Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Ngambek


__ADS_3

"Lita!" Namun Max tak berani mengejarnya. Ia mengepalkan tangan dengan gemas.


"Kau lihat apa yang kau lakukan? Lita kini berani menentangku." Max marah pada Hades. "Kalau kau serius, lamar dia. Jangan kau permainkan dia seperti tadi. Mungkin, aku bisa mempertimbangkanmu," tawarnya.


Lho, jadi dia gak cemburu sama sekali? Hades melirik ke arah kamar Miriam. Dan kau, masih bertahan untuk ini?


"Mas Hadi, apa kau dengar kata-kataku?"


"Iya, Pak."


-----------+++------------


Makan malam terasa sepi, karena Miriam tak mau keluar dari kamarnya. Max akhirnya mendatangi kamar Miriam. Ia mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Ia kemudian membuka pintu itu.


Miriam tengah duduk ditepian tempat tidur menghadap ke jendela.


Pria itu mendatanginya. "Lita, kenapa kamu marah padaku? Aku berusaha melindungimu."


"Melindungi? Bagaimana kalau aku yang minta?"


Max terkejut. "Lita, itu tak mungkin 'kan?" Ia menatap wajah gadis yang sedang kesal itu. "Lita, kamu itu wanita. Jaga dirimu dengan benar."


" Dengan apa? Dengan memenjara diriku di dalam rumah ini? Lalu aku harus jadi apa? Pajangan?"


"Astaghfirullah alazim, Lita. Tiada niatan aku sedikit pun untuk membuatmu terkucil, Lita. Bukankah aku sering membawamu ke berbagai tempat agar kamu tidak kesepian di rumah?"


"Tapi kenapa sekarang berubah?"


"Berubah apa? Aku sedang mengurus pernikahanku dengan Anna dan itu hanya sementara, Lita. Sampai aku bisa menikahi kekasihku."


"Lalu setelah itu?" tanya Miriam dengan sinis. Ia berdiri sambil melipat tangannya di dada.


"Ya kita hidup bertiga. Rumah ini akan ramai."


"Apa iya begitu?" Miriam menaikkan alisnya.


"Lita apa maksudmu?"


"Kau akan sibuk dengan Anna dan pasti melupakanku."


Max tersenyum. "Kau cemburu pada Anna?" Ia menyentuh bahu Miriam tapi gadis itu menepisnya.

__ADS_1


"Aku tidak cemburu tapi sekarang saja, berapa banyak dalam sehari kamu bicara padaku?"


"Sekarang banyak."


"Sebelumnya?"


"Mmh ...."


"Kau sibuk menelepon."


"Lita, aku sudah katakan padamu, ini hanya sementara."


"Baru mulai saja kamu seperti ini ...." Air matanya mulai menggenang. Ia takut Max melihat mutiara itu keluar dari matanya karena itu cepat-cepat ia naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. Ia menutup tubuhnya hingga kepala.


"Lita ...." Segera pria itu duduk di tepian tempat. "Lita, aku ...." Tiada niat dari Max untuk mengabaikan Miriam tapi apa yang dilakukannya hanya sementara agar ia bisa menikah cepat dengan Anna dan setelah itu ia akan mengurus Miriam. Ia awalnya ingin menjodohkan Miriam dengan Hadi tapi kini ia ragu.


"Lita, aku mohon mengertilah. Kakak tiada niat untuk mengabaikanmu. Aku menyayangimu, Lita, seperti adik sendiri."


Itulah masalahnya. Kau mencintaiku seperti adik sendiri. Bagaimana kalau aku tidak berpikir begitu Max? Bagaimana kalau aku mencintaimu? Kalau aku katakan ini apa kamu akan berubah? Tidak 'kan? Lalu kenapa aku masih saja bertahan di sini sementara sadarku sudah begitu sakit. Miriam menangis terisak sehingga banyak butiran air mata yang jatuh dari matanya di dalam selimut.


"Lita, aku rasa aku salah memberi Mas Hadi terlalu banyak kebebasan. Mungkin ...."


"Itu tidak benar, Lita. Kau bukan pembawa sial. Kau gadis yang memberi warna sendiri dalam kehidupan aku kini, Lita. Kau adalah adikku yang paling spesial."


Dan aku tak butuh itu. Miriam masih menangis.


"Lita ...."


Max tak mampu meredam tangis Miriam.


------------+++------------


Miriam terbangun. Sepertinya sudah malam dan lampu kamarnya lupa dinyalakan. Ia mengintip dari balik selimut dan walaupun gelap, ia bisa melihat tidak ada Max di situ.


Ia kesulitan bergerak keluar dari tempat tidur karena saking banyaknya mutiara di dalam selimut. Karena itu ia membuang sebagian ke lantai agar ia bisa turun. Ia kemudian menyalakan lampu.


Sudah hampir tengah malam, ia lapar. Segera ia mengendap-endap keluar kamar. Sepertinya di luar sepi. Ia kemudian menuruni anak tangga.


Gadis itu mendatangi dapur yang terlihat gelap. Langsung ia menyambangi lemari es dan memeriksa isinya. Tumben ia tak melihat daging. Biasanya di rak ini penuh tapi sekarang?


"Lita, kamu mencari ini?" Tiba-tiba lampu menyala. Ada Max di dapur itu dan di atas meja dapur ada hidangan steak favoritnya yang sudah dimasak sempurna. "Kau mau ini 'kan?"

__ADS_1


"Kak Max?"


"Lita, aku minta maaf. Aku tahu aku mungkin tidak peka tapi aku menyayangimu, mengkhawatirkanmu, dan memikirkan masa depanmu. Tidak bisakah kamu memaafkanku?" Max yang tahu dirinya benar, berusaha mengalah demi gadis itu menghentikan ngambeknya yang sudah lebih dari 2 hari dan ia hanya pria biasa yang tidak tahu caranya menghentikan amarah wanita.


Apakah aku ada dalam masa depanmu? Atau hanya ada Anna di dalam hatimu? Rasa-rasanya Miriam tahu jawabannya tapi ia hanya ingin Max menjawabnya berbeda. Namun pada akhirnya hal itu hanya ada di angan tidak di nyata. Ia terlalu takut membebani hatinya kini.


"Lita, tolong maafkan Kakakmu yang bodoh ini."


Miriam melangkah mendekat. Tidak ada gunanya bertengkar dengannya kini karena hasilnya akan tetap sama. Ia akan memilih Anna karena ia sebenarnya adalah penghalang yang menghibur. "Ya, sudah. Aku lapar." Ia mencoba sedikit berbahagia dengan apa yang ada sekarang. Coba menentang, hanya akan menjauhkan Max darinya.


Pria itu menarikkan kursi untuk Miriam dengan gembira. Ia juga duduk di samping gadis itu. Saat Miriam makan, ia menyuap juga untuk pria itu.


"Mmh, enak," ucap Max dengan senyum lebar.


Mereka mencoba meruntuhkan dinding pertahanan keegoisan demi untuk kebaikan orang yang mereka kasihi.


--------------+++-------------


"Lita."


Miriam mengangkat pandangannya. "Mmh?"


"Mau ikut Kakak lihat persiapan gedung?"


"Nanti Kak Max terganggu lagi, kalau ada Lita."


"Oh, enggak kok. Sudah banyak yang hampir selesai. 'Kan 2 hari lagi melamar."


Jantung Miriam serasa mau copot. Dua hari lagi? Waktu seperti melayang pergi dengan cepatnya.


"Bagaimana? Mau ikut? Anna juga mengajakmu. Katanya, nanti pulangnya kita akan makan sate daging kelinci."


"Sate kelinci?" Air liur Miriam rasanya hampir menetes membayangkan rasanya. Pasti enak ya? "Mau, mau, mau, mau, mau."


"Cukup bilang 'mau' saja, Lita. Kakak mengerti." Max mengembangkan senyum di mulutnya kala mengingat kesukaan Lita akan makan daging yang membuat gadis ini gampang dibujuk dan hanya Anna yang mengingat itu. "Nanti agak siang kita keluar ya?"


"Iya," jawab gadis itu yang matanya benderang karena begitu ingin tahu rasa sate kelinci. Ia makan omelet dengan semangat.


----------+++----------


Lita hanya duduk di sebuah kursi ketika keduanya, Max dan Anna pergi bersama seorang pegawai melihat gedung yang akan dipakai di hari pernikahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2