Skala Perbandingan

Skala Perbandingan
Misteri yang Terkuak


__ADS_3

Jody mematikan mesin mobilnya. Lantas menoleh ke arahku.Mengangkat tangan lantas memegang kedua tanganku erat.


Aku sudah gelisah di tempat dudukku. Mataku sengaja kuhindari bersitatap dengannya.Tapi,Jody yang sangat tenang bahkan tak bereaksi apapun, membuat Aku harus melihatnya.


Kuangkat sedikit wajahku keatas,menatap sang pemilik mata indah itu.Ah, jantungku seolah berhenti mendadak.


Jody mengangkat sebelah tangannya,mengelus perlahan rambutku,membuat Aku berulang kalu menelan salivaku.


"Ke...." panggilnya perlahan.


"Hmm....Napa Jo." jawbku juga dengan perlahan.


Ia menurunkan tangan dari rambutku ke arah daguku, mengangkat sedikit sehingga Aku dan Jody bersitatap.


"Begitu sulitkah untukmu bicara padaku?" pertanyaan yang membuat Aku menggigit bibir ku.


Aku ingin menghindari tatapannya, namun sepertinya Jody menginginkan Aku tetap menatapnya.


"Aku....mmmm...Aku..." tergagap Aku membalas pertanyaannya.Aku menarik napas dalam dan Jody melihatnya.


Ia melepaskan pegangannya, beralih ke setir mobil, memegang erat, dengan mata sedikit terpejam.


Aku menggigit kuat bibirku.Rasa bersalah mulai menggunung di hati.


Semenit Kita terdiam.Entah karena Aku tak kunjung membuka suara, Jody lantas kembali manyalakan mobilnya dan menjalankannya.


"Jo..." panggilku pelan.


"Hmm..." tetap pandangannya ke depan tanpa menoleh.


"Kemana sekarang?" tanyaku lagi.


"Kerumahku biar Aku ganti pakaian dulu." jawabnya dengan tetap fokus menyetir.


Aahhh,apa Aku salah yaaaa...


Aku akhirnya memilih diam dan akhirnya Kita sampai di rumahnya.Jody pun tak banyak bicara.Ia turun,dan dalam hitungan menit, Ia sudah kembali dengan mengenakan pakaian seragamnya.


Lalu,Kita menuju tempat seminar.


**

__ADS_1


Seharian ini Aku merasa didiemin Jody.Aku benar-benar ga fokus dengan seminar tadi.Gak ada satupun yang masuk di otakku.


Sampai pada saat Aku dan Jody selesai dan mau kembali ke rumah.


"Jo,Aku gak bareng sama Kamu,ya." Aku menuju ke arahnya.


Kulihat,Jody mengangkat wajahnya, mengerutkan dahinya, dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak suka.


"Kenapa?" tanyanya lantas kembali menunduk sibuk dengan sepatunya.


"Yah,gapapa." jawabku asal.


Aku membalikkan badan hendak melangkah pergi , tapi dengan cepat tanganku dipegang oleh Jody.


"Kenapa,Ke? tumben gak mau Aku antar. Apa Aku gak berarti di matamu?" tanyanya lagi.Jody beranjak berdiri mendekati ku, memegang kedua bahuku.


"Jawab,Ke..Jawab..." tanyanya lagi.


"Aku...." belum sempat Aku melanjutkan bicaraku Jody sudah melanjutkan pembicaraannya.


"Aku sayang sama Kamu melebihi apapun." sambil menunduk, melepas pegangan tangan di bahuku, berbalik dan melangkah.


Ada perih di dadaku.Ketika Jody menjauh, seperti sesak napas ku.


"Baiklah,Aku salah.Aku minta maaf. Kita pulang yuukk." mencoba mencairkan suasana dengan merangkul lengannya.


Kulihat,Jody sedikit tersenyum, lalu kembali melangkah ke mobil. Sampai di mobil, ternyata Jody belum langsung pulang.


Jody duduk di pinggir mobil dan Akupun mengikutinya duduk di sampingnya.


Jody lantas duduk menghadap ke Arahku.Ia memegang erat kedua jariku.


"Bisakah Kamu berjanji padaku?" tanyanya.


"Janji apa,Jo?" tanyaku lagi.


"Aku sudah membaca seluruh suratmu. Dan,Aku berjanji akan menjagamu. Tapi, berjanjilah padaku jika ada sesuatu bicaralah padaku.Jika Aku hanya menunggu suratmu, entah sampai kapan Aku bisa menjagamu. Bisakah,Ke?" seakan memohon padaku.


Aku memegang tangannya, menatap matanya, dan Aku mengangguk pelan.Dan,secara refleks,Jody menarikku dalam pelukannya.Aahh,rasanya sungguh nyaman.


Aku menikmati pelukan itu walau Aku tak membalas pelukannya. Kemudian, Ia melepaskan pelukannya.Menatapku.

__ADS_1


"Ke,apa Aku boleh menjagamu? Apa Aku boleh menyayangimu?"


Aku menunduk. Hatiku sudah tak karu-karuan.Lantas, mengangkat wajahku dan menganggu kan kepala.


Terasa ada rona merah tergambar di pipi.


"Apa Aku boleh mencintaimu?" tanyanya lagi. Kali ini Jody sudah kembali memegang kedua tanganku dan menatapku.


Aku tak bisa bicara. Lidahku seakan kelu. Aku hanya menanggapi dengan anggukan.Jody tersenyum lebar,kembali memelukku.


Akhirnya,Aku dan Jody pulang.Tapi,Jody duluan ke rumahnya, mengganti pakaiannya lantas mengantarku.


Setelah sampai di rumah,Kita berdua masuk ke dalam.Aku lantas mengganti pakaianku juga dan membuatnya minuman.


Kita duduk di depan rumah.


"Ke,Aku mau jujur sama Kamu satu hal." Ada nada serius disana.


"Apa,Jo." tanyaku.


"Tapi, jangan marah,yaa.." Aku semakin penasaran.


"Iyaa,Aku janji gak marah."


"Mmm...mengenai surat yang selalu Ke dapat.Itu...." kalimatnya menggantung membuat Aku membelalakkan mata, tak sadar berdiri.


"Itu,Kamuu?" tanyaku.Jody mengangguk.


"Astaga,pantas selalu tahu Aku dimana, bagaimana keadaanku. Tapi,A T siapa? namamu?" tanyaku heran karena selama ini Aku tahu kalau namanya hanya Jody.


"AT itu nama tengahku. AnThony.Aku gak memakai nama itu karena nama itu diberikan ibu kandungku waktu melahirkan Aku. Dan,setelah ibu meninggal, dan Ayahku menikah lagi, nama itu tidak dipakai. Tapi,Aku selalu memakai nama itu diluar sekolah.Jadi,keluargaku memanggilku Anthony." jelas Jody.


Entah Aku harus senang atau sedih,namun hal yang paling ingin Aku impikan Aku dapatkan.Mendapatkan Jody dan Anthony.


"Sebenarnya,Andra tahu masalah ini kok.Dia yang bantu Aku juga selama ini." penjelasan kembali Jody kembali membuatku terpana.


"Jadi,Andra...." Aku tak bisa menyembunyikan rasa maluku kepada Jody. Bagaimana tidak? Aku yang sering curhat sama Andra. Yang sering menanyai segalanya. Dan,ternyata Andra bersekongkol dengan Jody?


Jody yang mengetahui hal itu langsung mendekat,mengelus puncak kepalaku,bahkan mencium puncak kepalaku.


"Yang penting sekarang,Aku ada di sini.Apapun yang terjadi,Aku selalu menemanimu.Jangan pernah merasa Kamu sendirian. Okay?"

__ADS_1


Aku mengangguk menyetujuinya.


--------------------------------------------


__ADS_2