
"Oh, Sayang maaf. Aku tidak betah menunggumu jadi aku mencari ke rumahmu setiap hari. Oh, akhirnya kamu pulang." Hades tersenyum lebar. Ia menggerak-gerakkan otot di dada agar terlihat betapa kekar tubuhnya di hadapan Miriam.
"Kenapa kamu memanggilku 'Sayang'? Kan aku sudah bilang, aku tidak suka padamu."
Hades mengangkat otot di dada dan mencondongkan tubuhnya pada Miriam. "Benarkah? Apa tak kau lihat kekar tubuhku ini? Semua putri duyung ingin menyentuhnya dan aku memberimu kesempatan pertama," godanya.
Miriam berenang mundur. "Hades, kau seperti anak kecil. Aku lebih suka pria berotak dibanding yang berotot."
Pengakuan Miriam membuat putra duyung itu cemberut. "Padahal aku tidak pernah mempermasalahkan kamu yang lebih memilih berpakaian seperti manusia dibanding putri-putri duyung lain yang berpakaian seksi," gumamnya.
"Maaf, Hades. Aku tak bermaksud menghinamu tapi memberi tahu seleraku, jadi tak ada guna kamu memamerkan otot padaku karena aku hanya melihatnya biasa saja," ujar Miriam mendekat. Ia menyentuh bahu Hades. "Kita teman kan? Kau selalu menghiburku di kala aku sedang sedih, bagaimana aku bisa meninggalkanmu?"
Ya, kedua orang tua Miriam meninggal dibunuh oleh seorang kiai yang punya indera ke 6 karena berani mengejar manusia sampai ke dalam pesantren milik kiai itu, saat Miriam masih kecil. Ayah Miriam seorang panglima perang kerajaan duyung yang pintar menyamar dan ibunya dayang istana.
Lain lagi dengan Hades. Ia putra raja. Karena itu, selain tampanan, posisinya banyak diincar kaum putri duyung yang ingin menjadi ratu kerajaan duyung.
Sejak kematian orang tuanya, Miriam di perbolehkan tinggal di belakang istana karena raja dekat dengan almarhum orang tua Miriam.
Hades mengenal Miriam dari sejak bayi dan menyukainya sejak kecil tapi putri duyung itu hanya menganggapnya teman, walaupun begitu ia tak pernah menyerah.
Hades cepat meraih tangan Miriam dan mengajaknya pergi. "Kalau begitu, hibur aku. Aku ingin jalan-jalan denganmu." Ia segera berenang keluar goa itu.
"Hades ...." Namun terpaksa Miriam mengikutinya.
Mereka berenang melewati terumbu karang, rumput laut, berbagai ikan yang semakin berwarna warni ketika mereka semakin dekat ke permukaan. Air yang bening, terang dan tak bergejolak menandakan cuaca bagus di atas sana.
Miriam membiarkan dirinya ditarik Hades seraya melihat pemandangan indah dalam laut yang begitu damai.
"Hei, kau kenapa diam saja? Bagus kan pemandangan tempat-tempat yang dilalui?" tanya Hades yang terus menariknya ke atas.
"Mmh? Iya."
Jawaban Miriam membuat putra duyung itu berhenti dan mendekatinya.
"Eh, apa?" Miriam terlihat bingung.
"Miriam, aku selalu benar kan?"
"Eh, tentang apa?"
"Berjalan-jalan denganku itu menyenangkan."
Miriam tersenyum. "Terima kasih."
"Bagaimana kalau kau belajar mencintaiku?"
__ADS_1
"Apa?" Miriam tertawa. "Yang benar saja."
"Tapi aku menjanjikan kebahagiaan untukmu, ah ... tidak! Hanya aku yang bisa membahagiakanmu."
"Tapi cinta yang aku butuhkan itu adalah saling mencintai."
"Memangnya kenapa kalau cintaku lebih besar dari pada cintamu?" Hades meletakkan telapak tangan putri duyung itu ke dadanya.
Miriam berusaha menarik tangannya. "Maaf Hades, cintaku itu tidak bisa dibuat atas dasar kenyamanan."
"Apa kau menyukai seseorang?" Hades melepas tangan Miriam.
"Tidak. Eh, belum."
"Lalu apa lagi? Kenapa tidak memilih yang pasti?"
"Entahlah Hades. Mungkin aku ingin merasakan jatuh cinta." Putri duyung itu berenang sendiri ke atas.
Dengan cepat Hades mengejarnya. Seraya menyambar tangan Miriam, ia berenang dengan cepat ke atas.
"Hades!" Miriam terkejut karena tubuhnya melesat ke atas ditarik oleh Hades.
Pria itu tertawa riang. Sesampainya di permukaan laut yang tak begitu jauh jaraknya dicapai, mereka menyembulkan kepala keluar dari air laut dan merasakan segarnya udara pagi itu.
"Tidak apa-apa. Sebentar saja."
"Tapi bahaya kalau ada yang mengetahui keberadaan kita." Miriam memperingatkan. "Kecuali malam hari."
"Kau, apa kau mau keluar malam hari denganku?"
"Tidak."
"Mmh, karena itu ...." Hades menarik Miriam mendekati tepi laut yang banyak batu karang dan kemudian menepi. "Jadi rencanamu apa?"
"Apa?"
"Terus bekerja dengan dukun itu?"
"Mmh, menyenangkan juga bekerja dengannya. Aku bisa bertemu dengan macam-macam manusia."
"Tapi Miriam, itu berbahaya. Bagaimana kalau kamu bertemu dengan dukun yang bisa mengalahkanmu atau kiai yang hebat? Kamu bisa bernasib sama dengan orang tuamu."
"Itu kan memang resikonya. Kamu kan punya pekerjaan yang sama denganku, masa tidak mengerti?"
"Aku tidak ingin kau terluka Miriam." Hades mendekat.
__ADS_1
"Aku masih ingin melakukan banyak hal Hades, jangan melarangku!" Putri duyung itu cemberut.
"Kenapa kau begitu menyukai dunia manusia Miriam. Apa kau ingin menikah juga dengan manusia?"
"Lho, ada kan pernikahan seperti itu?"
"Miriam ... kenapa kamu mencari yang tak pasti?" Hades menatap jauh ke dalam kedua bola mata biru milik putri duyung kesayangannya. Kapankah ia sadar, bahwa ada hati yang tak sabar ingin memeluknya saat ia dekat.
Putri duyung itu menggembungkan pipinya dan kemudian berbalik dan menjauh. Segera Hades mengejar dan menarik lagi tangannya. "Miriam, maafkan aku ...."
Miriam masih merengut.
"Ya sudah, kita tidak bicarakan itu lagi ya? Temani aku berjemur di sini," bujuk putra duyung itu. Hades menariknya pelan. Aku akan menunggumu, Miriam. Menunggumu menoleh padaku. Biarlah, aku jadi alternatif terakhir, asalkan pada akhirnya kau memilihku.
---------+++---------
Miriam memperhatikan kapal-kapal kecil yang bersandar di dermaga dan mengaguminya. Ada sebagian kecil kapal-kapal mewah yang dimiliki orang kaya.
Langit berbintang menambah indah suasana malam. Putri duyung itu mendekati kapal-kapal yang bersandar itu dan memperhatikannya satu-satu.
Terdengar salah satu kapal mewah berisik seperti berpenghuni, sepertinya sedang mengadakan pesta kecil di atas kapal. Putri duyung itu mendekati kapal itu pelan-pelan.
Di sebuah kapal mewah, beberapa pria sedang berbicara sambil memegang minuman. Beberapa kali mereka tertawa ringan.
Miriam mengintip dari kapal di sampingnya. Terlihat seorang pria bule sedang berbicara dengan beberapa pria lokal. Ia tidak memegang gelas tapi terlihat mabuk. Sesekali ia berpegang pada sisi kapal. Sepertinya ia tidak mabuk tapi ... pusing.
Tiba-tiba ia disergap oleh beberapa pria di depan dan kepalanya ditutup dengan karung goni. Tubuhnya pun diikat. Setelah itu ia di dorong jatuh ke air.
Kejadiannya begitu cepat dan ia dalam keadaan tak berdaya menyebabkan pria itu dengan mudahnya diikat dan dibuang ke laut.
Miriam segera menyelam ke dalam air dan mengejar tubuh pria itu yang perlahan tenggelam masuk dalam air. Ia menyambut tubuh pria itu yang sedang meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
Putri duyung itu segera membawanya menjauh dari tempat itu dan memastikan tak ada yang melihat dan membawanya ke tepian.
Ia kemudian menyadari tubuh pria itu tak lagi bergerak. Oh, aku lupa. Dia kan tidak bisa bernapas dalam air. Segera dibukanya ikatan di tubuh pria itu sehingga mudah membuka karung goni itu, dan betapa terkejutnya ia, pria itu sangat tampan.
Dengan garis tegas tetapi lembut di wajah, juga rambutnya yang hitam kecoklatan membuat ketampanan sempurna. Di bawah sinar rembulan, rambutnya bercahaya seperti emas.
Perlahan pria itu membuka matanya dengan lemah dan menatap Miriam yang sedang terpesona. Pria itu, punya mata biru sebiru lautan.
Tanpa disadari, putri duyung itu menyentuh lembut wajah pria itu.
"Terima kasih ... bidadariku," ucap pria itu lemah.
Miriam mengecup bibir pria itu pelan dan kemudian pria itu tak sadarkan diri.
__ADS_1