Skala Perbandingan

Skala Perbandingan
Tragedi lagi


__ADS_3

"Ada apa,Ndra?" tanyaku setelah melihat Andra telah menutup teleponnya.


"Ke! Kau membuat panik saja. Darimana saja kamu? dengan siapa? kenapa sampai malam begini baru pulang?...." pertanyaan Andra bertubi-tubi.


Aku hanya tersenyum kecut lalu segera berbalik dan berjalan menuju rumah. Andra mengekoriku dari belakang.


Setelah Aku dan Andra duduk di depan rumah, mulailah pertanyaan itu keluar dari bibir Andra.


"Tahu darimana, Ndra? hmmmmm...Jody ya.." pertanyaan yang kujawab sendiri.


Kulihat Andra mengangguk.


"Ada apa,Ke? Kamu bertengkar dengan Jody?" Andra mencari tau.


Aku menggeleng dan akhirnya Aku menceritakan semua kepada Andra.


"Apa???" hanya kata itu terucap dari bibir Andra dengan ekspresi yang sungguh luar biasa.


"Aku harus bagaimana,Ndra?" tanyaku lagi. Aku sungguh dilema dengan keadaan ini.


"Hmmm..itu semua keputusanmu Ke. Apapun yang Kau putuskan dan apapun resikonya haruslah semua terletak pada hatimu. Jody dan Sky pasti bisa memahami situasimu." Andra mencoba menenangkanku.


Aku menggigit bibirku. Perasaanku pada Jody sangat kuat. Tetapi, Aku tak bisa jika Aku melihat Sky hadir dalam hidup Aku dan Jody. Aku juga sudah membuka sedikit diriku untuk memaafkan Sky.


"Aku tahu sulit untukmu. Tapi, jika mereka berdua memahamimu, pastilah Mereka akan memberimu waktu untuk berpikir." sambil mengusap pundakku seperti mencoba menenangkanku.


Aku menarik napas dalam dan membuangnga perlahan. Menelan salivaku. Aku memejamkan mata dengan jari-jari tanganku yang kutautkan satu sama lain. Berpikir!


Andra membiarkan Aku dengan pemikiranku sendiri dan Iapun duduk dalam keheningan.


"Ndra.." panggilku.


"Ya, Ke."


"Aku sudah mencoba memaafkan Sky. Dan Ia juga telah berjanji padaku untuk tidak melakukan hal bodoh lagi."


"Oh iya?"


"Ya. Kami bertemu beberapa kali dan sikapnya sangat baik, Ndra."


"Baguslah kalau begitu."


"Tapi...."


"Apa Ke?"


"Sky juga tak mau melepaskan Aku karena Ia sangat mencintaiku. Sementara Ia dan Jody.....Ndra, Aku tak mau hubungan persaudaraan itu renggang."


"Hmmm..." hanya itu yang bisa dijawab Andra.


"Aku sayang Jody. Sangat!"


"Hmmm..."

__ADS_1


" Apa tak masalah jika Aku memilih Jody? apa Aku tidak membuat Sky marah? apa Aku tidak membuat hubungan mereka renggang jika Aku memilih salah satu diantara mereka? atau, apakah Aku harus meninggalkan Mereka berdua?"


"Hmm...itu terserah padamu Ke."


"Haaahhhhh...Apa Aku egois jika Aku memilih?atau...." Aku tak tahu lagi apa yang harus Aku katakan.


Kumelihat Andra dan jawaban dari Andra hanyalah mengangkat kedua bahunya bersamaan.


***


Sementara baik Jody dan Sky seperti kesetanan melajukan kendaraan Mereka seperti sedang berlomba siapa yang sampai ke rumah Meiske terlebih dahulu.


Sky sedikit mujur karena Ia menurunkan Jody sedikit lebih jauh dari tempat dimana Jody memarkirkan mobilnya sehingga Sky bisa lebih dahulu sampai.


Sky berbuat seperti itu bukan tanpa alasan. Ia memang ingin mendahului Jody sampai ke rumah Meiske. Ada yang harus Ia katakan kepada Meiske sebelum Jody sampai.


Sementara Jody yang sedikit terengah-engah untuk sampai ke mobilnya juga sudah melajukan mobilnya melesat dengan cepat. Jody seperti ingin lekas sampai karena dalam pemikiran Jody Ia tak mau jika Sky berbuat yang tidak-tidak terhadap Meiske.


***


"Ke..." Andra mulai membuka percakapan lagi setelah beberapa saat keheningan tercipta.


"Ya,Ndra." jawab Meiske.


"Yang perlu Kamu lakukan saat ini adalah...Istirahat! Masuk gih. Lagian sudah mulai larut. Tidurlah. Besok pemikiranmu akan lebih baik lagi.Okey?" dengan senyuman dan jari yang ditautkan membentuk huruf O.


Aku tersenyum. Tersadar bahwa memang sudah malam. Aku mengangguk dan Andra juga segera bangkit berdiri lalu segera menuju ke motornya, menyalakannya dan berlalu.


Aku menarik napas panjang dan dengan satu hentakan melangkah ke dalam rumah.


Semenit Aku masih memikirkan tentang Jo dan Sky.Tapi hanya sampai semenit saja. Sementara menit berikutnya Aku justru sudah terlelap sampai-sampai Aku lupa untuk menutup pintu kamarku sendiri.


Sekitar sejam Aku terlelap, Aku merasa kalau tempat tidurku sedikit bergoyang.


Aku mencoba membuka mata perlahan dan.....


Aku terkejut lalu sedikit melompat ke tepi tempat tidurku. Napasku sedikit tersengal. Paman ternyata sudah di sisi tempat tidur sedang duduk.


"Pa...paman..." sedikit tergagap Aku memanggilnya.


Kulihat Ia tersenyum. Aku segera memperbaiki bajuku dan melihat kalau pintu kamarku terbuka. Dalam hatiku sedikit merutuki kecerobohanku mengapa lupa mengunci pintu kamarku.


"Cape ya..." kata Pamanku dan seperti hendak mendekatiku.


Aku sigap langsung berdiri dan setengah berlari Aku langsung menuju ke pintu kamar lalu segera keluar.


Paman mengikutiku dari belakang dengan tetap tersenyum.


"Mmm...Bibi dimana paman?" tanyaku.


"Oh iya.Paman lupa memberitahu kalau Bibi dan Mama mu sedang ke apotik membeli obat buat Paman barusan."


"Apotik? malam-malam begini? jalan kaki?" tanyaku lagi.

__ADS_1


Paman mengangguk dengan seringaiannya yang membuat bulu kudukku merinding.


Aku segera berjalan cepat menuju pintu depan, kubuka kuncinya lalu segera pintu kubuka namun Paman yang tahu kalau Aku ingin melarikan diri dengan sigap segera kembali menutupnya.


Dan posisi Paman sekarang tepat didepanku. Bahuku turun naik menenangkan hatiku. Tubuhku sedikit demi sedikit bergetar.


"Ke..ada apaa..?" tanyanya setengah berbisik sementara wajahnya sudah mendekat ke arahku.


Aku menggigit kuat bibirku dan dengan tangan bergetar mengangkat kedepan lalu dengan kekuatan yang ada berusaha mendorong Paman kebelakang.


Paman sedikit kaget dengan perbuatanku sehingga membuat Ia sedikit mundur ke belakang. Dan, Aku mengambil kesempatan itu untuk segera membuka pintu depan secara cepat dan berlari keluar.


Bruuukkkk....


Aku menabrak seseorang di depan pintu. Aku mengangkat kepala cepat dan ternyata.....


"Sky!!" sedikit menjerit Aku memegang tangannya lalu segera berdiri di belakangnya sambil tanganku kupegang erat bajunya.


"Ke, ada apa?" tanyanya namun seketika Ia diam.


Paman sudah berdiri di depan Sky.


"Mengapa bertamu di rumah orang tengah malam begini? apa tidak tahu sopan santunkah?" dengan nada yang tinggi.


"Supaya Bapak bisa berbuat yang tidak-tidak dengan anak Bapak sendiri? Ha? Bapak sadar tidak apa yang Bapak buat membuat malu?" Sky tak kalah berkata tegas.


"Apa maksudmu? Kau kira Aku hendak berbuat yang kurang ajar dengannya?"


"Lalu apa ini?" jawab Sky.


"Dia sendiri yang tak tahu malu!"


"Tidak tahu malu? atau Bapak yang tidak tahu malu?"


"Apa urusanmu? Aku mau berbuat apapun dengan anak itu bukan urusanmu! Kalau Aku menginginkannya kenapa? Apa urusanmu?"


"Itu urusanku!" dan sebuah pukulan telak mengenai wajah Paman.


Ia terjatuh. Aku masih bersembunyi di belakang Sky hanya bisa menarik bajunya Sky hanya untuk menghentikannya.


"Bapak seperti apa yang menginginkan anak sendiri?" Sky sudah maju ingin melakukan sesuatu lagi namun Aku menarik bajunya kuat sehingga Aku hanya bisa merasakan badannya juga sudah mulai bergetar.


"Cukkuuuppppp...!!!!" sebuah suara muncul. Aku menoleh. Mama sudah berdiri disitu bersama Bibi yang juga sudah menangis.


"Sekarang juga, angkat kakimu dari sini!!" dengan setengah berteriak Mama mengusir Paman keluar dari rumah.


Aku melihat mama sudah menangis lalu Ia mendekatiku. Aku memeluknya erat.


Paman langsung berdiri dan segera keluar sementara Bibi hanya bisa menangis.


"Terimakasih,Nak!" Kulihat Mama memegang tangan Sky sambil mengatakan itu.


Sky mengangguk perlahan.

__ADS_1


***


__ADS_2