
"Tidak akan, karena hanya akulah pria yang mencintainya apa adanya. Manusia yang tahu siapa Miriam, mereka takkan mau mendekatinya." Hades mulai berdiri.
"Tapi 'kan banyak cerita tentang manusia menikah dengan siluman, bahkan punya anak dengan kaum kita, siluman ini."
"Karena siluman itu menyembunyikan wujud aslinya, mereka bisa menikah dengan manusia. Sedang aku, aku tahu siapa Miriam. Baik buruknya dan aku rasa hanya aku yang mencintainya seperti ini, Ayah."
Raja duyung menahan tawa dengan senyuman. "Kau telah dibutakan oleh cinta, Nak."
"Kalau itu untuk Miriam, apapun akan aku lakukan. Dia hanya terlena sesaat. Ketika ia sadar ia pasti akan tahu bahwa ia lebih cocok bersama keluarga silumannya di bawah laut ini dibanding dengan manusia. Aku yakin itu."
Raja duyung melihat kesungguhan putra duyungnya pada putri duyung pujaannya. Ia telah lama tahu, Hades sangat menyukai Miriam, bahkan sejak kecil. Ia hanya ingin tahu, sejauh mana Hades akan memperjuangkan Miriam dalam hidupnya karena Miriam sepertinya tidak membalas cinta putra duyung itu.
"Hades, Ayah akan bantu kamu tapi kamu juga harus mencari Miriam dan menyadarkannya agar mau kembali ke laut lagi."
"Bagaimana caranya?"
"Kamu akan Ayah buat jadi manusia selama beberapa jam. Saat itu, carilah Miriam dan bujuk dia. Sementara itu, Ayah akan cari tahu kelemahan Penyihir ular laut itu."
"Terima kasih, Ayah. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana bila tanpa bantuan darimu."
Raja duyung menepuk bahu anaknya, memberi dukungan.
---------+++---------
Miriam terbangun tengah malam. Ia membuka selimut dan melihat kakinya masih kaki manusia. Ia merasa senang. Kemudian ia turun dari tempat tidur dan mengendap-endap keluar kamar. Ia sangat lapar. Segera ia menuruni tangga.
Saat ia memasuki dapur, tempat itu sepi karena sudah jam 2 malam. Miriam tidak bisa membaca angka. Ia sendiri tidak tahu harus mencari makanan dimana hingga ia membuka semua laci yang ditemuinya tapi ia tidak dapat bertemu dengan makanan hingga ia melihat lemari es.
Ah, mungkin di dalam lemari es ini. Miriam pun membukanya. Dibagian bawah ia hanya menemukan minuman dan sayur-sayuran. Kenapa manusia suka sekali menyimpan tanaman bahkan memakannya? Aneh. Padahal setahuku, hanya binatang saja yang sebagian suka makan tanaman, tapi ternyata manusia juga.
__ADS_1
Ia kemudian menutup lemari es bawah dan membuka lemari es yang di atas. Ia langsung tergoda dengan dengan beberapa daging yang berada dalam kemasan. Saat menyentuhnya, ia terkejut karena kedinginan. "Ah!" Miriam melepas daging itu.
Kesal, gadis itu membanting pintu lemari es itu dengan wajah merengut. Karena dingin, ia tak bisa memakan daging mentah itu. Jangankan memakan, menyentuhnya saja ia tak sanggup, saking dinginnya.
Gadis itu mencari akal karena ia lapar. Tanpa sengaja, ia melihat tempat sampah bergerak-gerak tutupnya. Apakah ada sesuatu di dalamnya?
Miriam mendekati tempat sampah itu pelan-pelan. Pasti ada binatang di dalamnya, pikir Miriam. Ia segera menyingkirkan tutupnya dan ... ia melihat seekor tikus sedang mengacak-acak sampah. Tikus itu terkejut melihat Miriam tapi gadis itu malah berselera melihat tikus itu. Tanpa pikir panjang, Miriam segera menangkap tikus di dalam tempat sampah itu.
Tikus itu melompat tinggi dan berusaha lari dari tempat sampah hingga Miriam berusaha menangkapnya berkali-kali. Tempat sampah itu sampai tumpah tapi gadis itu tidak menyerah dan mengejar tikus itu yang mencicit sepanjang jalan.
Miriam terus mengejar dan akhirnya mendapatkan saat tikus itu hendak naik ke atas kursi. Ia menyeringai senang. Digigitnya tubuh tikus itu dalam keadaan hidup hingga binatang itu mencicit dan mulai kejang. Lama-lama tubuh tikus itu lunglai. Miriam memakannya sampai habis.
Baju dan mulut gadis itu penuh dengan darah tikus. Sempat ia mencuci mulutnya di bak cuci piring dan juga bajunya sebisanya, lalu ia kembali ke kamar.
-----------+++-----------
Pagi-pagi para pelayan di rumah Max, gempar karena dapur yang sudah dibersihkan semalam, kini kotor berantakan. Sampah berserakan dari tempat sampah yang tumpah dan ada ceceran darah di dapur yang diyakini darah tikus, tapi mereka heran karena tidak menemukan bangkai tikus, sedang rumah itu tidak memiliki kucing satu pun. Binatang apa yang membunuh tikus dan memakannya sampai habis dan hanya menyisakan darah?
"Ah, tidak apa-apa, Pak Max. Hanya semalam ada tikus yang mengacak-acak dapur dan juga tempat sampah tetapi dimakan kucing tetangga sehingga hanya darahnya saja yang tersisa," terang salah satu pembantunya.
"Benarkah?" Max menatap suasana dapur yang porak-poranda. "Tapi bagaimana caranya kucing tetangga masuk ke sini karena aku tidak pernah lihat ada kucing masuk ke rumah ini."
"Entahlah, Pak itu hanya perkiraanku saja karena bangkai tikusnya tidak ada."
"Mmh, ya. Aneh juga." Max kemudian kembali ke luar.
Pria itu tidak melihat Miriam pagi itu. Ke mana dia? Apa dia masih tidur?
Pria itu menaiki tangga dan mengetuk kamar Miriam kemudian mengintipnya ke dalam. Ternyata gadis itu masih tidur nyenyak di atas tempat tidurnya. Max menghampiri dan membangunkannya. "Lita, ayo, bangun. Ini sudah pagi."
__ADS_1
Miriam bergerak pelan, membuka mata dan menatap Max. Ia kemudian sadar pria itu ada di kamarnya. "Oh, Kak Max."
"Kenapa jam segini kamu belum bangun, Lita? Ayo, sudah waktunya sarapan."
"Mmh." Gadis itu beranjak turun dari tempat tidurnya dan meregangkan tangan. Miriam turun dikawal oleh pria itu. Senang rasanya.
"Nanti, aku akan ke kantor sebentar dan kembali untuk membawamu ke rumah sakit. Kau baik-baik di rumah ya?"
"Rumah sakit? Rumah sakit itu apa?"
Astaga. Lama-lama aku jadi yakin aku sedang berbicara dengan alien. Hah! "Rumah sakit itu bukan rumah yang sakit tapi rumah untuk orang sakit." Max tertawa sendiri mendengar penjelasan dari mulutnya.
"Oh, tapi aku tidak sakit. Siapa yang sakit?"
"Oh, kamu 'kan hilang ingatan, bukankah itu digolongkan dengan sakit?" Melihat Miriam berpikir keras, ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Oh, tapi itu tidaklah terlalu buruk. Kamu pasti tidak harus tinggal di rumah sakit, 'kan?"
"Tinggal di rumah sakit?"
Bingung menerangkan gadis itu yang terus bertanya, kembali ia mengalihkan. "Ah, sudahlah. Sebaiknya kita sarapan. Kau mau roti, atau apa?"
Gadis itu memperhatikan Max mengoles roti. "Apa itu?"
"Ini roti. Roti bakar. Kamu mau?"
Oh, ini roti? Kenapa penampakannya berbeda dengan burger ya, burger katanya roti juga. Karena tidak mau merepotkan orang, Miriam mengangguk mengiyakan.
Max membuatkan Miriam roti karena melihat gadis itu tidak faham makanan yang ada di hadapannya. "Kamu mau roti bakar atau yang biasa?"
__________________________________________
__ADS_1
Halo reader, dukung terus author ya, dengan cara vote, like, komen dan hadiah. Ini visual Miriam sehabis memakan tikus. Salam, ingflora 💋