Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Ngambek


__ADS_3

Di toilet luar, ada beberapa wanita, sehingga Miriam bingung mencari tempat sepi hingga melihat ada yang masuk ke sebuah kamar kecil. Ternyata ada beberapa ruang toilet dan Miriam memasuki salah satunya. Ia kemudian duduk di sebuah toilet duduk yang ia tutup dan duduki, dan di situlah ia mulai melakukan aksinya.


Ia mulai membaca mantra-mantra sambil memutar tangannya. Terlihat asap abu-abu yang mengumpulkan di tengah. Asap abu-abu itu berputar mengikuti arah tangan Miriam. Kemudian ia melempar asap itu ke atas.


Asap itu kemudian bergerak keluar toilet menuju ke kantor Max. Tiada satu pun yang bisa melihat asap itu kecuali Miriam dan pocong itu sendiri.


Pocong itu terkejut melihat asap itu dan berlarian dengan melompat-lompat berusaha menghindar, tapi percuma karena kemudian asap itu dapat menangkap pocong itu dan menutup seluruh tubuh pocong itu dengan asap. Sebentar saja, ia menjadi gumpalan dan ....


Door!!


Seperti balon yang meledak, semua orang yang berada di ruangan kerja Max terkejut. Bunyi apa itu, semua orang yang berada di dalam ruang kerja Max bertanya-tanya.


Karena mereka hanya bertiga, Max lah yang bertanggung jawab memeriksanya tapi ia tidak menemukan apapun. Bahkan pecahan barang yang pecah sekali pun sehingga ia harus memastikan hingga keluar ruangan, bila kemungkinan suara itu berasal dari luar.


"Maaf ya, sebentar." Max keluar ruangan.


"Kau mendengar sesuatu?" tanyanya pada sekretarisnya.


"Dengar, tapi suaranya sepertinya berasal dari ruang kerja Bapak."


"Coba kau periksakan untukku, sebab aku tidak bisa menemukan apapun di sana."


Sekretarisnya kemudian masuk ruangan untuk memeriksa tapi hasilnya nihil. Wanita itu tak bisa menemukan apapun. "Tidak ada, Pak."


"Ya sudah."


Sekretaris itu pun keluar.


"Apa mungkin Anda berdua membawa sesuatu yang meledak tadi?" Kini Max memastikan pada kedua tamunya.


Mereka memeriksa HP mereka dan kemudian menggeleng.


"Kalau begitu, untuk sementara kita tak usah cemaskan dulu," ucap Max berusaha membuat kedua tamunya merasa nyaman.


Mereka kemudian meneruskan pembicaraan. Namun Max tetap saja terganggu. Ia terus memikirkan bunyi tadi dan dari mana asalnya, hingga ia tak fokus dengan pembicaraan tamunya.


"Bagaimana Pak Max?"

__ADS_1


"Biar aku pikirkan dulu," Max tidak mau asal-asalan dalam mengambil keputusan.


Kemudian kedua tamu itu pun undur diri. Pria itu lalu mencari Miriam yang tak ada sejak kejadian letusan tadi. Ia kemudian menemukan gadis itu keluar dari toilet.


"Lita. Ayo, ke ruang kerjaku."


Gadis itu mengikuti Max ke ruang kerjanya.


"Apa yang kau sebutkan tadi itu tidak sopan, Lita. Mengatakan tamuku membawa pocong. Memangnya kamu bisa lihat?"


"Bisa," jawab gadis itu dengan jujur.


"Egh, Lita. Mana ada manusia membawa pocong ke mana-mana." Max hampir tertawa.


"Buktinya ada 'kan?"


"Kamu jangan mengada-ada, Lita!" Kembali pria itu serius.


"Aku tidak mengada-ada, Kak." Miriam memperhatikan Max. "Mungkin karena aku bisa lihat dan Kakak tidak."


"Lita, jangan bohong kepadaku. Untuk apa tamuku membawa pocong ke mana-mana?"


Max menghela napas. "Lita, ini sudah berlebihan. Eh, begini saja, aku tidak ingin mendengar lagi kamu cerita aneh-aneh lagi, tentang pocong atau mahluk seram sejenisnya."


"Aku tidak cerita aneh-aneh. Itu benar adanya," protes Miriam, tapi pria itu tak percaya.


"Sudah cukup, Lita. Aku bilang cukup!" ucap pria itu jengkel.


Melihat Max yang tidak percaya dengan ceritanya membuat Miriam menggulung bibir bawahnya, kesal. Kenapa ia tak percaya ceritaku? Apa dia harus diperlihatkan makhluk itu dulu baru percaya? Bukankah agamanya juga mempercayai adanya makhluk halus? Gadis itu hanya bisa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sofa.


"Ayo, sekarang kita pulang."


Miriam beranjak berdiri dan kembali mengikuti Max.


Di dalam perjalanan pulang, keduanya sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri. Miriam yang duduk sendiri di belakang kesal karena dituduh mengada-ada. Apa ia harus memperlihatkan pada pria itu bahwa makhluk halus itu ada? Apa dia sanggup melihatnya? Lalu, kalau pria itu melihat wujud aslinya, bagaimana? Padahal ia sudah bersusah-payah agar ia bisa menolong pria itu tadi, yang sempat didekati makhluk itu yang mulai menggodanya, tapi Max bukannya berterima kasih tapi malah memarahinya.


Max juga, walaupun ia tak percaya kata-kata Lita tapi ia penasaran dengan suara letusan yang terjadi di ruang kerjanya. Bunyinya sangat jelas tapi bekasnya tidak ada. Ini sangat aneh baginya. Bila saja suara itu tidak sekeras itu, mungkin Max bisa saja merasa salah mendengarnya, tapi bunyi itu cukup jelas bahkan, sekretaris dan kedua tamunya bisa mendengarnya dengan jelas.

__ADS_1


Ia mengangkat HP dan menelepon sekretarisnya. "Tolong kau panggil teknisi untuk memeriksa jaringan kabel di ruang kerjaku. Apa mungkin jalur listrik atau AC ada yang rusak di sana. Aku takut saat pegawai pulang, terjadi kebakaran karenanya." Ia kemudian menutup teleponnya.


Miriam hanya mendengarkan. Ia tentu saja tidak bisa mengatakan apa yang terjadi karena itu hanya akan membongkar identitas dirinya. Ia yang kesal hanya memandang lewat jendela kaca, pemandangan di luar mobil yang tengah sedikit macet sore itu.


------------+++----------


Hades pulang dengan tangan hampa, tapi setidaknya ia mendapatkan informasi tentang Miriam di darat. Karena keterbatasan jangkauan obat, ia segera kembali ke laut sebelum orang lain melihat wujud aslinya yang seorang putra duyung.


Hades kembali ke istana.


"Hades, bagaimana kabarnya pencarianmu?" tanya Raja duyung yang melihat putranya telah pulang.


"Aku hanya menemukan tempat Miriam tinggal, Yah tapi aku tidak bisa menemuinya. Pria itu membawa Miriam pergi kerja."


"Kalau begitu, kau bisa menemuinya di malam hari."


"Obatnya 'kan hanya berlaku beberapa jam saja, Ayah."


"Ya, datangi di malam hari."


Hades menghela napas. Obat itu hanya boleh diminum sekali sehari, berarti ia baru bisa mendatanginya lagi, esok hari. Ia hanya bisa menunduk.


-------+++--------


Tengah malam, Miriam kembali terbangun. Tentu saja kali ini ia kembali kelaparan. Kelaparan yang teramat sangat karena ia mencoba ngambek dan makan sedikit saat makan malam tadi.


Miriam mendatangi dapur dan mencoba mencari tikus, tapi kali ini ia kesulitan karena tempat sampah yang berada di dapur kini telah diungsikan ke luar sehingga ia bingung harus mencari tikus di mana.


Gadis itu membuka lemari es dan lagi-lagi isinya sama. Sayuran di bawah dan daging beku di atas. Ia sangat kesal hingga membanting pintu lemari es.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dapur dan melihat gadis itu membanting pintu lemari es. "Lita?"


Miriam terkejut.


Max masuk ke dapur dan memergokinya ada di sana. "Ada apa kamu membanting pintu lemari es?"


"Eh ...." Mulut Miriam serasa terkunci.

__ADS_1


"Kamu lapar ya?" Max tersenyum. "Ok. Kamu suka daging panggang 'kan? Akan aku buatkan untukmu."


__ADS_2