
min rhey kembali mengalihkan atensinya kepada penatua ke-tiga atau min Chang yang masih saja berguling-guling di tanah sambil menjerit-jerit kesakitan karna artefak rantai pengekang tubuh yang masih melilit tubuhnya.
"arkkk!"
"arkkk!"
"to-tolong bu-bunuh saja aku!" ucap penatua ke-tiga terbata-bata pelan tapi masih bisa di dengar.
penatua ke-tiga atau min Chang sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya sehingga ia lebih memilih untuk mati.
min rong yang mendengar perkataan ayahnya semakin sedih, karna jika ayahnya telah tiada maka ia tidak mempunyai orang tua lagi. ibu min rong sudah meninggal ketika ia baru berusia tiga tahun sehingga ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
"min rhey to-tolong hiks.. lepaskan ayahku kumohon hiks.." ucap min rong yang semakin terisak-isak.
min rhey yang melihat min rong semakin menangis terisak-isak memohon kepada dirinya, hanya memutar bola matanya ke arah lain lalu mendekati penatua ke-tiga atau min Chang untuk mengambil kembali artefaknya yang melilit tubuh penatua ke-tiga.
setelah berada di dekat penatua ke-tiga, min rhey langsung menyatukan kedua tangannya lalu berkata "lepaskan!" seketika lilitan rantai pengekang tubuh itu terlepas dari tubuh penatua ke-tiga. min rhey memasukkan kembali rantai pengekang tubuh kedalam ruang inventori artefak sistem dengan melambaikan tangannya agar orang-orang mengira min rhey memasukkannya kembali ke dalam cincin penyimpanannya.
min Chang yang sudah terlepas dari lilitan rantai pengekang tubuh sudah tidak berteriak kesakitan lagi tapi sekarang tubuhnya tidak bisa ia gerakkan karna energi Qi-nya telah terserap habis dan rasa sakit masih terasa walaupun tidak sesakit tadi.
min rong yang melihat ayahnya telah dilepaskan dari lilitan rantai, ia langsung kembali bersujud kepada min rhey lalu berkata,
" terima kasih min rhey karna telah melepaskan ayahku!" ucap min rong dengan nada yang masih sedih.
min rhey yang mendengar itu membalikkan badannya, lalu berkata,
"aku memang melepaskan ayahmu dari artefak rantai pengekang tubuh, tapi aku tidak akan memaafkan perbuatannya!" ucap min rhey tersenyum sinis kepada min rong yang masih bersujud di tanah.
min rong yang mendengar perkataan min rhey, mendongakkan kepalanya menatap min rhey yang tersenyum sinis, min rong seketika merasa sangat ketakutan karna seperti di tatap langsung oleh dewa kematian.
"aku menyiksa ayahmu dengan artefak rantai pengekang tubuh karna ia adalah dalang dari rusaknya dentianku, dan sekarang aku akan menyiksanya lagi karna telah berniat untuk menggulingkan ayahku dari kursi patriak keluarga min" lanjut min rhey.
min rhey membalikkan badannya lalu menatap penatua ke-tiga atau min Chang yang terkapar lemas di tanah, min rhey langsung membuat pedang Qi berwarna emas lalu memulai penyiksaannya.
sekali lagi semua orang yang melihat min rhey membuat pedang Qi berwarna emas terkejut menjatuhkan rahangnya serta membelalakkan matanya.
__ADS_1
mereka semua tahu untuk melakukan hal yang sama seperti min rhey harus mempunyai sebuah skill beladiri tingkat tinggi dan harus memahami sampai titik sempurna, di keluarga min saja tidak ada yang bisa melakukan hal yang sama dengan min rhey.
sekarang min rhey memulai penyiksaannya kepada penatua ke-tiga dengan memotong-motong kecil tangannya seperti orang yang memotong-motong kecil bawang merah.
"arkkk!"
"arkkk!"
penatua ke-tiga kembali berteriak-teriak kesakitan setiap daging tangannya terpotong-potong kecil oleh pedang Qi berwarna emas min rhey.
"to-tolong bu-bunuh saja aku!" ucap penatua ke-tiga terbata-bata karna rasa sakitnya.
"tenang saja paman aku akan tetap membunuhmu tapi kau harus merasakan siksaan ku dulu di depan semua orang, agar orang-orang yang tinggal di kediaman keluarga min tidak berani melakukan hal yang sama sepertimu!" ucap min rhey yang terus memotong-motong kecil tangan penatua ke-tiga sambil terus tersenyum sinis yang sangat menyeramkan seakan-akan sangat suka jika ia memotong-motong kecil bagian tubuh orang lain.
daging-daging kecil yang basah dilumuri oleh cairan berwarna merah yang agak kental berserakan di tanah, darah yang mengalir seperti sungai menyatu menjadi genangan cairan berwarna merah gelap.
orang-orang yang menyaksikan hal yang terjadi didepan matanya bergidik ngeri dan juga sudah ada yang muntah-muntah karna melihat min rhey yang seperti seorang psikopat haus darah.
"tuan muda seperti seekor monster yang bertopeng manusia!" ucap seorang yang berkumpul menyaksikan yang terjadi di depan matanya.
"kan kau sendiri yang bilang tadi potong kecil tubuhnya!" sahut yang lain menyindir orang tadi.
mou long yang sedari tadi hanya diam setelah menjelaskan siapa dirinya dan menyaksikan penyiksaan min rhey kepada penatua ke-tiga bergidik ngeri, tangan dan kakinya terasa ngilu setiap pedang Qi berwarna emas memotong kecil daging bagian tubuh penatua ke-tiga karna mengingat kejadian yang sama terjadi pada dirinya tadi malam.
min rong yang menyaksikan bagian tubuh ayahnya di potong-potong kecil oleh min rhey menjadi sangat emosi, ia berdiri dari sujudnya berniat untuk menyerang min rhey dari belakang tapi tiba-tiba tubuhnya terjatuh kembali ke tanah karna merasa sebuah beban yang sangat berat menimpa tubuhnya.
min rhey menyadari jika min rong sangat marah kepada dirinya yang membuatnya ingin menyerang dari belakang, tapi min rhey hanya mengeluarkan aura tingkat kultivasinya lalu memfokuskannya kepada min rong sehingga dirinya yang sudah berdiri terjatuh kembali ke tanah.
sekarang tangan dan kaki penatua ke-tiga sudah habis terpotong-potong kecil oleh min rhey yang hanya menyisakan sebuah tubuh. wajah penatua ke-tiga menjadi pucat karna darahnya hampir habis mengalir keluar dari bagian-bagian tubuh yang sudah terpotong.
"setelah ayahmu, giliranmu akan datang sepupuku!" ucap min rhey menoleh kepada min rong yang terkapar di tanah.
min rhey benar-benar ingin menyiksa lalu membunuh pasangan ayah dan anak ini, karna telah membuat pemilik tubuh sebelumnya menderita selama dua tahun.
"min rhey to-tolong ampuni rong'er!" ucap penatua ke-tiga terbata-bata seperti orang berbisik, tapi masih dapat di dengar oleh min rhey.
__ADS_1
"kenapa aku harus mengampuni orang seperti dirinya, dia akan membalas dendam kepadaku jika sudah mempunyai kekuatan dan aku tidak ingin itu terjadi, aku akan memusnahkan semua musuh-musuh ku sampai akar-akarnya!" ucap min rhey dengan nada dingin menatap penatua ke-tiga lalu mengibaskan tangannya.
slash!
pedang Qi berwarna emas min rhey memenggal kepala penatua ke-tiga lalu menggelinding hingga sampai di depan min rong dengan mata yang terbelalak menatap mata min rong yang masih terkapar di tanah.
semua orang-orang tidak terkecuali, bergidik ngeri dan menahan nafasnya karna menyaksikan min rhey yang benar-benar seperti seorang psikopat atau memang seorang psikopat.
min rhey berjalan menuju min rong, ketika min rhey telah berada di depan min rong yang masih terkapar di tanah menatap kepala ayahnya, min rhey menaikkan satu kakinya di atas kepala penatua ke-tiga atau ayah min rong lalu tersenyum sinis yang sangat menyeramkan menatap min rong.
"tu-turunkan kakimu dari ke-kepala ayahku si-sial*an!" teriak min rong marah yang terbata-bata lalu mendongakkan kepalanya menatap min rhey.
walaupun ia sangat ketakutan ketika menatap dan melihat senyum sinis min rhey yang sangat menyeramkan bagaikan seorang dewa kematian yang sangat menyukai mandi darah, tapi ia masih mencoba memberanikan diri untuk membela kepala ayahnya yang di injak min rhey dengan satu kaki.
min rhey yang mendengar teriakan marah Min rong hanya terus menyunggingkan senyum sinisnya yang menyeramkan, lalu berkata,
"jika aku tidak mau, kau mau apa? bahkan untuk berdiri saja kau tidak bisa!" ucap min rhey yang masih tersenyum sinis.
"aku adalah dewa kematian bagi orang-orang yang ingin mengusik diriku, orang-orang terdekatku dan kedua orang tuaku!" lanjut min rhey dengan nada sedikit berteriak serta mengubah raut wajahnya menjadi serius.
.
.
.
AUTHOR: GIMANA CERITANYA, BAGUS NGAK? MAAF YA KALAU ADA YANG TYPO ATAU KESALAHAN KATA.
.
.
.
JANGAN LUPA KASIH LIKE, KOMEN DAN VOTE-NYA YAAA
__ADS_1