
Hades menoleh di tangga.
"Apa aku bisa membantumu? Oh, tunggu!" Max berlari ke dalam kamar Miriam lalu keluar lagi dengan membawa selimut tipis dan mendatangi Hades. Ia menutupi tubuh duyung Miriam. "Tidak boleh ada yang tahu 'kan, kalau kalian duyung?"
"Terima kasih." Hades menuruni tangga.
"Eh, tunggu." Max meraih lengan Hades. "Katamu tadi 'mungkin'. Apa Lita, eh maksudku, Miriam bisa diselamatkan?"
"Aku akan mengusahakannya." Hades kembali melangkah, tapi lagi-lagi, Max meraih tangannya.
"Apa aku bisa membantumu?"
"Bukankah Bapak akan melamar kekasih Bapak hari ini?"
"Tidak, aku ingin membantumu."
Hades menatap pria itu dengan seksama. "Bapak 'kan mau nikah. Aku tidak ingin merusak hidup Bapak hanya karena masalah ini. Lagi pula belum tentu berhasil."
"Kenapa kau pesimis? Kau orang terdekatnya, kenapa tidak lebih gigih?"
"Pak, bukan begitu. Aku tidak ingin merusak rencana hidup Bapak."
"Aku ingin. Perkara lamaran, nanti bisa dibicarakan. Beri aku kesempatan untuk membantunya. Walaupun aku tidak bisa membalas cintanya, setidaknya aku bisa membantunya untuk tetap hidup."
"Aku tidak bertanggung jawab atas masalah yang ditimbulkan setelah ini," kata Hades memperingatkan.
"Aku bertanggung jawab atas pilihanku sendiri. Ok. Bagaimana caranya aku membantumu?"
"Kita harus segera ke pantai. Aku harus memberi tahu ayahku agar ia bisa membantu menyelamatkan nyawa Miriam."
"Ok, aku akan ambil mobilku yang lain untuk pergi ke pantai bersamaku. Tunggu sebentar."
Max menuruni anak tangga dengan cepat dan berlari keluar. Sudah ada beberapa mobil miliknya diluar yang telah berisi barang-barang lamaran dan mobil-mobil itu dilewatinya begitu saja. Ia langsung ke garasi mengambil mobilnya yang lain.
Sementara mencari mobil, ia menelepon Anna. "Anna, maaf. Aku bukan menunda acara lamaran tapi ada yang lebih penting lagi terjadi hari ini."
"Ada apa Kak Max?"
"Lita ... dia sekarat." Saat itulah Max mulai menangis. Ternyata saat syok, ia tak bisa menangis dan saat syoknya hilang, ia merasakan kehilangan yang sangat.
" Kak Max, apa yang terjadi?" tanya wanita itu khawatir.
"Kau ... kau takkan percaya. Lita adalah seorang putri duyung. Aku tidak bermaksud membatalkan pernikahan kita, bukan. Aku hanya meminta diundur lamarannya, itu saja." Terdengar isak pria itu yang coba ditahan.
__ADS_1
Hening. Tak ada suara dari Anna.
"Anna, aku ...."
"Kak Max, apa kamu jujur padaku?" potong Anna yang menyangsikan kejujuran Max.
"Aku jujur Anna, aku tidak bohong. Sekarang ini aku akan berangkat ke pantai untuk menyelamatkannya. Aku harus bergerak cepat, Anna. Nanti aku telepon lagi." Max menutup telepon dan segera membuka pintu mobil yang ditemuinya. Ia mengambil resiko yang benar-benar fatal tapi ia sudah bertekad menolong Miriam.
Ia menghapus air mata dan membersihkan cairan di hidung dengan tisu yang berada di dasbor. Kemudian mobil dijalankan.
Setelah mobil berhenti di hadapan Hades, Max membukakan pintu untuknya. Kemudian ia kembali ke kemudi dan menjalankan mobil itu ke luar rumah.
Sambil menyetir, Max memperhatikan wajah Hades yang begitu sedih dari cermin kecil di atasnya. Walaupun Hades sudah tidak menitikkan air mata lagi tetapi terlihat sekali ia sedang muram dan bingung. "Eh, maaf. Kau dan Lita, eh sorry(maaf), Miriam. Apa kau menyukainya? Apakah itu benar?" tanyanya penasaran.
"Aku sangat mengenalnya. Ia sangat menyukaimu."
"Mas Hadi, eh, itu bukan namamu ya?"
"Hades, namaku Hades."
"Kau menyukai Miriam tapi Miriam ...."
"Hanya menganggapku teman." Hades melirik ke arah kursi depan tempat Max duduk.
Hades tengah menatap wajah Miriam di pangkuan. Wajah yang selalu memenuhi ruang rindunya. Tak sekali pun jua ia lelah mengejar gadis ini karena cintanya tak pernah berubah. Selalu hanya pada Miriam, satu-satunya putri duyung berambut merah di dalam kerajaan duyung.
Entah karena rambutnya yang berwarna merah, tapi Hades tak pernah sakit hati ditolak berkali-kali oleh Miriam. Ia terus mengejar bahkan dengan berganti-ganti cara mendekati, agar bisa mendapatkan hatinya, walau selalu gagal dan gagal lagi.
Di perhentian lampu merah, mobil berhenti dan Max teringat Anna. Ia tidak tahu apa wanita itu akan mempercayainya lagi karena baginya Miriam dan Anna sama pentingnya.
Ia melakukan ini karena mungkin ini terakhir kalinya ia bisa bertemu dengan Miriam. Gadis yang diam-diam selalu menolongnya jika ia dalam bahaya. Ia menyadari kini, bahwa selama ini Miriam telah melindunginya tanpa ia ketahui.
Anna, jangan tinggalkan aku. Kamu sama pentingnya dengan Miriam, Anna. Maafkan aku si bodoh ini, yang tidak bisa memilih.
Mobil akhirnya sampai ke tepi pantai. Sepagi itu, udara sangat cerah. Beberapa anak nelayan main di pantai. Max parkir di dekat pantai yang cukup sepi agar tidak menjadi perhatian umum.
Max menoleh ke belakang. "Sekarang, apa lagi yang bisa aku lakukan?"
"Mmh, apa kau bisa membawa ke tengah laut tubuh Miriam dengan perahu kecil? Usahakan jangan sampai jatuh ke laut."
"Mmh. Aku rasa bisa. Berarti harus menyewa perahu kecil ya?"
"Berarti kau bisa berenang 'kan?"
__ADS_1
"Iya."
"Bagus, jadi aku tak perlu khawatir kau tenggelam."
Max kemudian keluar dari mobil mencari orang yang bisa menyewakan perahu kecil. Setelah dapat, ia menyeretnya ke pantai terdekat. Ia kemudian membukakan pintu untuk Hades. "Aku hanya bisa mendapatkan perahu karet."
"Tidak apa-apa." Hades keluar dengan menggendong Miriam dan membawanya ke atas kapal karet itu. Ia mendorong pelan ke air.
"Kak Max!"
"Anna?"
Wanita itu berlari-lari mendekati Max. Ia akhirnya bisa melihat sendiri seorang gadis bertubuh setengah ikan berada di atas perahu karet seperti tengah tertidur. "Ini Lita?" tanyanya sedikit tidak percaya karena rambutnya yang merah.
"Iya itu Lita. Ternyata Lita dan Mas Hadi adalah putri dan putra duyung," terang Max pada Anna.
Anna menoleh pada Hades.
"Nama asli Lita adalah Miriam."
"A-aku hampir tak percaya. Maaf," Anna dalam kebingungan yang nyata. Melihat pun Anna masih tak yakin dengan apa yang dilihatnya.
"Kita tidak punya banyak waktu. Ayo kita turunkan kapal ini ke laut. Ingat, jangan sampai Miriam jatuh ke laut sebelum aku datang. Aku harus pergi mencari ayahku dulu. Mudah-mudahan ia ada di rumah." Hades menarik kapal Miriam ke laut diikuti Max dan Anna.
"Anna kau tak usah turun," cegah Max.
"Tidak, aku ingin membantumu. Membantu Lita, eh, Miriam maksudku."
Max terharu hingga matanya berkaca-kaca. "Anna, terima kasih."
Pakaian mereka mulai basah hingga ke dada.
"Sampai di sini saja. Aku harap kalian bisa mempertahankan Miriam agar tak jatuh ke dalam laut. Kalau itu terjadi, cepat bawa lagi dia ke dalam kapal ini. Mengerti?"
Max mengangguk mendengar instruksi Hades. "Iya."
"Aku mohon kalian bersabar, tunggu sampai aku kembali." Hades segera masuk ke dalam laut. Sebentar kemudian ia muncul dengan tubuh duyungnya. Anna dan Max terkesima. "Tunggu aku kembali ya!" teriaknya lagi dan kembali masuk ke dalam air.
____________________________________________
Halo reader, masih baca novel ini 'kan? Baca novel ini hingga selesai ya? Oya, jangan lupa beri like, komen, vote atau hadiah penyemangat author. Ini visual Miriam di atas perahu karet. Salam, ingflora. 💋
__ADS_1