
"Eh, Miriam ...."
Kepergian Hades langsung dihalangi Runa. "Hades, kau mau ke mana?" Putri duyung itu langsung melingkarkan tangannya di lengan kokoh putra duyung itu.
"Aku harus melihat Miriam dulu."
"Untuk apa dilihat, kau 'kan sudah melihatnya tadi."
"Tidak. Aku harus menjaganya. Dia sedang rapuh."
"Hades." Runa berenang ke hadapan putra duyung itu dan menyentuh dada bidang Hades dengan manja. "Miriam sudah dewasa jadi kau tak perlu mengurusnya lagi."
"Tapi 'kan—" Putra duyung itu berusaha pergi, tapi tetap dihalangi sehingga ia mendorong putri duyung itu ke samping dengan kasar dan mulai mengejar Miriam.
Namun ia kehilangan jejak. Apa Miriam pulang ke rumahnya?
------------+++-----------
Miriam sampai ke Lembah Durjana, setidaknya itu yang ia tahu tentang nama tempat itu. Ia pernah melewati tempat itu dari jauh beberapa kali dan baru kali ini ia mendatanginya.
Putri duyung itu pernah mendengar cerita tentang penyihir itu dari beberapa siluman yang pernah ditemuinya. Ia mendengar penyihir itu sangat licik tapi banyak sekali siluman yang meminta tolong padanya.
Miriam sudah membulatkan tekad ingin menjadi manusia agar bisa bertemu lagi dengan pria itu. Pria tampan itu, pasti juga tengah mencarinya. Ia sudah melihatnya kemarin. Besar kemungkinan pria itu juga menyukainya.
Tempat yang dicarinya begitu membingungkan, sebab para siluman yang memberitahukan tentang tempat itu, tidak tahu persis, tempat tinggal penyihir siluman ular itu berada sehingga ia harus mengira-ngira di mana letak tempat tinggal penyihir itu.
Tak lama berenang, ia menemukan gua. Gua itu terkadang mengeluarkan sinar dari dalam seperti ada sesuatu yang bergerak dan memantulkan sinarnya.
Miriam, dengan jantung berdegub kencang memasuki gua yang sedikit tertutup itu. Terdengar suara-suara aneh seperti sisik yang bergeser di batu dan makin terdengar jelas saat putri duyung itu memasuki bagian terdalam gua mengikuti arah datangnya sinar terang itu. Makin ke dalam, dinding gua makin terbuka lebar.
Di depannya terpampang sebuah ruang gua yang sangat luas dengan seekor binatang besar yang lebih mirip naga dibanding ular dengan tubuhnya yang panjang melingkar. Dari tubuh naga itulah sinar itu berasal. Ular yang berkepala naga itu berwarna putih kebiruan.
Saat melihat kedatangan Miriam, makhluk itu tersenyum dengan bengisnya. "Ada kepentingan apa kamu ke sini, Nak?"
"Eh, a-aku ...."
"Mmh, satukan tekadmu pada sebuah keinginan dan aku akan mewujudkannya." Makhluk itu tersenyum lebar.
"A-apa aku bisa jadi manusia?"
__ADS_1
Makhluk itu tertawa dengan agung. "Apa yang tak bisa aku berikan padamu? Bahkan hidupmu ada di tanganku sekarang. Hua ha ha ha ha, mari sini lebih dekat, biar aku dengarkan permintaanmu lebih jelas," kata Siluman ular itu dengan mata berkilat melihat putri duyung yang masih polos dan datang sendirian itu.
Miriam mendatanginya. Ia terlihat masih bingung. "Bagaimana caranya aku bisa menjadi manusia?"
"Apa yang bisa kau berikan padaku?"
Putri duyung itu tertunduk. "Aku hanya sebatang kara dan aku tidak punya harta apa-apa."
"Mmh, kenapa kau ingin jadi manusia? Kau telah jatuh cinta pada makhluk yang bernama manusia itukah?"
"Oh, iya. Bagaimana caranya saya membayarmu?" Putri duyung mengangkat kepalanya, menengadah.
"Cukup dengan jiwamu."
Miriam terkejut. "Tapi kalau aku mati, tidak ada gunanya aku jadi manusia."
Makhluk itu tertawa terbahak-bahak. "Makanya dengarkan dulu ucapanku."
"Oh." Miriam mengangguk.
"Aku bisa membuatmu menjadi manusia, tapi hanya 30 hari. Kalau kau ingin jadi manusia selamanya, kau harus membuat pria yang kau cintai itu, juga menyatakan cinta padamu sebelum 30 hari. Kalau tidak, aku akan mengambil jiwamu, tapi kalau kau berhasil, aku akan mengambil anak pertama kalian sebagai tumbal, anak ke dua atau anak ketiga akan lahir cacat dan kalian harus tidak boleh berhenti memuja ke pantai di tiap tahunnya. Apakah kamu sanggup melakukannya?"
Putri duyung itu telah benar-benar menemukan pria yang menjadi jalan hidupnya. Pria bule bermata biru dan ia berharap pria itu juga mempunyai rasa yang sama padanya. "Baiklah aku menyanggupinya."
Siluman ular itu menyeringai lebar. Tangannya yang bersayap itu bergerak ke depan mendekati Miriam seraya tubuhnya membungkuk. "Benarkah kau tak 'kan menyesal, sebab sekali kau memilih, kau tak 'kan bisa kembali lagi. Ini perjanjian antara kita, apa kau mendengarnya dengan jelas?"
"Iya, aku mendengarkannya dengan jelas." Miriam kembali mengangguk.
"Tapi ada peraturan yang tidak boleh kamu langgar."
"Apa itu?"
"Kau tidak boleh memberi tahu asal usulmu dan menyatakan suka padanya, sebelum pria itu menyatakan suka padamu terlebih dahulu. Ingat itu!"
"Mmh, iya, baiklah."
"Ok, kita buat perjanjiannya." Penyihir siluman ular itu mulai mundur sedikit dan duduk di lantai gua. Ia memejamkan mata seraya menggerakkan tangannya. Sayapnya ikut bergerak membuat arus air sedikit berputar di sekitar tangannya. Mulutnya berkomat-kamit sehingga kumisnya bergerak-gerak di samping wajahnya.
Gua itu kemudian bergetar sesaat membuat Miriam terkejut. Seketika tangan penyihir itu bersinar. Ia menyodorkan tangannya itu pada putri duyung di hadapannya itu. "Letakkan tanganmu di sini sebagai tanda kau sudah mengikat janji padaku."
__ADS_1
Miriam menurut dengan meletakkan tangannya pada telapak tangan penyihir siluman itu. Tiba-tiba tangan keduanya bertambah terang, lalu cahaya itu seketika lenyap.
"Nah, kita sudah membuat perjanjian." Penyihir itu menarik tangannya. "Aku akan buatkan ramuan untuk kamu bisa menjadi manusia." Kembali ia mundur.
Ia mengambil salah satu sisik dari tubuhnya hingga mengeluarkan darah, tapi itu tidak lama. Darahnya segera berhenti. Ia meletakkan sisik itu di depan mulut dan penyihir itu menghembuskan napasnya. Seketika api keluar dari mulutnya dan menghanguskan sisik itu.
Makhluk itu mengucapkan mantra-mantra sambil menghancurkan sisik yang telah hangus di tangan. Kemudian ia meludah pada sisik yang telah hancur, membuat sisik-sisik itu saling menempel dan ia membulatkannya menjadi sebentuk bola kecil. Penyihir siluman itu memberikan benda itu pada Miriam.
"Pergilah ke darat. Segera setelah kau menelan benda ini, kau akan berubah menjadi manusia. Kau punya kaki dan kau tidak lagi bisa bernapas dalam air, tapi karena kamu belum menjadi manusia seutuhnya kemampuanmu yang lain masih bisa kau lakukan. Ingat, kau tidak boleh membocorkan siapa dirimu dan menyatakan cinta lebih dulu pada pria itu atau jiwamu langsung aku ambil saat itu juga. Mengerti?"
Miriam mengangguk. "Ya, aku mengerti." Ia pun segera keluar dari tempat itu dan berenang ke darat.
------------+++-----------
Hades mendatangi tempat yang biasa didatangi Miriam saat putri duyung itu ingin duduk-duduk memperhatikan suasana lalu lintas laut, tapi yang ada hanya seekor siluman buaya putih. Ke mana dia? Di rumah pun ia tiada. Putra duyung itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hades, kau mencari Miri ya?" tanya siluman buaya putih.
"Eh, kok tahu?"
"Tentu saja aku tahu, karena seluruh siluman di dasar laut ini tahu kau selalu mengejarnya." Siluman buaya itu tersenyum.
Hades tersenyum malu. "Kau tahu ke mana ia pergi?"
"Mmh, entahlah ... Memangnya tidak ada di rumahnya?"
"Tidak ada, aku sudah mencarinya."
"Atau mungkin ...."
"Iya?"
"Penyihir siluman ular laut ...." Siluman buaya masih mengira-ngira.
"Mmh, apa ...." Hades menautkan alisnya.
___________________________________________
Halo reader, author masih menulis novel ini jadi jangan lupa untuk beri like, vote dan komen, agar author semangat. Ini visual Penyihir siluman ular laut. Salam, ingflorađź’‹
__ADS_1