
Max diminta bergabung dengan kumpulan orang-orang yang ditahan di tengah gedung sedang Miriam dibawa ke lantai 2 bersama seorang anggota perampok lainnya.
Max berpikir keras. Biar bagaimana pun, Miriam adalah perempuan dan ia laki-laki. Tugas laki-lakilah yang harus melindungi perempuan, pikirannya tak bisa lepas dari itu. Akhirnya ia memberanikan diri mendekati salah satu perampokan itu. Ia mencoba bernegosiasi. "Eh, boleh aku bicara."
"Jangan coba-coba bernegosiasi! Kami sedang bekerja di sini! Kalau kau mencoba melarikan diri, kau akan merasakan sendiri akibatnya nanti!"
"Oh, aku bermaksud baik. Aku hanya minta di tukar saja dengan sepupuku itu. Hanya itu saja."
"Apa yang ketua kami lakukan sudah yang terbaik, jadi jangan ganggu lagi kami dengan negosiasi yang tak perlu!"
"Oh, iya benar, tapi ketua kalian bisa saja salah 'kan? 'Kan namanya manusia, tempatnya salah apalagi ditempat ini kita tidak saling kenal. Apa ketuamu tahu siapa di antara orang-orang ini yang paling menguntungkan sebagai sandera? Tidak 'kan? Aku bisa memberitahunya bahwa ia bisa mengambil bukan saja uang tapi emas yang disimpan di dalam bank."
"Emas?"
"Iya."
Pria itu menoleh pada temannya yang sama-sama ragu dan bingung mendengar. "Eh, tapi apa kamu yakin ada emas di sini?"
"Justru bank adalah tempat paling aman untuk menyimpan emas."
Pria itu melirik temannya yang juga tidak tahu bagaimana harus bersikap. "Baiklah, tapi awas kalau kamu berbohong. Kau akan tanggung akibatnya," ancam pria itu.
Perampok itu kemudian menggiring Max ke lantai atas menemui bos mereka.
"Ada apa ini?" Terlihat bosnya sedang menunggui teller yang sedang menghitung uang.
"Bos, katanya dia tahu kalau bank ini juga menyimpan emas." Pria itu menarik dengan kasar Max ke hadapan bos mereka.
"Emas? Apa kau bodoh? Ya, tentu saja ada emas di sini tapi di dalam safety box( kotak aman) yang kuncinya dimiliki nasabah. Mana mungkin kita bisa mendapatkannya?"
"Bisa. 'Kan bank punya kunci duplikatnya," terang Max.
"Tetap saja, mereka tidak tahu kotak mana yang berisi emas karena mereka tidak mendatanya. Kamu pikir aku punya banyak waktu untuk membuka satu-satu kotak yang ada ribuan jumlahnya itu? Aku tidak sebodoh itu, menuruti semua apa yang kau katakan!" ucap pria itu dengan marah.
Miriam kesal. Selagi Max mencoba bernegosiasi, perampok itu terus-terusan berkata kasar pada pria itu. Ingin rasanya gadis itu mencekik kepala perampok itu. Ia malas melihat adegan itu. "Aku ingin ke toilet."
Kepala perampok itu melirik anak buahnya. "Temani dia jangan sampai kabur."
Salah satu perampok akhirnya mengikuti Miriam ke toilet di sana yang letaknya di luar ruangan. Ia bahkan ikut masuk ke dalam ruang toilet itu.
__ADS_1
Di saat itulah gadis itu menunjukkan kekuatannya. Ia mendekati pria itu.
"Hei! Kau mau apa?"
Miriam membuka mulutnya. Keluarlah lidah yang berubah menjadi kecil dan memanjang seperti pita.
Pria itu terkejut. Tanpa persiapan, lidah itu langsung membelit lehernya sehingga pria itu menjatuhkan pistol yang dipegangnya karena berusaha melepaskan diri dari belitan lidah itu.
"Agh ...!" Pria itu tak bisa bicara.
Tor!!
Pistol itu jatuh dan meletus mengenai pemiliknya sendiri. Pistol itu menembak tepat di kaki pria itu hingga mengucurkan darah segar dibagian pangkal paha pria itu.
Miriam yang sempat terkejut mendengar letusan pistol yang memekakkan telinga itu, kembali fokus untuk membelit kencang leher itu dengan lidahnya.
Pria itu kesakitan di kaki juga tercekik. Bahkan wajahnya memerah karena tak berdaya.
Di luar, tentu saja suara pistol itu membuat semua orang terkejut, terutama kepala perampok dan Max.
"Apa yang terjadi?" Kepala perampok melirik anak buahnya. "Cepat kau periksa ke sana!" Ia kini menodongkan senjata pada Max.
Perampok itu mendekati toilet wanita saat temannya sedang meregang nyawa. Saat ia masuk, temannya telah mati. "Ada apa dengannya?" tanyanya pada Miriam yang berdiri di hadapan. Ia menodongkan senjata pada gadis itu.
"Ada ... ada ...." Miriam sedang berpikir cepat tentang alasan yang tepat.
"Ada apa?"
"Ada ular."
"Ada ular?" Seketika pria itu panik. Ia menodongkan pistol ke segala arah. "Mana ... mana ... mana?"
"Aku tidak tahu. Ular itu cepat larinya."
"Apa?" Wajah pria itu pucat. Ia segera melihat ke lantai dengan lebih teliti dan mendekati bilik-bilik toilet itu.
Di saat Miriam berada di belakang pria itu, gadis itu kembali membuka mulut. Lidahnya yang panjang seperti pita itukembali melilit leher mangsa barunya.
Pria itu tercekik. Ia memberanikan diri menoleh dan melihat lidah Miriamlah yang menyebabkan dirinya tercekik. "Aggh ...!" Matanya berkaca-kaca karena berjuang melepaskan belitan di leher. Sambil berusaha melepaskan cekikan di leher, pria itu menodongkan senjata di tangannya ke arah Miriam.
__ADS_1
"Gahhh ...." Miriam marah dan memperlihatkan wajah silumannya. Mendadak wajahnya berubah pias dan lama-lama menipis membuat wajah gadis itu seperti tengkorak berbalut kulit tipis. Matanya pun berubah putih semua. Gadis itu terlihat sangat mengerikan seperti tengkorak hidup.
Pria itu yang sedang berjuang dengan nyawanya, ketakutan. Ia menjatuhkan senjata ke lantai dan meletus dengan sendirinya, tapi kali ini Miriamlah yang terkena tembakan.
"Aahh!"
Dari bahu gadis itu mengucur darah segar. Miriam memegangi bahunya, berusaha bertahan agar ia bisa segera membunuh lawannya.
Pria itu kemudian jatuh terbaring di lantai dan terus berusaha bertahan dan melepaskan diri. Apalagi melihat Miriam yang terluka. Ia sempat menarik lidah gadis itu hingga gadis itu jatuh membungkuk.
"Aggch!"
Baru kali Miriam mendapatkan lawan yang kuat. Ia makin mengencangkan belitan lidahnya karena murka.
Di luar, kepala perampok itu kembali bingung mendengar suara letusan pistol untuk kedua kalinya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua anak buah dan tawanannya? Bila terus begini, sebentar lagi gedung itu pasti akan dipenuhi dengan kedatangan polisi sebab bukan tidak mungkin suara tembakan itu terdengar sampai keluar gedung hingga membuat orang di luar curiga hingga mengundang polisi untuk datang ke sana. Ia harus segera mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
Ia menarik lengan Max dengan kasar agar mengikutinya ke arah toilet wanita. "Ayo cepat!" Ia masih menodongkan senjata ke arah pria bule itu.
Max yang juga penasaran, mengikuti kepala perampok itu hingga masuk ruang toilet wanita. Dilihatnya kedua perampok terkapar dan gadis itu juga terduduk di lantai seraya memegangi bahunya yang mengucurkan darah.
"Lita ...."
"Max! "
"Ada apa ini?" Kepala perampok terlihat bingung. Kedua anak buahnya terkapar di lantai dan telah kehilangan nyawanya. "Apa yang terjadi?"
"A-ada ular. Dia bergerak sangat cepat." Miriam mulai dengan drama ketakutannya.
Kepala perampok terlihat bingung, juga Max. "Kau jangan bohong!" Ia mulai marah dan menarik pria bule itu mendekat dan menodongkan senjata tepat pada leher Max.
"A-aku tidak bohong! Jangan lukai dia," pinta Miriam.
Kepala perampok itu menyipitkan mata, berusaha berpikir jernih. Apa mungkin ada ular di sini? Kalau ada, kenapa gadis ini masih hidup? Gadis ini memang terluka tapi itu akibat pistol yang dimiliki anak buahku 'kan, jadi ....
Dengan cepat ia mengunci pistolnya dan memukul tengkuk pria bule itu dengan ganggang pistol dengan keras hingga jatuh pingsan.
"Agh!"
Miriam melongo. Pria itu kini menodongkan senjata pada Max yang kini terbaring di lantai di atas tubuh kedua anak buahnya dan berteriak pada Miriam. "Katakan SIAPA KAMU SEBENARNYA atau kubunuh dia!!!"
__ADS_1