Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Pria yang kejang itu mulai melihat wujud asli Miriam, tubuhnya berwarna merah dengan wajah menyeramkan. "Aghh, kau."


Miriam meliriknya dengan seringai tersembunyi.


Pria itu tidak bisa berbuat banyak karena sekarang ini ia sedang berjuang mengontrol tubuhnya yang kejang.


Sialan! Perempuan ini ... Aku tidak tahu kalau Max memelihara makhluk ini. Makhluk ini bisa mematahkan santet yang bahkan belum aku kirim pada Pak Max. Hagh ..! Pria itu kesakitan. Aku tidak menyangka, bule itu sudah mempersiapkan segalanya.


Ketika beberapa suster datang beserta kereta obat, pria yang kejang itu tengah sekarat. Matanya melotot memerah.


Max menutup wajah Miriam dengan tangannya. "Lita, jangan dilihat."


Miriam mendongak menatap wajah Max yang begitu khawatir ia takut melihat kejadian itu, sementara istri pria itu tak henti-hentinya menangis. Tak lama pria itu pun meregang nyawa.


Seorang dokter muda memastikan jam meninggalnya.


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," ucap Max. Ia mulai melepas Miriam dan mulai menenangkan wanita itu. "Ibu, yang sabar ya? Ikhlaskan."


Wanita itu berusaha menghentikan tangis dengan mengangguk.


"Biar saya yang urus ya, Bu." Max kemudian menelepon sekretarisnya.


Tak lama, seorang wanita cantik datang ke tempat itu. "Pak Max ya?"


"Iya, benar."


"Saya sekretaris Pak Bagus, Pak. Mengenai Pak Bagus dan istrinya, biar Saya yang urus."


"Oh, iya silahkan." Max kemudian pamit pulang pada istri pria itu.


Dalam perjalanan pulang, Max malah mengkhawatirkan Miriam yang sejak tadi diam. Ia takut Miriam kembali trauma sebab diyakini gadis itu masih merasakan trauma yang belum pulih karena gadis itu masih lupa ingatan.


Max menatap cermin kecil di atasnya. Ia melihat Miriam memandang ke arah luar lewat jendela. "Lita, kau tak apa-apa?"


Gadis itu menoleh. "Aku tak apa-apa, Kak."


"Sungguh?" Kini Max yang menoleh.


Gadis itu tersenyum setengah tertawa. "Iya."


"Ah, syukurlah." Max kembali memandang ke arah depan.


"Lagipula, aku sudah terbiasa melihat seperti itu."


Pria itu kembali menoleh. "Benarkah? Kapan?"


Miriam kaget. Ia hampir saja membocorkan siapa dirinya. "Ah, di TV. Iya, di TV." Akhirnya ia mempunyai alasan yang tepat.


"Ya ampun, Lita ... aku pikir kau benar-benar melihatnya sendiri. Sebab tadi Pak Bagus meninggal dengan sangat mengerikan. Aku pikir kau takkan sanggup melihat dan bisa tidak tidur lagi seperti tadi malam gara-gara mimpi buruk." Max mengelus dada.


Miriam tersenyum lebar menahan tawa karena sebenarnya ia berbohong hanya demi bisa berdekatan dengan Max dan agar pria itu bisa melihatnya lebih dekat lagi. Awalnya memang sulit membuat Max berpaling padanya tapi ia yakin bisa membuat pria itu jatuh cinta padanya pelan-pelan. Terbukti pria itu mulai menyayanginya sedikit demi sedikit.


------------+++---------

__ADS_1


Max baru saja akan makan malam bersama Miriam ketika seorang pembantunya mendatanginya. "Pak, ada tamu."


"Siapa?"


"Orang keamanan RT, katanya."


"Biarkan dia masuk."


Pembantu itu kembali ke pintu utama dan mempersilahkan seorang pria masuk. Alangkah terkejutnya Miriam ketika melihat pria itu.


Pria tampan bertubuh kekar itu masuk ke dalam rumah dan tersenyum ramah pada Max dan Miriam. Sekilas ia bisa melihat wajah terkejut Miriam melihat dirinya masuk ke dalam rumah itu.


Benar, rambut Miriam kini berwarna putih. Sekarang apa yang terjadi dengannya? Apa dia telah mendapatkan cinta pria bule ini?


Max mempersilahkan pria itu untuk duduk di kursi sofa bersamanya. "Ada apa ya, datang bertandang ke sini?"


Miriam yang ingin ikut mendengarkan, ikut duduk di sofa. Kedua pria itu menoleh pada Miriam sejenak lalu kemudian fokus dengan pembicaraan mereka.


"Oh, Saya hanya ingin memperkenalkan diri sebagai kepala keamanan yang baru di daerah sini. Nama Saya, Hadi Wirawan. Eh, saya bicara dengan Pak Maximilian ya? Pak Maximilian Archer."


"Ya, betul dan kau bisa memanggilku Max saja."


"Pak Max?" ucap Hades memastikan.


"Iya."


"Dan yang di samping Bapak?" Pria itu menunjuk pada Miriam.


"Oh, ini. Ini sepupu saya, Jelita. Biasa dipanggil Lita."


Miriam tersenyum kecut.


"Jadi aku boleh memacarinya?" Hades tertawa membuat Max ikut tertawa.


Gadis itu memperlihatkan wajah sebal.


"Memangnya Anda masih single?"


"Oh, iya Pak. Saya masih belum berumah tangga."


"Mmh." Max menganggukkan kepalanya dan melirik Miriam. "Mmh, kami mau makan malam ...."


"Oh, silahkan Pak. Maaf mengganggu jam makan malam, Bapak. Saya pamit pulang." Hades beranjak berdiri.


"Eh, maksudku, apa kau mau makan malam bersama kami? Soalnya ada beberapa hal yang aku ingin bicarakan denganmu."


Tawaran Max mengejutkan Hades. "Oh, dengan senang hati."


Max mengajak pria itu mendatangi meja makan sedang Miriam terlihat menekuk wajahnya karena kesal.


Max duduk bersebrangan dengan Miriam sedang Hades duduk di tengah-tengah. Ia menawarkan makanan pada tamunya terlebih dahulu. "Silahkan, tinggal diambil saja, jangan sungkan."


"Oh, iya Terima kasih."

__ADS_1


Max melihat Hades hanya mengambil daging saja. "Kau ingin nasi?" tawarnya


"Oh, aku tak suka nasi."


Max tersenyum lebar. "Dan tak suka sayur?"


"Bagaimana Bapak tahu?"


"Kau sangat mirip dengan Lita. Dia juga tak suka kedua-duanya. Jangan-jangan kalian berjodoh lagi."


Hades dan Miriam saling berpandangan membuat Max tertawa, Hades tersenyum simpul tapi gadis itu mengerucutkan mulutnya.


"Jangan marah, Lita. Aku hanya bercanda," lanjut Max lagi.


"Kalau benar juga tidak apa-apa, Pak." Hades kembali tersenyum membuat Max tertawa terbahak-bahak.


Ternyata Max mengajak Hades bicara terkait adanya perampokan rumah mewah tak jauh dari rumahnya.


"Oh, rumah itu. Itu ternyata ada kerja sama dengan orang dalam makanya rumah itu bisa dimasuki maling. Aslinya, pengamanan rumah itu lebih bagus dari rumah ini," terang Hades.


Ternyata pria itu telah mempersiapkan segalanya saat menyamar sebagai kepala keamanan daerah sekitar, sehingga ia tidak bingung mencari informasi ketika ditanyai.


"Oh, begitu? Sebab ngeri juga saya tinggal di sini kalau tidak memperketat keamanan. Apalagi ada sepupuku di sini, saya sebagai laki-laki bertanggung jawab akan keselamatannya."


Hades melirik Miriam yang asyik memotong daging steak-nya. Kalau saja Pak Max tahu kemampuan Miriam, tentunya ia tak perlu takut seperti ini malah mungkin berlindung padanya, tapi kalau ia tahu siapa Miriam ... entah, apa ia sanggup bertahan dengan putri duyung ini.


Mmh, Miriam mulai mahir memotong makanan. Benar-benar ia berusaha untuk jadi manusia.


Usai makan malam, pria itu pamit. "Intinya kalau Bapak tidak merasa aman, Bapak bisa menambah anggota keamanannya bila dirasa perlu."


"Aku inginnya sih menyewamu, melihat kau sepertinya kompeten dengan pekerjaan ini."


"Atau mungkin, sekali waktu aku mengontrol ke sini melihat ke dalam."


"Oh, sebuah kehormatan." Max tersenyum senang. "Atau begini saja. Aku akan menyewamu mengontrol rumah ini tiap malam. Bagaimana? Ini juga bisa menambah pundi-pundi uangmu 'kan?"


Hades melirik Miriam yang cemberut. "Kenapa tidak?"


___________________________________________


Masih semangat baca reader? Beri author penyemangat ya? . Kirim vote, komen, like dan hadiah. Ini visual Hades dengan tubuh kekarnya. Salam, Ingflora. 💋



Dari ketidak-sengajaan Silvana melepaskan rantai dan anak panah yang menancap pada sebuah patung tua. Hal itu justru mengubah seluruh kehidupannya. Bagai cerita dongeng zaman dahulu kini di rasakan oleh Silvana.


Kehidupan Silvana yang awalnya masih terbilang baik-baik saja kini berubah menakutkan karena banyak yang mengincar nyawanya.


Siapa pria itu?


Apa yang diinginkannya?


Kenapa banyak yang ingin membunuh Silvana?

__ADS_1


Baca langsung aja ya!!



__ADS_2