Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Pertemuan


__ADS_3

"Lita?" Max kembali melangkah keluar. Dilihatnya gadis itu tengah memegangi kandang ayam, sambil memperhatikan ayam yang ada di dalamnya. "Lita, ayo masuk dulu."


Gadis itu menoleh. "Iya." Ia mengikuti Max.


Di dalam, mereka duduk di kursi sofa bersama orang tua Anna dan Anna. Ada juga kakak laki-laki Anna yang duduk di kursi lain dan ikut mendengarkan.


Max menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke sana setelah beramah tamah, dan orang tua Anna mendengarkan. Ia bernapas lega ketika orang tua Anna menerimanya.


Miriam antara iya dan tidak mendengarkan obrolan mereka. Ia hanya diam seraya netranya melihat sekitar.


Anna kemudian mengajaknya ngobrol. "Kamu bosan ya?"


Miriam hanya tersenyum. Ia bukan bosan, tapi malas mendengarkan sebuah kelanjutan cerita yang dia tidak inginkan.


Setelah mengobrol cukup lama, mereka mengajak makan siang bersama. Sebelum itu mereka sholat zuhur di sebuah ruangan kosong. Hanya Miriam yang tidak sholat.


"Lho, kok kamu gak sholat? Apa lagi halangan?" tanya ibu Anna.


Miriam tidak mengerti arti ucapan wanita itu tapi Anna langsung menjawabnya.


"Oh, sepertinya begitu, Bu."


"Mmh." Ibu Anna memperhatikan wajah Miriam. "Baru kali ini Ibu bisa lihat wajah orang bule dari dekat. Apalagi orang bulenya bisa bahasa Indonesia dengan lancar. Rambutmu itu lho, putih. Boleh Ibu pegang." Ibu Anna menyentuh rambut Miriam membuat Anna tergelak.


"Ibu, ada-ada saja."


"Iya, 'kan kalo orang seumuran Ibu baru bisa mendapatkan warna rambut seperti ini. Ini masih muda sudah mendapatkan rambut seperti ini, memang luar biasa."


"Ibu, itu bukan uban." Anna masih tergelak.


Sementara, Miriam hanya diam saja.


"Oh, Lita. Jangan marah ya? Ibuku hanya penasaran." Anna masih tergelak.


"Aku boleh tanya, ngak?" Tiba-tiba Miriam bicara.


"Apa?"


"Kenapa kalian pakai jilbab?" tanya Miriam polos.


"Oh, itu 'kan memang di agama Islam ada. Wanita diminta memakainya," terang Anna.


"Maksudku, itu 'kan tidak wajib."


"Mmh ...." Anna menoleh pada ibunya yang juga memakai jilbab. "Selain perintah agama, kami nyaman memakainya," ujarnya mantap.


"Oh."


Kemudian, mereka makan siang. Anna mengambilkan makanan untuk Miriam. Daging steak panggang.

__ADS_1


"Anna menyiapkan ini khusus untuk sepupu Max, katanya susah makan kalau gak ada ini," terang ibu Anna.


Semua tersenyum menatap Anna dan Miriam.


Miriam pun jadi serba salah. "Terima kasih ya?" Hanya itu yang bisa ia ucapkan.


Max tersenyum bahagia mendapati orang-orang tersayangnya saling akrab. Mereka melewati makan siang dengan penuh canda tawa.


Sempat beristirahat santai sejenak sehabis makan di mana mereka mulai mengobrol santai dan Miriam kembali menyelinap keluar untuk melihat binatang piaraan milik keluarga Anna.


Miriam mendatangi kandang kelinci dan melihat beberapa kelinci bergerak ke sana kemari. Ukurannya cukup besar. Ia penasaran karena binatang itu jarang dilihatnya. Ia mengambil satu yang berwarna putih abu-abu lalu memangkunya.


"Lucu ya?"


Miriam mengangkat kepalanya.


Ada Anna yang datang menghampiri dan berjongkok di sampingnya. "Kamu suka kelinci?"


"Aku baru lihat."


Anna melihat Miriam hanya memegangi kelinci itu. Ia mengusap kepala kelinci itu. " Begini, Lita. Binatang senang kalau di sayang."


"Mmh, apa dagingnya enak?"


Anna tertawa kecil. "Jadi karena itu kamu mengambil kelinci ini? Hanya ingin tahu?" Kembali ia tertawa. "Iya, nanti kapan-kapan aku bawakan sate daging kelinci ya, buat kamu."


"Iya." Anna kembali mengusap kelinci itu.


Sejam kemudian Miriam dan Max pamit pulang. Max sudah berdiskusi pada kedua orang tua Anna mengenai saat yang tepat untuk lamaran dan nikahan. Juga menentukan hari dan persiapan yang harus dilakukan.


Keluarga Anna mengantar Miriam dan Max hingga ke mobil, dan memandang hingga mobil keluar dari rumah itu.


"Ah, alhamdulillah. Semua berjalan dengan semestinya." Max yang duduk di depan terlihat lega dan bahagia sedangkan Miriam, ia masih bingung melangkah padahal Max sudah tidak lama lagi akan menikah.


Jadi sebentar lagi pria itu sudah tidak membutuhkan dirinya karena Anna yang akan mendampingi. Lalu dirinya? Di mana ia akan menempatkan dirinya sementara perhatian Max telah berganti. Akankah ia akan bersikukuh ingin tinggal di sana? Sampai kapan?


Miriam menatap dirinya dari pantulan kaca pintu mobil di sampingnya. Kenapa hingga hari ini ia masih bertahan? Apakah sebenarnya ia hanya tak menerima kenyataan? Walaupun udara cerah di sore yang mulai teduh itu, hatinya tengah mendung. Jadi sekarang, apa yang harus kulakukan?


----------+++-----------


Miriam menatap ke arah cermin. Ia tersenyum pada kepalanya yang ia tutupi dengan selendang yang ia curi di rumah Anna. Apa aku terlihat pantas memakainya, mmh? Apa aku cantik memakai ini Kak Max? Ia menatap wajahnya yang tanpa make up sama sekali itu. Namun kemudian ia melepas selendang itu dan membuangnya ke lantai.


Aku tidak akan pernah jadi Anna kedua. Aku ingin dicintai Kak Max sebagai Jelita, bukan Anna. Setetes air matanya mengalir.


-------------+++-----------


Max membuktikan ucapannya. Sehari-hari Max mulai sibuk dengan mengurus persiapan lamaran dan nikahan, sehingga ia hanya ke kantor sebentar saja kemudian menjemput Anna untuk berbelanja ke berbagai tempat. Mereka pun telah menyewa EO(Event Organizer) untuk mengurus acara lamaran dan pernikahan mereka.


Kadang saat Max pulang, ada Anna yang datang ke rumah dan mengobrol dengan Miriam. Gadis itu tentu saja senang, tapi di lain pihak ia juga kesepian. Sejak Max mengurus pernikahannya, ia jarang bicara dengan Miriam.

__ADS_1


Hanya Hades tempatnya bicara. Selain merasa nyaman, dan kenal, ia tidak begitu suka bicara dengan pembantu rumah tangga Max karena terlihat dari mata mereka, bahwa mereka memandang Miriam aneh, entah kenapa.


"Miri, bagaimana kalau kita ke pantai lagi?" bujuk Hades.


"Ck, aku malas!" Miriam menunduk seraya memainkan rumput di tanah dengan sendalnya.


Mereka berdua sedang berada di taman belakang. Hades sengaja memilih tempat itu karena tempat itu paling aman. Mereka bisa berduaan tanpa perlu ada yang mencurigainya karena apa yang mereka lakukan di sana terlihat jelas.


"Daripada kamu diam di sini karena kelihatannya kamu mulai bosan."


"Aku bukan bosan tapi lagi kesal," ucap gadis itu tanpa mengangkat kepalanya.


"Kenapa?" Hades yang duduk di atas rumput dan mencabuti bunga rumput liar, menyatukannya di satu tangan.


"Max jarang bicara denganku sekarang."


Hades hanya tersenyum lebar. Tentu saja. Itu wajar, karena Max sedang mengurus pernikahannya jadi ia tak punya waktu bicara dengan Miriam. Hanya saja, sampai kapan Miriam akan sadar, waktunya dengan Max mungkin sebentar lagi akan teralihkan. Sampai kapan?


Di sisi lain, Hades iba, karena itu ia tak berani bertanya.


"Miri. Sepertinya kamu stres di sini, jadi sebaiknya kita jalan-jalan saja keluar. Bagaimana kalau kita naik motor jalan-jalan di sekitar sini sambil membeli ayam panggang?"


"Ayam hangus?" Miriam masih menyebut daging yang dibakar itu hangus seperti daging steak.


"Tapi enak 'kan?"


"Iya. Aneh juga." Komentar Miriam. Ia mengangkat wajahnya.


"Atau kamu mau lihat tempat lain?"


"Ke pasar?"


"Pasar?"


"Iya. Aku dengar pembantu di rumah ini mendapatkan dagingnya di pasar."


"Hanya karena itu?"


"Aku hanya ingin lihat pasar."


Kadang pikiran polos Miriam membuat Hades hanya tersenyum. Sangat sederhana, memberi tahu pria itu bahwa gadis itu belum tahu banyak soal dunia manusia. Tidak seperti Hades yang telah banyak wara-wiri di dunia manusia, sedikitnya ia tahu banyak soal kehidupan manusia dibanding Miriam.


Ia berdiri. "Ayo!" Ia menyodorkan sekumpulan bunga rumput liar di tangan pada Miriam.


_________________________________________


Jangan lupa tetap beri semangat author dengan vote, like, komen atau hadiah. Ini visual Miriam yang mencoba selendang Anna. Salam, ingflora💋


__ADS_1


__ADS_2