Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Percaya


__ADS_3

"Mmh." Gadis itu menoleh dan melihat pada telapak tangan Max ada sebutir mutiara. "Apa?"


"Apa ini milikmu?"


"Apa kamu lihat ... aku pakai sesuatu?"


"Eh, tidak."


"Kau boleh ... periksa kantongku ... kalau kau tak percaya."


Max serba salah. Tak ditanya penasaran. Ditanya, jadi merasa bersalah. Pasalnya Miriam dengan susah payah menjawabnya. Napasnya jadi tidak beraturan karena berusaha menerangkannya.


"Karena benda seperti ini sering ada di sekitarmu."


"Aku ...."


Max kemudian menyetopnya. "Sudah, sudah, sudah. Anggap saja aku tak bertanya." Ia tak tega melihat gadis itu seperti sesak napas saat bicara.


Jadi maunya gimana sih?


"Kau ingin sesuatu?" Max mengusap kembali pucuk kepala gadis itu.


Miriam menggeleng.


"Mungkin sebentar lagi sarapan akan datang jadi kamu istirahat dulu saja. Mmh?" Pria itu menatap gadis itu lembut.


Kadang aku merasa kau menyukaiku, Max. Membuatku yakin, tidak ada salahnya untuk bertahan tapi penantian kembali ke titik nol ketika kamu memutuskan untuk menikahi kekasihmu, Anna. Berkali aku membohongi diriku dan terluka tetapi aku tetap saja percaya bahwa suatu saat penantianku akan berbuah manis, entah kapan.


Sarapan akhirnya datang tapi Miriam diberi bubur. Tentu saja, ia tidak mau. Ia merengut dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau apa?" tanya Max.


"Da ... ging."


"Tapi kamu sedang memakai masker oksigen. Sepertinya sulit makan daging."


Gadis itu masih merengut dan matanya berkaca-kaca.


Max tak tega. "Jadi, bagaimana?"


"Da ... ging."


Dengan berat hati Max mengangguk. Ia berpikir keras akan makanan apa yang bisa dimakan Miriam yang merupakan daging tapi lunak. Kemudian ia membelinya dengan delivery. "Sebentar, aku ambil di depan."


Miriam menunggu, tapi ketika pintu dibuka, Annalah yang datang. Gadis itu terkejut.


"Kak Max ke mana?" tanya wanita itu.

__ADS_1


"Ke ... luar."


"Oh, tidak apa-apa. Nampaknya kau susah bicara ya? Maaf." Anna menepuk-nepuk tangan gadis itu menenangkannya.


Kemudian Max datang. "Oh, Anna. Eh, jangan ajak bicara Lita dulu karena dia susah bicara."


Anna mengangguk pelan. Ia sudah terlanjur bicara tadi.


"Ini ada sup daging untuk Lita." Pria itu menyerahkan sebuah bungkusan pada Anna.


"Sup daging?"


"Eh, Lita hanya ingin daging."


"Oh." Wanita itu kemudian membuka makanan itu dan menuangkan ke sebuah wadah yang disediakan. Ia kemudian membantu menyuapi Miriam. "Jadi, kejadiannya seperti apa, Kak?"


Ternyata, Max bercerita pada kekasihnya tentang kejadian semalam. "... Aku tidak bisa melihat apapun tapi Lita seperti mengucapkan mantra-mantra pada mahluk tak kasat mata itu. Oh, aku sempat melihatnya sekilas saat Lita meniupnya."


Anna bingung mendengarnya.


"Lihat bekas membiru dileherku ini." Max memperlihatkan lehernya yang ditutup perban. "Aneh sekali tapi benar ada dan aku merasakannya."


Anna kini menoleh pada Lita. "Apa kamu ingat sesuatu tentang dirimu?"


Miriam menggeleng.


"Apa ... kamu dukun?"


"Mung ... kin." Miriam sengaja membuat jawaban yang menggantung sehingga keduanya mengira ia masih lupa ingatan. "A ...."


"Hei, hentikan! Pasien harus beristirahat, kenapa kalian masih mengajaknya bicara?" Seorang dokter pria datang dan memarahi Max dan Anna.


"Oh, maaf dok," sahut Max cepat.


"Kalau begitu kalian berdua keluar!" Dokter itu mengusirnya.


Eh, Max keluar? Miriam panik. "Eh ...."


"Pasien istirahat." Pria itu menunjuk Miriam. "Ini, apa yang dimakannya?" Ia melirik makanan yang berada di tangan Anna.


"Sup daging," sahut Anna singkat.


"Kan bisa minta ahli gizi ganti menu? Kenapa tidak dilakukan? Dia tidak boleh makan yang ada di luar rumah sakit. Tidak sehat. Bukankah kalian membawa gadis ini supaya sehat?"


"Eh, iya dok. Maaf," ucap Max meminta maaf.


"Sekarang bawa makanan ini keluar dan datangi bagian ahli gizi untuk membuatkan sup daging untuk pasien. Pasien ini sebetulnya hanya butuh istirahat 24 jam tapi kalian tidak ada yang sabar," keluh dokter itu

__ADS_1


"Eh, baik dok." Max segera membawa Anna keluar sebelum dokter yang cerewet itu kembali mengomel. Tinggal Miriam yang kesal pada dokter itu karena dokter itu telah mengusir Max. Ia mengepalkan tangannya karena geram.


-------------+++------------


Malamnya Miriam diperbolehkan pulang dan diminta banyak beristirahat. Hades terkejut mengetahui Miriam masuk rumah sakit. "Kenapa kalian sering sekali masuk rumah sakit sih?" ujarnya pada Max dan Miriam ketika ia menengok gadis itu di kamarnya ditemani Max.


"Entahlah, kami pun bingung. Awalnya aku selalu merasa ia tak aman ditinggal di dalam rumah sendirian karena itu aku mengajaknya ke tempat kerjaku tapi ternyata sama saja. Aku pun juga beberapa kali mengalami nasib nahas. Pernah, aku hampir dibunuh dengan ditenggelamkan ke laut oleh teman bisnisku tapi aku diselamatkan oleh seorang wanita yang sampai sekarang belum bisa kutemukan."


"Seorang wanita?" Hades melirik Miriam. "Wanita yang seperti apa?"


"Wajahnya aku tidak bisa lihat karena membelakangi rembulan tapi aku ingat warna rambutnya. Merah. Entah itu warna asli rambutnya atau perubahan akibat disinari sinar rembulan karena aku sudah mencari wanita yang berambut merah yang seharusnya mudah tapi ternyata sulit. Aku masih berpikir apa aku berkhayal waktu itu, apa tidak."


"Mmh." Kembali Hades melirik Miriam yang diam saja terbaring di atas tempat tidur mendengarkan mereka berdua. "Memangnya kalau kamu ketemu dengan wanita itu apa yang akan kamu lakukan?"


"Berterima kasih, tentu saja. Karena nyawaku selamat."


"Mmh. Jadi semalam itu, apa yang terjadi?"


Max ragu-ragu untuk menceritakannya karena ia takut pria itu akan mundur teratur bila mengetahui Miriam diduga seorang dukun tapi ia mencoba mencari tahu seberapa besar rasa suka pria itu pada Miriam, lalu ia menceritakannya. "... dan aku menduga ia mungkin seorang dukun. Maaf aku sebelumnya berbohong padamu soal Lita karena aku menemukannya tapi sampai sekarang aku belum bisa menemukan keluarganya."


Tentu saja tidak, karena orang tua Miriam sudah lama meninggal. "Mmh, begitu ceritanya, tapi hebat juga ia bisa mengusir mahluk tak kasat mata itu."


"Iya, tadinya aku tak percaya tapi ternyata akulah yang lebih dulu merasakannya. Terasa sekali leherku dicekik tanpa bisa melihat apa-apa."


"Syukurlah, anda selamat, Pak."


"Mmh."


Keduanya menatap Miriam.


"Apa boleh aku bicara dengannya, Pak? Menemaninya ngobrol."


Max menatap Hades. Ia salut atas kesungguhan Hades menyukai Miriam. Pria bule itu tersenyum. "Boleh saja, tapi jangan lama-lama ya, berduaan." Max meninggalkan mereka berdua.


Setelah Max pergi, Hades mendekati Miriam di tempat tidur. "Itukah kisah kalian berdua? Menyelamatkannya di laut saat ia hampir tenggelam?"


"Dan kau menertawakanku?"


"Miriam, ada apa yang terjadi semalam? Biasanya kamu bisa dengan mudah mengalahkan lawan."


"Santet."


"Apa?" Hades terperanjat.


"Santet. Seseorang ingin membunuh Max dan aku memergokinya semalam setelah pulang dari pantai bersamamu."


"Pantas aku merasakan hawa panas semalam saat pulang. Oh, jadi terjadi di sini? Itu sangat berat. Ah, untung kau sanggup menaklukkannya. Untung Max punya dirimu dan betapa tidak beruntungnya dirimu karena digempur habis-habisan oleh lawan Max," ujar Hades geram.

__ADS_1


Miriam hanya tersenyum dengan lemah.


"Untung kau tak mati!" Kedua mata Hades berkaca-kaca.


__ADS_2