Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Tamu


__ADS_3

"Jangan mengadu yang aneh-aneh dan tak masuk akal nanti Tuan marah."


"Aku tak mengada-ada."


"Nona itu memang sedikit tomboi tapi mengatakan ia makan cacing, siapa yang percaya?"


"Jadi, tidak akan ada yang percaya?"


"Aku saja tidak."


Wanita itu merengut. "Ih, aku kan tidak bohong."


"Pokoknya, jangan ngadu yang gak masuk akal deh. Nanti rugi sendiri. Jangan-jangan nanti kamu malah dipecat lagi gara-gara ini."


Wanita itu merengut. Kembali ia memandang Miriam yang sedang memperhatikan ulat yang sedang makan daun.


Ah, kenapa aku tak ambil fotonya saja? Kalau foto pasti orang-orang akan percaya.


Wanita itu mengambil HP dari kantong celananya dan lalu berusaha mendekat. Ia sedang mencari posisi bagus untuk memotret gadis itu ketika seseorang datang dan menggagalkan usahanya.


"Kau di sini rupanya?"


Miriam menoleh. Doni sudah berdiri di belakangnya.


"Eh, bagaimana kau tahu rumah ini?"


"Ah, itu mudah. Tentunya aku dapat restu dari Pak Max."


"Restu? Apa itu?"


"Ah, sudahlah. Yuk, kita masuk saja ke dalam."


"Mmh?"


Miriam yang masih terkejut dengan kedatangan pemuda itu, ditarik Doni ke dalam rumah.


"Ayuk!"


"Ihh ... ada saja yang ganggu lagi." Pembantu itu menggerutu sendirian.


Doni membawa Miriam hingga ke ruang tengah. "Kita jalan yuk, males di sini."


"Ke mana?"


"Ke mana saja."


"Mmh? Maksudnya?"


Doni menatap Miriam. "Mmh, ke Mal?" Cewek pasti mau diajak ke sana. Pasti gak nolak.

__ADS_1


"Mmh ... malas ah."


Lho kok gak mau? Ketika gadis itu membalikkan tubuhnya, pemuda itu langsung pasang badan. "Eh, jalan-jalan aja. Apa kamu gak bosen di rumah terus?"


"Aku biasanya ikut Kak Max ke kantor tapi karena bekas luka ini saja jadi disuruh tinggal di rumah." Miriam menunjuk bekas luka di dahinya.


"Luka?" Pemuda itu mendekatkan wajahnya dan melihat garis halus di wajah gadis itu. Lukanya mulai merapat. "Oh, maaf. Aku baru melihatnya."


Namun kesempatan itu dipakai Doni untuk mengecup kening gadis itu secepat kilat.


Cup!


"Eh, apa yang kau lakukan?" Miriam menyentuh dahinya, kebingungan.


"Oh, itu semacam doa agar kau cepat sembuh," elak pemuda itu.


"Doa 'kan harusnya menadahkan tangan." Gadis itu mencontohkan dengan kedua tangannya.


Aduh, polos benar ya, nih cewek. "Jadi kita di rumah saja?" tanya pemuda itu kecewa.


"Kata Kak Max, aku tidak boleh keluar."


"Terus kamu mau tidur, gitu?" tanya Doni kesal.


"Sebentar lagi 'kan jam makan siang, aku makan dulu baru tidur."


"Aku boleh main ke kamar kamu, gak?" Dengan berharap.


Doni merengut. Padahal dia bolos kuliah karena berniat pergi jalan-jalan dengan Miriam hari itu, dan ia tidak diberi tahu kalau gadis itu sedang sakit.


"Apa ... aku boleh makan siang bersamamu?"


"Oh, kalau itu boleh karena kita tidak ke mana-mana."


-------------+++-----------


"Jadi bagaimana, Ayah?" Hades menatap ayahnya.


"Ayah tidak tahu ada perjanjian apa antara Miriam dengan Penyihir Siluman Ular Laut itu, tapi yang pasti perjanjian itu menyangkut penyerahan jiwa Miriam pada Penyihir itu, karena semua makhluk yang berurusan dengan Penyihir itu pasti akan diambil jiwanya, tanpa melihat berhasil atau tidaknya misi yang diberikan. Jadi Miriam pasti telah ditipu oleh Penyihir siluman itu."


"Berengsek!" Hades menangkap kepalan tangannya.


"Tapi Penyihir itu bukan lawanmu. Biar Ayah saja yang menghadapi makhluk itu."


"Apakah Ayah sanggup melakukannya sendiri?"


Raja duyung terdiam dengan alis bertaut. "Kau harus bisa membawa Miriam ke tengah laut tanpa menyentuh air agar Penyihir itu tak curiga. Aku ingin menyerangnya saat ia berganti kulit. Saat itulah titik terlemah kekuatannya, masalahnya ... ayah tidak tahu berapa lama perjanjian antara Miriam dengan Penyihir itu sebenarnya."


"Aku belum sempat tanya Ayah, karena waktu bertemu kami sangat sempit dan Miriam selalu menolakku."

__ADS_1


"Kau harus cepat, Hades. Sebelum waktunya habis."


Hades, mengeratkan geraham. Ia gemas karena Miriam sampai begitu bodohnya mau mengikat janji dengan Penyihir penipu itu. Sebegitukah kau menyukai Maximilian hingga mau mempertaruhkan nyawamu untuknya? Kau bahkan sudah tahu bahwa pria itu telah punya kekasih, tapi masih saja bodoh mengharapkannya. Kau harus sadar Miriam, kau akan mati! Ah, mahkluk naif itu ....


-----------+++---------


"Lita, temani aku di sini. Aku kan tamu, kau harus menemani aku karena aku datang untukmu," pinta Doni setengah merengek memegangi lengan gadis itu.


"Aku 'kan tidak memintamu untuk datang. Kamunya yang datang sendiri."


"Jangan begitu dong, Lita. Aku 'kan tamumu. Hargai kedatanganku."


Miriam menatap pemuda itu dengan kesal. Karena Doni memintanya dengan sopan, akhirnya Miriam menemani pemuda itu nonton di ruang tengah. Namun lama-lama ia mulai mengantuk. Ia bosan menonton acara TV yang berisi orang-orang aneh yang sibuk berbicara.


Doni mencari kesempatan dengan merapatkan duduknya di samping gadis itu pelan-pelan, tanpa gadis itu sadari. Saat gadis itu memejamkan mata, kepalanya mulai miring. Doni meminjamkan bahu hingga saat kepala itu jatuh, tepat berada di atas bahu pemuda itu. Doni tersenyum senang.


Untuk beberapa lama pemuda itu mendiamkan gadis itu, memastikan Miriam benar-benar telah tertidur. Pemuda itu bukan main senangnya, mendapati gadis pujaan bersandar di bahunya. Ia menikmatinya beberapa saat, kemudian mulai mengusap pucuk kepala gadis itu.


Aneh rasanya, bisa jatuh cinta pada bule berambut putih. Ia bahkan tidak pernah membayangkan bisa jatuh cinta pada wanita seperti Miriam, sungguh di luar dugaan.


Bagaimana kalau teman-temannya tahu kalau ia pacaran dengan gadis bule ini? Oh, pasti ia akan pamerkan ke semua orang bahwa dia sekarang pacaran sama orang bule karena sebelumnya pacar-pacarnya adalah orang Indonesia asli.


Apalagi Miriam bisa berbahasa Indonesia. Pasti banyak teman-temannya yang penasaran bagaimana ia bisa punya pacar gadis bule yang kebetulan sepupunya kaya raya. Berita ini bisa viral sekampus.


Doni mematikan TV dan mulai memainkan HP-nya. Ia sendiri tak berselera menonton acara TV, tapi tak lama. Pemuda itu juga mulai mengantuk saking sepinya hingga ia kini menyandarkan kepalanya pada kepala Miriam sambil berkhayal. Andai saja, benar Miriam menerima cintanya ... dan ia pun tertidur.


----------+++---------


Miriam yang bangun lebih dulu ketika lampu dinyalakan oleh pembantu Max. Ia memicingkan mata karena sorot sinar lampu yang menyala tiba-tiba.


"Eh, maaf, Nona. Sudah sore menjelang malam. Saya takut Pak Max datang tapi lampu belum menyala." Salah seorang pembantu Max membungkukkan tubuhnya pada Miriam.


"Oh." Namun Miriam tak bisa menggerakkan kepalanya dengan mudah. Ada sesuatu menahan di atas kepalanya dan ternyata kepala Doni yang juga mulai bangun sehingga kepala gadis itu bisa dengan cepat terbebas dari tindihan kepala pemuda itu.


Pemuda itu juga membersihkan air liurnya yang keluar dari mulut tanpa sengaja dan itu membuat Miriam mengerutkan dahi. "Eh, maaf."


Pembantu itu menahan tawa.


____________________________________________


Lihat punya author yang satu ini yuk!


Haura mengalami kecelakaan didepan rumah sakit tempat ia bekerja.


Ketika dia tidak sadarkan diri, di dalam alam bawah sadarnya, ia bertemu sosok pria yang menawarkannya sebuah bantuan, agar Haura bisa menjadi dokter yang sesungguhnya.


Haura melakukan perjanjian dengan arwah seorang dokter, namun sebelum perjanjian itu dibuat, arwah dokter itu memberikan beberapa syarat kepada Haura.


Apakah syarat itu dan setujukah Haura dengan syarat yang diajukan kepadanya?

__ADS_1



__ADS_2