Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Arus


__ADS_3

"Anna, apa kau tak kedinginan?" tanya Max yang melihat pakaian calon istrinya basah karena harus berendam dalam air.


"Kau juga bagaimana, Max?" Anna balik bertanya pada pria bule itu karena pakaian batik Max basah karena terendam setengah di dalam air.


"Maafkan aku, Anna. Aku telah merusak acara bersejarah dalam kehidupan kita tapi aku tidak bisa tidak mempedulikannya. Miriam sudah seperti adikku sendiri yang tidak kupunya karena aku anak tunggal. Maaf pilihanku yang egois ini."


"Tidak apa-apa, Max. Aku juga mulai menyayanginya seperti adik sendiri karena aku anak paling kecil di dalam keluarga. Miriam memang adik kita yang paling manis."


Max tersenyum dan kembali memandang Miriam di dalam perahu. Ia tidak bisa bersandar ke perahu itu karena berada di atas air yang bisa saja membuat perahu terbalik. Ia hanya bisa berpegangan pada perahu itu agar perahu tidak bergerak menjauh. Sementara ia menjaga Miriam, ia menatap ke arah laut karena Hades belum juga kembali padahal sudah hampir setengah jam ia pergi.


Di dalam laut ternyata pasukan duyung masih menghujani Penyihir siluman ular itu dengan tombak sehingga tubuh ular raksasa itu mulai di penuhi luka tusukan tombak dari pasukan duyung itu. Namun itu bukan apa-apa bagi penyihir siluman ular itu karena baginya tubuhnya seperti ditusuk puluhan jarum yang tidak berarti apa-apa.


Sementara proses ganti kulit di mana kulit luarnya lepas hingga kulit barunya keluar ini melalui tahapan yang tidak sebentar, penyihir siluman ular itu sudah mulai gemas sendiri. Ia bila sedang melakukan ganti kulit seperti itu, tidak bisa melakukan tindak sihir apapun.


Rahasia inilah yang diketahui Raja, tapi sampai kapankah pasukannya akan bertahan sedang sebentar lagi kulit lama ular itu akan terlepas seluruhnya, jadi tindakan apa lagi yang akan ia lakukan mengingat serangan itu sangat tidak efektif dan membuang-buang waktu saja. Raja berpikir keras.


Setidaknya kini ia menyiapkan pasukan dari para tukang sihir duyung yang sudah ia bawa untuk menangkis serangan penyihir siluman ular laut itu dan mereka tengah bersiap-siap menyerang.


Tubuh ular yang bersisik mirip naga itu akhirnya melakukan pelepasan yang terakhir pada kulit lamanya dan kini kulit barunya makin bersinar. Tubuhnya yang putih kebiruan bersinar bagai tembus pandang dan mulai bergerak secara anggun tapi cepat.


Mulutnya mendesis dan kini wajahnya terlihat mengerikan dengan matanya yang memutih dan tanduk yang meninggi membuat orang-orang menatap ngeri pada binatang ular raksasa ini.


Wajahnya yang setengah naga dengan kumis panjang yang mengambang dan dengusan dari lubang hidung kecilnya menambah kengerian dari raut wajah bengisnya itu. Binatang itu kini menatap ke arah mangsa di depan mata dengan dendam yang membara.


"Ayo, bersiaplah! Penyihir itu akan menyerang kita!" teriak Raja duyung hingga para penyihir bersiap di barisan.


Penyihir raksasa itu menyeringai licik. Kau bukan lawanku bodoh! Sebentar lagi kalian semua akan mati. Begitulah akhir dari orang-orang yang menentangku. Ia tertawa sinis.

__ADS_1


Dengan sekali kibasan sayap di tangannya, ia menciptakan arus air yang berputar. Makin lama putaran itu makin besar. Para bala tentara duyung segera berlari kocar-kacir menyelamatkan diri agar tak terbawa arus kuat yang diciptakan oleh penyihir jahat itu, tapi satu persatu tentara putra duyung yang terlambat menyelamatkan diri ikut terseret putaran air yang makin membesar itu. Bahkan bola-bola kehidupan ikut bergoyang karena tertarik ke arah pusat arus air tersebut.


"Hades! Cepat kau selamatkan diri!" teriak Miriam.


"Tapi bagaimana denganmu?" tanya putra duyung itu khawatir.


"Bola kehidupan takkan lepas karena telah direkatkan dengan mantra sihir. Oh! Mungkin kau bisa bersembunyi di belakangku!" teriak putri duyung itu. "Ayo, Hades! Bersembunyi di belakang bola ini dan bertahanlah!"


Hades bergerak memutari bola tembus pandang itu dan bersembunyi di belakangnya.


Putaran arus semakin menggila dan mulai memenuhi seisi ruangan yang luas dengan langit-langit yang tinggi itu.


Raja duyung bersama para penyihir duyung membuat bola perlindungan di mana mereka bernaung di dalamnya. Bola itu seakan membuat keberadaan mereka antara ada dan tiada. Ketika tersapu arus, seperti menyentuh tempat kosong padahal mereka ada di sana.


Beberapa tentara kerajaan duyung berlarian mencari aman. Banyak di antara mereka yang bersembunyi di balik dinding gua tapi itu pun tetap tak membuat mereka aman. Sebagian tetap terbawa arus. Hanya mereka yang bergerak cepat dan berlari ke luar gualah yang selamat. Arus tidak sekuat itu sampai di sana.


"Jangan cemaskan aku, Miriam, aku akan bertahan," seru putra duyung itu. Ia bersandar pada sambungan antara bola kehidupan dan dinding gua.


Miriam menyentuh dinding bola kehidupan dengan kedua tangannya dan mulai membaca mantra. "Azka mara zivato." Tidak ada berubah. Ia mencoba lagi. "Azka mara zivato." Juga tak terjadi apa-apa.


"Sudah, Miriam. Kau takkan bisa. Tubuhmu tidak bersatu dengan jiwamu karena itu tenaga sihirmu hilang," sahut Hades.


"Seharusnya bisa!" Miriam memukul dinding itu karena kesal. "Seharusnya mantra itu bisa melunakkan dinding ini agar kau bisa berpegangan padaku," gerutunya. "Ah, kau bisa!" Matanya membulat ke arah Hades.


"Aku? Kalau mantra itu bisa, sudah kukeluarkan kau dari sini," terang Hades.


"Coba saja, Hades. Itu mantra untuk pelunak dinding."

__ADS_1


Daripada berbantahan dengan Miriam, ia mencoba mantra itu. "Azka mara zivato!" Ia menyentuh dinding bola kehidupan. Bola itu hanya bergetar sebentar tapi kemudian tak ada yang berubah. "Lihat! Sudah kubilang 'kan?"


Miriam membuang napas dari mulutnya dengan kasar. ia kemudian menoleh ke belakang. Arus itu makin lama makin naik ke atas.


"Hades ...." Miriam kembali menoleh ke arah Hades yang sedang bersembunyi. Ia menyentuh dinding tipis yang memisahkan mereka berdua. "Hades, jangan pergi dariku, Hades. Bertahanlah." Gadis itu menitikkan air mata.


"Miriam ...." Hades terharu, gadis itu ternyata sangat mengkhawatirkannya.


Di bawah, raja duyung melihat arus yang berputar itu mulai naik ke atas. Ia ingat Hades sedang berada di atas. Segera ia meminjam tongkat salah seorang penyihir dan merapal sebuah mantra.


Tongkat itu ujungnya tiba-tiba bercahaya sangat terang. Ia kemudian lemparkan cahaya itu ke arah bola kehidupan tempat Miriam berada. Namun sayang, lemparan itu melewati arus besar itu sehingga terpelanting ke arah lainnya.


"Ah, arus sialan ini!" umpat Raja geram. Kembali ia memantrai tongkat itu dan mencoba sekali lagi melewati tempat yang sama tapi tetap saja, cahaya itu terpelanting ke arah lain. Raja benar-benar kesal.


Dari tempatnya, penyihir siluman ular laut menyeringai senang. Ia melihat raja berupaya menyelamatkan anaknya yang berada di dekat langit-langit gua.


Baru satu langkah saja, kalian semua bersembunyi ketakutan. Ia tertawa terbahak-bahak hingga mengguncang seisi gua.


Di atas sana, air mulai tak tenang. Max dan Anna merasakannya.


"Ada apa ini, Kak?" tanya Anna kebingungan.


"Aku tidak tahu," sahut Max mencoba membaca tanda-tanda.


"Apa akan ada arus yang akan menarik kita, Kak Max?" Anna sedikit khawatir.


Max menatap Anna tanpa tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


__ADS_2