Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Bersamanya?


__ADS_3

Dia sudah punya pacar? Ah, jadi aku bagaimana? Ah, bodohnya aku. Kenapa tidak terpikirkan olehku, pria tampan seperti dirinya pastilah sudah punya pacar. Aku ... apa tidak punya kesempatan bisa bersamanya?


Tiba-tiba pintu diketuk. Seseorang membuka pintu. "Oh, nanti kita makan malam di bawah ya?" Pria itu menatap Miriam yang duduk di tepian tempat tidur. "Kalau kau lelah, kau bisa istirahat. Kunci pintunya kalau kau tak ingin orang lain masuk atau sedang berganti pakaian. Oh, ya pakaian ya? Kau tak punya pakaian ya?" Ia tersenyum sambil memperhatikan Miriam sejenak.


Apa kau tidak ingat padaku? Ayo, katakan. "Kenapa?"


"Oh, tidak. Aku hanya merasa kau mirip dengan seseorang. Ah, tapi sudahlah."


"Siapa?"


"Em." Max berpikir sebentar. "Sulit mengatakannya. Aku pernah ditolong oleh seorang perempuan, tapi aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas hanya yang kutahu, rambutnya berwarna merah."


Miriam kecewa. Jadi, kau tidak melihat wajahku ya, tapi rambutku. Padahal wajahku tidak berubah. Hanya rambutku ....


"Ok, aku tidak akan mengganggumu lagi." Max kemudian melangkah ke luar. "Oya," katanya di depan pintu. "Kalau kau ingat sesuatu, kau bisa katakan padaku, mungkin aku bisa membantumu menemukan keluargamu dengan cepat. Selamat sore." Pria itu menutup pintu.


Miriam menghempas tubuhnya di atas tempat tidur. Ah, menyebalkan. Kenapa dia tak melihat wajahku tapi malah rambutku? Brengsek! Ahhhh!! Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali di atas kasur empuk. Dia juga sudah punya pacar. Huh, bagaimana aku, yang sudah berkorban banyak begini? Gadis itu mengerucutkan mulutnya. Ah, semangat saja dulu, mungkin saja aku nanti bisa memisahkan mereka. Miriam tersenyum simpul. Pasti.


----------+++----------


Kembali pintu diketuk setengah jam kemudian, dan dibuka. Kepala Max muncul dibalik pintu.


"Lita? Apa kau tidur?" Max menemukan Miriam sedang berbaring santai di atas tempat tidur dan menoleh.


"Oh, Kak Max." Miriam segera duduk.


"Boleh aku masuk? Apa kau sedang istirahat?"


"Masuk Kak."


Pria itu masuk dengan seorang wanita. Wanita berjilbab.


Apa ini? Apa ini pacarnya? Berjilbab? Hah!


"Lita, ini kenalkan kekasihku, Anna. Anna, ini Jelita." Max memperkenalkan Miriam pada Anna, begitu pula sebaliknya. Miriam segera turun dan bersalaman dengan Anna.


Wanita ini kekasihnya? Miriam memindai tubuh wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pendek, kulit kuning langsat dengan jilbab yang kuno ini kekasihnya? Yang benar saja! Masih bagus aku bersanding dengannya ke mana-mana! Tubuhku cukup tinggi, putih, kurus ... walaupun tidak secantik dirinya tapi aku lebih terlihat cocok berada di sampingnya dibanding wanita lokal ini.


"Ada apa Dek, kok melihat Kakak seperti itu?" tanya Anna pada pandangan aneh Miriam padanya, dengan seulas senyum.


"Oh, tidak ...." jawab Miriam sedikit terkejut.


"Mmh, sepertinya kita harus ke Mal saja Max, untuk memenuhi semua kebutuhannya," ucap Anna pada Max.


"Mmh, baiklah."


"Maaf, Mal itu apa ya?" tanya Miriam lugu. Sebagai siluman, gadis itu belum pernah pergi ke mana-mana selain tinggal di dalam kamar.


"Apa?" Anna dan Max berucap bersamaan sambil berpandangan.


"Oh, itu tempat untuk membeli segala kebutuhan," ujar Anna seraya melirik Max.

__ADS_1


"Oh."


Mereka kemudian membawa Miriam bersama. Di Mal Miriam takjub dengan banyaknya barang yang dijual di sana. Anna membantu memilihkan beberapa pakaian untuk pakaian ganti, tapi pertanyaan putri duyung itu cukup membingungkan Anna saat membantunya.


"Kenapa pakaiannya banyak sekali?"


"Tidak, hanya beberapa kok untuk ganti."


"Kenapa harus ganti?"


"Apa?" Anna menatap gadis itu dengan pandangan aneh. "Lita, apa kamu tidak ganti baju?"


"Untuk apa?"


"Tubuhmu, apa tidak bau, apa tidak gatal-gatal?"


"Mmh? Kan aku mandi."


"Tapi bajunya harus diganti, 'kan sudah bau keringat."


"Oh, begitu."


"Iya, bajunya perlu dicuci juga."


Manusia kenapa rumit sekali? Aku pikir, manusia berganti baju karena bosan.


Juga saat membeli pakaian dalam.


"Beha. Apa kamu tidak pernah memakainya?"


"Tapi aku lihat tidak ada yang memakainya." Dahi Miriam berkerut.


"Lita, ini 'kan dipakai di dalam pakaian kita, mana mungkin terlihat ke luar," terang Anna dengan sedikit heran.


"Oh ...."


"Apa kau juga tidak pakai ini?" Anna memperlihatkan sebuah ****** *****.


"Apa ini?"


Sudah kuduga. "Ini ****** *****. Kau tidak memakainya?"


"Kami tidak ...." Miriam kemudian ingat bahwa ia tidak boleh membocorkan rahasia bahwa dirinya putri duyung sehingga cepat-cepat ia merubah jawabannya. "Eh, iya."


Anna menghela napas pelan, tapi biar begitu ia dengan sabar mengajari Miriam banyak hal. Membantu gadis itu memakai pakaian dalam, membeli parfum, sisir, sabun mandi, odol dan sikat gigi.


Bahkan Miriam tertarik dengan make up karena bisa menjadikan dirinya terlihat cantik. Ia berusaha mempelajarinya di salon ditemani Anna.


Max hanya menjaga jarak karena dia tidak mengerti segala sesuatu yang berurusan dengan perempuan. Untung saja, kekasihnya Anna mau membantunya belanja keperluan Jelita, sehingga ia hanya perlu memperhatikan mereka berdua berbelanja dari kejauhan.


Tiba waktunya mereka makan malam di sebuah restoran dan kembali Miriam membuat Anna dan Max terheran-heran.

__ADS_1


"Ini apa?" tanya Miriam ketika disodori buku menu.


"Ini buku menu, Lita. Kita tinggal memesan saja karena ada gambarnya," terang Anna.


"Ini gambar apa?" Miriam menunjuk salah satu gambar.


"Itu burger. Lita, apa kau belum pernah memakannya?"


Gadis itu menggeleng. "Tidak. Burger itu apa?"


Anna dan Max saling lirik.


"Burger itu roti. Kamu belum pernah makan roti?" tanya Max.


"Roti itu apa?"


Max semakin bingung. "Itu, di buku itu banyak pilihan. Kau bisa pilih makanan yang kamu suka."


Miriam membalik buku itu tapi tidak membuka lembarannya membuat Anna turun tangan untuk memberitahunya.


"Ini Lita, dibuka seperti ini." Ia membuka lembaran buku menu itu karena kebetulan dialah yang terdekat duduk di samping gadis itu sehingga bisa dengan cepat membantunya.


"Oh." Miriam membuka-buka lembaran buku itu sementara Anna dan Max memperhatikannya. "Aku tidak tahu," sahut gadis itu pada akhirnya seraya menutup buku itu. Padahal, buku itu berisi banyak gambar makanan yang cukup menggiurkan tapi Miriam belum pernah melihatnya.


Anna dan Max kembali beradu pandang. Dengan sabar, Anna kembali membantunya dengan mengambil buku menu dan melihat ke dalam. "Kau suka apa?"


"Daging."


"Kan ini banyak pilihannya, Lita. Burger juga pakai daging."


"Mana lihat?"


Anna kembali menyodorkan buku menu itu dan memperlihatkan lagi gambar burger itu pada Miriam. "Ini ditulis ada isi daging sapi, ayam atau ikan."


"Apa itu, aku tidak bisa baca."


Jawaban Miriam makin mengejutkan keduanya.


"Lita, kamu tidak bisa baca?" ulang Max memastikan pendengaran.


"Iya, aku tidak bisa baca. Kenapa?" tanya Miriam dengan polosnya.


Untuk kesekian kalinya, Anna dan Max berpandangan.


"Eh, tidak apa-apa." Sebenarnya gadis ini dari mana asalnya? Padahal ia punya pakaian bagus tapi kenapa banyak hal yang ia tidak tahu bahkan ia tidak bisa membaca. Siapa dia sesungguhnya?


_____________________________________________


Halo reader, ini visual Anna. Jangan lupa vitamin author, like, komen, vote atau juga hadiah. Salam, ingflora 💋


__ADS_1


__ADS_2