Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Melumpuhkan Penyihir Jahat


__ADS_3

"Miriam. Jadi namamu Miriamkah?" gumam Max menyentuh tangan gadis itu. "Semoga kau selamat."


Di dasar laut, Hades dengan kecepatan penuh berenang ke kerajaan duyung. Setelah hampir sedikit lagi sampai, ia kelelahan di jalan. "Miriam, ya ampun. Aku lelah." Ia terpaksa berhenti sebentar.


"Hades apa yang kamu lakukan di sini?"


Hades menoleh. Air matanya jatuh. "Ayah ...." Butiran mutiara kembali keluar dari mata pria itu dan terbang dibawa arus.


"Ada apa? Apa Miriam sudah ...."


Hades mengangguk.


Duyung paruh baya itu tafakur berpikir sambil merapikan jenggotnya. "Masalahnya ini tidak terjadi di malam hari tapi di pagi hari. Padahal nanti malam adalah bulan purnama, waktu yang sempurna untuk menaklukkannya tapi jiwa Miriam tidak akan bisa bertahan hingga saat itu. Dalam beberapa jam lagi ia akan sempurna menjadi milik Penyihir itu dan kita tak bisa lagi menyelamatkannya.


"Ayah, tolong Miriam. Aku mohon." Hades bersujud di kaki ayahnya.


"Walaupun saat Miriam hidup kembali, ia takkan pernah akan memilihmu?"


"Hatiku tak bisa melihat ia menderita walaupun ia takkan memilhku. Aku mohon, Ayah." Hades masih bersujud.


"Aku pernah baca di buku ramuan sihir yang lain. Di sana tertulis, 'hanya air mata doa yang tulus dari telaga ke telaga yang akan menyelamatkannya.' Buku itu terkenal sangat rumit. Aku sendiri tidak tahu apa arti dari kalimat tersebut. Kita harus mengurai kalimat itu tapi kita tak punya banyak waktu untuk melakukannya selain mengusahakan yang ada."


Hades mengangkat kepalanya. "Apapun, tolong bantu aku, Ayah."


"Baiklah. Bantu Ayah mengumpulkan pasukan."


------------+++----------


Mereka mendatangi tempat tinggal makhluk paling ditakuti di dasar laut itu. Ia ditakuti bukan karena seramnya, tapi karena mereka yang sudah pernah ke sana, tak pernah bisa berhasil menjalankan misinya hingga jiwanya diambil oleh penyihir itu, tapi tetap saja, ada saja orang datang meminta pertolongannya.


Gua itu telah dikepung oleh pasukan para putra duyung yang membawa tombak dan juga para Penyihir kerajaan. Raja, ayah Hades memimpin bersama pasukan dan Hades berada di belakang pasukan. Diketahui, siluman ular laut itu tengah berganti kulit hingga mudah untuk menyerangnya.

__ADS_1


"Hei, Penyihir siluman ular laut, keluarlah! Kau sudah dikepung oleh pasukan bawah laut putra duyung! Lepaskan warga kami atau kau akan kami serang!" teriak raja duyung dari luar.


Siluman ular itu terganggu dengan keributan itu. Ia memandang ke arah dinding di mana bergelantungan berbagai macam jiwa siluman yang sudah ia ambil hari ini dan hanya satu jiwa siluman yang merupakan putri duyung, yaitu putri duyung berambut merah.


Putri duyung itu yang paling senyap. Ia tidak seperti siluman lain yang diambilnya yang sangat berisik minta dilepaskan, jiwa putri duyung itu hanya terduduk di dalam bola kehidupan tanpa melakukan apa-apa. Sepertinya ia pasrah atas apa yang akan dilakukan padanya.


"Tolong lepaskan aku," pinta salah satu jiwa siluman buaya.


"Berisik!" bentak Penyihir siluman itu. Ia kemudian menyentuh bola kehidupan yang tersegel di depannya. Jiwa putri duyung berambut merah inikah, yang diminta raja duyung itu? Begitu berharganyakah makhluk satu ini bagi kerajaan duyung? Jiwa seorang duyung muda yang bahkan tidak cantik. Apa pedulinya?


"Hei, putri duyung. Apa hubunganmu dengan raja duyung itu, hah?" Penyihir itu menyentuh bola yang hanya sebesar kepalan tangannya.


Miriam tak menjawab. Ia hanya duduk diam di dalam bola itu.


Sialan! Gara-gara putri duyung jelek ini aku di serang. Padahal aku sedang tidak dalam posisi yang bagus. Walaupun mereka tidak bisa mengalahkanku, tapi mereka bisa menyakitiku. Aku sedang ganti kulit saat ini, dan mereka bisa menyakitiku karena aku sedang tidak bisa bergerak leluasa.


Untung hari ini bukan malam hari. Bila itu terjadi, aku bisa mati. Aku harap mereka tidak bisa menterjemahkan buku sihir yang satunya lagi atau aku benar-benar akan hilang dari muka bumi ini.


Benar saja. Saat pasukan datang mereka langsung menyerang Penyihir ular laut yang tingginya 4 kali dari mereka. Mereka menusuk-nusuk tubuh ular yang sedang susah payah berganti kulit ini.


"Aghh! Sialan!" Penyihir itu mengaduh kesakitan setiap kali ada tombak yang mengenai tubuhnya.


"Ayo katakan, di mana dia!" teriak raja duyung, tapi makhluk itu tak peduli sehingga terpaksa mereka harus mencari Miriam di antara ribuan koleksi bola kehidupan yang digantung di dinding atas gua tersebut.


"Hades! Cepat cari Miriam di atas sana!" perintah Raja duyung.


Namun mencari Miriam tidaklah susah. Dia satu-satunya makhluk siluman dengan rambut berwarna merah yang ada di antara ribuan bola kehidupan itu.


Hades langsung melihatnya. "Miriam!" teriaknya lantang.


Miriam yang duduk tafakur sambil memeluk lutut, mengangkat kepala. Ia sangat hapal suara Hades. "Hades ...," isaknya pelan.

__ADS_1


Hades berenang mendekat. Jiwa Miriam yang telah masuk ke dalam bola kehidupan, besarnya hanya setengah dari tubuh aslinya. Putra duyung itu menyentuh bola itu. Ia tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan Miriam dari bola kehidupan yang tembus pandang itu. "Miriam ...."


Sementara itu Penyihir siluman itu kesal karena ia diserang saat ia berada dalam posisi terlemahnya. "Aduh! Kalian ini bangsa pengecut, apa heh? Menyerang saat aku tidak bisa membalas!"


"Apa bukan kamu yang pecundang karena hanya bisa menipu makhluk yang lemah dan sudah tak berdaya lagi," balas Raja duyung.


Sialan, benar-benar sialan! Padahal pergantian kulitku masih separuhnya lagi dan mereka dengan cerdik menyerangku. Sabar, aku harus sabar. Sebentar lagi aku akan ganti kulit dan mereka semua akan habis olehku. Penyihir itu menyeringai dingin.


Pasukan duyung masih terus menggempur penyihir yang berukuran raksasa itu. Menusuknya dengan tombak yang mereka pegang.


"Aghh!"


"Katakan, bagaimana caranya agar putri duyung itu keluar dari bola itu. Lepaskan dia!" teriak Raja duyung, sekali lagi.


Penyihir itu hanya tertawa dan menggema di dalam gua itu hingga semua makhluk menoleh pada tawanya yang mengerikan itu, termasuk Hades yang sedang menyentuh bola kehidupan tanpa bisa membukanya.


Hades kembali menoleh ke arah gadis itu. "Miriam, apa kau baik-baik saja?"


Miriam mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Miriam, jangan khawatir. Aku akan berusaha mengeluarkanmu dari sini. Aku janji."


Miriam meneteskan air mata. "Hades, kau tak perlu berjanji. Kau sudah banyak membantuku tapi aku selalu memberimu kecewa. Kesungguhanmu sudah cukup bagiku, Hades. Kau tak mungkin menolongku lagi, aku sudah tak tertolong."


"Miriam, jangan berkata begitu, aku tidak mau. Optimislah. Aku pasti bisa menolongku. Bila ternyata aku tidak bisa memenuhi janjiku, aku bersedia mati sebagai hukumannya karena telah gagal menolong orang yang aku cinta."


"Hades ...." Miriam berlinang air mata. Ia menyentuh dinding bola kehidupan yang disambut dengan tangan Hades dibaliknya. Kini ia tahu, betapa besar rasa cinta Hades padanya. Kenapa dulu ia tak memberi pria itu kesempatan untuk mendekatinya. Cinta Hades ternyata tulus padanya. "Hades, maafkan aku."


"Tidak Miriam, kau tidak salah. Penyihir itulah yang salah. Ia memanfaatkan orang yang tengah frustasi menghadapi hidupnya. Seperti dirimu." Hades tak tahu apa maksud perkataan Miriam yang sesungguhnya.


Air mata Miriam berjatuhan menjadi mutiara yang berkumpul di dasar bola kehidupan, sedang air mata Hades jatuh menjadi mutiara di dasar gua.

__ADS_1


__ADS_2