
"Hades ...." ucap Miriam pelan, terkesima.
"A-aku tak apa-apa kalau kau menikah dengan orang lain," ujar pria itu gugup. "Tapi carilah orang yang mencintaimu agar aku bisa melepasmu dengan ikhlas. Namun aku tak rela kalau kau tak bahagia. Apalagi tak ada lagi di dunia ini, aku takkan bisa mengikhlaskannya. Aku tak bisa bila tak melihatmu." Suaranya bergetar hebat.
Wajah pria itu diliputi ketakutan dan amarah. Matanya pun berkaca-kaca. "Jadi jaga dirimu, Miriam. Hargai keberadaanmu. Biar bagaimanapun kau sangat berharga. Setidaknya ada yang merasakannya seperti itu."
Miriam menatap pria itu tanpa berkedip. Ia bisa merasakan perasaan pria itu yang sangat takut kehilangan dirinya. "Hades ...." Ia mendatangi dan memeluk pria itu. "Aku akan baik-baik saja." Ia menepuk-nepuk punggung teman kecilnya itu.
Hades tak tahu harus bicara apalagi pada gadis itu. Semua cara telah dicoba untuk membujuk gadis keras kepala itu tapi hasilnya sia-sia. Miriam tetap pada keputusannya. Pria itu hanya bisa mendekap gadis kesayangannya itu dengan erat dan membiarkan gadis itu pada pilihan yang diinginkannya.
Malam mulai larut dan Hades mengantar Miriam pulang.
---------+++----------
Miriam tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus kepada apa yang dikatakan Hades. Ia merasa ada yang salah dengan apa yang dilakukannya.
Apa yang aku kejar bila itu hanya angin lalu? Apa yang aku impikan bila aku tak pernah bangun? Apa yang akan aku dapat di akhir kisah hidupku? Apakah sia-sia? Gadis itu mendesah pelan.
-----------+++---------
Pagi itu, Max melirik Miriam sambil tersenyum.
"Apa?" tanya Miriam seraya meminum jus jeruknya.
"Oh, tidak ada." Namun pria itu senyum di kulum.
"Kak Max, ada apa sih?" Miriam makin penasaran.
"Apa tidak ada yang kau ingin ceritakan padaku?" Wajah pria itu terlihat sekali sedang ikut bergembira.
"Apa?"
"Tentang kemarin?"
"Iya?" Miriam masih belum mengerti.
"Bukankah kamu punya tamu?"
"Oh ...."
"Lalu?" Kini giliran Max yang penasaran.
"Tidak ada apa-apa," ucap Miriam berusaha menghindar.
"Tidak apa-apa, bagaimana?"
"Malas cerita. Bosan." Miriam menggigit rotinya.
__ADS_1
"Mmh?" Max yang sedang mengoles roti mengangkat alisnya.
"Kak, aku boleh ikut lagi gak Kak, ke kantor. Aku bosan di rumah."
Jadi, tak ada satu pun dari mereka yang memikat hatinya. Hah ... jadi aku lagi yang harus menjaganya? Padahal Lita sempat pergi dengan Hadi itu sampai larut malam. Masa, tidak ada satu pun dari mereka yang membuat gadis ini terkesan? Tidak mahasiswa, tidak juga kepala keamanan itu ... tapi tunggu!
Kepala keamanan itu bukankah sempat pergi dengan Lita keluar sampai malam? Masa tidak terjadi apa-apa? Eh, maksudku, berarti mereka sempat dekat tapi kenapa Lita bilang membosankan? Mmh, mungkin saja ada episode berikutnya. Kita lihat saja nanti. "Kamu dengan Mas Hadi itu pergi ke mana, semalam?"
"Oh, pantai."
Tuh, kan? "Lalu?"
"Tidak ada. Hanya melihat suasana pantai di malam hari."
"Pasti orangnya romantis ya?"
Miriam mengerut kening. Hades membawaku ke sana untuk mengenang kampung halaman, bukan yang lain. "Aku tidak tahu."
"Apa kau tidak ingin mencari tahu?" Pria itu kembali tersenyum.
"Kak Max, ah!" Lita menggerutu malu membuat Max tertawa terbahak-bahak.
"Lita, kalau ada yang serius padamu, kenapa tidak kau coba?"
Kak Max ... apa kamu tidak bisa merasakan kehadiranku? Aku di sini ... menyukaimu. "Aku tidak mau." Miriam menggigit rotinya kembali dengan kesal seraya melihat ke arah lain.
Miriam melirik sekilas. "Aku tak mau di rumah. Aku sudah sehat," rengeknya.
"Mmh, apa kau ingin punya usaha sendiri? Mengelola uang sendiri, misalnya, aku bisa membantumu." Max menawarkan opsi lain.
"Aku tidak mau. Aku hanya ingin keluar denganmu saja."
"Mmh, ya sudah. Tak masalah."
------------+++--------------
Suasana di bank siang itu kebetulan tak begitu ramai. Mungkin karena mendekati jam makan siang. Max dan Miriam masuk dari pintu depan dan hendak naik ke lantai dua, tapi tiba-tiba terdengar suara letusan yang bunyinya mengagetkan semua orang yang berada di sana.
Lima orang yang memakai pakaian serba hitam dan wajah tertutup kain hitam, masuk ke dalam bank dengan menodongkan senjata. Tentu saja semua orang panik dibuatnya.
"Ayo, semua orang berkumpul di tengah!" perintah salah seorang yang bersenjata itu. Kawanannya berusaha mencari orang-orang yang berada di tempat lain untuk bergabung di tengah-tengah tempat itu termasuk Miriam dan Max.
"Aduhh, apalagi ini," gumam Max pelan. Ia menarik pelan Miriam yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Mereka pergi ke tengah bersama yang lain. "Sabar ya? Mudah-mudahan cepat selesai," bisik Max pada gadis itu.
"Hei, KAU!"
Semua orang melirik pada pria yang sepertinya pemimpin kawanan perampok ini. Ia mengacungkan senjatanya pada Max.
__ADS_1
"Aku?" tanya Max menunjuk dirinya.
"Ya, sini!" panggil pria itu.
"Sebentar, Lita. Kau di sini saja." Pesan pria itu. Max melangkah keluar dari kerumunan dan mendekati pria itu.
Pria berbaju hitam-hitam itu menatap pria bule dengan bajunya yang rapi. Sungguh terlihat sekali bahwa pria itu orang kaya walau dengan penampilan sederhananya memakai kemeja berwarna putih.
"Kau pasti orang kaya yang mau menyimpan uangmu di sini 'kan?"
"Oh, kebetulan aku tidak pakai bank ini dan aku sedang mau membahas masalah lain di sini."
"Jangan bohong kamu!" teriak pria itu sambil menarik pelatuk dan mengarahkan mulut pistol itu ke arah dahi pria bule itu membuat Max terkejut.
"A-aku tidak ...."
"Kak Max!" teriak Miriam melihat Max di todong pistol oleh perampok itu. Gadis itu tidak terima hingga datang menghampiri mereka.
"Lita, jangan ke sini ...," cegah pria bule itu tapi terlambat. Gadis itu telah mendatanginya. "Lita ...."
Perampok itu malah meraih lengan gadis itu dengan kasar. "Oh, bagus. Kalau ada gadis ini, kau bisa bicara jujur padaku, 'kan?" Mulut pria yang tidak tertutup kain itu menyeringai lebar.
"Tapi benar, aku tidak bohong. Aku datang ke sini di undang untuk mengadakan pelatihan bagi karyawan marketing. Kalau anda tidak percaya, anda bisa tanyakan sama manager bank ini sekarang juga."
Pria itu terlihat kesal. Padahal memang benar Max orang kaya tapi memang ia tidak menyimpan uangnya di bank itu dan ia berkata jujur.
"Kalau begitu, kau kembali ke sana dan dia akan aku jadikan sandera," ucap perampok itu yang menahan Miriam.
"Jangan, dia adikku jangan dia apa-apakan," pinta Max.
Perampok itu kembali menodongkan pistol itu pada Max. "Pergi! Kubilang pergi, pergi!!"
"Lita ...." Max menatap Miriam dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak apa-apa, Kak. Aku akan baik-baik saja."
Miriam dibawa perampok itu bergabung dengan perampok lainnya.
____________________________________________
Blurb :
Selamat @BramHero, kode akun xxxBRSuperHero! Ayo lanjutkan, permainan kode slot timun emas. Selangkah lagi menuju level tertinggi, ini adalah tahap awal kamu memenangkan hadiah sebesar 1.000.000.000 cek secara berkala dalam 24 jam, tarik dan proses uang akan dikirim ke akun bank dalam waktu 7hari.
Bram, seorang kurir sayuran box fresh! Mendapat sebuah pesan, misi dari sebuah system delivery.
Akankah Bram tekuni setelah mendapat pesan misterius atau ia abaikan?! Di tambah, kisah cintanya ia ditolak mentah, hanya karena dia pria susah.
__ADS_1