
Akhirnya diputuskan memesankan steak daging sapi untuk Miriam. Gadis itu kembali bingung saat melihat steak itu di atas piring ketika dihidangkan.
"Apa ini?"
"Steak daging sapi," terang Max.
"Kenapa warnanya hitam? Bukankah daging warnanya merah?"
"Merah kalau mentah. Ini kan sudah dimasak."
Miriam melihatnya dengan heran. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kenapa manusia aneh sekali? Apa yang mereka lakukan saat masak? Ini dagingnya sudah menghitam begini, apa enak? Gadis itu memberanikan diri dengan menyentuhnya.
"Eh, Lita. Jangan dipegang!" larang Max.
Namun Miriam terlanjur menyentuhnya. "Auh!" Ia menarik tangannya.
"Masih panas, Lita." Max menerangkan.
Anna meraih tangan Miriam. "Sakit?" tanyanya sambil memperhatikan jemari Miriam.
Apa yang namanya masak itu, membakar sesuatu hingga hangus, begitu? Kenapa disajikan saat masih panas. Merepotkan! "Eh, tidak apa-apa." Miriam menarik tangannya.
"Makannya jangan pakai tangan ya, Lita. Pakai garpu saja. Sini, Kakak potongkan, biar kamu tinggal makan." Anna menarik piring Miriam dan mulai memotongnya dengan pisau dan garpu. Miriam memperhatikannya dengan seksama.
Manusia ternyata rumit sekali makannya. Harus dimasak sampai hangus dan kemudian dipotong-potong menggunakan pisau saat masih panas. Aku sepertinya harus banyak belajar, agar tidak terlihat aneh terus-terusan oleh mereka.
"Nah ini, makanlah." Anna telah memotong daging menjadi seukuran suapan, sehingga Miriam tinggal memakannya.
Miriam kembali bingung. Apa aku harus mengambil dengan tangan lagi atau dengan apa? Gadis itu melirik Anna.
"Oh, pakai garpumu." Anna seperti tahu apa yang dibutuhkan gadis itu.
"Garpu?"
Anna menunjukkan letak garpu yang berada di sebelah piring gadis itu yang bersebelahan dengan pisau. Miriam memandangi kedua benda itu. Aku tahu pisau. Berarti yang satu lagi adalah garpu.
Miriam mengambilnya, tapi ia tak tahu cara menggunakan benda itu sehingga ia menancapkan benda itu ke daging dengan keras seperti kepada mangsa yang akan dimakannya. "Heh! Begini 'kan?"
Max menghela napas pelan, melirik kekasihnya dan coba tersenyum pada Miriam. "Lita, daging itu sudah mati. Kau tidak harus menancapkannya keras-keras karena ia takkan lari. Hati-hati, kau bisa memecahkan piring atau membengkokkan garpu.
Miriam memperhatikan garpu yang sedikit bengkok ujungnya akibat ulahnya tadi. "Oh." Berikutnya ia mulai hati-hati dengan memperhatikan Anna makan.
Wanita itu pun mengajarinya. Ia memotong daging lalu menusuknya perlahan kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
"Oh, aku bisa." Miriam melakukannya. Hanya bedanya, gadis itu hanya tertarik memakan dagingnya saja. Ia mengunyah sambil mengerut kening. Rasanya aneh tapi tidak buruk. Ternyata daging hangus itu enak juga. "Mmh, lumayan enak."
"Kau suka? Syukurlah." Max tersenyum lega dan mulai makan.
"Apa ini namanya matang, bukan hangus ya?"
__ADS_1
"Hangus?" Pria itu melirik Anna dan kembali pada Miriam. "Biasanya yang disebut hangus itu masaknya terlalu lama dan rasanya pasti pahit."
"Oh, jadi ini bukan hangus?"
Max tersenyum sekedarnya. Ia merasa aneh pada Miriam. Wujud gadis itu memang manusia tapi perasaannya mengatakan ia gadis entah dari planet mana.
"Apa ... dandananku cantik?" Miriam tiba-tiba bertanya soal penampilannya.
Anna menutup mulutnya karena menahan tawa.
"Oh ya, kamu cantik," jawab Max untuk menyenangkan hati Miriam. Bukankah wanita ingin dipuji?
Miriam tersenyum lebar. Ia kemudian mulai meneruskan makan tapi gaya makannya yang rakus dan buas membuat Anna dan Max kini sedikit prihatin.
"Lita, makannya perempuan harus lebih feminin Dek." Anna mencoba mengajari.
"Mmh?" Saat itu kuah steak-nya telah melumuri sekitar mulut gadis itu sehingga lipstik di bibirnya telah hilang tenggelam oleh kuah steak itu. "Feminin apa?"
"Lebih perempuan."
"Lebih perempuan?"
Anna mengambil tisu dan membersihkan mulut Miriam. "Perempuan makannya jangan berantakan mulutnya."
"Kan bisa dibersihkan nanti."
"Usahakan saat makan enak dipandang. Tidak buru-buru dan tidak berantakan di sekitar mulut."
"Kan tadi sudah dibilang, makannya jangan buru-buru karena tidak baik juga untuk pencernaan."
"Kenapa dengan pencernaannya?"
Anna tertawa kecil. Pertanyaan Miriam baginya seperti pertanyaan seorang anak kecil. "Dalam agama Islam juga diajarkan makan pelan-pelan agar makanan yang masuk ke dalam lambung bisa dicerna dengan baik."
"Oh." Wanita ini sedikit berbahaya karena sepertinya bicaranya akan selalu tentang agama. "Eh tapi, lambung itu di mana?"
"Perut, Lita." Anna tersenyum lebar.
"Oh, perut." Miriam menyentuh perutnya sendiri.
"Lita, kamu sehari-hari makan apa?" Tiba-tiba pertanyaan Max mengagetkan Miriam.
"Eh, aku ...."
"Apa kau suka makanan mentah? Berarti suka sushi ya?"
"Sushi?"
"Kau tidak tahu?"
__ADS_1
Miriam menggeleng.
Max mengerut kening. Aku pikir dia tadi tinggal di Jepang karena makannya sepertinya suka makanan mentah tapi Sushi saja ia tidak tahu. Aneh? Jadi dia sebenarnya apa? Apa dia seorang alien? Ah, ada-ada saja pikiranku. Pasti segala sesuatunya ada penjelasannya. Tinggal aku sekarang bersabar hingga ia mengingat sesuatu.
Suara dering telepon mengagetkan ketiganya. Itu suara handphone Max.
"Halo?" Pria itu terlibat percakapan untuk beberapa saat sebelum ia matikan. "Mmh, polisi telah menangkap dan menginterogasi teman bisnisku itu dan mereka meminta keteranganku segera. Aku menjanjikannya besok, jadi hari ini kita bisa lebih santai." Ia menopang dagunya di atas meja menatap Anna. "Jadi hari ini kamu mau ke mana lagi, Sayang?"
Wanita itu tersenyum malu. "Ah ... sudah ah, ini sudah sore. Aku tak mau mengganggumu lagi, karena besok kau akan kerja. Kau sudah seharian berada diluar, apa kau tidak merasa lelah?"
"Tidak kalau untukmu."
Wanita itu memerah pipinya.
Miriam yang menyaksikan itu, kembang kempis hidungnya karena hati dan jantungnya serasa terbakar. Kenapa ia harus melihat mereka bermesraan di depan mata?
"Sudahlah Kak, Kakak 'kan perlu mengurus Lita dan mulai sibuk bekerja besok. Selesaikan dulu urusan itu biar Lita bisa bertemu keluarganya."
"Mmh." Max mencubit dagu Anna dengan gemas. "Kau selalu mengerti urusanku, Anna. Aku semakin sayang padamu."
Anna mencolek lengan pria itu agar pria itu ingat ada Miriam di situ.
"Oh, Lita. Kau mau tambah lagi?" tanya Max mengalihkan perhatian.
Miriam menggeleng.
"Apa ada lagi tempat yang ingin dikunjungi?"
Kembali Miriam menggeleng. Mana aku tahu tempat-tempat yang ingin kukunjungi di darat, aku 'kan tidak pernah ke mana-mana.
"Ok, kalau begitu kita pulang saja ya?"
Tidak butuh waktu lama, mereka sudah kembali ke rumah. Anna kembali membantu Miriam memberi tahu cara membersihkan make up. Setelah itu wanita itu kemudian turun dan mengobrol dengan Max di lantai bawah.
Miriam mengintipnya. Ia segera turun dan ikut duduk melingkari meja makan bersama.
"Oh, Lita. Kamu tidak beristirahat?" Dari wajah Max, terlihat sekali kalau ia merasa terganggu.
"Kami sedang mengeteh sore, Lita," sahut Anna ramah.
"Apa itu?"
"Minum teh sore maksudnya."
"Aku boleh coba?" tanya Miriam antusias, antara ingin mengenal tata cara kehidupan manusia dan memisahkan mereka.
___________________________________________
Halo reader, jangan lupa dukung terus author ya, dengan memberi like, vote, komen dan hadiah. Ini visual Miriam setelah berdandan.
__ADS_1