
sekarang Min rhey berniat untuk mendatangi paviliun Navas api yang merupakan paviliun yang menyediakan berbagai macam senjata dan artefak.
Min rhey berjalan dengan santai menuju paviliun Navas api yang letaknya berada di tidak jauh dari paviliun merak putih.
setelah beberapa saat berjalan akhirnya Min rhey tiba di sebuah bangunan tinggi yang mempunyai 5 lantai dengan sebuah gambar api yang berkobar di dinding dekat pintu masuk bangunan tersebut.
Di atas bangunan tersebut juga terdapat sebuah plang yang bertuliskan paviliun Navas api, bangunan tersebut tak lain dan tak bukan adalah paviliun Navas api. Min rhey melangkahkan kakinya memasuki paviliun Navas api.
krekkkk!
ketika Min rhey membuka pintu paviliun tersebut, dapat terdengar suara gesekan antara benda mati, seorang wanita cantik yang terlihat seumuran dengan Min rhey yang berjaga di meja resepsionis mengalihkan perhatiannya kepada pintu yang terbuka.
Wanita cantik tersebut dapat melihat seorang pemuda tampan dengan pakaian berwarna hitam yang terlihat mewah dan elegan.
Min rhey berjalan mendekati wanita resepsionis yang sedang memandangi dirinya dengan pipi yang memerah karna tersipu akan ketampanan Min rhey.
"a-apa ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya wanita resepsionis tersebut dengan suara terbata-bata sambil sedikit membungkukkan kepalanya karna malu-malu berhadapan dengan pemuda tampan seperti Min rhey.
Min rhey yang mendapati sikap wanita resepsionis seperti itu menjadi heran dan bingung karna tidak tahu penyebab Wanita resepsionis tersebut terlihat malu-malu.
"Hey, bisakah kau bersikap santai?" ucap Min rhey yang tidak menjawab pertanyaan Wanita resepsionis tersebut.
Wanita resepsionis yang mendengar perkataan Min tiba-tiba pipinya semakin memerah, kemudian ia berusaha untuk menenangkan dirinya lalu bersikap santai seperti apa yang dikatakan Min rhey.
"apakah kau bisa menjelaskan tingkatan senjata-senjata dan artefak yang ada di paviliun ini?" tanya Min rhey kepada wanita resepsionis setelah merasa bahwa wanita resepsionis itu sudah menenangkan dirinya.
"bisa tuan!" jawab wanita resepsionis tersebut dengan santai tapi masih dengan nada yang sopan sambil membungkukkan badannya sedikit kepada Min rhey.
"Di lantai 1 tingkat senjata dan artefak hanya berada pada tingkat .."
20 menit kemudian.
selama kurang lebih 20 menit Min rhey terus mendengarkan dengan seksama penjelasan wanita resepsionis mengenai senjata dan artefak yang di miliki oleh paviliun Navas api.
Di lantai kedua terdapat senjata dan artefak dengan tingkat perunggu kelas tinggi, lantai ketiga dengan tingkat perak kelas rendah hingga tinggi, Di lantai keempat dengan tingkat emas kelas rendah hingga menengah, dan yang terakhir di lantai lima adalah rungan pemilik paviliun Navas naga.
Min rhey hanya menganggukkan kepalanya kecil tanda mengerti dengan tingkatan senjata dan artefak yang ada di paviliun Navas api.
"apakah aku bisa bertemu dengan pemilik paviliun Navas api?" tanya Min rhey kepada wanita resepsionis.
__ADS_1
"kenapa tuan ingin bertemu dengan pemilik paviliun?" tanya wanita resepsionis tersebut karna tidak tahu alasan Min rhey ingin bertemu dengan bosnya.
"aku ingin mengajaknya berbisnis denganku!" jawab Min rhey sambil tersenyum kepada wanita resepsionis tersebut.
"ba-baiklah tuan, aku akan pergi memberitahu pemilik paviliun!" ucap wanita resepsionis terbata-bata karnaerasa malu ketika melihat senyuman dari seorang pemuda yang sangat tampan lalu segera membalikkan badannya menuju lantai lima.
Min rhey juga berniat menjalin hubungan bisnis dengan paviliun Navas api sama seperti dengan paviliun merak putih tapi dalam bidang persenjataan.
Min rhey menunggu kedatangan pemilik paviliun Navas api sambil duduk di kursi yang telah di sediakan di ruang tunggu tamu.
setelah beberapa saat menunggu, akhirnya wanita resepsionis tadi kembali dengan seorang pria paruh baya yang bersamanya.
pria paruh baya tersebut mengenakan pakaian berwarna merah dengan corak api yang berkobar di kedua lengannya serta sebuah jubah yang menggantung di belakangnya.
wanita resepsionis dan pria paruh baya tersebut berjalan menghampiri Min rhey yang sedang duduk di ruang tunggu tamu paviliun Navas api.
"apakah kau ingin bertemu denganku anak muda?" tanya pria paruh baya tersebut kepada Min rhey setelah berada di ruang tunggu tamu.
Min rhey yang mendengar pertanyaan pria paruh baya tersebut langsung mengalihkan pandangannya menatap wajah pria paruh baya tersebut dengan tatapan yang penasaran karna Min rhey tidak tahu siapa orang tersebut.
"ah, perkenalkan namaku adalah Lao Tzu Ying pemilik paviliun Navas api ini!" lanjut pria paruh baya tersebut memperkenalkan dirinya ketika mendapati tatapan Min rhey yang penasaran kepada dirinya.
"perkenalkan nama saya adalah Min rhey tuan Lao Tzu Ying!" ucap Min rhey dengan sopan kepada Lao Tzu Ying.
"santai saja Min rhey, dan juga tidak usah memanggilku dengan tuan panggil saja aku dengan paman Lao Tzu Ying!" Ucap Lao Tzu Ying sambil melambaikan tangan dengan santai kepada Min rhey sambil tersenyum hangat.
Min rhey yang mendengar perkataan Lao Tzu Ying merasa senang karna bisa bersikap santai dengannya, biasanya para pemilik paviliun- paviliun besar terutama paviliun yang menyediakan persenjataan biasanya memilik sikap sombong dan arogan.
Min rhey duduk kembali setelah di persilahkan oleh Lao Tzu Ying, Wanita resepsionis tadi juga kembali lagi sambil membawa cemilan lalu meletakkannya di meja ruang tunggu.
"bawahanku tadi mengatakan bahwa kau ingin berbisnis denganku, apa yang bisa kau lakukan?" tanya Lao Tzu Ying penasaran kepada Min rhey tapi dengan nada santai.
"betul Paman Lao Tzu Ying, aku ingin mengajak paman berbisnis sesuai dengan apa yang di sediakan paviliun paman Lao Tzu Ying, aku akan memberikan paman senjata dan artefak dengan tingkat dan kualitas yang bagus!" jawab Min rhey dengan sopan lalu segera melambaikan tangannya untuk mengeluarkan cincin penyimpanan yang telah ia persiapkan tadi ketika menunggu kedatangan Lao Tzu Ying.
Min rhey menyerahkan cincin penyimpanan tersebut kepada Lao Tzu Ying ketika sudah berada di tangannya, Lao Tzu Ying langsung saja menerimanya lalu memandang Min rhey dengan rasa penasaran.
"silahkan periksa saja cincin penyimpanan itu paman Lao Tzu Ying!" ucap Min rhey kepada Lao Tzu Ying sambil tersenyum.
Lao Tzu Ying hanya mengangguk kecil menanggapi perkataan Min rhey, lalu segera memasukkan kesadaran spiritualnya kepada cincin penyimpanan yang berada di tangannya untuk melihat apa yang berada di dalamnya.
__ADS_1
setelah beberapa menit memeriksa isi cincin penyimpanan tersebut, Lao Tzu Ying menarik kembali kesadaran spiritualnya.
Lao Tzu Ying terdiam sambil menjatuhkan rahangnya karna tidak bisa tidak terkejut setelah melihat semua isi cincin penyimpanan yang di berikan oleh Min rhey.
Min rhey yang melihat ekspresi wajah terkejut Lao Tzu Ying hanya menahan tawanya, Lao Tzu Ying langsung berdiri dari tempat duduknya sambil menatap Min rhey dengan rasa tidak percaya sambil berkata.
"Mi-min rhey dari mana kau mendapatkan semua ini?" tanya Lao Tzu Ying Dangan terbata-bata sambil menunjuk cincin penyimpanan yang berada di tangan kanannya.
"aku mendapatkan itu semua di kedalaman hutan yang berada di perbatasan kerajaan Xue dan kerajaan Tan!" jawab Min rhey Dangan nada santai kepada Lao Tzu Ying.
untuk beberapa saat Lao Tzu Ying menenangkan dirinya dari rasa terkejut dan tidak percayanya setelah melihat Isi cincin penyimpanan tersebut.
Di dalam Cincin penyimpanan tersebut, terdapat berbagai macam jenis senjata dan artefak yang manjadi tumpukan-tumpukan yang hampir seperti gunung kecil.
Senjata dan artefak yang berada di dalam cincin penyimpanan tersebut berada pada tingkat mulai dari perak kelas tinggi hingga emas murni kelas menengah dengan kualitas tinggi yang lebih bagus dari senjata dan artefak yang berada di paviliun Navas api.
untuk semua senjata dan artefak yang berada di dalam cincin penyimpanan tersebut, Min rhey hanya menghabiskan poin sistemnya sebanyak kurang lebih 200 ribu.
Min rhey bisa saja membeli senjata atau artefak dengan tingkat yang lebih tinggi lalu memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan yang di berikan kepada Lao Tzu Ying.
Tapi jika Min rhey melakukan hal tersebut, Min rhey takut akan terjadi suatu hal yang sangat merepotkan seperti contohnya terjadi sebuah pertempuran antar kelompok yang memperebutkan senjata atau artefak yang memiliki tingkatan sangat tinggi bagi alam rendah kultivator.
Malam hari.
beberapa jam telah berlalu sehingga malam hari pun tiba, sekarang Min rhey telah kembali ke penginapannya, sebenarnya Min rhey telah menyewa kamar VIP penginapan tersebut untuk dua Minggu kedepan.
ketika masih berada di paviliun Navas api, Min rhey dan Lao Tzu Ying telah membahas kerjasama bisnis mereka, Min rhey hanya meminta 30% dari hasil penjualan senjata dan artefak yang ia berikan kepada Lao Tzu Ying.
Lao Tzu Ying yang mendapati permintaan Min rhey seperti itu awalnya menolaknya karna merasa hanya dirinya yang mendapatkan keuntungan, tapi Min rhey terus membujuknya dengan berbagai alasan sehingga Lao Tzu Ying menerima permintaan Min rhey tersebut.
Min rhey yang sedang duduk di atas tempat tidurnya segera beranjak dari sana lalu berjalan menuju balkon kamarnya.
Hembusan angin malam yang semilir yang dingin menerpa seluruh tubuh Min rhey yang sudah berdiri di balkon kamarnya.
Min rhey yang teringat dengan gadis cantik resepsionis paviliun Navas api, tiba-tiba di dalam kepalanya terbayang sebuah kenangan ketika masih berada di bumi bersama seorang gadis cantik Dangan perawakan berambut panjang yang terurai, pupil mata yang berwarna coklat yang sangat indah, kulit putih yang halus.
"sial! kenapa aku masih mengingatnya!" ucap Min rhey dengan nada yang kesal.
Bersambung~
__ADS_1