Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Sebuah Rasa


__ADS_3

"Apa ini?" tanya Miriam.


"Itu bunga."


"Aku tahu ini bunga tapi untuk apa? Di makan?" Miriam sudah mengernyit dahi karena membayangkan rasanya yang tidak enak.


"Bukan." Hades hampir tertawa. "Wanita biasanya suka bunga."


"Untuk?" Gadis itu masih belum mengerti fungsinya.


"Dipandangi, dipeluk."


"Sudah gila, apa ya? Aku tidak mau peluk itu." Miriam membuangnya.


Hades tidak marah malah terkekeh tertawa. "Katanya mau jadi manusia. Wanita harus suka bunga."


"Itu tidak bisa dimakan," rengek gadis itu.


"Ya sudah. Ayo deh, kita ke pasar." Dengan masih tertawa, ia membawa Miriam keluar. Ia mengambil motor Max dan membonceng Miriam. Motor kemudian melaju ke arah pasar.


Miriam ternyata takjub melihat pasar karena aneka barang dijual di sana. Sayur, daging dan benda-benda lainnya yang tidak ia mengerti. Dagingnya pun macam-macam. Ada daging mentah, daging matang, daging ikan yang dikeringkan dan binatang-binatang yang masih hidup seperti ayam dan ikan. Ia juga sempat melihat kepiting dan kerang yang masih hidup. Ia benar-benar takjub dengan pasar!


Di saat seperti itu, Hades bisa lebih dekat menemaninya karena ada saja yang gadis itu tanyakan yang membuat kadang pria itu tertawa atau menggaruk-garuk kepala, hingga pelan-pelan mereka berdua kembali akrab.


Hades mengingat kembali saat-saat ia dulu kecil selalu bersama Miriam bercanda dan tertawa dan ia merindukan saat-saat itu yang kini mulai menjadi kenyataan.


Pria itu merengkuh Miriam dari belakang. Gadis itu menoleh.


"Kau senang?"


Miriam mengangguk.


"Senyum dong, hadiah buatku."


Miriam tersenyum.


"Nanti kalau sedih lagi, bilang aku ya? Nanti aku bawa kamu ke tempat yang kamu suka."


Miriam bahagia. Ia senang ada orang yang memikirkan perasaannya ketika ia merasa sedang


kesulitan. Ia bersyukur mengenal Hades. Pria yang membantunya berdiri ketika dunianya tengah menuju kehancuran. Ia tak tahu harus berbuat apa tapi setidaknya ada bahagia sekilas yang bisa ia pertahankan sejenak sebelum ia kembali pada perjuangan yang sia-sia.


"Hades, aku lapar," rengek Miriam.


"Yuk, kita makan sate."


"Ah, aku suka." Gadis itu melingkarkan tangannya pada lengan Hades sambil mengikuti pria itu ke kedai sate ayam. Mereka makan siang di sana.


----------+++-----------


Motor memasuki perkarangan rumah Max. Ternyata Max sudah pulang dan menunggu kedatangan Miriam. "Lita, kau dari mana saja?" Ia menyambangi motor yang dikendarai Hades.


Miriam pun tengah turun dari motor. "Jalan-jalan sama Hadi, Kak."


"Mas, Hadi." Max membetulkan.


"Mas Hadi," ulang Miriam.


"Ya, begitu. Jalan-jalan ke mana?"

__ADS_1


Interogasi yang detail membuat Hades hampir geleng-geleng kepala.


"Ke pasar."


"Ke pasar?" Max melirik keduanya. "Harusnya kalian memberitahuku agar aku tak cemas."


"Belikan saja Lita HP agar ia bisa memberitahumu," saran Hades.


"Tidak usah! Tidak pernah bicara juga." Miriam merengut dan masuk ke dalam rumah.


Max melirik Hades yang hanya mengangkat bahu. Ia tak mau banyak bicara ketika Miriam sedang marah.


-------------+++-----------


Pagi itu Miriam masih marah. Ia tidak mau sarapan dan memilih menunggu Hades di luar. Max tak dapat berbuat apa-apa selain memperhatikan dari dalam rumah sambil sarapan.


Hades datang dengan taksi. Tentu saja karena ia sudah tinggal lagi di laut dan perjalanan ke sana lumayan jauh. "Lita, apa yang kau kerjakan di sini? Kau sudah sarapan?" tanyanya yang heran karena tidak biasanya Miriam berada di luar sepagi ini. Ia memanggil Miriam 'Lita' karena takut ketahuan Max.


"Tolong, Mas Hadi. Aku lapar tapi gak mau makan di dalam rumah," rengut gadis itu.


Hades tersenyum lebar. Berarti Miriam masih ngambek dari sejak kemarin. "Ya udah, ayo!"


Miriam bergelayut manja di lengan Hades dan melangkah keluar.


"Kita harus berjalan kaki keluar dari komplek perumahan ini, baru bisa bertemu orang yang berjualan makanan. Agak jauh sih. Kamu kuat?"


Miriam merengut lalu dengan pelan mengangguk.


Hades menarik dagu gadis itu ke atas. "Sepertinya enggak ya?"


Hades selalu tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Ia membalik tubuhnya dan berjongkok. "Ayo sini aku gendong."


"Ayo. Jangan sampai aku jadi jahat."


Miriam tertawa. Ia kemudian naik ke punggung Hades.


Sambil berjalan, mereka berdua mengobrol dan Miriam begitu senang berada di punggung Hades. Tak terasa mereka sudah sampai di pintu gerbang perumahan. Gadis itu turun dari punggung Hades.


Tanpa mereka berdua sadari, mereka menjadi sangat akrab. Kadang mereka bergandengan tangan sambil melihat orang-orang yang berjualan di pinggir jalan.


"Hades, ada yang jual ayam hangus," ucap Miriam dengan riang.


"Eh, ini bukan ayam hangus, Neng. Ayam bakar," ucap penjualnya.


"Sama aja."


Si penjual merengut.


Hades hanya bisa tersenyum. "Dia suka kok, Pak. Sama ayam itu. Kami pesan satu piring 10 biji tanpa nasi dan sambal. Makan di sini 2 piring."


"Oh, iya, iya, iya." Si penjual buru-buru menyiapkan.


---------+++---------


"Sudah kenyang?" tanya pria tampan berkulit sedikit gelap itu.


"Mmh." Miriam hanya memberi senyum.


"Kalau begitu, ayo kejar aku." Pria itu berlari terlebih dahulu ke dalam komplek perumahan.

__ADS_1


"Hades!"


Namun pria itu tak peduli.


Miriam terpaksa mengejarnya. "Hades!"


Hades malah mempermainkan gadis itu. Saat berlari terlalu jauh, ia bersembunyi membuat Miriam harus menemukannya.


"Hades, kamu di mana? Hades, aku tak tahu arah pulang."


"Dar!" Pria itu mengejutkan Miriam dari belakang dan mengangkat tubuh Miriam ke atas membuat gadis itu tertawa kesenangan. Pria itu kemudian menurunkannya lagi.


"Hades." Wajah gadis itu memerah. Kulit putih pucatnya terlihat segar dengan rona merah di pipi.


Hades membungkuk mengatur napasnya.


"Hades, kenapa kamu seperti anak kecil sih," gerutu Miriam tapi merengut dengan mimik senang.


Pria itu, terkekeh. "Ayo tinggal sedikit lagi sampai."


Keduanya melangkah pulang ke rumah sambil mengatur napas karena habis berlarian. Mereka akhirnya sampai juga ke rumah Max.


Mereka kini berdiri di depan pintu depan yang terbuka.


"Lita, sudah ya?"


"Aku malas masuk!" Miriam ternyata masih kesal terhadap Max.


"Masa kamu masih ngambek aja sih?"


"Biarin!"


"Lita." Diliriknya Max tengah menuruni tangga. Sebuah ide gila sepintas lewat di kepala pria itu. Ia mendekati Miriam. "Kamu ingin membuatnya cemburu?" bisiknya.


"Apa?"


"Kau ingin tahu apa ia cemburu?"


"Mmh?" Miriam terlihat bingung.


Hades melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu dan menariknya. "Kalau aku melakukannya jangan marah ya?"


"Mmh?" Miriam belum sempat bertanya tapi bibir Hades sudah mampir di bibirnya. Lembut tapi penuh penghayatan. Gadis itu mengingat kata-kata Hades dan kemudian memejamkan mata.


"Mas Hadi!"


Tubuh Miriam ditarik paksa dan yang menariknya adalah Max.


Plak!


Max menampar wajah Hades membuat Miriam terkejut.


"Kak Max!"


"Jangan kurang ajar ya, Mas Hadi. Jaga norma susilamu! Kau diskors, 2 hari tidak boleh masuk kerja.


Hades hanya menyentuh pipinya yang panas di tampar pria bule itu.


" Kak Max, kamu jahat!" Miriam berlari ke arah tangga.

__ADS_1


__ADS_2