
Seorang suster masuk dengan mengetuk pintu. "Nona Jelita Archer."
"Ya?" Max langsung menjawabnya. Ia berdiri dan menghampiri.
"Eh, Nona sudah boleh pulang, Pak."
"Oh, begitu. Terima kasih."
"Silahkan Bapak mengurus administrasinya."
Max keluar mengikuti suster itu.
Tak lama, mereka sudah berada di dalam mobil. Max bersama Anna di depan dan Hades bersama Miriam di belakang. Anna dan Max begitu sibuk mengobrol tentang rencana lamaran mereka berdua hingga tak sadar Miriam dan Hades ikut mendengarkan.
"Jadi, Sabtu ini saja aku ke rumahmu bagaimana? Orang tuamu ada 'kan?" tanya Max.
"Mmh, aku rasa Ayah pasti ada. Nanti aku kabari bisa atau tidaknya. Kak Max datang siang?"
"Iya siang. Bagusnya jam berapa ya?"
"Dekat-dekat jam makan siang aja, Kak. Jadi bisa makan siang bersama Ayah."
"Jadi aku diundang makan siang, ceritanya nih?" goda Max.
Anna tersenyum malu. "Biasanya 'kan begitu biar ngobrolnya bisa lama. Orang tua Kakak bagaimana?"
"Mereka saat ini tinggal di Inggris, tapi untuk acara, tidak masalah. Kapan saja diperlukan pasti datang."
"Apa mereka setuju?"
Di sela menyetir mobil, pria itu menyempatkan diri untuk menatap sang kekasih. "Jangan khawatir. Orang tuaku sudah setuju kita menikah karena aku sudah pernah mengirimkan fotomu pada mereka. Jadi kita mantapkan saja acaranya."
Wanita itu tersenyum dan tersipu.
"Tunggu dulu! Kalian menikah?"
"Eh, iya." Max melirik ke cermin kecil di atasnya dan melihat Hades terlihat terkejut. "Kami sudah saling mengenal dan sudah saatnya melangkah ke jenjang berikutnya."
"Eh, apa tidak terburu-buru?" Hades memikirkan gadis yang berada di sebelahnya. Ia melirik Miriam yang terlihat syok dan tak sanggup bicara.
__ADS_1
"Tidak. Dalam agama Islam memang diharuskan mempercepat pernikahan agar apapun yang dikerjakan nanti, menjadi halal. Iya 'kan, Sayang?" Max melirik Anna yang mengangguk malu dengan kepala tertunduk.
"Oh, begitu." Hades kembali melirik Miriam yang sedang memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela tanpa suara. Mungkin gadis itu takut memperlihatkan wajahnya yang sangat kecewa. Pria itu tak berani bertanya.
Sesampainya di rumah mewah Max, Hades buru-buru turun dari mobil dan segera menggandeng Miriam. "Eh, boleh aku antar dia ke atas?" Ia melirik Max.
Max terdiam sejenak. Ia melihat perhatian Hades yang besar pada Miriam menyebabkan pria ini memberi izin. "Ya sudah ... tapi jangan lama-lama!" Max memperingatkan.
Hades segera menarik tubuh Miriam ke dalam rumah dan Max memperhatikannya. Seandainya saja, Lita bisa menerima kehadiran Hadi, alangkah leganya hatiku.
Pikiran Miriam seperti kosong. Ia tidak tahu harus berbuat apa hingga diam saja saat ditarik Hades menaiki tangga.
"Jangan lama-lama berada di kamar!" teriak Max kembali mengingatkan. Hades hanya memberi senyuman.
Sesampainya di kamar, Hades menutup pintu. Ia menatap gadis itu yang melangkah ke arah tempat tidurnya pelan. Langkahnya seperti lemah tak berdaya.
"Miriam, kalau kau mencintainya, kenapa kau tidak mengatakannya pada Max."
"Tidak bisa," ucap gadis itu pelan. Hatinya terasa hampa. "Kalau aku katakan padanya, aku akan mati. Penyihir itu akan mengambil jiwaku." Gadis itu kemudian mencoba duduk di tepian tempat tidur.
"Miriam ... kenapa kau sebodoh itu membuat perjanjian dengan penyihir itu. Kalau kau tidak pernah mengatakannya, mana dia tahu. Apalagi sekarang dia punya kekasih yang hendak dilamarnya. Rasanya peluangmu sangat kecil untuk mendapatkannya."
Pria itu melangkah mendekati gadis itu dan duduk di sampingnya. "Sebenarnya, perjanjian apa yang telah kau buat dengan penyihir siluman itu."
Miriam mengangkat wajahnya dan menatap Hades dengan mata yang sayu. Ia menceritakan semuanya.
Hades yang bersimpati, menarik tubuh gadis itu dalam pelukan. Ia mendekapnya dengan lembut agar gadis itu merasa nyaman. Pria itu menghela napas pelan.
Aku harus kembali ke laut, dan menceritakan hal ini pada Ayah. Sepertinya, Miriam tidak punya waktu hingga 30 hari dan aku harus menyelamatkannya.
-----------+++-----------
Pintu dibuka pelan. Miriam mengintip dan melihat Max tidur dengan lelapnya. Pria itu sepertinya lupa mengunci pintu.
Dengan berjingkat-jingkat gadis itu masuk dan menutup pintu. Ia berdiri dan menatap ke arah pria itu sejenak. Walau sedikit ragu ia mendatangi tempat tidur tempat pria itu terbaring.
Miriam naik ke atas tempat tidur dan memandangi wajah pria bule itu dengan mata sendu.
Kak Max, aku mencintaimu. Kenapa kau tak kunjung mengerti juga? Menurutmu, untuk apa aku terus mengikutimu? Untuk apa aku terus bertahan di sini? Untuk apa?
__ADS_1
Sebutir air matanya jatuh. Gadis itu mendekatkan wajahnya pada pria yang tengah tertidur itu. Ditatapnya dalam-dalam wajah tampan itu dan ... ia mulai mengecupnya. Kemudian ia coba menciumnya.
Pria itu sepertinya mulai sadar dan membuka matanya. "Lita!" Ia tersentak bangun dan terduduk. Ia melihat berkeliling. Hanya ada dirinya sendiri di kamar itu. Max mengusap wajahnya. "Oh, aku hanya bermimpi." Ia menghela napas pelan.
Sementara itu di balik pintu, Miriam membekap mulutnya karena mulai menangis. Ia segera berlari masuk ke dalam kamarnya.
Max kembali merebahkan dirinya tapi tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di atas tempat tidur. Ia kemudian memeriksanya. Ia menemukan sebuah mutiara.
Lagi? Aneh. Tempat tidurku baru diganti sepreinya dan aku yakin tidak mengambil benda ini dari kotak itu.
Max kemudian turun dari tempat tidur dan memeriksanya di laci meja nakas. Ia membuka tutup sebuah kotak berwarna hitam dan menghitungnya. Semuanya ada sebelas dan tidak ada yang hilang. Lho jadi ini punya siapa?
Max kembali memeriksa bentuknya dan mutiara itu sama persis dengan mutiara miliknya yang lain. Bentuknya tidak bulat sempurna. Pria itu menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.
----------+++---------
"Lita ...."
"Aku mau ikut ...," rengek Miriam.
"Tapi lukamu belum sembuh."
"Tapi badanku tidak sakit ...." Gadis itu bersikeras.
Max menghela napas pelan. "Tapi belakangan ini hidupku sedikit berbahaya."
"Tapi aku gak ada masalah 'kan?" ucap gadis itu seraya merengut.
Benar juga sih, katanya. Lagipula dia juga sama. Sendirian tapi entah kenapa, berbahaya juga baginya. Sebenarnya kita mirip ya? "Ya sudah." Max menyerah.
Mata gadis itu terlihat bercahaya, saking gembiranya.
Namun kali ini di kantor, Miriam tidak duduk cuma-cuma. Ia diminta belajar menulis oleh Max dengan diajari oleh sekretarisnya. Gadis itu mau tak mau mengikuti perintah pria itu.
Pria itu lega, gadis itu kini punya kesibukan juga.
-----------+++----------
Max dan Miriam baru saja masuk ke dalam rumah dan terkejut, Hades sudah menantinya di kursi sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Oh, Mas Hadi. Kenapa tumben menunggu di sini. Apa kau menunggu Lita?" tanya Max dengan senyum tersembunyi.