
Gadis itu makan dengan lahap ayam goreng yang dibawa Max, bahkan dengan tulangnya hingga Max yang sedang memperhatikan, terpaksa menyetopnya.
"Hei, Lita. Jangan dimakan tulangnya!" Pria itu berdiri dan meletakkan makanannya di atas meja nakas.
"Kenapa? Ini enak. Rapuh." Lita yang masih mengunyah, memandang heran pada pria itu.
"Tidak ada orang yang makan tulang, Lita."
"Mmh? Benarkah?" ucap gadis itu dengan mulut penuh.
Max menghela napas. Di saat ia meragukan identitas gadis itu, di saat itulah ia menguatkan diri bahwa gadis itu adalah gadis yang malang. Salah baginya berpikiran buruk tentang gadis itu apalagi, gadis itu sedang hilang ingatan dan sendirian. Selalu, rasa iba mengalahkan semuanya.
Miriam yang mendengar itu segera meraba-raba mulutnya melalui lidah. Ia berusaha mengeluarkan tulang ayam itu yang telah terlanjur ia kunyah agar pria itu tak melihat aneh pada dirinya.
"Nah, begitu. Keluarkan. Tulang itu makanan kucing. Bahkan dalam agama Islam, tulang itu makanan jin."
Mendengar itu, Miriam tersedak. Ia terbatuk-batuk seketika. Max segera mengambil air minum yang ada di atas meja nakas dan menyodorkannya pada gadis itu.
Miriam meminumnya. Apa jin juga termasuk makhluk aneh baginya? Ia tak sengaja menggerakkan bahu yang terkena tembak yang menyebabkan nyeri di bahunya. "Aaah ...."
"Lita. Jangan terlalu banyak bergerak." Pria itu cemas.
"Bagaimana bisa? Aku 'kan sedang makan."
Max menghela napas pelan. "Sepertinya aku salah membeli makanan. Ya sudah, biar aku suapi saja."
Miriam terlihat senang.
"Ah, biar aku saja!" Ternyata Anna datang berkunjung membuat kegembiraan gadis itu hanya sebentar dan diganti dengan wajah cemberut.
"Jangan begitu dong, biar Kak Max bisa makan juga," ujar Anna tersenyum menatap Miriam.
"Iya."
Anna terlihat sangat tekun memisah-misahkan tulang dengan daging ayam dan menyuapi Miriam. Gadis itu sedikit malu karena wanita itu sangat sabar membantunya makan. Bahkan ia merapikan mulutnya bila ada sisa makanan tertinggal di sekitar bibir. "Jangan buru-buru makannya, tidak baik. Makanan jadi tidak dapat dicerna dengan baik di dalam perut."
"Benarkah?"
"Iya. Dan lagi, kamu tidak cantik lagi kalau gaya makanmu seperti itu," nasehat Anna.
"Memangnya seperti itu?" Gadis itu mengerut kening.
__ADS_1
"Iyalah. Masa kamu tidak ingin terlihat cantik saat makan? Kamu 'kan perempuan."
"Mmh." Miriam tersenyum.
Max tersenyum dikulum mendengarkan percakapan kedua wanita itu. Ia senang, Anna bisa menjadi seperti kakak untuk Miriam.
"Kenapa kalian berdua selalu dalam bahaya ya?" tanya Anna pada Max.
Max menghela napas panjang dan menghentikan makannya. "Aku sendiri tidak tahu. Sejak aku bertemu dengan patner kerja yang berusaha membunuhku itu, tak henti-hentinya kejadian buruk datang padaku." Kembali pria itu menghela napas pelan. "Tapi aku selalu bersyukur, aku bisa melewatinya."
"Jadi, kali ini, kalian selamat gara-gara ular?" Ternyata Max bercerita dengan kekasihnya tentang kejadian hari itu.
"Iya, tapi aku belum pernah melihat ular itu. Hanya Lita yang sudah." Max menatap Miriam. "Entah kenapa, ular itu seperti menyelamatkan Lita."
Miriam sedikit enggan diperhatian seperti itu karena cerita itu hanya kebohongan semata. Yang gadis itu tidak tahu, Max sempat melihat semuanya, bagaimana Miriam mencekik musuhnya lewat lidah panjang yang berbentuk pita hingga pria itu menyangsikan sendiri penglihatannya.
Usai makan, Max pamit ke kantor membuat Miriam bingung.
"Eh, Kak Max lama?"
"Ada yang harus diurus sebentar. Anna akan menemanimu selagi aku tidak ada. Kalau ingin apa-apa tinggal bilang sama Anna ya?"
"Iya," ucap gadis itu sedikit menunduk, kecewa.
"Kamu tidak takut dengan ular itu ya?" tanya Anna ingin tahu.
Miriam sebenarnya malas menjawab pertanyaan itu, karena itu hanya cerita bohong karangannya saja, tapi mau bilang apa, ia tak bisa menghindari karena wanita itu tengah menemaninya. "Ya takut sih ...."
"Jalannya cepat katanya ya?" Wanita itu terlihat penasaran.
"Eh, ya. Begitulah."
"Lalu kenapa ia tidak menyerangmu?"
"Eh? Entahlah. He he. " Miriam mencoba tersenyum, tapi malah terlihat aneh.
"Aneh juga ya? Begitu banyak orang, tapi ular itu seolah memilih mangsanya."
"E, mmh."
"Badannya sudah agak enakan? Apa masih lemas?"
__ADS_1
"Eh, aku tidak merasakan lemas."
"Syukurlah." Anna mengusap pucuk kepala Miriam pelan. "Apa ingatanmu masih belum kembali?"
Kadang Miriam merasa sebal bicara dengan Anna karena terus bertanya pertanyaan sekitar hal yang ia jaga kebohongannya. Ia takut salah bicara dan ketahuan, tapi di lain pihak ia juga merasa nyaman dengan cerewetnya wanita itu. Ia serasa punya teman wanita untuk diajak bicara.
Anna sangat ramah saat berbicara dan Miriam belum pernah punya teman perempuan karena di dunianya ia dianggap gadis aneh hingga tidak punya teman sesama putri duyung.
Wanita itu juga memberi ruang untuk Miriam beristirahat, merapikan selimutnya dan menemani saat tidur. Miriam merasa seperti punya saudara perempuan, sesuatu yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Bahkan, ia memang sendirian.
Anna sholat di sana karena ia membawa kain sholat. Seusai sholat Isha, ternyata Max datang. Ia telah berganti pakaian. Sepertinya ia sempat pulang dan ia datang tidak sendirian. Ada Hades bersamanya.
"Oh, Lita kau kenapa? Kau tertembak, katanya?" Pria itu langsung menghampiri tempat tidur gadis itu.
Anna terlihat heran dengan tingkah laku Hades tapi Max memberi kode untuk tidak mengganggunya. Max mendekati Anna. "Sebaiknya kita duduk di sofa saja, tidak usah mengurusi mereka."
Anna hanya diam dan mengikuti Max. Mereka melihat dari kejauhan. Hades sesekali merapikan rambut Miriam saat bicara.
"Sepertinya mereka akrab," ujar Anna menterjemahkan gerak tubuh mereka.
"Entahlah, aku bingung. Kalau ditanya, hanya Hadi yang mengaku, Lita tidak."
"Mungkin Lita hanya menganggapnya teman."
"Mmh, mungkin saja."
"Dan mungkin Hadi punya cinta yang besar untuk Lita. Dia seperti pria yang tak mudah menyerah."
"Mmh. Aku harap begitu. Aku merasa, aku sulit membuat Lita merasa nyaman. Karena itu, aku berharap ada pria yang bisa dia ajak bicara. Aku, kamu tahu sendiri 'kan? Dengan kesibukanku, aku tidak punya waktu untuk bicara."
"Ya sudahlah. Kita lihat saja dulu perkembangannya. Kita tidak tahu akan ke mana kelak hubungan mereka."
"Ngomong-ngomong soal hubungan. Aku ingin memastikan hubungan kita." Max meraih kedua tangan Anna. "Bagaimana kalau aku melamarmu? Kita segera saja menikah. Aku mulai merasa kesepian di setiap malam-malamku. Tidak ada teman untuk aku ajak bicara dan memadu kasih berdua."
Anna menunduk malu.
"Ya?"
Sebutir air mata lolos membasahi pipi wanita itu. Anna mengangguk pelan.
"Terima kasih." Max mengusap pelan sisa air mata Anna yang terlanjur jatuh dengan ibu jarinya. "Aku mencintaimu, Anna." Pria itu mengeratkan genggaman tangannya.
__ADS_1
"Aku juga, Max. Aku juga mencintaimu."