Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Aku Cinta Padamu


__ADS_3

Gedung itu cukup besar. Bahkan megah dengan langit-langit yang lumayan tinggi. Disinilah akan diadakan pesta pernikahan Max dan Anna.


Lalu aku sedang menunggu apa? Menunggu jadi debu dan menghilang.


Max, mungkin sudah saatnya aku menyerah kalah dan pergi dari sisimu. Mungkin sudah suratan, aku takkan pernah menang mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Apa aku, tidak seberguna itu?


Max dan Anna kembali.


"Jadi ruangan selasar juga akan dipakai buat gubuk ya?" tanya Anna pada pegawai itu.


"Iya karena disesuaikan dengan kebutuhannya, Mbak. Tamunya 'kan banyak sekali jadi kalau dilihat dari segi kebutuhan tempat sih, cukup tapi dari ketersediaan tempat untuk mengambil makanannya ini butuh banyak, jadi akan kami pecah di beberapa tempat supaya mengurangi antrian orang yang ingin makan," terang pegawai itu.


"Mmh, ya, ya."


"Untuk sementara hari ini tidak bisa melihat contoh langsung pemasangan pelaminan ya, Mbak karena yang giliran pesta besok, orang pelaminannya agak telat datangnya tapi untuk giliran anda biasanya sehari sebelumnya, karena, Mbak pestanya menggunakan bunga segar jadi tidak tahan lama. Lagi pula minggu ini seminggu penuh, full disewa terus sampai hari Minggu jadi Mbak tidak bisa pasang 2 hari sebelumnya."


"Mmh, begitu ya?"


Max hanya menyimak saja karena semuanya ia serahkan pada selera Anna. Ia hanya menemani wanita itu ke mana pun ia pergi.


Max menoleh pada Miriam yang nampak tidak bersemangat. Gadis itu malah melihat ke arah jalanan. Pria itu kemudian mendekatinya. "Lita, kau bosan?"


"Mmh?" Gadis itu menoleh dan kembali melihat jalanan. "Gak tau, Kak. Menunggu itu menyebalkan." Mulutnya terlihat mengerucut.


"Mmh." Max mencoba berada di posisi gadis itu dengan berdiri di sampingnya. Mungkin kesepiannya bukan sekedar kesepian. Mungkin kesepiannya karena ia tidak punya tempat berpulang. Ia sendirian dan tak tahu apa ia juga punya orang tua, kakak, adik ataupun peliharaan. Ia hanya tahu sendirian dan tak ada yang mencarinya.


"Lita, apa ingatanmu masih belum pulih?"


Gadis itu menggeleng. Ia bahkan berpikir andai saja ia benar-benar lupa bahwa ia adalah seorang putri duyung, punya kekuatan dan jatuh cinta pada Max. Bisakah ketiganya ia lupakan?


Walaupun sekuat tenaga ia menyangkal ia tak bisa lari dari kenyataan. Sekencang apapun ia bisa kabur. Kenyataan selalu membawanya kembali.


"Oh, ayo kita makan, Lita." Anna mendatangi keduanya.


Saat makan sate kelinci pun Miriam tak terlihat antusias. Ia banyak diam.


Max pun merasakannya. "Lita, bagaimana kalau kita ke pantai? Kita main kembang api di sana," ajak Max.

__ADS_1


"Oh, bagus itu. Sebentar lagi malam," Anna malah yang terlihat ingin pergi.


"Kembang api? Apa itu?"


"Oh." Max kaget, Miriam tidak tahu kembang api. Ia menoleh pada kekasihnya, Anna.


"Itu Lita, yang berkerlip-kerlip seperti api tapi bentuknya indah. Ada yang kecil bisa dipegang dan ada yang besar dan bisa terbang ke langit," terang wanita itu.


Miriam melongo. "Rasanya pernah lihat."


-----------+++-----------


Di malam yang hanya diterangi rembulan, 3 orang anak manusia tengah sibuk bermain kembang api di tepi pantai.


"Lita, sudah habis kembang apinya? Sini, di sini masih ada." Max memanggil gadis itu karena kembang apinya sudah tidak lagi menyala.


Miriam berlari-lari mendatangi Max. Pria itu menyalakan lagi satu lagi untuk Miriam. Lucunya, Miriam melihatnya dengan serius.


Ia baru sadar, kalau salah satu benda yang dikagumi sewaktu menjadi putri duyung adalah kembang api. Ia baru mengetahui nama dan cara memainkannya. Ia mengangkat besi kembang api yang kembali padam. "Ya, habis. Kak Max!"


"Kak Max!"


-----------+++----------


Hari yang dinanti tiba. Hari yang penuh misteri bagi Miriam. Max mengetuk-ngetuk kamar Miriam yang terkunci. "Lita, sudah waktunya berangkat, apa kamu belum juga selesai?"


Tak ada jawaban. Max gelisah. Ia tak ingin telat karena sepagi itu mereka harus segera sampai sebab keluarga Anna sudah menunggu mereka di sana. "Lita, Kakak harus segera sampai di sana karena ini acara lamaran. Kakak gak boleh telat. Apa kamu bisa berangkat sama Hadi saja, Kakak duluan?"


Tiba-tiba terdengar bunyi kunci pintu bergeser dan pintu itu terbuka. Miriam keluar dengan masih berpakaian baju piyama.


Di saat bersamaan, Hades yang menunggu lama akhirnya masuk untuk melihat keadaan. Ia melihat Miriam yang keluar dari kamarnya dengan masih berpakaian tidur. Terlintas sesuatu di kepala yang membuatnya panik. Ia segera berlari menaiki tangga.


"Kak Max, jangan pergi." Miriam memegangi tangan pria itu merengek memohon.


"Lita, kamu kenapa? Kenapa kamu tidak ganti pakaianmu? Bukankah kemarin Kakak sudah belikan pakaian yang baru? Kenapa kamu tak pakai?"


"Kak Max, jangan pergi." Miriam menghentak-hentakkan kakinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Lita, kenapa kamu kok aneh hari ini?" Max terlihat bingung. "Sudah, jangan pikirkan yang tidak-tidak lagi. Biarlah Kakak tunggu kamu berganti pakaian sampai selesai."


"Bukan itu ...." Suara gadis itu mulai serak. Ia menghentak-hentakkan kaki lagi merengek agar Max tak pergi. "Jangan pergi Kak Max, aku mohon."


"Kenapa?"


Saat itulah butiran-butiran air mata Miriam jatuh dan menjadi mutiara. Jatuhnya berdenting berbunyi di lantai.


Max melongo. "Lita, kau ...."


"Kak Max, aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Kak Max."


Max terkejut.


"Miriam, jangan!" Namun teriakan Hades sudah terlambat.


Miriam jatuh ke lantai dan sudah tak sadarkan diri. Tubuhnya berubah ke wujud aslinya sebagai putri duyung berambut merah.


Max syok.


"Miriam ...." Hades mendekat, berjongkok di samping tubuh gadis itu dan menangisinya. "Miriam ...."


Max melihat tubuh Miriam yang telah menjadi putri duyung dengan tak percaya. "I-i-ini sulap 'kan? Ka-ka-kau mengenalnya? Kalian berteman?"


Hades menoleh. "Miriam mengejarmu sampai ke darat karena jatuh cinta padamu. Apa kau tak ingat siapa yang menolongmu saat kau hampir tenggelam di lautan?" Air mata Hades yang jatuh pun menjadi mutiara dan bergelindingan di lantai.


"Kau pun sama?" Max melihat air mata Hades yang menjadi mutiara. "Kalian siapa sebenarnya? Ma-ma-makhluk apa?" Ia terhenyak mundur karena takut.


"Aku putra duyung dan Miriam putri duyung. Demi untuk menjadi manusia, Miriam menjual jiwanya pada si penyihir siluman karena yakin kau akan mencintainya, tapi ternyata kau malah memilih orang lain. Sekarang, dia mungkin akan pergi untuk selamanya karena jiwanya kini telah diambil oleh si penyihir jahat." Hades kemudian mulai mengambil tubuh Miriam yang tergeletak di lantai.


Max berusaha fokus. Potongan demi potongan ingatan itu kini telah bisa disatukan. Seorang wanita yang telah menyelamatkannya di laut yang punya rambut berwarna merah, mutiara yang terus ia temukan di sekeliling Lita, mendengar nama Miriam saat di pantai namun tidak bisa menemukan siapa-siapa.


Gadis inilah yang ia cari selama ini. Dia ada di depan mata tengah berada antara hidup dan mati dan ia sebagai pria tak bisa berbuat apa-apa?


Diingatnya kembali masa-masa bahagia bersama gadis itu yang mengisi sepi di sela-sela kesehariannya, bahkan dengan gagah berani menyelamatkannya dari santet lalu rampok. Lalu ia? Apa yang ia telah kerjakan? Membiarkannya mati sia-sia hanya karena dia bukan manusia?


"Mas Hadi! Tunggu!"

__ADS_1


__ADS_2