
Doni mengajak Miriam ke sebuah restoran di dalam hotel. Ia melirik Miriam yang sedang asyik mengeja dalam hati, nama-nama menu yang ada di buku menu. "Kau mau makan apa?"
"Se-te-ak. Kenapa tulisannya begini? Aku ingin pesan daging ini tapi kenapa ditulis begini? Ini daging stik (steak) 'kan?"
Pemuda itu tersenyum menahan tawa. "Iya, steak daging." Apa Lita tidak bisa berbahasa Inggris? Lucu, ada bule tidak bisa bahasa Inggris.
"Ya, itulah. Aku mau itu."
Wajah Lita yang polos membuat pemuda itu mengulum senyum. "Ok, kita pesan."
Selagi makan, Doni kembali mengajak gadis itu mengobrol. "Mmh, kamu tinggal di mana?"
"Di atas," jawab Miriam seraya memotong daging di piringnya."
Pemuda itu tertawa. "Maksudku bukan itu. Maksudku, apa kamu tinggal dengan orang tuamu atau dengan Pak Max, karena aku tidak melihat orang tuamu."
"Orang tuaku sudah meninggal."
"Oh, maaf aku tidak tahu. Jadi kamu tinggal dengan Pak Max?" Sedikit terkejut.
"Iya." Namun kemudian Miriam mengerut kening dan melirik Doni. "Kenapa kau memanggil Kak Max dengan 'Pak'? 'Kan dia masih muda." Ia menyuap dagingnya dengan garpu.
"Ayahku 'kan kerja sama dengan Pak Max jadi panggilnya 'Pak'."
"Oh."
Lita sangat lugu dan enak diajak bicara. Mudah-mudahan saja ia bisa menyukaiku.
Miriam melihat pemuda itu memandanginya. Ia kembali mengerut dahi. "Ada apa?"
"Tidak ada."
Miriam kembali melanjutkan makannya.
"Mmh, kamu berapa hari di sini?"
"Oh, aku tidak tahu. Aku hanya ikut Kak Max aja ke sini."
"Mmh, kalau besok aku ajak kamu jalan-jalan, mau gak?"
"Ke mana?"
"Ya ke mana saja."
"Ngak."
Jawaban yang cukup mengagetkan Doni. "Eh, kenapa? Gak boleh sama pacarmu ya?"
"Pacar?" Miriam tersenyum penuh arti.
Pemuda itu makin penasaran. Apa aku punya saingan? Mmh ....
Seusai makan, Miriam ingin kembali ke tempat pertemuan tadi tapi dihalangi Doni.
"Untuk apa ke sana, mereka belum selesai. Paling tidak jeda tadi, mereka makan malam bersama. Sekarang mereka kembali ke tempat tadi."
Miriam bingung. "Aku ingin ke Kak Max."
__ADS_1
"Untuk apa? Dia kan lagi sibuk dengan tamu. Mmh ...." Doni berpikir sejenak. "Kita ke kafe."
"Kafe? Untuk apa?"
"Ngobrol-ngobrol saja. Yuk!" Doni menggandeng tangan Miriam.
------------+++---------
Hades kecewa. Ia sudah mendatangi rumah itu lagi dan ternyata Max pergi bersama Miriam ke luar kota. Padahal ia telah bersusah payah keluar dari rumah mewah milik wanita genit yang ternyata sudah menikah itu. Ia kembali tanpa hasil. Setidaknya 3 hari lagi ia bisa menemui Miriam.
Pria itu menghela napas. Paling tidak, ia harus kembali lagi ke rumah mewah tempat ia tinggal kini.
---------+++--------
"Lita, kau mau ke mana?" Doni mengejar Miriam keluar kafe.
"Aku bosan. Aku ingin ke tempat Kak Max."
"Oh, ya sudah. Kita kembali." Setidaknya ia tak menolakku, hanya bosan. Semangat Doni, kamu pasti bisa menaklukkannya, pemuda itu memberi semangat dirinya.
Mereka kembali ke tempat pertemuan. Miriam tentu saja bosan bersama dengan Doni yang hanya mengajaknya mengobrol saja. Ia ingin bersama Max.
Pria itu masih berbicara di depan para tamu sehingga Miriam tak ingin mengganggunya. Gadis itu kembali duduk di kursi.
Selesai acara, para tamu undangan pulang. Mereka mengantri satu-satu bersalaman dengan pria itu.
Max menyadari Miriam telah kembali. "Oh, Lita kau telah kembali? Kau mengantuk?"
"Iya." Gadis itu mengangguk dengan mata berat.
"Tunggu sebentar ya? Aku selesai sebentar lagi."
Pak Dudit dan anaknya terakhir menyambangi pria itu. "Selamat ya? Pandanganmu ke depan sangat luas. Antusias tamu yang lain melihat performa Bapak, wah ... bukan main," pujinya sambil bersalaman.
"Anda terlalu berlebihan tapi terima kasih. Oh ya, terima kasih juga Doni sudah mentraktir Lita tadi makan malam. Lain kali aku akan mentraktir kalian juga."
"Oh, aku tunggu lho, Pak," canda Dudit sambil tertawa.
"Oh, pasti-pasti. Apa lagi Lita juga kelihatannya bisa berteman dengan Doni, ya?"
"Lita ramah orangnya, Pak," puji Doni.
"Mmh. Mudah-mudahan bisa langgeng pertemanannya nih!"
Max dan Dudit tertawa.
Hanya Miriam yang cemberut. Aku gak mau begini. Aku mau sama Max, apa dia tak juga mengerti? Aku tidak mau Doni, aku mau kamu!
"Jadi kapan?" tanya Dudit lagi.
"Apanya?" tanya Max awalnya tidak mengerti tapi kemudian .... "Oh, boleh-boleh saja."
"Bagaimana kalau besok?"
"Besok? Apa Bapak tidak bosan ketemu kami terus karena malamnya kita akan ada di sini lagi membahas masalah selanjutnya."
"Oh, tidak. Mumpung kami masih di sini. Oh, bagaimana kalau aku ajak jalan-jalan kalian menjelajah kota ini sedikit. Aku pernah kuliah di kota ini jadi aku cukup tahu tempat-tempat wisata di sini."
__ADS_1
"Oh, tidak perlu begitu karena sore aku harus ada di sini memeriksa persiapan di sini."
"Oh, maaf jadi menggangu nih?" Dudit jadi tak enak hati.
Nah, 'kan kena usir Kak Max, batin Miriam senang.
"Paling tidak aku bisa bertemu di Mal terdekat untuk makan siang saja karena aku menemani Lita berbelanja."
"Oh, tidak apa-apa. Aku sangat senang bisa datang makan siang nanti." Dudit menyatukan tangan. "Eh, soalnya anakku juga bosan menemani ayahnya di sini." Ia melirik Doni. "Untung ada Lita."
Max melirik Miriam. "Ya, Lita juga sama. Namanya juga anak muda."
---------+++-----------
"Lita, apa kau tidak bosan dengan warna hitam?"
"Tidak. Model yang ini terlihat sangat manis." Gadis itu memutar tubuhnya di depan cermin.
"Lita. Kulitmu berwarna pucat dan rambutmu berwarna putih, dengan pakaian itu kamu mirip siluman."
Lita tersentak kaget hingga terdiam. Apa jadi siluman begitu mengerikan? Apa ia tidak menyukai siluman?
"Eh, maaf Lita. Apa aku terdengar keterlaluan ya?Maaf, aku tadi cuma bercanda." Max menyadari ucapannya mungkin menyinggung perasaan Miriam, karena gadis itu terlihat bingung.
Miriam masih tak tahu harus bereaksi apa.
"Hanya saja kamu terlihat cukup cantik kenapa kamu suka berdandan ala Gothic(dandanan pucat dengan pakaian hitam-hitam) begini. Kau jadi terlihat aneh, padahal wajahmu terlihat normal."
Apa maksudnya aneh? Ah, tadi ia menyebutku cantik? Ah, benarkah? Gadis itu tersipu-sipu.
"Apa kau tidak ingin mencoba warna lain?"
Miriam akhirnya mencoba warna lain dan ia tidak menyukainya.
"Bagus 'kan?"
"Tidak."
"Tidak?" Max menelan ludahnya pelan. Mereka memang berlainan selera. "Ya sudah, sesuka kamu saja. Asal kamu senang."
Pada akhirnya Miriam mendapatkan pakaian yang disukainya. Dua buah gaun berwarna hitam.
"Ayo, sekarang kita ke tempat makan. Mungkin Pak Dudit sudah menunggu kita di sana," desak Max.
Keduanya naik lift dan berhenti di lantai yang dipenuhi oleh banyak restoran. Mereka butuh waktu untuk menemukan restoran itu karena mereka baru pertama kali itu ke sana.
___________________________________________
Reader, masih baca 'kan? Ayo semangati author dengan kirimanmu, vote, like, komen atau hadiah. Ini visual Miriam dengan gaun gothic-nya. Salam, ingflora💋
Yuk baca punya author satu ini....
Tentang suara samar di gedung sekolah saat jam pelajaran berlangsung, membuat keempat sahabat penasaran dengan siapa sosok yang sebenarnya.
__ADS_1
Apa mereka bisa menemukan jawabannya?
Baca kalau berani.