
"Kita sekarang tak usah berpikir macam-macam, Anna. Yang penting kita sekarang bertindak berdasarkan apa yang terjadi saja. Sangat melelahkan, bila belum apa-apa kita sudah ditakut-takuti oleh pikiran kita sendiri."
Anna mengangguk.
Air memang mulai berombak dan terlihat sekali ada sebuah pusat putaran arus yang berjarak agak jauh dari bibir pantai.
Sedikit mengkhawatirkan memang, tapi Max berusaha untuk tidak berspekulasi walau kemungkinan putaran arus yang terlihat nun jauh di sana bisa saja datang dan mengganggu mereka. Ia berdoa agar itu tidak terjadi.
Di bawah sana di dalam gua kediaman Penyihir siluman ular laut, arus masih saja berputar dan mulai naik ke langit-langit gua.
Sementara itu seorang penyihir duyung menawarkan jasanya pada raja duyung. "Maaf, Raja. Hamba bisa menolong anda dengan membuat dinding untuk memantulkan cahaya tadi."
"Kenapa kau tak bilang dari tadi?" Raja terlihat tak sabar. "Langsung saja kerjakan!"
"Baik Raja." Dengan tongkatnya, penyihir itu segera membuat sebuah dinding dan memindahkannya ke atas. "Sudah, Raja. Anda bisa memantulkannya ke sana."
"Raja kemudian memulai mantranya lagi membuat tongkat yang di ujungnya bercahaya. Kemudian ia melempar cahaya itu pada dinding yang telah disiapkan. Kini cahaya itu memantul sempurna tanpa gangguan arus menuju tempat bola kehidupan Miriam berada.
Cahaya itu kemudian melapisi bola kehidupan yang berisikan Miriam hingga sampai ke tubuh Hades yang sedang bersandar pada bola itu. Hades dan Miriam terkejut.
"Ah, cahaya perlindungan," gumam Hades. Ia segera tahu siapa yang telah mengirimkan. Ayah, terima kasih.
Bertepatan dengan itu arus telah mencapai tempat bola kehidupan Miriam. Bola kehidupan yang lain bergetar hebat dan seperti tertarik ke dalam arus, sedang bola kehidupan milik Miriam tetap tenang bersama dengan Hades di belakangnya. Keduanya merasa lega.
Tentu saja ada yang merasa tidak tenang. Siapa lagi kalau bukan penyihir siluman ular laut yang melihat ia gagal memporak-porandakan seluruh mangsanya.
Arus yang telah akhirnya menyentuh langit-langit, menghilang dengan sendirinya sehingga terlihatlah jelas, siapa-siapa yang telah jadi korban dari arus itu dan kebanyakan adalah bala tentara Raja duyung yang mati tergeletak di dasar gua.
Penyihir siluman ular itu menyiapkan serangan berikutnya. Sebelum diperintah, bala tentara Raja duyung yang telah lari keluar telah kembali dan merapatkan barisan.
Penyihir jahat itu menangkupkan tangannya membentuk bola dan dari tengah kedua tangan itu keluar asap berwarna putih yang terus saja menggulung. Dengan ajaib, asap itu turun sendiri ke dasar gua dan makin lama makin besar. Setelah penyihir itu membaca mantra dan melemparnya pada bola yang kian lama kian membesar itu, bola itu berubah menjadi bola api setinggi 2 meter.
__ADS_1
Dengan jemarinya yang berkuku panjang, ia menjentikkan bola api itu sehingga bola api itu mulai menggelinding ke sana kemari secepat kilat.
Melihat itu, kembali bala tentara Raja duyung lari berhamburan mencari selamat. Tentu saja, siapa yang ingin menyerang bola api raksasa selain ia hanya ingin mencari mati.
Beberapa yang terlambat lari atau tersandung jatuh, terpaksa terlindas bola api dan terbakar. Terdengar jeritan di mana-mana karena bola api itu menggelinding dengan cepat ke sana kemari tak tentu arah.
Raja kemudian menyuruh para penyihir duyung untuk melakukan serangan balasan. Salah seorang penyihir mengeluarkan busur panah dan mengarahkan pada bola panas itu. Panah itu melayang ke arah bola itu dan seketika bola itu kehilangan satu sisinya yang keluar api.
Penyihir jahat melihat itu dan geram. Ia kini menunjuk dengan jarinya pada kawanan penyihir itu dan seketika ujung jarinya mengeluarkan sinar yang ditembakkan pada para penyihir duyung itu.
Saat itu juga bola perlindungan bergetar, tapi tak merusak. itu adalah serangan balasan, karena penyihir jahat marah, mereka telah mengalahkan sihir bola api miliknya.
"Cepat lakukan, sebelum banyak lagi korban yang luka akibat bola api itu!" titah raja.
"Baik raja." Penyihir itu kembali menyorot anak panah berikutnya pada bola api itu yang masih menggila bergerak di dalam gua. Tembakkan berikutnya tepat pada bola api itu sehingga bola itu kehilangan apinya dan seketika runtuh.
Bala tentara duyung mengelu-elukan para penyihir duyung yang telah menyelamatkan nyawa mereka.
Belum apa-apa. Ini baru satu babak, duyung bodoh! Penyihir siluman ular jahat itu kemudian mengambil 3 lembar sisiknya. Ia membacakan mantra dan meniupkan pada ketiga sisik itu yang berubah menjadi 3 ekor ular besar yang buas dan menyerang bala tentara duyung.
Hades melihat penderitaan rakyatnya, tidak tega tapi ia tidak bisa keluar dari lapisan pelindung itu kecuali tahu mantranya.
"Miriam, apa kau tahu mantra untuk melepas lapisan pelindung ini? Aku ingin sekali menolong tentara yang ada di bawah sana, Miri."
"Mmh."
"Miri!"
"Kalau raja tidak melepaskanmu, berarti dia ingin kau tetap berada di atas, Hades," sahut Miriam menjelaskan.
"Miri, aku tidak bisa melihat mereka menderita."
__ADS_1
Miriam menoleh. "Biar ayahmu yang memutuskan."
"Tapi, Miri ...."
"Kau ditugaskan untuk menjagaku bukan? Lakukan itu saja," tegas gadis itu.
Sementara di bawah, ular itu dengan lincahnya bergerak menghindar. Ketika ada salah satu ular yang diserang banyak tentara duyung, dua ular lainnya membantu. Pertempuran itu membuat dinding-dinding gua bergetar karena seringkali terkena hempasan tubuh ular-ular itu.
Getaran itu bahkan sampai ke permukaan laut. Max dan Anna merasakannya.
"Apalagi ini? Baru saja pusaran air menghilang, kini ada getaran yang berasal dari dalam laut," gumam Max khawatir.
"Ini bukan gempa ya?" tanya Anna mengerut alis.
"Aku rasa bukan. Ini pasti ada hubungannya dengan Miriam. Ini pasti tentang Miriam. Di bawah laut pasti terjadi sesuatu hal yang besar untuk menyelamatkan nyawa Miriam. Semoga mereka dapat menyelamatkannya," doa Max lagi.
Penyihir jahat belum kehabisan akal. Selagi para penyihir sedang berdiskusi tentang bagaimana cara membunuh ke tiga ular itu, ia menyiapkan satu buah lagi sihir yang akan makin merepotkan mereka.
Ia mengambil beberapa rumput laut di dekatnya dan sedikit potongan kumisnya yang ia campur dengan air liur. Kemudian ia satukan dengan tangan sambil merapal mantra. Seketika saat ia membukanya, ia telah membuat jaring besar dengan tali tipis tembus pandang.
Ia mengarahkan jaring itu pada para penyihir duyung dan raja yang sedang berlindung di dalam bola perlindungan. Sekali sabet, jaring itu menarik bola perlindungan dan melemparnya ke sisi lain. Tentu saja, seluruh duyung yang berada di dalam bola perlindungan jatuh dan saling menindih di dalam sana.
"Ah!"
"Uh!"
"Agh!"
"Egh!"
"Aduh!"
__ADS_1
Bukan itu saja, penyihir jahat itu memantul-mantulkan bola perlindungan pada dinding gua sesuka hati hingga mereka yang berada di dalamnya berguling-guling dan pusing.
"Bagaimana ini? Kalau aku lepas bola perlindungannya, kita pasti terluka karena membentur dinding, tapi kalau bertahan pun lama-lama tubuh kita akan kekurangan tenaga karena dihempas tiap kali ke dinding. Apa yang harus aku lakukan?" tanya salah seorang penyihir yang terus menggelinding dan kadang tertindih di dalam bola perlindungan.