Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Biru


__ADS_3

Max yang jalan napasnya mulai lega, kemudian duduk memperhatikan Miriam. Ia bingung melihat Miriam seperti sedang melawan angin dan berbicara sendiri. "Lita, kau sedang apa?"


"Nanti saja Kak, aku sedang konsentrasi! Soalnya mahluk ini ingin membunuhmu!"


"Oh, maaf, maaf." Sebenarnya Max tak percaya dengan cerita mahluk tak kasat mata tapi kenyataan membuat ia mau tak mau mempercayainya.


Mata mahluk itu tiba-tiba berubah merah tapi saat itu juga Miriam tahu ada apa. Mmh, dia mau menghipnotisku agar bisa dia perdaya. Jangan harap! Miriam memasang kuda-kuda dan mulai menutup mata. Ia berkonsentrasi membuat mantra baru.


"Ijekobi selenum javianom." Gadis itu memutar-mutar telunjuknya yang mengarah ke bawah menyebabkan asap yang tadi ditinggalkan mahluk itu kini bergerak ke arah jarinya dan berputar di bawah. Asap yang begitu banyak itu kemudian ditariknya ke atas dan ia meniupkan ke arah mahluk itu.


Seketika seperti pasir, asap itu melewati tubuh mahluk itu. Mahluk itu merasakan perih di kulit tubuhnya dan kesakitan.


"Woaggh!!"


Saat itu juga Max bisa melihat mahluk itu karena diliputi asap tadi yang tiba-tiba saja muncul.


"Ah!" Max sangat terkejut hingga menjatuhkan diri ke belakang. Apa itu? Mahluk itu ternyata sangat seram. Bertubuh seperti kera yang sangat besar dengan gigi dan gusi yang berlapis-lapis dan taring di hampir setiap giginya. Benar-benar sangat menyeramkan. I-itu benar-benar mahluk 'kan?


Mahluk itu semakin kesal. Ia mengangkat kedua tangannya. "Waoch!!!" Seketika entah dari mana, muncul mahluk lain yang serupa di belakangnya, tapi ia tidak sendiri. Mereka datang berlima hingga menambah sesak ruang tidur Max yang sudah besar itu.


Mmh, dia membawa teman? Miriam tersenyum miring. Curang!


Ia kemudian menggerak-gerakkan tangannya seperti melambai di depan tubuhnya. "Wosemaru wifiyoso." Dari kedua tangannya keluar asap yang berbentuk ombak dan keluar terus seiring ia menggerak-gerakkan tangannya. Mahluk-mahluk itu mulai mendekati dan mengepungnya. Miriam masih tekun membuat ombak itu hingga mahluk-mahluk itu tinggalkan beberapa senti lagi bisa menyentuhnya. Di saat itulah ia menyerang.


Asap-asap itu ternyata serupa rambut yang bila di lempar langsung mengulung mangsanya dan Miriam mulai melemparnya satu-satu pada mahluk itu. "Sekkubinah!"


Dus!


"Sekkubinah!"


Dus!


"Sekkubinah!"


Dus!

__ADS_1


Miriam bicara apa? Max tidak bisa melihat lawan Miriam karena itu ia kebingungan. Ia hanya bisa mendengar gadis itu menyebutkan matra tapi ia tidak bisa mendengarkan suara mahluk-mahluk itu.


Sempat mahluk terakhir menjamah lengan Miriam dan saat itu Miriam berusaha menahan kesakitan karena tangan mahluk itu berduri.


"Ach!" Dengan kekuatan terakhir ia melempar asap terakhirnya pada mahluk itu. "Sekkubinah!"


Dus!


Saat itu, Mahluk-mahluk itu sudah terikat erat oleh asap-asap itu. Kini giliran mantra penghujung.


Gadis itu mengangkat kedua tangannya ke atas masih dengan mata yang tertutup. "Yopinimo kalerimano markih! Markih! Markih!"


Seketika seperti ada angin puyuh di dalam ruangan itu yang menerbang semua barang ringan yang ada di sana. Max sampai-sampai harus berpegangan pada tempat tidurnya karena takut terbawa.


Asap-asap itu membelit mangsa-mangsanya dengan erat hingga mahluk itu berteriak mengerang kesakitan, tapi Miriam dengan seringainya takkan pernah mengampuni siapapun yang berani mengusik orang tersayangnya, yaitu Max. Saat itu juga ia menjatuhkan hukumannya.


"Safirafo!!!" Ia mengencangkan kedua kepalan tangannya dengan erat hingga urat-urat di lehernya terlihat.


Mahluk-mahluk itu menjerit kesakitan karena tubuh mereka seperti diremas sehingga tulang-tulang mereka patah.


Krutuk, krutuk, krutuk!


Dengan jerit terakhir yang melengking tinggi, wujud mahluk-mahluk itu perlahan lenyap seperti asap dan menghilang.


Miriam mulai menurunkan kedua tangannya hingga membuat badai di dalam ruangan itu mulai terhenti. Tubuh Miriam lemas karena kelelahan dan jatuh begitu saja di lantai.


"Lita!" Max segera turun dari tempat tidur dan memeriksanya.


Gadis itu sudah pingsan. Melihat darah yang membasahi bahu gadis itu, Max segera menggendong dan membawanya keluar. Ia membawa Miriam ke rumah sakit saat itu juga.


Di rumah sakit, gadis itu segera ditangani dan hasilnya cukup melegakan. Gadis itu pingsan karena kelelahan dan jahitan di bekas lukanya terlepas sehingga harus dijahit kembali. Miriam diberi bantuan oksigen guna menstabilkan kondisi tubuhnya.


Lengannya yang ada bekas luka yang berbentuk titik-titik juga diobati dan dibalut perban.


Max juga mendapat pertolongan. Di lehernya memang terlihat biru bekas cekikan dan bekas cekikan itu diobati. Ia masih saja belum percaya ada mahluk gaib yang baru saja hampir membunuhnya.

__ADS_1


Ia kemudian tinggal di rumah sakit menunggui gadis itu.


----------+++---------


Max tak habis pikir dengan kejadian semalam. Ia mendengar sendiri Miriam mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak ia mengerti dan baru kali itu ia mendengarnya. Entah bahasa apa tapi ia yakin ia belum pernah mendengar bahasa itu seumur hidupnya. Apa itu sebuah mantra? Jadi ... siapa Lita sebenarnya? Apakah ia sudah mengingat kembali siapa dirinya? Ia melirik gadis yang terbaring di sebelahnya.


Tiba-tiba kepala gadis itu bergerak pelan.


"Lita ...."


"Mmh ...." Gadis itu mulai sadar.


"Lita, kau sudah sadar?"


Dengan lemah gadis itu membuka matanya pelan.


"Kak ... Max," ucap Miriam tak kuat membuka matanya lama-lama. Ia terlalu lemah untuk itu.


Max ingin bertanya pada gadis itu. Bermacam pertanyaan sudah mengumpul di dalam kepala tapi lagi-lagi dipatahkan dengan melihat kondisi gadis itu yang sangat lemah. Apalagi gadis itu sudah berjuang untuknya melawan mahluk tak kasat mata hingga ia harus bersabar dan menunggu gadis itu pulih kembali. "Lita, kau mau apa?"


"Mi ... num, haus."


Max segera mengambilkan sebotol air mineral yang berada di atas meja nakas. Ia membuka tutup botol dan membantu menahan tubuh gadis itu agar bisa duduk.


Masker oksigen diturunkan hingga gadis itu bisa meminum air dari botol air minuman itu. "Sudah."


"Ya, sudah." Max menurunkan tubuh gadis itu dan membaringkannya di tempat tidur. Ia menata kembali masker oksigen di wajah gadis itu dan juga selimutnya.


Gadis itu merasa lega melihat Max baik-baik saja, dan berada di sisi menunggui dirinya berbaring lemah di atas tempat tidur. Ia memang tak bisa meminta lebih. Hanya ini satu-satunya kebahagiaan yang bisa dia dapatkan hingga tak terasa air matanya jatuh.


"Lita kau kenapa?" Max yang sedang mengusap pucuk kepala gadis itu melihat air mata gadis itu jatuh begitu saja tanpa sebab.


"Tidak." Miriam segera menghapus air matanya. Ia tak boleh menangis, nanti ....


Kutuk, klutuk, klutuk ....

__ADS_1


Sebuah benda kecil jatuh ke lantai. Pria itu sampai berdiri untuk melihat benda apa yang jatuh itu kemudian memungutnya. Sebuah mutiara. Mutiara itu ....


"Lita, ini ...."


__ADS_2