
Max memperhatikan wajah Miriam yang basah. Ia mengusapnya. "Bagaimana dengan nasibmu? Kakak takut kamu tak kembali. Belum saatnya kau pergi. Kau masih sangat muda. Bagaimana caranya kakak membantumu kembali? Membantu Hades." Wajah pria itu terlihat sangat sedih.
Air masih bergejolak walaupun tidak ada ombak, karena getaran gempa yang berasal dari laut, belum juga usai. Max terpaksa harus memegangi perahu karet agar jangan sampai terbalik. Ia di bagian atas dan Anna di bagian bawah tubuh Miriam.
Sementara di bawah sana, perang terus berkecamuk. Miriam menangis melihat tubuh Hades yang melepuh bekas luka bakar di sana sini. Ia menangis terduduk di dalam bola kehidupan meratapi nasib Hades yang akan menghampiri. Andai saja dulu ia bisa sedikit bersabar dengan Hades, tidak akan begini jadinya. Ingin rasanya waktu berputar mundur ke masa dahulu, tapi segala sesuatunya telah terjadi ....
Walaupun begitu, Hades bukan tipe pria yang gampang menyerah. Ia tetap mencari celah ditengah gempuran air mata api yang menyerangnya bertubi-tubi. Ia mencoba berkelit beberapa kali walaupun serangan air mata api masih ada yang mengenai tubuhnya. "Aggh!"
Penyihir Raja duyung pun banyak yang membantunya. Dari panah api sampai bola kristal yang saat menyentuh sasarannya akan pecah menjadi puluhan kristal kaca dan menancap pada benda yang disentuhnya.
Penyihir jahat itu meradang karena pecahan bola kristal menancap di tubuhnya, lalu menangkis bola kristal itu dengan air mata api yang membuatnya pecah sebelum sampai tujuan, tapi lagi-lagi, tidak semuanya berjalan mulus, ada yang pecah sebelum sampai dan ada yang menancap di tubuhnya. Namun itu bukan apa-apa karena baik panah mau pun bola kristal, berukuran kecil sedang serangan Hades ke tubuhnya saja tidak ada apa-apanya karena perlahan tapi pasti, tubuhnya yang luka kembali sembuh.
Ya, tubuh penyihir siluman ular laut itu perlahan sembuh. Itu pula yang mengherankan raja, sementara pasukan, dan juga Hades lama-lama mulai kekurangan tenaga akibat tenaganya terkuras habis menyerang penyihir jahat dan juga akibat luka-luka yang diderita.
"Bagaimana ini? Pasukanku semakin sedikit dan kekuatan Hades juga semakin berkurang sementara penyihir ular itu tetap saja terlihat segar dengan kekuatan yang tidak berkurang sedikitpun. Apa yang harus kita lakukan? Kalau begini terus kita bisa hancur dan kita semua akan menjadi tawanannya," ucap Raja gundah.
"Yang terpenting kita harus cari kelemahannya. Ini sihir. Ia punya sihir tingkat tinggi. Kita harus tahu, pemecah sihirnya agar kita bisa mengalahkannya," jawab salah seorang penyihir yang lebih senior yang tengah mengamati jalannya pertarungan bersama Raja. Sesekali ia membantu memberi panah baru pada teman penyihirnya.
"Aku pernah membaca sebuah buku ilmu sihir tentang penyihir siluman ular laut yang sudah turun temurun ini dan katanya 'hanya air mata doa yang tulus dari telaga ke telaga yang dapat menyelamatkannya'. Apa kau tahu artinya itu?" tanya Raja pada penyihir duyung itu.
"Ini tentang putri duyung itu 'kan? Sebab kalau tidak, kita tidak akan bisa selamat."
"Apa maksudnya?"
"Ini di buku sihir mana?"
__ADS_1
"Sebenarnya aku membaca buku sihir tentang ramalan yang tak sengaja aku temukan dan itulah hasilnya."
"Berarti kita punya seorang penolong lagi."
"Apa? Apa maksudnya?" Raja terlihat bingung.
"Itu ...."
Tiba-tiba gua berguncang hebat. Ternyata Hades menggunakan segenap tenaga untuk mendorong ular itu hingga ke dinding gua dan menusuk tubuhnya dengan tombak air. Makhluk itu menjerit kesakitan. Hades terlihat puas.
Namun tiba-tiba makhluk itu mendorong balik putra duyung raksasa itu hingga menabrak dinding gua di seberangnya. Hades yang kurang waspada kemudian jatuh ke lantai gua dan perlahan tubuhnya mengecil.
Ya, tombak itu terlepas dari tangannya sehingga tubuh Hades kembali seperti semula lagi. Putra duyung itu terkejut.
Miriam panik. "Oh, jangan bunuh dia, jangan bunuh dia! Aku mohon. Hades!" teriaknya. Namun karena letak gadis itu yang berada di ketinggian, tidak ada satu pun di bawah sana yang bisa mendengarkannya. "Cukup ambil saja jiwaku, jangan dia ...." Miriam mulai menangis lagi.
Di bawah, raja pun ketakutan dan meminta para penyihir duyung untuk menyerang penyihir jahat itu dengan segenap tenaga agar Hades lolos darinya. Penyihir duyung kembali menyerang penyihir ular raksasa itu.
Namun penyihir ular raksasa itu sudah tak peduli. Bahkan dari serangan tombak tentara duyung sekali pun yang tinggal sedikit. Tinggal mengibaskan sayap di tangan, dan pasukan duyung porak-poranda.
Penyihir ular siluman itu dengan senyum penuh kemenangan menatap Hades yang sudah kehabisan tenaga terduduk di lantai gua.
Putra duyung itu terlihat sudah pasrah ketika tangan penyihir raksasa itu mendatanginya. "Miriam ... aku merindukanmu."
Tepat di atas sana, akibat kejadian tadi, gempa belumlah usai. Bahkan bertambah parah menyebabkan banyak bangunan yang dekat dengan pantai rusak dan roboh.
__ADS_1
Max dan Anna sekuat tenaga mempertahankan agar perahu itu tak terbalik walaupun diguncang gempa dan ombak besar.
Sampai-sampai Max harus memegangi tubuh Miriam agar tak jatuh meluncur lagi ke dalam air. "Ya Allah, kenapa gempa ini belum juga usai."
Namun kemudian hening. Max menatap wajah Miriam. Tiba-tiba air matanya menetes membasahi pipi. "Ya Allah, tolong adikku Miriam ya Allah. Tolong dia. Tolong kembalikan dia ke kehidupannya semula lagi ya, Allah. Aku mohon pertolonganMu."
Setetes air matanya jatuh menetes pada mata Miriam dan menjadi sebuah cahaya terang yang naik ke langit dan berubah besar.
Ya, itulah. 'Hanya air mata doa yang tulus dari telaga ke telaga' adalah arti dari air mata Max yang jatuh langsung pada kelopak mata Miriam sambil berdoa, itulah jawabannya.
Cahaya itu kemudian berpendar kecil dan tiba-tiba hilang berganti langit yang seketika berubah gelap tanpa ada benda langit apapun yang memberi cahaya.
"Apa ini?" tanya Anna heran pada Max. Karena air tak lagi bergejolak dan tak ada gempa sehingga Anna meraih tangan Max karena ketakutan. "Kak Max."
"Ah, Anna. Aku pun tak tahu." Max pun kebingungan dan menjawab ragu.
Langit seperti terisi air yang terbalik berwarna hitam pekat. Air itu bergejolak dan setetes besar air turun dan jatuh ke laut.
Air laut berubah menjadi berwarna hitam dan terasa sejuk.
Di bawah sana juga ternyata merasakan hal yang sama. Gua tiba-tiba gelap. Penyihir jahat itu bisa mencium keanehan. Bukan penyihir itu saja tapi semua makhluk.
Tiba-tiba dari banyak arah, walau terlihat samar-samar, datang air berwarna gelap yang langsung menyergap penyihir siluman ular itu. Penyihir itu kelimpungan. Seketika tubuh penyihir itu bercahaya dan bekas lukanya kembali menganga. Penyihir itu menjerit-jerit kesakitan dan meraung hingga teriakan menyayat hati. "Agghh! Agghhh!!!" Setelah itu tubuhnya kejang-kejang dan akhirnya jatuh terkulai di lantai.
Ular-ular miliknya pun seketika hangus terbakar.
__ADS_1