
Aku mencoba bangun berdiri dan sesegera mungkin menuju ke arah kerumunan itu.
Aku berlari dengan sekujur tubuh bergetar mengingat Aku bersama Sky dan Jody.
Siapakah disanaaa....pertanyaan yang membuat gemetar.
Aku sampai di kerumunan itu yang tiba- tiba saja orang-orang pada berjalan kembali. Kucoba melihat dari celah-celah yang bisa kujangkau.
Ada darah tumpah di jalan membuat kakiku serasa lemas, namun Kucoba tetap menguatkan diriku.
Aku melangkah perlahan mendekati dan Kulihat....
Jody sedang mengangkat seseorang.Jody??? jadi bukan Dia??? Lalu...????
Hatiku semakin bergemuruh. Kuangkat kepalaku ke arah tangan Jody. Tangan itu..Baju itu...
Sky......!!!!
Tanpa sadar Aku terjatuh.Tangisku pecah tanpa suara. Hatiku lagi-lagi seperti dihantam sebuah batu besar. Sakit!
Kuhanya melihat samar Jody yang masih membopong Sky menuju mobilnya. Kulihat darah yang menetes jatuh di jalanan. Tanganku terangkat lantas meremas bajuku. Mencoba menguatkan hatiku yang lagi-lagi sakit bukan kepalang.
Aku mencoba bangun dan samar juga Kulihat Jody berlari ke arahku. Membantu mengangkatku lalu segera memapahku ke mobil.
Jody membukakan pintu mobil dan membantukh naik ke dalamnya. Aku masih menangis dalam diam. Air mataku tak henti-hentinya turun membasahi pipiku.
Setelah mendudukanku, Jody lantas berlari memutari mobil, membuka pintu mobil lalu segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit, Sky segera dibawa ke ruang gawat darurat. Aku masih melihat darah yang keluar terus menerus membuat kepalaku pusing.
Jody yang tahu keadaanku langsung sigap memapahku dan membawaku pula ke dalam ruangan itu. Aku hanya mendengar Ia berbicara kepada perawat itu kalau Aku juga korban kecelakaan.
Dan, selang 1 menit kemudian Aku tak sadarkan diri.
***
Sekitar 1 jam kemudian Aku tersadar. Kulihat disekelilingku sudah ada Mama dan juga Andra.
Mama yang kelihatan panik begitu bergembira ketika Aku sudah membuka mataku.
"Ke, Kamu baik-baik saja kan?" tanya Mama yang langsung kubalas dengan anggukan.
"Syukurlah." katanya lagi.
"Ma?" panggilku perlahan.
"Ya Ke?" jawab Mama.
"Sky?" Dan Kulihat Mama hanya menarik napas dalam.
"Sky masih ditangani,Ke. Ia kehilangan banyak darah dan kecelakaan itu membuat kepalanya terluka parah. Bahkan, beberapa tulang rusuknya patah juga." jawab Mama yang sepertinya juga sangat sedih dengan keadaan Sky.
"Kita doakan saja semoga semua baik-baik saja." jawab Mama kemudian.
Tak lama kemudian Kulihat dokter datang menghampiriku dan memeriksa kondisiku dan setelah itu Ia mengatakan kalau Aku baik-baik saja lalu segera berlalu.
"Ma.." panggilku lagi.
"Ya,Ke.." jawab mama.
"Aku baik-baik saja kan. Jadi, boleh Aku melihat Sky?" tanyaku lagi.
Mama tersenyum sedih namun Ia mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Lalu, Aku, Mama dan Andra segera menuju tempat Sky. Ternyata Sky sedang di ruang operasi.
Dari jauh Aku sudah melihat Jody dan perempuan itu disebelahnya. Dan, Aku juga melihat sosok seorang wanita paruh baya juga seorang laki-laki.
Apa itu Papa dan Mama Sky...tanyaku dalam hati saja.
Aku semakin mendekat, dan Kulihat Jody melihat ke arahku, dan serta merta Ia berjalan mendekatiku.
"Udah sadar Ke? sudah merasa baikan?" tanyanya yang kubalas dengan anggukan.
Jody membantu memapahku dan menyuruh Aku duduk di tempat duduk.
Kulihat, Pria paruh baya itu sungguh mirip dengan Sky sementara wanita paruh baya itu seperti Jody.
Mereka berdua melihat ke arahku lalu menghampiriku.
"Nak Meiske ya?" tanya wanita paruh baya itj. Aku mengangguk perlahan.
Ia mengelus lembut bahuku. Terlihat wajah dari Papa Sky yang memandangku lembut dan tersenyum.
"Kamu baik-baik saja?" lanjut wanita itu dan Aku kembali mengangguk.
"Sky masih dioperasi. Kita doakan saja yang terbaik buat Dia." kata wanita itu lagi dan Aku mengangguk lagi untuk kesekian kalinya.
"Terimakasih ya Nak Meiske." tiba-tiba suara dari pria paruh baya itu.
"Untuk apa Om?" tanyaku bingung.
"Untuk perhatianmu pada Sky anak Om. Maaf jika Sky sering membuatmu tidak nyaman tapi Om tahu Ia hanya tak tahu caranya menunjukkan hatinya padamu." kalimat pria itu membuat Aku cukup kaget.
"Bingung ya.Hehehe. Om tau semuanya Nak. Om punya orang suruhan untuk menjaga Sky. Dan, setiap apa yang dilakukan Sky pasti Om tahu. Hanya saja, Sky terlalu jauh dari Om dan menutup dirinya yang membuat Kita sulit untuk berkomunikasi." Lagi Pria itu menjelaskan. Pria yang adalah Papa Sky.
"Om hanya berterimakasih. Berkat Kamu Sky seakan berubah. Dari yang Om tahu, Ia berubah semenjak Ia dekat denganmu Nak. Terimakasih sudah membuat hari hidupnya baik lagi." lanjut pria itu berkata dan Kulihat Ia sedikit mengusap matanya. Ia menangis.
"Ya Nak." jawabnya.
"Apa Sky akan baik-baik saja?" tanyaku lagi.
Kulihat, pria itu menghela napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Diam sejenak.
"Om juga belum tahu Nak. Kita tunggu saja hasil Dokter ya.." lalu Ia mendekat, mengelus perlahan rambutku.
Aahhhh Sky...Papamu seperti dirimu..
Sekitar setengah jam kemudian, Dokter keluar. Dengan tertunduk Ia berbicara dengan mereka yang hanya kudengar samar saja.
Setelah Dokter berbicara, Aku melihat wanita paruh baya itu memeluk Pria itu lalu menangis. Kulihat, Jodypun langsung tertunduk dan wanita yang disampingnya segera memeluknya.
Ada apa ini....
Andra berjalan mendekatiku dan Aku sudah berdiri hendak menuju ke arah Papa Sky.
"Ke..." seperti tertahan untuk berbicara.
"Ada apa Ndra? semua baik-baik saja Kan? Sky gak kenapa-napa kan? Ndra...." sudah menangis.
Andra menelan salivanya. Ia menunduk lalu mengusap wajahnya dengan tangannya.
"Ndra...Sky kenapaa?" sudah memelas.
Andra langsung memelukku erat. Kurasa badannya sedikit tergoncang. Di dalam pelukan Andra Aku mendengar Andra berbisik...
"Ikhlaskan Sky pergi Ke..Dia sudah tak bersama Kita lagi."
__ADS_1
Seluruh badanku bergetar hebat. Napasku naik turun. Airmata tumpah ruah. Andra semakin erat memelukku seperti memberi kekuatan kepadaku.
Sky pergi....Sky meninggalkan Aku sendirian...Sky..... hatiku berteriak memanggil namanya. Dan, lagi-lagi Aku tak sadarkan diri.
***
Aku mengenakan pakaian hitam dan sedang duduk di sebuah hamparan hijau. Di depanku ada sebuah peti jenazah putih bercorak emas dan bunga diatasnya.
Hatiku perih. Terluka. Menganga. Mataku sendu menatap peti itu. Banyak yang ingin Kuungkapkan, namun semua seperti hanya bisa Kuungkap dalam hatiku.
Air mataku yang terus mengalir tanpa henti. Aku duduk seperti patung dan hanya memandang ke arah peti itu.
Kurasa, seseorang duduk disebelahku namun tak sedikitpun kuindahkan. Hanya suaranya saja Kuathu siapa Dia. Jody.
"Ke, maaf..." hanya itu yang keluar dari bibir Jody dan setelah Ia memegang bahuku Ia bangkit dan berlalu.
Kurasa juga, ada yang mendekatiku, duduk di sebelahku. Namun, kali ini Ia hanya diam dan tetap duduk disana.
Aku menoleh. Aahh...Andra. Aku kembali melihat ke arah peti itu. Aku dan Andra menyaksikan ketika peti itu dimasukan ke dalam liang lahat lalu ditimbun dengan tanah. Hatiku semakin sakit.
Aku melihat orang-orang menabur bunga diatas tanah itu, Kulihat Papa dan Mama Sky berjalan mendekatiku, memegang bahuku, mencium pipiku lantas berlalu.
Akupun melihat Jody dan wanita itu juga berjalan mendekatiku. Jody memelukku erat dan wanita itu hanya memegang bahuku. Lalu merekapun berlalu.
Hanya Aku dan Andra yang masih disini. Di tempat ini. Di pekuburan ini.
Andra menyentuh jariku dan kemudian menggenggam kuat seolah memberi kekuatan padaku. Ketika Aku menoleh, Ia hanya menganggukkan kepala. Aku dan Andra pun segera berjalan menjauhi pekuburan itu.
***
Aku duduk di kamarku yang Kubiarkan tanpa lampu. Sudah sore dan sebentar lagi malam.
Aku tahu sekarang.
Jody meninggalkan Aku hanya demi sebuah harga diri. Sebuah Gengsi akan jabatan, atau sebuah martabat. Wanita yang dinikahinya adalah rekan bisnis yang mampu mengembangkan usaha mereka bahkan mampu menaikkan level mereka ke tingkat kesempurnaan. Ia meninggalkan cintanya hanya demi sebuah masa depan cemerlang.
Sky mencintai Aku dengan cara berbeda. Ia justru meninggalkan semuanya hanya demi mendapat pengakuan kalau Ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Sebuah pembuktian pada keluarga besarnya walau Ia sendiri mempunyai warisan yang banyak. Ia memilih mengejar cintanya.
Aku yang memilih Jody harus terluka karena keputusan Jody untuk meninggalkan Aku.
Sky yang mengejar cintanya harus terluka karena Aku memilih saudara tirinya.
Miris!
Namun satu hal yang Kuperoleh dari kisah hidupku ini.
Cinta adalah sebuah pembuktian. Bukan hanya sekedar diucapkan. Cinta adalah pengorbanan. Berkorban untuk setia sampai titik akhir. Materi, martabat dan harta dapat membuyarkan sebuah cinta. Ketika semua itu dipertaruhkan, maka hanya yang memiliki kesejatian cintalah yang mampu bertahan.
Aku tak menyesal dengan keadaanku ini. Disini, Aku banyak belajar. Belajar meyakini suatu saat Aku bisa mendapat sebuah cinta sejati.
Jody, terimakasih untuk cintamu dulu.
Sky, terimakasih untuk cinta abadimu.
Aku tidak sendirian. Masih ada Andra yang masih disini. Menemaniku. Dan, selalu menyemangatiku. Mengisi hari hidupku yang kosong dan terkadang memilukan. Masih setia menemaniku dikala Aku menangis dan merintih.
Terkadang, segala sesuatu terjadi di luar kehendak Kita. Hanya pemilik hidup yang mengetahui jalan takdir kita.
Ketika sebuah hidup menjadi sebuah skala perbandingan yang akan Kujadikan alas kakiku melangkah ke depan.
E N D !
***
__ADS_1