
Seminggu sudah Aku tepekur di kamar ini. Bahkan, seminggu pula Aku absen dari kampusku.
Baik Andra maupun Sky sudah datang berulang kali membujukku dengan berbagai macam cara tapi tak kunjung membuahkan hasil.
Aku tetap menyendiri dalam kamarku yang kecil itu. Diam membisu. Tanpa ada lagi airmata namun Aku seakan enggan membuka mulutku bahkan untuk berbicara.
Mama yang pusing melihat keadaanku. Ia bahkan mencari tahu lewat Andra maupun Sky tentang apa yang menimpaku.
Seperti pagi ini, Mama mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamarku. Ia lantas duduk di tepi kasur lalu membelai lembut rambutku.
"Ke..." panggilnya perlahan dan Aku hanya menjawabnya dengan mendehem saja.
"Semua orang pasti akan merasakan sakit karena ditinggal,sayang. Mama juga pernah merasakan hal itu. Saat Papamu pergi untuk selama-lamanya, Mama juga seperti Kamu. Tapi, apakah Mama harus seperti itu sepanjang hidup Mama? Mama harus bangkit kembali, sekalipun Mama tahu terkadang sulit. Namun, demi hidup Mama demi Kamu dan Kakakmu, Mama akan kuat."
Tak terasa airmataku turun tanpa Kuminta.
"Hidup akan selalu punya pilihan dan setiap pilihan selalu ada konsekuensinya. Perpisahan itu akan selalu ada dan itu pasti. Jika Kita tidak menemukan kecocokan pasti berpisah. Jika sudah saatnya Kitapun akan berpisah melalui kematian. Hidup adalah sebuah konsekuensi, sayang. Mana yang Kamu pilih selalu ada timbal baliknya."
Masih mengelus rambutku.
"Saat ini Jody meninggalkanmu juga pasti ada alasan yang belum Kamu tahu. Dan alasan itu membuat Kalian berpisah. Tidakkah Kamu tahu, Ke, bahwa Kamu tidak sendirian. Kamu punya Mama, Kakak, bahkan Andra dan Sky yang selalu ada untukmu. Apakah Kamu ingin mengecewakan Mereka hanya untuk sebuah alasan?"
"Kata orang, Jodoh tak akan kemana. Tapi yang Mama mau Keke tahu kalau jodoh itu akan datang bahkan tanpa Kamu ketahui. Tuhan sudah mengatur setiap alur kehidupan Kita, sayang. Mungkin ini juga salah satu cobaan yang harus Keke jalani agar Keke lebih dewasa baik dalam berpikir maupun bertindak."
"Ingat, Ke. Kamu tidak pernah sendirian. Ada Kami. Ada Tuhan. Apa Keke mau hidup hanya seperti ini? meratapi orang sementara orang itu mungkin sedang bersenang-senang menikmati hidupnya?"
"Mama dan semua orang sayang sama Keke. Jadi, jangan pernah menyia nyiakan itu."
Mama lalu mencium ubun-ubun kepalaku, mengelus lembut kepalaku lalu segera berjalan keluar dan kembali menutup pintu kamarku.
Aku menangis. Mengingat kata Mama barusan. Mencoba mencerna dengan baik kalimat itu. Mancoba memahami dengan baik.
Aku berpikir dan berpikir sampai Aku kembali tertidur dengan mata yang sembab.
***
Aku melihat Jody berdiri di depan rumahku. Tatapan matanya sendu sekali. Aku yang melihatnya dari dalam rumah segera berlari keluar mendapatkannya. Dan, ketika Aku sampai dihadapannya Ia langsung memeluk erat tubuhku.
Aku membiarkan Ia memelukku erat. Aku juga merasakan kerinduan. Setelah Ia memelukku, lalu Ia perlahan melepaskan pelukannya, lalu memegang wajahku, sedikit mengangkat ke atas, mengusap airmataku dengan jari jemarinya.
Aku memegang kedua tangannya dengan kedua tanganku dan menatapnya lekat.
Aku melihat ada luka di matanya yang sembab. Luka yang berkata seolah tak ingin berpisah.
__ADS_1
Aku ingin bertanya, mengapa? namun kata itu tak pernah keluar dari bibirku.
Sampai Jody melepaskan kedua tanganku darinya, lalu Ia mengusap sendiri airmata di wajahnya kemudian kulihat bibirnya mulai bergerak.
"Ke, Aku melepasmu. Kita tak akan pernah bisa bersama. Aku akan tetap memilih Dia." lalu Jody membalikkan badannya berlalu.
Aku diam. Mencoba memahami setiap kata. KITA TAK AKAN PERNAH BISA BERSAMA.
Kalimat itu terus terngiang di telingaku bahkan Aku sampai menutup kedua telingaku. Aku menangis.
Dan.....
Seketika pintu kamarku dibuka dan Kulihat Mama sudah masuk ke kamarku dan menenangkanku.
Aku bermimpi!
***
Keesokan harinya, Aku sudah bangun lalu segera menuju kamar mandi dan membasuh tubuhku. Lalu, Aku mengganti pakaianku dengan pakaian yang rapi, mengambil tasku dan lalu menuju meja makan.
Mama yang cukup heran dengan apa yang Aku lakukan, walau Ia sudah tersenyum, membawakan Aku sarapan di meja makan. Dan, Aku menyantapnya.
Setelah makan, Aku lantas beranjak berdiri sambil memegang tasku.
"Mau kemana, Ke?" tanya Mama.
"Ke kampuslah,Ma. Memangnya mau kemana?" jawabku sambil sudah berjalan menuju ruang depan.
Mama tersenyum bahkan Ia sudah mulai tertawa. Aku menoleh ke arahnya, bingung dengan Mama.
Aku hanya berpikir, mungkin Mama merasa senang karena Aku sudah mulai beraktivitas seperti sedia kala. Aku bergegas keluar rumah.
"Ke, bener Kamu mau ke kampus?" tanya Mama lagi. Aneh. pikirku dalam hati. Tak biasanya Mama bertanya.
"Ada apa Ma? memangnya Keke salah ya?" tanyaku pada Mama.
"Gak salah sih,Ke. Hanya saja......" Mama menggantung kalimatnya dan sudah tertawa.
"Hanya apa Ma?" tanyaku masih belum memahami maksud Mama.
"Hari ini hari minggu,Ke. Mana ada kampus yang buka." sudah tertawa lagi.
Aku terkejut bukan main. Aku lantas membalikkan badan setengah berlari menuju kamarku dan melihat kalender. Mencoba mengingat-ingat hari.
__ADS_1
Astaga!! ternyata benar hari ini hari minggu. Pantesan sedari tadi Mama tersenyum dan tertawa.
Dengan kesal Aku membanting tasku diatas meja belajarku.
Mama yang mengikutiku dan sudah di depan pintu hanya tersenyum melihatku.
"Sudah puas meledekku?" sedikit memajukan bibirku.
"Aahh, anak Mama tersayang lagi ngambek. Sudah kok Mama sudah puas." jawab Mama lalu tertawa dan berlalu dari hadapanku sementara Aku masih memajukan bibirku. Kesal.
Namun, setelah itu ada seulas senyum di bibirku. Malu dengan kejadian tadi dan juga Aku bersyukur karena Aku juga sudah mampu menata hatiku dan melihat Mama tertawa tadi, hatiku sudah lega. Mama tak lagi berpikir keras tentang Aku.
Aahhhh....Aku bosan..Aku yang sudah rapi begini mau kemana ya.
Aku lantas bangkit berdiri, keluar dari kamarku dan sibuk mencari Mama.
"Maaaa....." setengah berteriak.
"Iya,Ke.Mama lagi di kamar mandi."
"Ma, Keke mau keluar bentar." kataku.
"Iya boleh. Asal jangan sampai malam ya Ke."
"Siap,Ma." jawabku.
Walau Aku tak tahu hendak kemana paling tidak Aku sekedar menikmati indahnya dunia di luar sana mungkin membuat suasana hatiku lebih baik lagi.
Aku masuk kembali ke kamar. Mengambil dompet dan memasukannya dalam sebuah tas kecil, lalu menuju cermin, melihat kembali wajahku apa masih sembab atau tidak.
Aku berpikir sesaat di depan cermin. Lalu, Aku mengambil sesuatu di nakasku, membukanya dan mengolesnya di bibirku.
Hmmm...Aku bahkan jarang memakai liptint. Aku lebih suka tampilan apa adanya.
Entah apa yang merasuki diriku hari ini, sesudah memakai liptint tanganku bergerak kembali mencari sisir lalu menyisir kembali rambutku.
Setelah itu, Aku kembali berdiri di depan cermin melihat diriku kembali.
Dan setelah merasa puas dengan apa yang Kulihat, Aku segera keluar dari kamar.
Mama yang melihat hanya menggelengkan kepala saja.
***
__ADS_1