
"Kamu sendiri yang datang marah-marah hingga menuduh orang lain jahat. Dia ini tak ada hubungannya dengan kita, Nafa ...." Artha mencoba membujuk kekasihnya.
Gadis itu kesal. Ia berlari keluar tanpa bicara.
"Nafa! Nafa ...." Artha mengejarnya.
Tinggal Miriam memperhatikan tubuh keduanya menjauh. Ia mendatangi pintu. "Da dah ...." Miriam melambaikan tangan seraya menutup pintu. Gadis itu menghembuskan napas pelan sambil menunduk. Mungkin sebentar lagi pekerjaannya selesai.
Sementara itu di luar, Artha akhirnya bisa meraih lengan Nafa hingga gadis itu menghentikan langkahnya. "Bisa gak sih kamu gak emosian. Segala sesuatu kan bisa diselesaikan dengan kepala dingin kalau saja kamu bisa sedikit menahan emosimu dan kita bicara baik-baik."
Namun air mata gadis itu berderai. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. "Kita putus ... kita putus! Sudah habis kesabaranku melihat apa yang baru saja aku lihat. Aku sudah tak bisa meneruskan hubungan ini ke arah mana pun. Kita sudah selesai!"
Bagai di sambar petir, Artha melepas gadis itu dengan wajah syok. Ia tak mengira kata 'putus' dari gadis itu membuat ia rapuh.
Nafa masuk ke dalam mobilnya, dan menjalankannya dengan kencang. Artha ... ia masih tak tahu apa yang harus dilakukannya.
----------+++----------
Artha mendatangi sebuah bar. Ia diujung putus asa. Sudah banyak yang dikorbankan tapi akhirnya yang coba dipertahankan malah pergi meninggalkan. Ia syok luar biasa.
Sudah banyak uang hilang dan pekerjaan yang menyimpang demi menepati janji untuk gadis itu tapi nyatanya sesuatu yang harus pergi memang harus pergi.
Siluman itu pun juga tak dapat ia raih lalu apa? Apa yang tersisa?
Padahal niat awalnya, siluman itu untuk cadangan tapi ternyata ia tergoda, menginginkan lebih dan hasilnya ia malah kehilangan kedua-duanya.
Artha meraih gelas minuman di hadapan dan meminumnya. Terasa tidak enak, tapi ia terus menuangkan lagi dan lagi hingga ia benar-benar mabuk. Ia menelpon kekasihnya, Nafa, tapi HP-nya tak kunjung diangkat. Ia kesal.
Saat itu Nafa mendengar HP-nya berbunyi, dan menepikan mobil. Amarahnya mulai reda. Saat dilihatnya nama Artha tertulis di sana, ia menghapus air mata. Ia kemudian berpikir dalam.
Di saat yang sama, Miriam sudah memikirkan masalah ini dengan matang. Ia tidak bisa mendiamkan masalah ini karena kekasih Artha sudah melihat keberadaannya, berarti sulit untuk Artha berkelit kemudian. Sebelum segala sesuatu terlanjur rusak, ia pun memutuskan untuk membunuh kekasih pria itu.
Kembali ia duduk bersila di atas tempat tidur. Sambil menyebut mantra-mantra, tangannya bergerak berputar-putar. Ia menyatukan jari, dan menghembuskan napas dari mulut pada ujung-ujung jemarinya itu. Keluar asap berwarna abu-abu yang melingkari jemarinya lalu melesat terbang ke arah luar. Miriam kembali mengucapkan mantra-mantranya.
Nafa akhirnya berniat menyudahi pertengkaran karena saat itu ia mulai menyadari, dirinya terlalu mengikuti emosi semata. Artha benar dan ia ingin berbaikan lagi dengannya.
Baru saja ia ingin menyalakan telepon, ia melihat ada asap kelabu masuk perlahan lewat pinggiran kaca jendela mobil. Ia keheranan.
Sebelum ia sempat mencerna apa yang terjadi, asap itu mengelilingi wajahnya dan sedetik kemudian ia sesak napas.
__ADS_1
"Ahh ... ahh ...!" Ia menjatuhkan HP dan memegang batang tenggorokannya. "Ahhh!!!" Dalam waktu singkat akhirnya tubuh gadis itu terkulai lemas. Asap itu tidak bisa membawa jiwa gadis itu karena gadis itu tidak punya perjanjian dengan iblis.
Dengan cepat asap itu kembali mencari jalan keluar lewat jendela mobil tadi dan melesat pergi.
--------+++---------
Brug ...!
Artha masuk kamar Miriam dengan membanting pintu. Ia terlihat sempoyongan berjalan ke arah gadis itu. Pria itu tengah mabuk berat.
Miriam melihatnya dengan tenang. Dengan sekali tunjuk, pintu kembali tertutup. Ia menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sheila ...," panggil pria itu. Ia tertawa. "Kenapa ... kenapa hidupku jadi begini ...." Ia mulai menangis. Artha menaiki tempat tidur Miriam. "Ia memutuskanku dan aku harus bagaimana?" Ia kembali menangis.
"Bukannya katamu, kamu tidak menginginkan kekasihmu?"
"Tapi pada kenyataannya aku mencintainya. Sangat mencintainya dan saat ia memutuskanku aku baru tahu kesalahanku dan betapa berharganya ia untukku."
Miriam tersenyum lebar. "Penyesalan selalu datang belakangan kan?"
"Aku ingin kembali padanya tapi aku merasa ia takkan percaya lagi padaku, iya kan?"
"Apa aku bisa?"
"Mmh ... entahlah." Miriam menopang dagunya.
"Bagaimana dengan kamu?"
"Aku? Apa maksudnya?"
"Kau kan piaraanku, kau semestinya milikku bukan?" Pria itu mulai bergerak maju mendekati Miriam.
Gadis itu hanya mengerut kening. "Tidak juga."
"Harus! Kau milikku, kenapa aku tidak boleh menyentuhmu!" Pria itu marah dan mendorong Miriam hingga jatuh terlentang.
"Hei, apa yang kau lakukan!" bentak Miriam marah. Sebelum gadis itu sempat duduk, pria itu telah menindihnya.
"Aku telah membelimu, kenapa aku tidak boleh merasakannya." Artha telah gelap mata dan mabuknya membuat ia lepas kontrol. Ia langsung mengecup bibir Miriam. "Kau sangat manis untuk dilewatkan."
__ADS_1
Miriam tersenyum manis. Ia membuka mulutnya hingga lidah kecilnya yang panjang keluar.
Artha terkejut melihatnya. Sebelum pria itu sempat berbuat apa-apa, lidah itu telah membelit lehernya hingga ia tercekik oleh lidah itu.
Ia berusaha melepaskan diri dari lidah itu tapi tak bisa. Semakin ia berusaha semakin erat lidah itu membelitnya, apalagi wajah Miriam berubah pucat dan kulitnya mengempis hingga seperti kulit yang menempel pada tengkorak. Matanya pun berubah memutih.
Artha ketakutan dengan apa yang dilihatnya tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena lidah itu tengah mencekiknya kencang. Ia ingin berteriak minta ampun pun sudah tak berguna.
Mulut Miriam terbuka dan ia menghisap jiwa Artha yang keluar dari mulut pria itu. Saat itulah pria itu bisa berucap. "Tolong ... ampun Sheila, ampun ...."
Namun nyawanya telah meninggalkan raga. Mahluk itu telah mengambil jiwa Artha dan segera ia masukkan ke dalam sebuah mutiara. Kembali, mutiara putih itu berubah menjadi abu-abu.
Mahluk itu tersenyum. Perlahan wujudnya berubah ke wujud Sheila. Ia menyatukan mutiara itu dengan mutiara lain yang berada di dalam kotak perhiasan.
"Sheila, lepaskan aku!"
"Tolong, tolong ampuni aku."
Kedua butir mutiara itu saling berlomba memohon pada Miriam tapi gadis itu hanya tersenyum memperhatikan kedua butir mutiara yang telah didapatkan. Ia sangat senang dengan hasil tangkapannya.
Gadis itu menoleh pada tubuh Artha yang mati dalam keadaan kulit pucat dan mata terbelalak. Di lehernya terlihat bekas lilitan yang membiru. Miriam menyeringai senang.
Sekumpulan asap abu-abu seukuran tubuh manusia datang menghampiri Miriam. Gadis itu memeluk kotak perhiasan itu seraya masuk ke dalamnya. Segera setelah masuk, asap itu melesat dan membawanya pergi.
------------+++----------
Miriam bersenandung sambil merapikan jiwa-jiwa yang tidak tenang yang menempel di dinding. Suatu kebanggaan seorang siluman bisa menempelkan banyak jiwa untuk menghiasi rumahnya. Sekali waktu ia bisa menempelkan telinga ke dinding mendengarkan jiwa-jiwa itu memanggilnya dan menangis.
"Miriam!"
Gadis itu menoleh dan mendapati Hades sudah masuk ke dalam rumahnya, sebuah goa kecil.
"Hades, kenapa kamu lancang sekali masuk ke dalam rumahku?" Miriam menautkan alis seraya cemberut.
____________________________________________
Reader, masih mengikuti novel ini kan? Jangan lupa vote, like, komen dan hadiah agar author tetap bersemangat menulis novel ini. Ini visual si ganteng Hades. Salam, ingflora. 💋
__ADS_1