Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Cari Tahu


__ADS_3

"Oh, tidak ada yang spesial. Hanya minum teh sambil mengobrol."


"Mengobrol apa?" tanya miriam pada Anna.


"Apa saja."


"Ya, aku daripada sendirian di kamar."


"Ok, sebentar ya?" Anna sempat melirik Max yang memberi sinyal keberatan tapi wanita itu tetap pergi ke dapur meminta pembantu Max membuatkan teh untuk Miriam, kemudian ia kembali.


"Mmh, boleh aku bertanya sesuatu?" Max yang duduk menyamping dengan kaki menyilang, tiba-tiba bertanya pada Miriam dengan mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu, yang kebetulan berada di sampingnya.


Miriam terkejut sekaligus senang karena dapat melihat wajah pria itu dari dekat dan melihat mata biru lelaki itu yang serasa menenggelamkannya dalam laut musim panas. Hangat menerpa. "Iya."


"Apa yang kau ingat sampai saat ini?"


"Mmh ...." Dirimu. Di dalam keputusasaanku di dalam kesendirian dan kebosanan aku menemukanmu. Menemukan sebuah tujuan yang merupakan arus terkuat yang membuatku tiada ragu untuk ikut arus itu atau bahkan tersesat atau hanyut tanpa tujuan asal bersamamu. Oh, Kak Max. Mengertikah kamu? "Kamu."


"Apa?"


"Oh, maksudku. Aku hanya melihat ibu nelayan itu dan kamu, Kak." Cepat-cepat, Miriam membenarkan.


"Mmh." Pria itu menarik tubuhnya ke belakang dan menopang dagu dengan satu tangan. Ia berpikir sejenak. "Mungkin aku terlalu cepat bertanya padahal hilang ingatanmu masih berproses ya? Oh, well(ya), kita lihat perkembangannya nanti. Eh, tapi bila ada yang kau ingat cepatlah kamu memberitahu aku."


"Iya, Kak."


Pria itu tersenyum sambil mengusap kepala Miriam. "Jangan takut, Lita. Ada Kakak di sini menemanimu."


Miriam tersenyum bahagia. Ia tidak pernah menyangka, begitu cepat pria itu menyentuhnya, bahkan mengusap lembut kepalanya, membuat ia serasa terbang ke awan. "Terima kasih, Kak."


Anna sudah kembali dan mereka mengobrol sebentar. Miriam mendengarkan obrolan mereka yang terbatas karena keberadaan gadis itu. Kemudian wanita itu pamit karena hari menjelang malam. Sopir pribadi Max mengantarkan Anna pulang.


"Hati-hati ya, Sayang," ucap Max lembut pada Anna.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Wanita itu masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan pada pria bule itu saat mobil berjalan ke arah gerbang dan Max membalasnya. Pria itu menatap ke arah mobil hingga hilang di balik gerbang.


Miriam yang berada di samping pria itu hanya bisa melihat tingkah pria itu dengan cemburu yang tak berkesudahan.

__ADS_1


Tiba-tiba Max menoleh ke arah Miriam. "Lita, kenapa kau masih di sini?"


"Eh, aku boleh melihat-lihat rumahmu?"


"Oh, boleh saja. Atau ... mau kuberi tahu tentang rumah ini?"


Miriam kembali senang bukan kepalang. Ia menyambut baik tawaran Max. "Oh, mau, mau, mau, Kak." Ia mengangguk senang sambil menggenggam tangannya di depan wajah. Matanya begitu bercahaya dengan wajah penuh rona bahagia.


Max mengajaknya berkeliling. Melihat taman belakang yang begitu luas beserta kolam renang. Sempat gadis itu mengingat laut asalnya tapi segera ditepisnya.


Kemudian Max memberitahu letak dapur, garasi, kamar-kamar termasuk kamarnya. "Ini kamarku." Pria itu membukakan pintu untuk Miriam.


Gadis itu mengintip ke dalam. Kamar pria itu kurang lebih sama besarnya dengan kamar miliknya dan juga minimalis. Bedanya, ada sentuhan pria pada design kamarnya. "Wow."


"Kenapa?"


"Mmh? Tidak apa-apa. Aku belum pernah masuk kamar pria."


"Oh, begitu."


Terdengar suara azan Magrib berkumandang.


"Oh, aku siap-siap sholat dulu ya?"


"Oh, aku mualaf. Sudah setahun ini."


Harusnya aku tahu, bodoh! Kan dia punya kekasih yang berjilbab? Paling tidak mereka harus menyamakan agamanya agar bisa bersama.


"Kamu?"


"Apa?" Pertanyaan ini mengejutkan Miriam. "Aku ...."


"Kau juga tidak ingat? Bisa sholat?"


Miriam menggeleng.


"Berdoa di gereja?"


Kembali gadis itu menggeleng.


"Atau pergi ke kuil atau Vihara?"

__ADS_1


Hanya menggeleng.


"Oh, tidak apa-apa. Pelan-pelan saja, pasti nanti ingat. Oh ya, aku sholat dulu ya?"


Miriam terpaksa keluar dan kembali ke kamarnya.


----------+++---------


Hades sudah menunggu lama di depan rumah Miriam tapi gadis itu belum juga kembali. Kekhawatirannya bertambah seiring waktu, apalagi putri duyung itu tidak pernah pamit padanya, tapi kepergiannya kali ini sangat membuatnya khawatir.


Bukan saja karena puteri duyung ini bertemu dengan pria pujaannya yang bisa membuatnya cemburu, tapi kenekatan Miriam untuk menjadi manusia yang bisa saja merupakan tipuan dari Penyihir siluman ular laut yang ingin mendapatkan jiwa putri duyung itu agar penyihir itu semakin sakti.


Hades sangat yakin, entah kenapa, bahwa Miriam pasti melakukan itu. Mau tak mau, ia harus kembali ke istana dan meminta bantuan ayahnya agar bisa membantu putri duyung itu lepas dari cengkraman penyihir siluman ular.


Hades kemudian berenang pulang.


----------+++----------


Raja duyung terdiam sejenak setelah mendengarkan penuturan anak semata wayangnya, Hades, tentang Miriam. Ia kembali menatap putra duyung itu yang sedang menunggu jawaban darinya. "Mungkin ini sia-sia, anakku Hades." Raja duyung yang mulai tua itu menanggapi cerita yang baru saja dibeberkan Hades.


Putra duyung itu terkejut. Bukankah selama ini, ayahnya raja duyung sangat menjaga Miriam, anak dari sahabat dekatnya yang meninggal dalam tugas hingga memberikan tempat tinggal untuk Miriam di salah satu sudut istana, tapi kenapa sekarang, ayahnya seolah lepas tangan atas kepergian gadis itu kali ini?


"Ayah. Kenapa Ayah tega membiarkan Miriam dibohongi Penyihir penipu itu, Yah? Ini bukan main-main, Yah. Nyawa taruhannya." Hades mengingatkan.


"Iya, Ayah tahu," jawab Raja duyung tenang.


"Apakah sebegitu sulitnyakah kita untuk mengalahkan Penyihir itu, sebab aku akan terus berjuang agar nyawa Miriam terselamatkan. Aku tidak ingin kehilangan Miriam untuk selamanya, Yah!" tegas Hades.


"Apakah Miriam menyukaimu?"


"Apa maksudnya ini? Aku datang ke sini minta bantuan Ayah untuk menyelamatkan Miriam. Tidak ada hubungannya dengan Miriam menyukaiku atau tidak." Hades terlihat bingung dengan pertanyaan ayahnya.


"Oh ada." Raja duyung merapikan duduknya. "Kalau Miriam telah kau selamatkan tapi ia tak mau kembali, bagaimana? Bagaimana kalau dia marah padamu karena gara-gara kamu ia tak bisa mendapatkan pria itu?"


"Tapi aku berusaha untuk menolongnya, Yah, dari Penyihir jahat yang ingin mengambil jiwanya. Kenapa dia harus marah?"


Raja duyung tersenyum lebar. "Apa yang kau lakukan sekarang ini pada Miriam sama dengan perjuangan Miriam saat ini pada pria itu. Berjuang keras untuk yang terkasih yang tidak diketahui apakah orang yang sedang diperjuangkannya dapat membalas cintanya."


Walaupun tidak terima perjuangan putra duyung itu disamakan dengan perjuangan Miriam, tapi mau tidak mau ia harus mengakui bahwa ayahnya benar. Ia ingin mengatakan bahwa ia lebih mencintai Miriam tapi putri duyung itu juga pasti sangat mencintai manusia itu hingga nekat mendatangi Penyihir jahat itu.


"Ayah, bantu aku, Yah. Aku tak sanggup membayangkan Miriam patah hati dan juga kehilangan dirinya, Yah. Aku mohon." Hades bersujud di hadapan ayahnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Miriam berhasil membuat pria itu jatuh cinta padanya?"


__ADS_2