Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Mutiara


__ADS_3

Pria itu menarik tubuh gadis itu dalam dekapan. Mulutnya menyeringai nakal. "Sebaiknya kau menyerah dan pasrah, Gadisku agar kau bisa menikmatinya juga." Pria itu mendekatkan wajahnya pada Miriam.


"Jangan coba-coba atau kamu akan menyesal," ucap Miriam setengah berbisik.


Pria itu tertawa terbahak-bahak hingga sedikit menggema dalam ruangan itu. "Gadis manis sepertimu akan kuajari bagaimana caranya menjadi dewasa saat berada di tanganku." Pria itu kembali tertawa. Ia menarik Miriam dan menghempaskannya ke atas tempat tidur.


Lelaki itu melepas kaos singletnya dan mulai menaiki tubuh Miriam. "Aku akan mengajarkan pelajaran yang takkan pernah kamu lupakan seumur hidupmu." Pria itu kembali tertawa dengan sangat mengerikan.


Pria itu menarik dagu gadis itu dan mendekatkan wajah mereka. Saat itu juga, Miriam membuka mulutnya. Pria itu terkejut melihat lidah gadis itu yang tipis seperti pita dan keluar dengan sangat panjang. Lidah itu langsung melilit leher pria itu.


Tentu saja pria itu panik tapi tak sempat menghindar. Kini giliran Miriam yang tersenyum menyeringai pada pria itu.


Pria itu ingin berteriak tapi tak satu pun suara yang keluar. Tenggorokannya sudah terkunci oleh lilitan lidah gadis itu. "Hagh ... hagh ...." Sekuat tenaga ia berteriak, tapi suaranya terdengar seperti tenggorokan yang tersumbat.


Pria itu menangis mengeluarkan air mata, tapi meminta ampun pun tak berguna.


Miriam yang tersenyum menyeringai, terlihat sangat angker. "Aku sudah memperingatkanmu 'kan? Jadi nikmati hari-harimu di neraka."


Saat itu juga lidah itu mengeratkan lilitannya dan pria itu kejang-kejang merenggang nyawa. Tak lama ia lemas karena mati seketika. Lidah itu kemudian melepaskan mangsanya dan kembali masuk ke dalam mulut gadis itu.


Miriam membiarkan saja pria itu mati di sisinya. Ia sedang berpikir bagaimana caranya keluar dari kamar itu karena tangannya terikat ke belakang. Saat berpikir demikian, terdengar suara ribut-ribut di luar. Tiba-tiba pintu diterjang hingga terbuka.


"Lita!" Max segera berlari ke arah tempat tidur di mana gadis itu berada. Ia terkejut melihat pria itu terkapar mati di sebelah gadis itu. "Bagaimana dia bisa mati?"


Max tidak sendirian. Ia datang bersama beberapa orang anggota polisi ke dalam kamar itu.


"Aku tidak tahu, Kak. Tiba-tiba ia mencekik lehernya sendiri," terang Miriam.


"Apa?"


Sebenarnya Miriam tahu, pria itu takkan percaya tapi hanya alasan itu yang bisa dibuatnya saat itu.

__ADS_1


"Mencekik lehernya sendiri?"


Anggota polisi yang masuk ke kamar itu memeriksa mayat sedang Max membantu Miriam membuka ikatan tangannya di belakang punggung gadis itu.


Apa mungkin penjahat yang garang seperti pria itu bisa bunuh diri? Tapi Lita dengan tangannya terikat ke belakang, tak mungkin bisa mencekiknya. Apalagi, dia hanya seorang wanita.


Teka teki itu masih menggelayut di hatinya.


Max ternyata saat keluar tadi, dihadang oleh polisi yang kemudian meringkus anak buah perampok itu.


Menurut keterangan polisi, di daerah itu sering terjadi perampokan dan polisi memang sudah lama mengintai kelompok perampok ini karena ulahnya. Max termasuk beruntung karena biasanya setelah merampok korbannya, mereka segera dihabisi.


Miriam yang telah dibebaskan pria itu, segera dipeluknya. "Kau tak apa-apa 'kan Lita?" Ia mengecup pucuk kepala gadis itu dan mengusap-usap punggungnya.


"Tak apa-apa, Kak." Begitu senangnya gadis itu bisa memeluk pria itu. Ia berusaha memainkan perannya sebagai gadis yang menderita.


Max melepas pelukan dan menatap mata gadis itu yang terlihat sayu. "Mmh? Kau benar tak apa-apa?" ucapnya lembut menatap kedua bola mata gadis itu seraya kembali mengusap kepalanya.


Miriam segera memeluk Max. Pria itu tak boleh melihat ini!


Terdengar suara benda jatuh. Pria itu menunduk melihat ke bawah dan ia melihat sesuatu. "Apa itu?"


Miriam melepas pelukan karena pria itu bergerak membungkuk memungut benda itu. Buru-buru ia segera menghapus air mata yang tersisa sebelum pria itu melihatnya.


Sebuah mutiara berwarna putih. "Apa ini milikmu?" Pria itu menyodorkannya pada Miriam.


"Tidak," sangkal Miriam.


"Eh, Pak. Ayo, kita keluar." Seorang polisi menepuk bahu Max.


Ternyata mayat lelaki itu telah dibawa ke luar. Mereka semua kemudian dibawa ke kantor polisi.

__ADS_1


Di dalam perjalanan ke sana, Max menelepon sekretarisnya untuk membatalkan rencana hari itu karena kejadian itu. Miriam dengan bahagia menyandarkan tubuhnya pada dada bidang pria itu yang tengah menelepon.


Max menutup teleponnya dan mengusap punggung gadis itu. Sesekali ia mengusap kepala gadis itu.


Bersamaku ia kembali harus melewati hari-hari yang traumatis. Apa sebaiknya aku meninggalkannya di rumah saja? 'Kan ada Mas Hadi yang bisa aku mintai tolong.


Di kantor polisi, Max, Miriam dan sopir Max dimintai keterangan. Polisi masih meragukan keterangan Miriam tapi mereka tidak bisa menyalahkan gadis itu karena tangannya terikat ke belakang. Ini satu-satunya yang menjadi misteri bagi polisi. Benarkah pria itu tiba-tiba bunuh diri sedang menuduh orang lain tak mungkin karena tidak ada jejak orang lain di sana dan pintu dikunci. Satu-satunya saksi pun hanya Miriam.


Setelah memberi keterangan, mereka pun dibawa ke rumah sakit. Mayat itu telah lebih dulu diperiksa dan menurut keterangan dokter yang memeriksanya, pria itu mati karena terjerat sesuatu di lehernya. Sesuatu itu berlendir karena tersisa di leher pria itu. Polisi mencurigai gadis itu berbohong tapi tak bisa menahannya karena kekurangan bukti.


Supir Max akhirnya diobati luka lebamnya. Juga Max yang sempat mendapat pukulan di kepala. Setelah itu mereka dibolehkan pulang. Kali ini Max yang menyetir mobil.


Saat kembali ke rumah, Max segera ke kamarnya. Ia mengeluarkan mutiara itu dari kantong celananya. "Mutiara ini ...."


Max mendatangi meja nakas dan membuka sebuah kotak yang ada di atas meja itu. Kotak itu berisi beberapa butir mutiara berwarna putih. Pria itu mengambil salah satunya. Ia pun membandingkan dengan mutiara yang didapatnya. Besarnya sama dengan warna yang sama. Bahkan mutiara yang dimilikinya tidak mulus bulat, begitu pula dengan mutiara yang baru ditemukannya.


Ada apa ini? Kenapa mutiara ini sama dengan mutiara yang kutemukan di pinggir pantai waktu itu? Apa Lita ada di sana waktu itu? Tapi ia menyangkal ini miliknya. Siapa Lita ini sebenarnya? Max menoleh ke arah pintu. Apa ... selama ini dia membuntutiku? Pria itu menghela napas panjang. Seumur hidup, aku jarang berpikiran buruk terhadap orang lain. Mungkin karena itu aku sering ditipu orang, tetapi harta kekayaanku malah tak pernah berkurang bahkan bertambah. Mungkin karena itu banyak orang membenciku.


Lita. Gara-gara kamu aku mulai mencurigai orang lain, Lita. Aku mulai mencurigaimu.


____________________________________________


Reader, ini visual Max, pria kaya raya yang dicintai Miriam. Jangan lupa kirim penyemangat author ya, like, komen, vote dan hadiah. Salam, ingflora💋



Seorang CEO muda, Frans Alvino dikutuk menjadi seekor ular karena Ia menyentuh sebuah benda keramat, yaitu sebuah patung ular, Ia tidak bisa kembali ke wujud semula sebagai manusia biasa, untuk membuat dirinya kembali sebagai manusia biasa, maka dia harus memiliki seorang anak dari wanita normal.


Tak ada satupun wanita yang mau menjadi ibu dari anak Frans yang ternyata adalah seekor ular jantan. Mereka takut bayi mereka akan terlahir menjadi seekor ular juga.


Nasib membawa Frans pada seorang gadis bernama Lisa, gadis yang memiliki phobia terhadap ular, justru mengandung benih darinya yang saat itu sedang dikutuk menjadi ular, lantas apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Lisa akan tetap melahirkan anak ular? Dan apakah Frans bisa kembali ke wujud nya semula sebagai manusia?

__ADS_1



__ADS_2