Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Pohon


__ADS_3

Kenapa roti dibakar ya? Apa enak? "Apa roti ini mentah?"


"Apa?" Kadang pertanyaannya masuk akal juga ya, Max tersenyum. "Bagi yang mau rotinya sedikit garing, mereka membakarnya."


"Garing?"


"Sedikit keras, sehingga kadang terdengar bunyi saat memakannya."


"Ah, aku mau itu."


"Ok."


Kemudian Max menyodorkan Miriam piring yang berisi roti bakar yang tadi diminta.


Gadis itu mencobanya. Rasanya aneh, ada sedikit rasa pahit, tapi rasanya tidak begitu buruk.


Max yang sedang makan memperhatikan cara Miriam makan yang seolah baru mencobanya hari itu. Pria itu semakin penasaran akan identitas gadis itu.


----------+++----------


"Bagaimana, Grace?"


Seorang wanita cantik, berdiri di hadapan Max terpisah oleh meja kerja. Grace adalah sekretaris Max. "Sudah Saya cari, Pak, dan ini daftar orang-orang hilang dari kedutaan beserta foto KTP-nya."


Max menerima berkas itu. Ia memeriksanya. Tak lama ia menghela napas. Kenapa gadis itu tidak masuk dalam daftar orang hilang ya? Ia berpikir sejenak. Ah, bodohnya aku! Lita 'kan bisa berbahasa Indonesia. Kemungkinan dia warganegara Indonesia. Kenapa aku tidak terpikirkan sampai di sana sih? Uh!


"Ah, coba cari daftar orang hilang warga negara Indonesia."


"Baik, Pak." Sekretaris itu kemudian keluar dari ruangan.


Tak lama sekretaris itu meneleponnya lewat telepon di atas mejanya. "Ini ada telepon dari rumah, Pak."


"Ok, sambungkan."


Terdengar suara seseorang yang dikenalnya, suara salah seorang pembantu rumah tangganya. "Pak, sebaiknya Bapak pulang. Tamu Bapak dari tadi aneh-aneh saja yang dikerjakannya. Sekarang sedang memanjat pohon di taman belakang. Sebelumnya malah duduk di pagar beranda kamarnya. Saya tidak berani melarangnya, Pak. Mungkin kalau ada Bapak, dia mau dengar."


"Oh, ok. Aku segera pulang." Mendengar cerita pembantunya, Max panik. Ia bergegas pulang ke rumah.


Benar saja. Saat ia pulang, Miriam sedang duduk di sebuah dahan terendah dengan batang yang cukup besar untuk menahan bobot tubuhnya.


"Lita, apa yang kau lakukan di sana?" teriak Max dari bawah.


Miriam menoleh ke bawah. "Kak Max!" Ia melambaikan tangan dari atas dengan gembira.


"Lita, untuk apa kamu memanjat sampai ke atas? Itu berbahaya, Lita. Bagaimana caranya kamu turun nanti?"

__ADS_1


Miriam pun bingung dengan pernyataan Max. Mmh, bagaimana caranya aku turun ya? Aku tadi hanya ingin tahu, kaki ini mampu berbuat apa, tapi sekarang, apa aku mampu turun? Mmh ... Gadis itu menopang dagu, berpikir.


Apa aku coba turun saja ya? Miriam beranjak berdiri, tapi ia terpeleset. "Ah!"


"Lita!" Max panik dan mengejarnya ke bawah.


Para pembantu berteriak ngeri, membayangkan gadis itu terjatuh dari jarak sekitar 5 meter dari atas tanah.


Untung saja, gadis itu sigap hingga ia menyambar sebuah cabang dari dahan tersebut dan bergelantungan di sana. Oh, untung saja. Ia tersenyum. Namun batang itu tidaklah sekuat yang diduga. Batang itu bergerak mematah.


Kembali para pembantu menjerit saat batang itu mulai membengkok. Max di bawah, mencari posisi yang tepat untuk menangkap tubuhMiriam yang akan jatuh dan ....


Brakk!!


Batang itu patah dan Miriam jatuh tepat di kedua belah tangan pria itu yang sedang menunggu di bawah. Miriam terkejut sekaligus senang, Max menggendongnya seperti itu. Pipinya memerah karena malu.


"Lita!" Max terlihat kesal. Pria itu kemudian menggendong gadis itu ke dalam rumah dengan derap langkah cepat.


Para pembantu memberi jalan dan kemudian membiarkan mereka berdua karena tak ingin ikut campur masalah mereka.


Max menurunkan Miriam di ruang tengah dan membiarkan gadis itu duduk. "Lita, apa yang kau lakukan tadi itu sangat bahaya, apa kau tahu itu?" Nada suara Max seperti marah yang tertahan.


"Aku hanya mencoba menaiki pohon dan ternyata aku bisa," jawab gadis itu bangga.


"Tapi kau bisa jatuh dan terluka. Apa kau tidak memikirkannya? Itu bahaya, Lita." Max menasehati.


"Cobalah sesuatu yang tidak beresiko. Kamu itu perempuan, Lita. Tidak ada perempuan memanjat pohon seperti tadi. Gunanya apa kamu memanjat pohon seperti itu?"


"Itu ...." Miriam menatap pria itu yang masih kesal padanya. "Kenapa perempuan tidak boleh memanjat pohon?"


"Astaga ...." Max benar-benar pusing menghadapi pertanyaan Miriam. "Kalau kau jatuh, kau bisa mematahkan kaki atau tanganmu. Apa kau tidak takut itu terjadi padamu?!" ucap pria itu gemas.


"Tapi aku lihat tempat itu tidak tinggi," ujar Miriam berkelit.


"Lita!!"


Gadis itu mengerucutkan mulutnya karena dimarahi.


Max serba salah karena ia memarahi orang yang tidak mengerti kenapa ia dimarahi. Seharusnya ia mengajarkan bukan memarahi. "Ok. Ya sudah. Aku harap kau tak melakukannya lagi." Ia berusaha menyelesaikan masalah hingga sampai di situ saja.


Max menyugar rambutnya. Sekarang rasanya tak aman meninggalkan gadis itu sendirian di rumah. Sebenarnya di rumah banyak pembantu dan penjaga rumah tapi tak ada yang berani melarang gadis itu sehingga ia harus, mau tak mau membawa gadis itu ke mana pun ia pergi.


Ini yang menyulitkannya karena mau tak mau Miriam harus bisa beradaptasi dengan keadaan dirinya atau kalau tidak gadis itu akan selalu jadi perhatian umum. Jadi, gadis itu harus dibekali pengetahuan.


Max berpikir keras dengan menopang dagunya. "Begini saja. Mumpung belum siang benar, kita ke rumah sakit saja."

__ADS_1


"Ke rumah sakit?"


Tak lama mereka sampai di rumah sakit. Miriam segera diperiksa. Ia pun dibawa ke tempat rontgen. Ketika masuk ke tempat rontgen, hanya petugas dan pasien yang dibolehkan masuk.


"Eh, kenapa dia tidak ikut?" tanya Miriam pada petugas dengan menunjuk Max.


"Oh, dia tidak berkepentingan."


"Berkepentingan apa?"


"Dia bukan pasien."


"Kenapa kamu ikut?"


Pertanyaan Miriam membuat pusing petugas. Max akhirnya ikut membantu.


"Lita, kamu akan dirontgen. Dengarkan kata petugas ya, karena aku tidak bisa membantu. Aku tidak mengerti ini, jadi aku akan menunggumu di luar."


"Oh, iya."


Petugas kemudian membawa masuk gadis itu dengan brankar. Tak lama mereka keluar kembali. Max mengikuti hingga ke ruang praktek. Dokter memeriksa Miriam seraya menunggu hasil rontgen.


"Ini dok." Seorang suster membawakan hasil rontgennya.


Pria itu kemudian memeriksa di sebuah layar yang menyala ketika dihidupkan. Ia memeriksanya dengan teliti. "Mmh, aku masih menduga-duga mungkin ia syok."


"Syok?" tanya Max.


"Iya. Mungkin wanita ini naik kapal dan kapalnya tenggelam. Ia mungkin melihat sesuatu yang lebih dari ini yang membuat ia syok dan ingin melupakan apa yang dilihatnya."


"Misalnya?" tanya pria itu tak mengerti.


"Mungkin melihat orang tuanya tenggelam atau dibunuh."


Max terkejut.


"Ini meninggalkan trauma yang membuatnya hilang ingatan."


Max tak tahu bagaimana mengomentari ini.


"Sebaiknya dampingi saja ia sampai memorinya kembali. Bantu ia melalui masa sulitnya."


"Eh, iya dok."


Miriam dan Max kemudian keluar dari ruang praktek dokter.

__ADS_1


"Kau mau ke mana sekarang? Membeli sesuatu?"


Miriam melirik Max dari sudut matanya, merasakan nada bicara pria itu yang mulai lembut padanya.


__ADS_2