Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Jelita


__ADS_3

"Eh, kemarin dia menanyakan bagaimana caranya menjadi manusia dan aku bercerita tentang penyihir itu, tapi aku tidak menyarankannya lho!" elak siluman buaya putih.


Hades mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa Ibu ceritakan hal itu padanya?" sesal putra duyung itu pada siluman buaya putih. "Kan sudah banyak yang menjadi korbannya, karena Penyihir itu tahu, banyak yang datang padanya dengan permintaan yang mustahil dan kita juga tidak bisa menang melawannya karena dia penyihir yang kuat. Aduh, kenapa Miri terlibat dengan siluman seperti itu sih?" Putra duyung itu kebingungan.


"Atau, kau cari saja dulu. Mungkin dia tidak ke sana."


Yang terpikir saat itu oleh Hades adalah, Miriam telah berenang ke permukaan hingga saat itu juga ia berenang ke daratan ke tempat terakhir ia melihat Miriam tapi ia tidak menemukannya.


------------+++------------


Miriam membuka matanya perlahan. Terlihat seorang wanita paruh baya dengan rambut dikonde ke atas kepala tersenyum ramah padanya.


"Oh, sudah bangun, Nak. Sudah sadar."


"Mmh ...." Tenggorokan Miriam terasa serak. Ia berdehem sebentar membetulkan suara.


Wanita itu segera mengambilkan gelas berisi air putih dan membantu meminumkannya pada Miriam saat gadis itu mencoba duduk dan minum. Gadis itu hanya minum sedikit dan melihat sekitar. Sepertinya ia berada di sebuah klinik pengobatan.


"Kamu masih mau lagi?" Wanita itu kembali menyodorkan gelas itu sambil mengamati Miriam. "Kamu mengerti 'kan maksud Ibu? Kamu bisa bahasa Indonesia?"


"Mmh? Bisa Bu," jawab Miriam heran.


"Oh, syukurlah. Soalnya wajahmu bule dan rambutmu pirang," terang wanita itu.


"Apa?"


"Kamu belum sadar atau bagaimana? Oh, maaf. Ibu membuatmu bingung ya, dengan pertanyaan Ibu. Maaf. Kamu baru sadar 'kan? Ibu menemukanmu di pinggir pantai tadi dalam keadaan pingsan. Ibu pikir kamu korban orang jahat karena kamu tidak berpakaian lengkap. Karenanya Ibu pakaikan kamu baju seadanya dan Ibu bawa ke sini. Alhamdulillah, ternyata setelah diperiksa kamu sehat tidak kurang suatu apapun. Apa kamu terdampar, Nak?"


"Aku ...."


Tiba-tiba terdengar suara orang sedang bercakap-cakap dan suara langkah sepatu mendekat. "Iya Pak, kami menemukan orang terdampar di pantai. Seorang gadis. Orang bule seperti bapak tapi berambut pirang." Seorang wanita berpakaian dokter dan seorang pria bule masuk ke ruangan itu.


Pria itu terkejut melihat Miriam, begitu juga Miriam.


Ah, pria ini. Apakah kau mengenaliku? Miriam begitu terharu hingga hampir meneteskan air mata.


"Oh, sudah bangun, Bu? Kenapa tidak lapor?" tanya dokter itu terkejut dan mendatangi Miriam.


"Baru bangun Dok," jawab Ibu paruh baya itu memberi tahu.


"Ok, saya periksa dulu." Dokter wanita itu segera memeriksa keadaan Miriam.

__ADS_1


Miriam dan pria itu saling berpandangan.


Kau mengingatku 'kan, kau mengingatku, Miriam berharap dalam hati.


Wajahnya sepertinya mirip. Aku tak begitu bisa melihatnya karena cahaya rembulan. Yang kuingat hanya rambutnya yang berwarna merah tapi gadis ini berambut pirang. Bagaimana ini?


"Sepertinya sudah sehat. Apa bisa berbahasa Indonesia? Halo? " tanya dokter itu pada Miriam.


"Oh, bahasa Indonesianya lancar Dok," terang ibu itu.


"Oh, begitu. Adek masih ingat kenapa berada di pantai?" tanya dokter itu langsung pada Miriam.


"Oh ...." Miriam bingung harus menjawab apa sedang dia baru terbangun dan tidak siap dengan apapun. "Eh ...."


"Kau hilang ingatan? Kau ingat namamu?"


"Na-ma ...," ucap gadis itu pelan. Aduh, bodohnya aku. Kenapa aku bisa bodoh begini sih? Kenapa tidak ada satu nama pun yang muncul di kepala. Apa karena berada di depannya? Ah, sial!


"Rupanya kau hilang ingatan. Mmh, repot juga ya? Sepertinya aku harus lapor ke kedutaan, tapi kedutaan yang mana, sebab aku tidak tahu asal usulmu." Dokter wanita itu menopang dagunya.


"Biar aku saja yang urus." Tiba-tiba pria bule itu menawarkan bantuan.


"Tapi gadis ini bukan yang Anda cari 'kan Pak?"


"Mmh, benar. Kecuali ibu ini bisa menampungnya tapi ibu ini hanya seorang istri nelayan yang hanya bergantung dari hasil laut."


"Tidak apa-apa, biar aku ambil alih saja."


"Kalau begitu Adek ikut Bapak ini saja ya?" terang dokter itu pada Miriam dan gadis itu mengangguk.


Pria itu mendekati Miriam membuat jantung gadis itu berdetak kencang. Ia menyentuh rambut gadis itu yang terurai di bahu. "Apa ini rambut aslimu?"


"Eh?" Miriam terkejut. Ia baru menyadari rambut panjangnya kini berwarna putih. Pantas saja dari tadi ibu paruh baya itu mengatakan padanya rambutnya putih dan ia pikir ibu itu bercanda. Ternyata sungguh, rambutnya berwarna putih.


Dalam hati Miriam mengumpat karena merasa telah dibohongi oleh penyihir siluman itu. Kalau begini caranya, akan bertambah sulit baginya untuk membuat pria itu ingat padanya karena pasti pria itu hanya mengingat warna rambutnya yang dulu. Pantas saja, pria itu terlihat ragu-ragu saat melihat wujud dirinya sekarang.


"Bagaimana kalau kau kuberi nama 'Jelita'?"


"Mmh?" Namun kemudian Miriam tersenyum dan mengangguk. Biarlah, kita mulai semuanya dari awal lagi.


"Kenalkan namaku Maximilian. Kamu bisa memanggilku Max. Oh, Kak Max, mungkin, karena aku belum begitu tua." Pria itu menyodorkan tangannya sambil tertawa.

__ADS_1


Miriam ikut tertawa dan menyambut uluran tangan Max. "Jelita."


"Mmh, kau sepertinya tidak seburuk yang aku pikirkan."


"Mak-sud-nya?"


"Eh, dipikiranku, orang lupa ingatan itu pasti sedih karena tak ingat apapun tapi ternyata kau tidak."


"Oh."


"Untuk hilang ingatan ini, sebaiknya diperiksakan ke rumah sakit besar saja ya, Pak? Biar aku buatkan suratnya," ucap dokter itu lagi.


Akhirnya, sore itu, Max membawa Miriam pulang bersamanya. Pria itu menatap Miriam dengan pakaian yang terlihat aneh di matanya. Mereka bersebelahan duduk di kursi belakang sementara mobil itu dikendarai sopir pribadinya.


"Rok ini pasti dari ibu nelayan itu ya, tapi bajumu bagus. Mmh ... sebentar lagi pasti keluargamu akan menemukanmu, percayalah," Max menyemangati Miriam.


Gadis itu tersenyum. Terserah anggapanmu saja Kak Max. Yang penting, sekarang aku bisa tinggal bersamamu.


Setengah jam perjalanan, mobil itu sampai pada sebuah rumah megah berlantai dua.


"Ini rumahku. Ayo, kita turun," ucap Max dengan ramah.


Keduanya turun dan Max mengajak Miriam masuk ke dalam rumahnya yang megah.


"Beginilah rumahku. Tidak terlalu besar tapi cukuplah untuk diriku sendiri."


Kau tidak tahu Kak Max, kalau rumahku hanya sebuah gua tanpa pintu dan tak punya orang tua. Kau lebih beruntung, Kak dari aku.


Max kemudian mengajak Miriam ke lantai 2. Ia menunjukkan sebuah kamar bagi gadis itu. "ini kamarmu. Kamarku tepat ada di sebelah." Pria itu memberi tahu.


Miriam melihat berkeliling. Ruangan yang cukup besar seperti yang ia biasa dapatkan pada manusia lain. Bedanya, kamar pria itu ada di sebelahnya.


"Kau suka?"


Miriam mengangguk. "Terima kasih, Kak."


Tiba-tiba terdengar bunyi telepon. Max mengambilnya dari kantong celana. "Oh, dari kekasihku, maaf ya?" Pria itu segera keluar dan menutup pintu.


Kekasih?


___________________________________________

__ADS_1


Masih membaca novel ini kan? Jangan lupa kirim hadiah buat author seperti like, vote, komen, dan hadiah lain agar author semangat. Ini visual Miriam setelah berubah menjadi manusia. Salam, ingflora.💋



__ADS_2