Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Raksasa


__ADS_3

"Kita hanya bisa memilih salah satunya, tapi kita harus siap dengan resikonya. Agh!" jawab penyihir duyung lainnya.


"Auh! Atau, seseorang yang lain yang bisa membantu kita," teriak yang lainnya.


"Bagaimana dengan anakmu, Raja. Agh! Dia satu-satunya yang bisa membantu kita karena berada di luar," tanya seorang penyihir pada Raja.


Mereka tidak bisa melihat siapa yang bicara karena mereka terus terguling di dalam bola perlindungan.


"Aduh ... tapi kalau anakku turun, otomatis Miriam tanpa perlindungan. Bisa saja setiap waktu penyihir ular itu mengambilnya sedang kita di sini sudah bersusah payah agar bisa datang menolongnya. Lalu apa gunanya kita ada di sini?" protes Raja.


Mereka masih berusaha bertahan sambil memikirkan cara menyelamatkan diri sedang mereka sendiri sudah lelah dibanting ke sana kemari tanpa henti.


" Miri, lihat! Ayahku kini dalam bahaya. Tolong lepaskan aku, Miri," pinta Hades. Ia kini bisa melihat hanya dirinyalah yang bisa membantu semua kekacauan ini.


"Hades." Miriam menoleh dan menyentuh dinding. Ia enggan melepaskan, tapi hanya Hades yang bisa menolong mereka yang ada di bawah sana.


Ia kini sadar akibat keegoisannya, kerajaan duyung akan hancur. Hades mempertaruhkan seluruh miliknya dan hidupnya untuk Miriam.


Apakah permintaan mengulang kembali waktu, terasa berlebihan? Namun tidak ada kata mungkin untuk waktu kembali mundur ke waktu sebelumnya selain hanya bisa menyesali. Tinggal waktu yang tersisa yang harus ia selesaikan dengan bijak.


"Miri."


Itu panggilan Hades yang sering ia dengar dan mungkin akan tinggal kenangan.


Seluruh kerajaan duyung akan musnah sebentar lagi dalam hitungan menit, dan ia juga harus siap untuk jadi tumbal ramuan penyihir jahat itu agar penyihir itu tetap kuat. Kini mereka harus siap dengan takdir mereka masing-masing. Setidaknya mereka berusaha walau tak bisa memenangkan pertempuran ini.


"Hades, aku akan melepasmu. Aku akan bantu kamu menyerang penyihir siluman ular laut itu."


"Bagaimana caranya?"


"Setelah aku membebaskanmu, tolong kau ambil tombak dari salah satu tentara yang sudah wafat lalu kau ubah menjadi tombak laut."


"Tombak laut? Bagaimana caranya?"

__ADS_1


"Aku akan memberikan mantranya."


"Baiklah."


"Aku akan membantumu melepas cahaya pelindung dulu. Ikuti aku. Tempelkan tanganmu ke dinding bola ini."


Hades mengikuti petunjuk Miriam. Tangan mereka saling terhubung dan hanya dibatasi dinding tipis bola kehidupan.


"Jamehi lamohima."


"Jamehi lamohima."


Perlahan, cahaya yang meliputi bola kehidupan dan tubuh Hades, menipis lalu kemudian hilang.


"Kau sudah terbebas, Hades."


"Terima kasih, Miri." Putra duyung itu menatap kedua bola mata gadis itu. "Aku hanya ingin mengingat wajahmu, bila mataku akhirnya terpejam nantinya."


"Terima kasih, Miri."


Gadis itu segera menghapus air matanya. "Aku pikir ini satu-satunya cara yang bisa melumpuhkan penyihir jahat itu. Aku berharap aku benar." Miriam menatap wajah Hades lekat.


"Mantra ini akan membuat kau tumbuh menjadi sebesar penyihir jahat itu hingga kamu bisa menjadi lawan yang sebanding dengannya. Begitu pula senjatamu, tapi ada yang tidak boleh kau langgar. Kau tidak boleh melepas senjata itu dari tubuhmu atau kau akan kembali ke tubuhmu semula. Ingat itu."


"Baik, Miriam. Akan kuingat itu baik-baik."


"Baiklah, ingat mantra ini ya, jangan sampai lupa. 'Cikra bamalu'."


"Cikra bamalu. Sesingkat itu?"


"Tapi kau bisa lupa."


"Ok, 'cikra bamalu'."

__ADS_1


"Jangan salah sebut dan kau mengatakannya saat memegang senjata itu." Miriam kembali mengingatkan.


"Baiklah." Hades bergerak turun.


"Hades jangan sampai lupa!" teriak Miriam melihat Hades menjauh.


"Iya!" teriak Hades tanpa menoleh. Putra duyung itu berenang diam-diam turun ke bawah sambil melihat situasi di sana. Tentara duyung masih sibuk menggempur ketiga ular itu, sedang penyihir siluman ular itu masih dengan bangga mempermainkan bola perlindungan yang telah berhasil masuk jaring raksasa miliknya.


Hades akhirnya sampai di lantai gua. Sebelum turun, ia sempat melihat letak beberapa tombak dari atas sana sehingga memudahkannya memilih tombak terdekat. Namun sebelum ia sampai di tempat itu, sebuah ekor ular bergerak ke arahnya dengan cepat membuat ia segera berenang menghindar dan hempasannya mengenai dinding gua. Dinding sedikit bergetar dengan reruntuhan pasir dan kerikil berjatuhan dari atas sana. Hades lega.


Ia menengok ke atas. Miriam tengah mengawasinya. Kembali ia mendekati tombak terdekat. Saat ia telah meraih satu tombak di tangan, seekor ular melihat dan langsung mengejarnya. Putra duyung itu terkejut dan bersiap untuk menyerang tetapi ternyata, sebelum ular itu menyerang, para bala tentara duyung melihat dan ramai-ramai menyerangnya sehingga fokus ular itu teralihkan. Hades kembali lega. Ia mendongak menatap Miriam di atas sana.


Putra duyung itu berusaha konsentrasi sambil memegang tombak. "Cikra bimalu!"


Tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi hewan berkaki empat. Ia tak bisa bernapas karena ia bukan binatang dalam air. Kakinya telah menjadi kaki kambing.


Aduh ... kenapa aku salah mantra? Bagaimana ini. Aduh, napasku ....


Dalam keadaan sulit bernapas, dengan cepat ia berusaha fokus dengan mantra itu sedang Miriam terlihat kesal melihat Hades tak ingat mantra itu dengan baik.


"Aku kan sudah bilang. Walau mantra itu pendek, banyak yang tergelincir membacanya dan mengakibatkan orang itu mendapatkan sihir yang salah. Sekarang bagaimana?" gumam gadis itu menghentakkan kaki seraya menarik rambutnya karena frustasi.


"Cikra bamaslu!" Kini Hades merubah tubuhnya dari pinggang ke bawah menjadi gurita. "Ah, salah lagi ... Apa tadi mantranya? Ah!" Putra duyung itu begitu kesal. Ia tidak mendengar dengan baik yang diucapkan Miriam. Konsetrasinya pecah gara-gara serangan ular tadi.


Rasanya aku tidak menyebut salah. Cikra bamaslu 'kan? He? Cikra ... bamalu. Iya, itu. Pasti itu. Aku rasa itu. Ayo coba lagi Hades! Ia menyemangati dirinya.


"Cikra bamalu!" Tiba-tiba kaki Hades kembali ke bentuk semula yang berbentuk ikan. Tubuhnya kini bersama tombak itu, perlahan tapi pasti menjadi besar. Tombak itu juga pelan-pelan berlapis air laut yang membeku dan tembus pandang.


Semua siluman kini memandang ke arahnya, tak terkecuali Penyihir siluman ular laut yang melongo memandangnya. Penyihir jahat itu kini mendapat lawan yang sesuai. Dengan bengis, ia melempar jaring yang berisi bola perlindungan ke lantai gua dengan kasar. Ia menyiapkan serangan.


Berengsek! Siapa lagi yang punya sihir sehebat ini? Putera duyung itu atau putri duyung berambut merah itu yang bisa membuat sihir ini? Mmh, rasa-rasanya putri duyung itu karena itulah ia begitu dilindungi oleh pihak kerajaan. Inikah keistimewaannya? Mmh, seandai ia seekor ular laut, ia bisa menjadi penggantiku kelak.


Tubuh Hades telah berubah dengan sempurna. Ia kini siap menyerang Penyihir siluman ular laut itu dan mencincangnya karena sudah banyak korban dari pihak duyung dan ia tak berniat untuk memberi ampun.

__ADS_1


__ADS_2