Skala Perbandingan

Skala Perbandingan
Liburan Tiba


__ADS_3

Aku masih terdiam dan mengucapkan sepatah kata sampai ketika Aku dan Jody kembali pulang ke rumah.


Aku bukan tak mau menceritakan masalah kehidupanku kepada Jody. Tapi, Aku tak mau menjadi beban untuknya. Aku pun tak mau seperti menggantungkan semuanya padanya. Menurut Aku, Jody pun punya kehidupan pribadi, kesulitan pribadi yang bahkan mungkin Aku tak tahu. Haruskah Jody menanggung segala penderitaanku juga?


Dan lagi, Aku juga tak ingin hidupku bergantung pada orang lain yang akhirnya membuatku seperti tak bisa menjalani kehidupanku sendiri. Aku harus kuat menjalani semua ini.


Aku tahu, Jody pasti marah dengan sikapku ini. Apalagi ketika dia tahu dari orang lain. Hmmmm, terkadang Aku sendiri bingung dengan sikapku ini.


***


Akhirnya,liburan sekolah pun tiba. Hari terberat akan ku jalani karena aku tak kemana-mana yang berarti Aku harus setiap hari di rumah bersama Paman. Dan itu artinya, aku juga harus pintar menjaga jarak, memposisikan diriku pada keadaan seputar rumah. Huuhhhh,, sepanjang liburan yang bakalan terasa lebih panjang dari biasanya.


"Selamat pagi." terdengar suara dari luar yang seperti suara Jody.


"Selamat pagi Nak. Ayo masuk masuk." suara Paman juga terdengar.


"Keee...Ada temanmu datang." Paman sedikit berteriak memanggil namaku.


Siapa ya pagi-pagi gini sudah bertamu? hal yang kutanya dalam hati saja. Aku segera keluar dari kamarku dan menuju ke depan.


"Eh,Jo..Lha,kok belum jalan?" kaget aku melihat Jody yang memang ternyata Dia yang datang.


"Gak boleh ya aku datang pagi-pagi?" tanyanya.


"Eh, bukan gitu. Tapi aku mikir kamu jalannya pagi gitu." dan segera duduk di kursi sebelah Jody.


"Aku masih memikirkan mu sedari kemaren. Jadi, aku kesini sebelum aku jalan biar masalahnya beres. Aku gak mau jalan dengan ketidaknyamanan kek gini."

__ADS_1


"Eh, kenapa? apa kita bertengkar? kan gak Jo?"


" Ya, kita memang tidak bertengkar, tapi dari kemaren kita hanya diem. Aku gak mau seperti itu. Aku ingin saat Aku kembali nanti selesai liburan ini, Kamu bisa lebih terbuka lagi kepadaku. Apapun itu. Aku gak mau aku hanya mendengar atau mengetahui dari orang lain. bisa kan?"


Aku terdiam.menatap Jo dengan diam. Ya, aku salah karena aku memang kurang terbuka padanya.


Jo mendekati ku,memegang kedua tanganku, menatap ke arahku menanti jawaban yang keluar dari bibirku. Namun, aku hanya diam dan hanya gerakan kepalaku saja.


"Ke, please jawablah kali ini." sepertinya Jody tidak puas dengan anggukan kepalaku saja.


"Iya, aku janji."


"Benarkah?"


"Ya, Jo. aku akan lebih terbuka dan jujur kepadamu."


"Ya sudah, aku pergi ya,Ke. Jaga dirimu disini. Aku akan merindukanmu sebulan ini." Jo berdiri, mengusap lembut kepalaku dan segera melangkah keluar. Aku mengikutinya dari belakang.


"Bye,Ke." Jody sudah melangkah diikuti lambaian tangannya. Aku tersenyum, dan membalas lambaian tangannya.


Semenit kemudian, saat Aku masih berdiri disitu, aku mendengar suara Paman dari dalam. Aku menahan napas sejenak, menutup mataku.


Aahh, aku berada di luar jadi pasti amanlah.


Astaga aku begitu takutnya bahkan ketika suara Paman saja yang terdengar tanpa ada raga nya.


eh, kan mama juga masih ada.

__ADS_1


Aku segera berjalan masuk ke dalam rumah. Mulai merapikan tempat tidur dan kamarku. Maklumlah, selama ini lebih sering ditinggalin.


Sambil merapikan kamarku, aku sempat berpikir bagaimana akan ku jalani sebulan dirumah tanpa diganggu oleh Paman. Tapi, hasilnya nihil. Semua teman-temanku pada pergi. Mungkin, hanya aku salah seorang siswi yang menghabiskan liburan dengan hanya di rumah saja.


Aku ingin sekali ke tempat kakak. Hanya saja, pastilah Ia terbeban disana. Mengingat Ia kesana juga kerja dan pastilah Aku juga sendirian disana. Entahlah.


"Ke..." suara Mama mengagetkanku.


"Iya Ma.."


" Kamu sudah libur kan?" tanya Mama dan Aku mengangguk.


" Bisa bantu Mama gak?"


" Bantu apa Ma?"


" Membereskan arsip kantor. Kemarin Mama dengar kalau mau cari tenaga tambahan buat membereskannya, nah Mama pikir daripada kamu nanti bete sendirian di rumah, apa salah bantu Mama kan?"


Astaga, ini berita terbagus dari antara segala kepuyengan aku selama ini. Dan, dengan wajah berseri plus berbinar-binar Aku mengiyakan pertanyaan Mama tanpa harus Ia mengulanginya.


Aku lantas menuju kamar mandi, mandi, lantas berganti pakaian. Mama pun sudah menungguku di meja makan.


Selesai sarapan, Aku dan Mama langsung menuju ke tempat dimana Mama bekerja.


Oh God, you still the best!


Hanya kalimat itu yang selalu ku ucapkan dalam hati. Dan, Aku mulai dengan pekerjaan paruh waktuku dengan semangat yang membara.

__ADS_1


***


__ADS_2