengeratkan pelukan. Ia berpindah-pindah melihat ke kiri dan ke kanan jalan memperhatikan sekeliling. Udara yang berhembus pelan dan lari motor yang tak kencang membuat rambutnya bergerak-gerak terkena terpaan angin di gerai rambut panjangnya.
Gerakan tubuh yang bahagia bisa dirasakan Hades melihat eratnya pelukan di pinggang dan saat sesekali Miriam menyandarkan tubuhnya pada punggung Hades.
Pria itu ingat kembali saat mereka masih kecil dan orang tua gadis itu masih hidup. Bila ada kunjungan keluarga saja, ia bisa melihat Miriam. Selebihnya, mereka sangat sulit bertemu, padahal dari pertama bertemu Miriam, ia sudah sangat menyukai gadis itu.
__ADS_1
Pun setiap bertemu, mereka sangat akrab hingga pada suatu hari Hades mengecup bibir gadis itu. Saat itulah gadis itu tahu, Hades menyukainya lebih dari sekedar teman. Sejak itu, Miriam malah mulai menjaga jarak dengan pria itu.
Namun Hades tak menyerah. Ia berusaha menarik ulur persahabatan dan cinta hingga gadis itu terpaksa berteman lagi dengannya.
Akhirnya mereka sampai di pantai. Deburan ombak, seakan mengajak mereka berdua kembali ke asalnya.
Mereka mendekati laut. Udara malam tak terlalu dingin saat itu dan mereka memandangi laut yang luas.
"Miriam, kau tak ingin pulang?" Pertanyaan Hades langsung merusak suasana hati gadis itu.
"Ini pilihanku, kenapa pula kau mencariku?" Miriam mencebik.
"Miriam, ini bukan dunia kita. Kenapa kau ingin tinggal di sini?"
"Bagaimana kalau aku ingin jadi manusia?"
"Kau tak bisa."
"Bisa."
"Untuk apa?"
"Kau tahu jawabannya 'kan?"
"Max? Untuk Max kau jadi manusia?"
"Memang kenapa?"
"Kau mencintainya? Max 'kan sudah punya kekasih."
"Jangan urusi yang bukan urusanmu!" Miriam segera melangkah menjauh.
"Miriam!" Hades meraih pergelangan tangan gadis itu. Ia menahannya pergi.
"Hades!" Miriam berusaha melepas genggaman pria itu tapi sulit. Akhirnya ia menyerah dengan menghempasnya ke bawah. "Hades, sudahlah. Jangan urusi aku lagi. Aku sudah memilih jalan hidupku sendiri, Hades. Maaf kalau aku tidak bisa membalas cintamu tapi dengarlah. Tolong. Jangan dekati aku lagi." Gadis itu, kini dengan mudahnya melepas genggaman tangan Hades yang mulai melemah.
"Tapi Max juga tak bisa membalas cintamu."
"Itu bukan urusanmu, Hades."
"Dan Penyihir itu juga menipumu."
Miriam menghela napas. "Hades, biarkan aku mengurus itu sendiri."
"Mana bisa!" teriak Hades tiba-tiba yang mengejutkan Miriam. "Walaupun kau bisa mengambil hati Max, dia akan tetap mengambil jiwamu, dan aku tidak mau itu terjadi padamu!!!" ucapan keras pria itu membuat wajahnya yang sedikit kecokelatan itu memerah seketika.
Tatapannya nanar dan itu adalah pandangan serius Hades pada gadis itu yang belum pernah Miriam lihat sebelumnya.
Hades yang ramah dan suka bercanda seakan berubah menjadi orang lain. Wajah tampannya terlihat berkarisma.
___________________________________________
Blurb:
Tersasar di hutan, membuat Tresi bertemu dengan pria yang menjadi impiannya. Pria itu bahkan menolongnya dari kumpulan serigala liar. Tresi pun jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa basa basi, Tresi menyatakan cinta pada pria yang baru dikenalnya tadi.
Sayang, pria itu menolaknya. Tak pantang menyerah, Tresi memilih mencium pria itu. Saat itu, mutiara kehidupan milik Bima, pria yang Tresi cium, berpindah padanya. Mau tidak mau, Bima harus mengambilnya lagi. Jika tidak, hidupnya akan berakhir dalam satu tahun.
Bagaimana cara Bima mengambil kembali mutiara kehidupannya? Apakah Tresi akan tetap mencintai Bima, jika ia tahu Bima adalah manusia serigala? Akankah takdir mempersatukan mereka?
__ADS_1