Skala Perbandingan

Skala Perbandingan
Salah Tafsir


__ADS_3

Dan.....


Ternyata Sky membawaku ke rumah makan depan Mall tersebut. Ia segera memesan makanan dan minuman.


"Kenapa kamu seperti itu lagi padaku,Ke?" tanya Sky ketika selesai memesan.


Aku terdiam menggigit bibirku tak sanggup berkata dan menunduk.


"Aku tau, banyak yang Aku lakukan yang membuatmu cukup trauma melihatku saja. Namun, Aku juga ingin menunjukkan sikapku yang sekarang." lagi Ia berkomentar.


Aku masih diam memainkan jari-jariku.


"Ke, please...Ngomong!" Sky frustasi.


Lidahku kelu. Aku belum berbicara namun dalam hatiku banyak komentar yang ingin Aku ungkapkan.


Sky menghembuskan napas kasar. Lalu Ia berdiri, mengambil kursi di samping ku, menggeser, lalu duduk di kursi itu. Kemudian, memegang kedua tanganku.


Aku sedikit terkejut dan ingin menarik, namun Ia lebih kuat menggenggam.


"Dengar dulu,Ke..Please.." Aku menyerah dan membiarkan Ia tetap memegang kedua tanganku.


"Aku tau, Aku banyak salah padamu. Dan, aku juga tau kejadian tempo hari gak bakal kamu lupa mungkin dalam umur hidupmu. Tapi, Aku ingin menebus semuanya itu. Aku menyesal,Ke. Sungguh! Aku menusuk mu pun sebenarnya diluar kendaliku. Aku kalap. Dan, Aku ingin menebus setiap tetes darah yang keluar dari tubuhmu, bahkan setiap detik ketakutan mu. Aku janji,Ke." Ia semakin menggenggam erat tanganku seolah menyiratkan keinginan hatinya.


Aku menelan saliva. Namun, dalam hati Aku memang trauma dengan Sky. Namun juga, Aku tak menyangkal bahwa ada saat dimana Sky menunjukkan sikapnya yang berbeda. Sangat melindungiku. Tapi, untuk saat ini Aku masih berdiri di antara kebimbangan. Belum bisa memutuskan.


"Ke, kasih Aku kesempatan untuk menebus semuanya." lanjut Sky.


Aku perlahan mengangkat wajahku dan menatapnya.


"Percayalah,Ke. Aku ingin menebus semuanya." menatapku dan seakan memberi keyakinan.


Aku tak berbicara, namun saat mata kami beradu, hanya anggukan dari kepalaku saja yang terlihat.


Sky bangun dari tempat duduknya, mendekati ku, lantas tanpa diduga Ia mencium kepalaku.


Aku tersentak kaget, lantas memundurkan tubuhku kebelakang.dengan pandangan berubah was-was.


Sky yang melihat itu justru tersenyum simpul, lantas memegang kedua bahuku.


"Maaf. Saking senangnya Aku dengan anggukanmu,Ke. Lain kali, Aku meminta izin mu dulu." lalu Ia kembali berdiri dan ke tempat duduknya semula.


Eh, lain kali? kok ?


Hanya dalam hati saja.


Pesanan makanan akhirnya datang juga. Aku masih terpaku menatap makanan. Antara enggan atau malu.


Sky melihatku yang canggung.

__ADS_1


"Apa harus Aku suapi?" katanya dengan wajah yang tersenyum. Aku menatapnya lama.


Hmmm, kalau dilihat, Sky ternyata cakep juga. percampuran Inggris dan Indonesia memang terlihat maskulin. Pas dengan Dia yang kadang dingin, kadang menakutkan, namun ada sisi yang berbeda seperti saat ini. Aahhh,,,apa apaannnn...


Tersadar dengan pemikiran itu, refleks Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil menutup mataku.


"Hahahahaha.." kudengar Sky tertawa. Kuangkat wajahku menatapnya mencari sebab kenapa Ia tertawa.


"Ke, jangan berbuat seperti itu lagi." katanya ketika Ia melihat Aku menatapnya.


"Kenapa?" jawabku ketus.


"Akhirnya, bersuara juga." Aku mendelik.


"Aku bilang,jangan berbuat hal seperti itu lagi,Ke." lagi Sky bicara.


"Kenapa?" dengan suara agak ku naik kan.


"Karena...." menggantung kalimat dengan terlihat senyuman manis di bibirnya.


"Apaa..?" tak sabar mendengar kalimat selanjutnya.


Sky tersenyum lebar. Sangat membuatku terpesona sekaligus meradang.


"Hahahahaha...." lagi Ia tertawa. Aku mendelik marah dengan sikapnya.


"Maaf,maaf.." masih tersisa tawanya dibalik ucapannya.


Ia menarik napas sebentar," Karena kalau kamu melakukan itu. menatap,mendelik, apapun itu yang berhubungan dengan matamu, itu membuatku semakin ingin memeluk dan menciummu." tersenyum kemudian menaikkan kedua alisnya.


Aku sedikit mencibir.


"Juga dengan bibirmu yang seperti itu,Ke. Jangan.." lanjutnya dengan tawa yang ditahan.


"Apa apaan sih?" sudah menunduk.


"Jujur,Ke. Mata dan bibirmu seperti magnet untukku." lanjut Ia masih berbicara.


Aku menghembuskan napas kasar lalu diam. Percuma bicara, kalau ujung-ujungnya bakal seperti ini.


"Aku bicara apa adanya,Ke. Jujur, mata dan bibirmu adalah daya tarik tersendiri untukku. Aahh, bukan hanya untukku. Tapi, apa kamu tau, kalau semua teman-temanku, Yano bahkan yang lain sangat memuji keindahan mu itu? Itu yang terkadang membuatku kesal. Apalagi sikapmu dengan Yano yang sangat akrab, membuatku naik darah." lanjut Sky.


Aku terdiam berusaha mencerna Kata-kata Sky tadi. Yano? ah, Aku kan memang kenal sejak lama.


"Kau tahu, Yano menyukaimu sejak lama? dan apa kau tau kau paling diincar? Vino, Yudha,bahkan Yudi pun? Untung saja Yano mewanti wanti mereka untuk tidak berbuat macam-macam. Dengan alasan, Kamu sudah seperti adiknya. Kalau tidak, mungkin mereka sepanjang hari akan berlomba lomba siapa yang bakal menjadi kekasihmu."


Aku kembali menunduk, menelan saliva. Apa benar apa yang dikatakan Sky? lalu, Aku sedikit menaikkan wajahku dan menatapnya.


"Kenapa? kau meragukan ceritaku? tanyalah pada Yano jika kau tak percaya. Aku paling benci ketika mereka sudah membahas tentang dirimu. Karena, Aku juga ingin memilikimu!" kalimat terakhir Sky seolah ada penekanan yang berarti.

__ADS_1


"Tapi, Aku salah dengan caraku seperti itu."


Lagi, Aku menggigit bibirku. Makanan yang ada di depanku hanya kuaduk aduk. Kaget, ada sedikit malu dan tersanjung.


"Ke, makan dong. Jangan hanya di pandangi."


"Eh, iya." malu Aku dengan perkataannya dan langsung menghabiskan makanan yang ada di depanku.


Selesai makan dan belum beranjak dari tempat ini.


"Mau kemana lagi,Ke? biar Kuantar." Sky menawarkan diri.


"Emm...Aku juga bingung mau kemana."


"Menghindarkah?" tanya Sky dan Aku membalas dengan anggukan.


Terdengar helaan napas kasar dari Sky.


"Liburan masih lama,Ke. Dan, apakah akan seperti ini? selalu?" tanyanya lagi.


Aku diam. Benar juga apa yang dikatakan Sky. Namun, sampai saat ini Aku belum menemukan solusi terbaik untuk semua keadaan ini. Dan akhirnya, Aku menjawab Sky dengan anggukan kepala.


"Aku akan membantumu." jawab Sky. Aku menoleh ke arahnya seakan menanyakan apa yang akan Ia lakukan.


"Jika kau mau, Aku bisa setiap hari ke rumahmu. Bahkan menemanimu seharian." jawabnya.


Aku tersenyum lantas menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak setuju.


"Kenapa?" tanyanya.


"Gak perlu. Aku gak mau merepotkan mu."


"Aku gak repot. Lagian, Aku sama sepertimu. Gak ada kegiatan apapun."


"Tak ada?" tanyaku selidik.


Sky menggaruk kepalanya.


"Ada sih..Cuma menurutku tak penting jadi biarkanlah."


"Hanya karena Aku?"


"Tidak..tidak.. Aku yang memang tak suka dengan pertemuan itu makanya Aku tak pergi."


"Pertemuan?" tanyaku dan dibalas dengan anggukan kepala dari Sky.


"Aahh,, sudahlah. Kita sekarang membahas persoalanmu,Ke.Bukan Aku. Kalau masalah aku, bisa Aku atasi. Nah, masalah mu kan belum bisa kamu atasi?" jawaban yang menjebakku.


"Hahahahahaha.Jangan marah,Ke." ketika Sky melihat wajahku yang sudah berubah.

__ADS_1


"Ayo, hari ini biar Aku membawamu sesuka hatimu.sesuai keinginanmu.Okey?" tanpa menunggu persetujuanku, Ia langsung membawaku keluar dari rumah makan ini dengan menggenggam tanganku.


***


__ADS_2