Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Perkenalan


__ADS_3

"Mmh, ada satu ini yang bagus." Max mengangkat sebuah gaun. "Untuk sementara, kau pakai saja ini untuk nanti malam."


---------+++--------


"Ayah, aku malas ke sana. Pasti isinya orang-orang seumuran Ayah semua." Seorang pemuda begitu malasnya bergerak masuk ke dalam hotel.


"Ini tempat kamu belajar jadi pengusaha dengan mengenal banyak mitra bisnis di sini dan usaha-usaha mereka. Kamu tidak harus melakukan apa-apa, cukup menemani Ayah saja, jadi seharusnya ini tidak sulit bagimu 'kan?"


Pemuda itu hanya mengerucutkan mulutnya kesal.


Keduanya kemudian masuk ke dalam hotel menuju ke tempat pertemuan. Beberapa orang juga tengah menuju ke tempat itu. Pria paruh baya itu mengenal salah satunya. "Oh, Pak Leo apa kabar?"


"Oh, Pak Dudit? Lama tak bertemu."


Mereka bersalaman.


"Ini anakku Doni." Pria itu memperkenalkan anaknya.


"Oya?" Leo menyalami anak Dudit. "Sudah menyiapkan penerus, rupanya. Anakku baru masuk SMA."


"Yah, masih perjuangan panjang sebenarnya karena masih belum tahu apa-apa."


Leo memperhatikan anak Dudit yang merupakan pemuda yang mulai beralih dewasa dan juga tampan. "Sayang, anakku laki-laki. Kalau perempuan, mungkin kita bisa besanan ya, mengingat anakmu cukup tampan."


Dudit tertawa. "Bapak ini bisa saja."


Sambil berbicara mereka melangkah ke tempat pertemuan. Leo terlebih dahulu menyalami Max yang menunggu tamunya di depan pintu.


"Oh, Pak Leo. Terima kasih mau datang," ucap Max senang. Ia menyalami pria itu.


"Oh, terima kasih, Pak Max mau menyambut aku di sini."


Tak sengaja mata Doni melihat seorang gadis bule yang berdiri di samping Max. Pandangannya terhenti hanya pada gadis itu dan jantungnya berdegup kencang. Cantik sekali dia. Apa bisa berbahasa Indonesia?


Tiba giliran Dudit bersalaman dengan Max.


"Pak Dudit." Max menganggukkan kepala.


"Pak Max." Dudit bersalaman dan sekilas melihat Miriam. "Oh, ini anakku Pak Max." Ia memperkenalkan Doni pada Max.


Doni bersalaman dengan Max.


"Ini siapa Pak Max? Setahuku pacarmu orang Indonesia. Apa sudah ganti?" Dudit menunjuk Miriam.


"Oh, ini sepupuku. Kenalkan, namanya Jelita."


Miriam hanya menganggukkan kepala pada Dudit tapi Doni mengulurkan tangan. Tangan itu hanya dilihatnya dan kemudian melirik Max.


"Ayo, salaman dong. Masa malu?" goda Max lagi.


Miriam akhirnya bersalaman dengan Doni.

__ADS_1


"Doni."


"Ayo, silahkan masuk Pak, biar nanti pegawaiku yang akan mengantar ke kursi Bapak."


"Oh iya, terima kasih." Dudit mengikuti seorang wanita yang menunjukkan jalan di depan diikuti anaknya.


Setelah mendapat tempat duduk, Doni mulai bicara dengan mendekatkan mulutnya ke telinga ayahnya, dengan suara pelan. "Yah, sepupu Pak Max, cantik ya, Yah?"


Dudit menoleh. "Apa kamu suka orang bule?" Ia tersenyum simpul mendengar komentar anaknya tentang gadis itu.


"Mmh, aku tidak tahu tapi yang ini cantik, Yah," bisik pemuda itu. Ia terpaksa berbisik karena sudah ada orang yang duduk di sampingnya dan di meja itu juga kursinya sudah hampir terisi semua. Ia malu percakapannya didengar mereka.


Dudit melihat anaknya lekat. "Kau punya mata yang jeli juga. Kalau kau ingin pacaran dengannya, Ayah dukung. Max punya perusahaan yang sangat besar. Bila kita bisa menggabungkannya, itu sebuah keberuntungan besar."


Pemuda itu tersenyum senang.


Saat meja sudah hampir terisi penuh semua dan waktunya tiba, acara ramah tamah itu pun di mulai. Ada seorang pembawa acara, memandu acara itu, selebihnya Max yang mengambil alih pembicaraan.


Saat ini, Max sedang berbicara di depan para tamu dan Miriam yang tadinya duduk di belakang, sebentar mulai bosan. Ia mulai bergerak dan mencari tempat lain untuk sekedar mengganti pemandangan.


Doni melihat pergerakan itu, ikut berdiri dan mendekatinya. "Halo."


Miriam menoleh. "Oh."


"Kamu bosan? Ayo, kita jalan-jalan keluar."


"Mmh ...." Miriam terlihat bimbang. Ia menoleh pada Max yang masih sibuk berbicara. "Aku ...."


"Aku juga bosan dan tidak mengerti. Kita 'kan jalan-jalan di sekitar sini saja, tidak mau?"


Mereka kemudian keluar dari ruang pertemuan itu.


"Namamu Jelita. Dipanggil Lita, iya 'kan?" Doni memastikan.


"Iya."


Pemuda itu memperhatikan Miriam. "Kamu sudah lulus SMA?"


"SMA?"


"Iya. Apa sudah kuliah?" Pemuda itu mengira-ngira.


"Kuliah? Apa itu?"


Pemuda itu tertegun tapi kemudian tertawa ringan. "Kamu jangan bercanda."


"Mmh?" Miriam tidak mengerti kenapa pemuda itu tertawa.


"Ya sudah, kalau tidak mau memberi tahu sekolahmu, tidak apa-apa. Kalau aku masih kuliah, semester lima. Sebentar lagi, mau jadi sarjana ya?" pria itu kembali tertawa.


Miriam masih belum mengerti gurauan pemuda itu sama sekali.

__ADS_1


"Aku tebak, kamu pasti lulus SMA ya? Belum tahu mau kuliah apa. Memangnya tadinya jurusan apa, IPA, IPS?"


"Mmh?"


Wajah kebingungan Miriam membuat pemuda itu kembali menebak. Doni mengangkat jari telunjuknya mengarah ke wajah Miriam. "Oh, pasti IPS. Banyak kok pilihan. Dari yang kuliahnya santai sampai yang rumit."


Gadis itu melongo.


"Gak percaya ya ada kuliah yang santai? Ada kok. Kamu tertarik sama apa?"


Miriam mulai mengacuhkannya. Perkataan pemuda itu terdengar rumit. Ia melangkah pergi meninggalkan pemuda itu, tapi dengan sigap pemuda bergerak menghalangi jalan gadis itu hingga gadis itu menghentikan langkahnya.


"Eh, tunggu. Kamu bosan ya? Maaf. Eh, kita jalan-jalan saja ya? Tidak usah bicara yang rumit-rumit."


Baru saja mereka hendak keluar, ketika Max menyusul Miriam.


"Lita? Kau mau ke mana?" Max terlihat cemas. Ia sedang sibuk memberi arahan dan tiba-tiba kehilangan gadis itu.


"Oh, maaf, Pak. Aku ajak dia jalan-jalan sebentar, kelihatannya bosan," jawab Doni meminta izin.


Miriam senang Max mengkhawatirkannya.


Max melirik pemuda itu. "Kalau begitu, aku titip dia ya? Aku masih sibuk. Dia banyak tidak mengertinya, kalau ditanya jawab saja."


"Eh ... tapi ...." Miriam kecewa mendengar jawaban Max, sedang pemuda itu girang bukan kepalang.


"Baik, Pak. Aman."


Max memperhatikan Doni dengan seksama. "Eh, mungkin bisa ajak dia makan malam dulu. Tadi kami tidak sempat makan malam. Aku akan makan malam dengan para tamu, tapi sepertinya acara makan malamnya kurang cocok dengan kalian yang masih muda ini, jadi tidak apa-apa kalian punya acara sendiri."


Doni tersenyum lebar. Ia senang diberi kesempatan oleh Max untuk berdua dengan Miriam.


"Eh, Kak ...." Miriam ingin protes pada Max.


"Tidak apa-apa, Lita. Sekarang kamu jadi punya teman 'kan?" Pria itu kemudian kembali ke dalam.


Miriam mengerucutkan mulutnya. Inginnya pria itu membatalkan acaranya dan menemaninya jalan-jalan di situ tapi malah menyerahkan dirinya pada orang lain yang tak jelas siapa.


Gadis itu memandang pemuda itu. Mungkin benar kata Max untuk berteman saja dengan Doni dari pada bosan sendirian.


"Ayo, kita makan malam dulu."


Miriam dengan sedikit menunduk, mulai mengikuti pemuda itu.


___________________________________________


Coba kita intip punya author yang satu ini.



Pernahkah kalian mendengar dongeng Gadis Bertudung Merah? Di dalam kisah itu, si gadis dimakan oleh seekor serigala ketika mengunjungi rumah sang nenek. Bagaimana jadinya jika gadis bertudung merah sekarang berteman dengan serigala?

__ADS_1


Gadis itu bernama Luna Garcia yang kehidupannya berubah drastis setelah bertemu dengan sosok Dire Wolf bernama Balkon. Mereka berteman dan bahkan menjalin hubungan asmara. Luna juga membantu sang serigala agar bisa menjadi manusia seutuhnya.


Bagaimana kisah mereka akan berjalan? Akankah Luna berhasil membantu Valko untuk kembali menjadi manusia seutuhnya? Apakah mereka bisa bersatu di kemudian hari?


__ADS_2