
Kembali ke Meiske.
Kepanikan mulai melanda diriku.Terkadang sudah berpikir yang aneh untuk bisa pulang.
"Hmmmm..mending aku pakai taksi saja ya. Sampai rumah baru diambil uangnya." seperti itu pemikiranku.
Akhirnya aku memutuskan untuk memakai taksi walaupun yang kutahu hanya alamat sekolahku saja. Tak apa asalkan sampai.
Aku mulai menuju ke jalan raya, menanti jika ada taksi lewat.
Dan, benar saja ada sebuah mobil yang segera melambat mendekati diriku lalu menurunkan kaca mobilnya.
"Neng, mau kemana?" tanya abang di dalam mobil. Eh, bukan abang sih, lebih ke bapak-bapak jika dilihat dari raut wajahnya.
"Mmm..mau ke Sma Gita Bangsa Pak." jawabku.
Si Bapak sedikit mengerutkan dahinya. Mungkin pertanyaan yang sama di benaknya seperti Ibu tadi. Ngapain malam-malam ke Sma yang jauh.
"Neng kesana mau ngapain? sudah malam lho." mungkin si Bapak berpikir yang lain.
"Mmmm...." Aku sudah menggaruk kepalaku.
"Gini Pak. Rumah Aku dekat Sma itu. Aku takutnya kalau aku ngasih alamat aku gak ada yang tahu. Lagian, aku kesasar tadi pak mau pulang aku bingung." jawabku jujur.
"Astaga Neng udah malam begini pake kesasar. Mari Neng Bapak antar." jawab si Bapak sambil sudah membukakan pintu mobil untukku.
Aahhh, zaman sekarang ternyata masih banyak orang yang baik.eeiittzzz, tunggu dulu sampai di tempat tujuan baru bisa dibilang baik.
Hatiku malah berantem sendiri.
Aku akhirnya memilih mengikuti si Bapak. Mudah-mudahan Bapaknya memang baik.
"Pak, maaf dompet Aku juga ketinggalan tadi. Jadi, sampai dirumah baru aku bayarin Bapak ya?" masih dengan jujur aku utarakan kesusahanku kepada Bapak yang baru aku kenal itu.
"Gak masalah Neng. Soal itu mah gampaangg." kata si Bapak sambil tersenyum ramah.
Aahhh, senyuman itu seperti sosok 'Bapak' yang sayang sama anak perempuannya.
"Neng kenapa sampai disini? memangnya tadi jalan sama siapa?" tanya si Bapak.
"Eh, tadi sama temen Pak. Hanya saja,...mmmmm.... ada sesuatu saja Pak." Aku tak tahu harus bercerita dari mana.
"Lha, temen macam apa yang ninggalin neng sendirian begini. Gak bertanggung jawab!" dengan nada seperti seorang 'Bapak' yang marah.
"Eh Pak. Bukan seperti itu. Aku yang salah Pak ninggalin mereka tanpa memberitahu duluan." meralat ucapan Bapak.
"Tapi tetap saja salah Neng. Jauh lho. Eh, Neng bilang mereka? berarti ada banyakkah?" tanya si Bapak lagi.
"Eh,iya Pak. Ada 2 orang Pak. Cuma, Aku yang ninggalin mereka berdua Pak. Jadi, mereka gak salah." jawabku lagi.
"Neng, kalau mau kabur yah liat situasi. Bapak sih gak tahu apa masalahnya neng. Cuma saran saja. Zaman sekarang harus hati-hati. Kita gak pernah tahu apa yang bakal terjadi." nasehat si Bapak.
"Iya Pak." jawabku mengiyakan apa yang dikatakan Bapak.
__ADS_1
Benar juga kata si Bapak. Kalau saja Aku tak bertemu si Bapak, entah apa jadinya Aku di tempat asing seperti ini.
Dan, si Bapak terus melajukan kendaraannya.
***
Di situasi yang lain, baik Jody maupun Sky justru sangat cemas mengetahui kalau Meiske tidak ditemukan dimana-mana.
"Harus mencari kemana lagi?" Jody sudah tak tahu lagi harus kemana.
Terlihat, Sky memukul-mukul kemudinya dengan geram. Ia juga terlihat sangat cemas.
"Coba Kutelepon Andra." kata Jody.
"Lakukanlah secepatnya!" seperti sebuah perintah keluar dari bibir Sky.
Jody meraih handphonenya dan mulai memanggil. Sekitar beberapa saat akhirnya Andra menerima panggilan tersebut.
"Ndra. Bisa tolongin aku gak?" terdengar Jody berbicara.
"Sekarang ini juga tolong ke rumah Meiske!" ada penekanan disana.
"Gak usah nanya.Urgent!" ketika kata itu keluar Andra langsung mematikan handphonenya.
"Gimana?" tanya Sky tak sabar.
Jody hanya melirik dan sedikit mengangguk lalu membanting kepalanya perlahan di sandaran mobil.
"Kemana saja. Bahkan kalau bisa setiap gang Kita susuri!" jawab Sky yang sudah fokus dengan kemudinya dan matanya yang seperti elang melihat semua yang ada di depannya.
Jody pun melakukan hal yang sama.
***
"Neng, apa neng lapar?" tanya si Bapak memecah kesunyian.
"Eh, gak Pak. Lagian, aku gak ada uang Pak." jawabku.
"Ah, gak masalah." jawab si Bapak yang terlihat sudah sedikit memperlambat kendaraannya lalu segera memarkir kendaraan di sudut jalan.
"Sebentar ya Neng." si Bapak sudah keluar dari mobilnya.
"Eh Pak!" sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan si Bapak.
Terlihat, si Bapak menuju ke sebuah warung tenda di seberang jalan. Aku melihat terus ke arah si Bapak.
Ada bayangan sepintas lewat. Baikkah si Bapak? atau? Aku bimbang dengan semua ini namun mataku tetap mengawasi gerak-gerik si Bapak.
Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya si Bapak kembali dengan membawa sebungkus plastik berwarna putih.
"Makan dulu Neng. Sudah jam makan malam." sahut si Bapak yang lalu menyerahkan bungkusan makanan itu ke arahku.
Aku agak sungkan menerima bungkusan itu namun si Bapak mengangguk dan Aku menerimanya.
__ADS_1
"Kok hanya 1 Pak? trus, Bapak gak makan?" tanyaku dan sambil membuka bungkusan itu ternyata si Bapak membeli sebungkus nasi goreng.
"Eh, Bapak sudah makan kok tadi." jawab si Bapak.
"Ahh, Bapak lupa." kata si Bapak yang lagi keluar dari mobil menuju ke tempat tadi.
Aku belum menyentuh makananku dan menunggu apa yang dibeli si Bapak.
Semenit kemudian ternyata si Bapak membeli minuman yang lalu diserahkan juga padaku.
"Pak sudah makan?" tanyaku lagi.
"Sudah kok. Neng makan saja dulu." jawab si Bapak.
Aku meletakkan bungkusan itu lalu keluar dari mobil itu.
"Mau kemana Neng?" tanya si Bapak.
"Sebentar Pak." jawabku lalu menyeberangi jalan menuju ke warung tadi.
Semenit kemudian, Aku kembali dengan membawa kertas nasi.
Lalu, Aku membuka bungkusan nasi goreng itu, membaginya ke kertas nasi yang satunya.
"Pak, Kita makan sama-sama." sambil menyerahkan nasi goreng setengah itu ke arah Bapak.
Si Bapak tersenyum dan akhirnya Aku dan si Bapak makan malam bersama di dalam mobil itu.
***
Kepanikan justru melanda Sky dan Jody. Saat Mereka berdua melihat jam sudah menunjukkan pukul 19.45.
Dan, seketika bunyi dering di handphone Jody mengagetkan Mereka berdua.
Andra yang menelpon.
"Ya,Ndra. Gimana? Meiske sudah dirumahkah?" tanya Jody.
Dan, setelah mendengar jawaban Andra kepanikan Jody bertambah.
"Gimana? sudahkah?" tanya Sky yang juga sudah sangat panik.
Jody menggeleng perlahan.
"Haiiisssss...." Sky kembali memukul-mukul kemudinya dengan emosi.
Jody hanya menengadahkan kepalanya dan bersandar di sandaran mobil dengan mata terpejam.
"Bagaimana ini?" Sky masih mencoba berpikir kembali.
Jody juga berpikir dalam diamnya. Mereka berdua akhirnya terdiam dengan pemikiran masing-masing hendak melakukan apalagi untuk mendapatkan Meiske.
***
__ADS_1