Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Ular


__ADS_3

"A-apa maksudmu?" Miriam menduga-duga apa yang dipikirkan pria itu.


"Kalau ada ular, kenapa kamu selamat?!!"


Pintar juga pria ini. Gadis itu mencoba berdiri, dan mendekati perampok itu.


"Mau apa kamu mendekatiku?" Pria itu mencoba waspada seraya masih mengarahkan pistol pada Max yang masih pingsan di lantai.


"Memangnya aku terlihat semenakutkan itu?"


"Apa?" Perampok itu terlihat bingung.


"Aku punya apa sampai kau takut?" Pelan-pelan sambil memegangi bahunya, gadis itu mendekat.


"Mungkin kau polisi atau punya ilmu bela diri."


Oh, itu maksudnya? "Apa wajahku seperti wajah seorang polisi?"


"Mmh?"


Saat pria itu memperhatikan wajah gadis itu, saat itulah Miriam membuka mulutnya. Dengan sangat cepat lidah yang setipis pita itu keluar dari mulut gadis itu dan menyambar leher pria itu tanpa ampun.


Pria itu terkejut tapi sudah terlambat untuk menghindar. Di tengah ia sedang berusaha membebaskan diri dari jerat lidah itu dari lehernya, ia juga berusaha mengarahkan pistol itu ke arah Miriam.


"Agghhgh ...."


Melihat pergerakan itu, gadis itu lalu memukul pergelangan tangan pria itu ke atas dengan tangannya. Pistol itu menembak ke atas dan kemudian jatuh ke lantai.


Di saat itulah, karena suara bising pistol, Max terbangun. Ia melihat lidah Miriam membelit leher perampok itu. Ia berusaha meyakinkan matanya dengan apa yang dilihatnya.


Tiba-tiba, terdengar suara berisik dari lantai bawah. Miriam segera melepas belitan di leher mangsanya karena mangsanya telah mati.


Max masih bingung dengan penglihatannya. Apa tadi dia salah melihat atau sedang bermimpi dengan penglihatan yang cuma beberapa detik itu. Atau, ia tengah berhalusinasi?


Ia mencoba bangun. "Ehh!" Ia memegang tengkuknya yang masih sakit.


"Kak!" Miriam yang melihat pria itu bangun, segera berlari menghampiri. "Kakak gak apa-apa?"


"Lita, kau ...." Max melirik darah yang masih keluar dari bahu gadis itu yang masih dipeganginya. "Terluka?"


"Oh ...."


Tiba-tiba segerombolan polisi memasuki toilet itu.


"Apa yang terjadi?" tanya salah seorang polisi itu.


"A-aku melihat ular." Miriam kembali dengan drama wajah takutnya.


"Ular?"


"Iya."


"Ayo, cepat periksa dan tolong ke dua orang ini," ucap pria itu pada yang lain. Sepertinya dia yang memimpin kedatangan polisi lainnya.


"Siap, Pak."

__ADS_1


Max dan Miriam segera dibawa turun. Tak lama ambulan datang dan seorang petugas medis memberikan pertolongan pertama pada gadis itu dan membawanya. Max ikut dalam mobil itu.


"Lita, kau tak apa-apa? Kau pusing?"


Lita yang ditidurkan di atas brankar dan diberi masker oksigen, hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia senang di saat seperti itu Max memperhatikannya dengan menggenggam tangannya. Rasanya detik itu ia ingin dunia berhenti berputar.


"Istirahat saja. Kalau kau ingin tidur, tidurlah. Aku ada di sini."


Kalimat itu sangat menyejukkan. Andai ia boleh bebas bicara, saat itu juga ia ingin menyatakan cinta. Ingin bilang bahwa ia mulai lelah menunggu pria itu yang tak kunjung mengerti kehadirannya. Ingin Max tahu bahwa ia sudah mengorbankan perjalanan hidupnya ke depan demi bersamanya, tapi apa daya. Saat ia mengucapkan kata itu, ia pasti akan berpisah raga.


Padahal sudah sepuluh hari berlalu dan hubungan mereka tidak menunjukkan kemajuan. Ia bingung.


Miriam menggenggam tangan pria itu dengan erat. Setidaknya hanya ini yang bisa menguatkannya di perjalanan berikutnya. Bahwa masih ada harapan walau tak banyak. Segenggam harap. Walau hanya ia yang berharap.


Aku tak ingin tidur Kak Max, karena kalau aku tidur, berarti genggaman tanganmu ini hanya mimpi padahal tidak. Genggaman tanganmu ini nyata.


Max mengartikan genggaman tangan gadis itu sebagai kecemasan karena gadis itu merasa sendirian. Ia bersyukur bisa mengobati rasa cemas dan sendirian gadis itu dengan berada di sana dan menggenggam tangannya.


Ambulan akhirnya sampai juga ke rumah sakit dan Miriam segera mendapat pertolongan. Luka tembaknya dijahit dan mendapat tranfusi darah.


Baru kali ini Miriam merasa dirinya lemah. Beginikah jadi manusia? Sangat lemah.


Max kembali bergabung di ruang perawatan saat gadis itu mendapat tranfusi darah.


"Lita." Ia mengusap pucuk kepala gadis itu. "Kalau sakit, bilang ya?"


"Mmh." Saat itu masker oksigen sudah dilepas dan gadis itu berbaring di atas tempat tidur karena sedang melakukan transfusi darah.


Tak lama polisi yang tadi menyelamatkan mereka datang bersama anak buahnya. Ia menanyakan kronologis kedatangan perampok bank itu dan Max mewakili Miriam memberi tahu.


"Aku tidak tahu, karena perampok itu memukulku hingga pingsan." Max menoleh pada Miriam. "Hanya dia yang tahu kejadiannya."


"Jadi bagaimana?" Polisi itu kini beralih pada Miriam.


"Iya, seperti yang aku sebut tadi," sahut gadis itu.


"Ular?"


"Iya."


"Tapi kami tidak bisa menemukannya di manapun. Kami sudah coba mencarinya. Apa kamu tahu dari mana ular itu masuk. Tim kami masih mencari ular itu di sana."


"A-aku tidak tahu. Tahu-tahu saja ular itu sudah ada di sana," ucap Miriam berusaha meyakinkan polisi itu.


"Ularnya seperti apa?"


Miriam kini kebingungan. Ia harus membuat kebohongan ini sempurna, bagaimanapun caranya. "Em, panjang."


"Iya ...." Polisi itu tersenyum.


Miriam melirik Max berharap ia percaya. "Warnanya hitam."


"Terus?"


"Kecil tapi panjang."

__ADS_1


"Sekecil apa?"


"Pita."


"Pita?"


"Iya."


"Pita 'kan ukurannya macam-macam."


Miriam memperlihatkan ukuran dengan mendekatkan telunjuk dan ibu jarinya.


"Empat-lima senti."


"Iya."


"Panjangnya?"


Gadis itu melebarkan kedua tangannya sepanjang mungkin.


"Hampir 2 meter."


"Iya."


"Tapi bagaimana cara binatang itu sampai bisa melingkar di leher korban?"


"Dia merayap."


Kepala Polisi itu menghela napas. Berbicara dengan gadis itu seperti berbicara dengan seorang anak kecil. Lurus dan polos hingga polisi tahu gadis itu berbohong. Kepala polisi itu sudah mengantongi keterangan dari rumah sakit, bahwa korban meninggal akibat lilitan di leher dan bekas lilitannya ada bekas lendir tersisa di sana, tapi masalahnya, binatang apa yang telah melilit di leher korban karena ular adalah binatang yang tubuhnya tidak berlendir.


Gadis itu menyembunyikan kenyataan yang mereka tidak tahu apa tapi kebohongan itu tidak merugikan siapa-siapa karena sebagian dari perampok itu telah mati, sedang sisanya dua orang lagi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di penjara.


Polisi kemudian pamit.


"Lita, apa kau pusing atau apa?" Max berucap lembut seraya kembali mengusap pucuk kepala gadis itu.


Miriam menggeleng.


"Kau lapar? Ini sudah masuk jam makan siang bahkan sudah lewat."


"Mmh." Gadis itu mengangguk.


"Daging pastinya, iya 'kan?"


Gadis itu tersenyum sambil mengangguk. Pria itu juga tersenyum senang, karena gadis itu mulai terlihat sehat.


"Ok, aku pergi dulu ya?"


"Kak Max."


Pria itu menoleh. "Apa?"


"Jangan lama-lama."


Pria itu kembali tersenyum. "Iya."

__ADS_1


Max keluar dari ruangan itu dan menutup pintu. Sambil melangkah ke kantin, pria itu berpikir keras. Ia juga sepemikiran dengan polisi itu, tidak percaya dengan apa yang dikatakan gadis itu karena ini bukan kali pertama, ada penjahat mati di samping gadis itu. Ini pengalaman keduanya dan ia juga menyaksikan sesuatu yang membuat ia ragu dengan kedua matanya sendiri. Benarkah apa yang dilihatnya saat itu atau hanya ilusi semata?


__ADS_2