
"Ada apa Pa?" Wanita itu membuka matanya. Ia terkejut melihat suaminya seperti kesakitan memegangi lehernya sehingga wanita itu segera duduk. "Pa, Papa kenapa?" Ia makin tercengang saat menyadari tubuh suaminya mengeluarkan asap abu-abu. "Papa ... Papa kenapaaa Pa!" Bulir-bulir air matanya berjatuhan. "Papaaaaa ..!!"
Sementara itu, Miriam masih memutar-mutarkan tangannya di depan pajangan itu dengan pandangan mata fokus ingin menuntaskan peperangan itu. Ia terus saja membaca mantra-mantra agar serangannya tidak terputus.
Sementara itu restoran tengah ramai oleh pengunjung yang sedang makan dan tidak ada seorang pun bisa melihat keberadaannya kecuali seorang anak kecil.
Anak kecil itu berpegang pada ibunya karena ketakutan melihat Miriam. Bukan karena melihat penampakannya yang berupa putri duyung tapi melihat wujud aslinya yang seorang iblis. Ya, siluman adalah iblis. Tubuhnya berwarna merah dan wajahnya sangat menyeramkan. Anak itu minta segera pulang karena ketakutan.
Miriam berhasil membunuh pria itu dan mengambil jiwanya. Pria itu telah merenggang nyawa. Ia tersenyum puas dan segera menghilang dari tempat itu.
Miriam telah kembali ke rumah Artha. Di sana ia mengeluarkan sebuah mutiara. Mutiara itu dimantrainya sambil mengeluarkan bola yang berisi jiwa pemilik jimat yang telah diambilnya.
Bola kemudian pecah sehingga jiwa si pemilik jimat itu melayang-layang dan kemudian tersedot ke dalam mutiara. Jiwa itu memanggil-manggil meminta tolong untuk diselamatkan. "Tolooong, tolong lepaskan aku. Lepaskan aku tolooong!!"
Miriam hanya menyeringai melihat jiwa pria itu masuk ke dalam mutiara berwarna putih itu. Lambat laun mutiara itu berubah menjadi abu-abu. Kembali gadis itu menyeringai senang.
Hari ini ia sudah mendapatkan satu tangkapan manusia yang sudah melakukan perjanjian dengan iblis, karena itu mudah baginya mengambil jiwanya untuk dijadikan mainan.
Begitulah, mereka-mereka yang sudah melakukan perjanjian dengan iblis demi memenuhi rasa sakit hati maupun iri harus menanggung akibatnya, jiwa mereka diambil dan dijadikan mainan siluman itu.
Miriam kemudian mengambil kotak perhiasan yang dibelikan Artha untuknya. Ia memasukkan mutiara yang kini berubah warna menjadi abu-abu itu ke dalam kotak itu. Ia memeluk kotak itu dengan senangnya.
Ia kini sedang membayangkan akan meletakkan jiwa itu di mana lagi di rumahnya di dasar laut. Beberapa sudah ia tempel di dinding, kaki meja, bahkan alas pajangan di rumahnya. Oh, mungkin jadi keset di pintu depan. Ia tersenyum.
-----------+++----------
Artha kembali ke rumahnya dan mendatangi kamar Miriam. Ia nampak bahagia. "Kamu tahu Sheila ... ada yang menyewa restoranku untuk acara tunangan. Ah senangnya ...." Matanya berbinar ceria saat ia menghempaskan diri duduk di tepian tempat tidur di samping gadis itu. "Ah, seandainya itu terjadi pada kita, Sheila." Pikiran pria itu kini menerawang.
Miriam mulai mengerut kening. Mulai lagi deh, orang ini ... Ia menghela napas. "Aku sudah menuntaskan penghalang di restoranmu tadi. Mulai besok, kamu bisa memindahkan keris itu ke tempat lain."
"Ok ...."
__ADS_1
Namun Artha terlihat masih duduk di sana dengan santainya. Miriam kembali mengerut kening menatap pria itu. Apa ada lagi yang ingin dikerjakan Artha karena pria itu tak beranjak dari tempatnya. Ia terganggu dengan keberadaan pria itu di sana. "Ya ...?" Akhirnya ia mulai bertanya.
"Mmh, menurutmu ... apa aku punya kesempatan?"
"Kesempatan ... apa?"
"Bersamamu."
Ya ampun. Dia sudah jatuh dalam pesona wajahku.
"Sheila, apa kamu memberiku kesempatan?"
"Bagaimana dengan pacarmu?"
Pria itu tersenyum simpul. "Apa kau mulai menyukaiku? Aku sanggup melakukan apapun untukmu, Sheila. Aku merasa, mencintai Nafa itu suatu kesalahan dan berkat bertemu denganmulah aku jadi tahu bahwa cintaku bukan untuknya tapi untukmu."
Dia pikir, aku akan jatuh hati dengan kata-kata seperti itu? Bodoh! "Kamu sudah terlanjur membuat permohonan. Sulit mengubahnya," ucap gadis itu dengan tegas.
"Oh ... Sheila, jangan terlalu kaku seperti itu. Coba lihat perasaanmu, mungkin selama ini kau butuh tempat bersandar hanya saja kau tidak merasakannya," kembali Artha merayunya.
Artha memutar bola matanya karena kesal. "Baiklah." Ia turun dari tempat tidur. "Mmh, besok kau ingin makan apa Sayang?" ucapnya dengan ramah.
"Jangan panggil Sayang sebab aku bukan pacarmu," ujar Miriam santai.
Untuk kesekian kalinya usaha merayu Miriam gagal. Pria itu menghela napas. "Ya sudah, kamu mau makan apa besok?"
------------+++----------
Nafa heran, sudah seminggu ia membayar orang untuk memata-matai kekasihnya Artha, tapi tanpa hasil seolah kecurigaannya tentang Artha yang punya kekasih lain tidak terbukti. Sebenarnya, untuk siapa kotak perhiasan itu Artha beli?
Apa jangan-jangan orang yang selama ini ia cari, tidak ada di luar rumah tapi justru berada di dalam rumah? Ya, rumah kekasihnya. Jadi biar bagaimanapun susahnya ia mencari ia takkan temukan, karena sebenarnya wanita itu sendiri telah tinggal di dalam rumah Artha, iya kan?
__ADS_1
Semua kini terasa masuk akal, tapi sejak kapan wanita itu ada di dalam rumah Artha? Dulu dia pernah berkunjung ke rumah kekasihnya itu tapi kini ... mungkinkah telah terjadi perubahan yang ia tidak tahu?
-------------++++--------------
Artha kembali membujuk Miriam. Ia ingin mengajak keluar gadis itu dan berjalan-jalan dengannya. "Ayolah kita keluar. Kau kan putri duyung. Kau pasti suka laut. Iya kan?" Artha yang duduk santai di tepi tempat tidur meliriknya.
Miriam melirik tajam pada pria di sampingnya. Walau kata laut membuatnya rindu tapi ia tak mudah dipatahkan. "Kenapa kau tidak pergi saja dengan kekasihmu itu?"
"Aku ingin jadi kekasihmu." Artha tersenyum lebar sambil menatap wajah putri duyung itu. "Kenapa sih kamu tidak mau pergi denganku? Wajahku kan cukup tampan. Oklah kita tidak pacaran tapi setidaknya kamu mau kan pergi jalan-jalan denganku, sebagai sahabatmu mungkin?" bujuknya.
Putri duyung ini masih muda. Paling tidak dua tahun di bawahku jadi harusnya bisa dengan mudah kubohongi dan kubawa pergi.
"Kamu kan tahu, aku tidak boleh terlihat."
Pria itu bergerak maju dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Miriam. "Kan bisa dengan berpakaian tertutup misalnya dengan jilbab panjang. Iya kan?"
Miriam hanya diam, membuat Artha semakin penasaran. Ia menyentuh tangan mulus Miriam. "Kamu mau kan pergi jalan-jalan denganku?"
Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Nafa dengan wajah terkejut sekaligus marah. "Jadi selama ini kamu menghianati aku demi dia, begitu? Kak ...."
"Eh, Nafa ...." Artha terperangah. Ia cepat-cepat menjauhkan tangannya dari Miriam.
Miriam hanya memutar bola matanya kesal menghadapi kejadian ini. Itu masalah Artha yang ia buat sendiri dan gadis itu tidak ingin ikut campur di dalamnya. Yang pasti, pria itu harus bisa menyembunyikan identitas Miriam.
"Eh, dia itu sepupuku dari kampung yang belum mengenal kota. Dia aku bujuk keluar jalan-jalan tapi dia tidak mau." Artha berhasil membuat sebuah kebohongan. Apakah kebohongan itu mampu mengelabui Nafa?
Gadis itu mendatangi Artha dengan mata menyorot tajam pada pria itu dan Miriam. Ia memindai tubuh keduanya. Tiba-tiba ia meraih lengan Miriam dengan kasar.
"Ah!"
"Kau tidak bohong padaku kan, kalau dia ini sepupumu, karena wajah kalian sama sekali tidak mirip!" Gadis itu masih marah.
__ADS_1
"Nafa, jangan kasar padanya!" bentak Artha yang berdiri dengan marah. Ia menarik tangan Miriam dan menjauhkannya hingga ke belakang punggung. "Biar bagaimanapun dia saudaraku!"
"Artha, kamu jahat! Kenapa kau malah berpihak padanya bukan padaku?"